
"Istighfar, Mas. Jangan emosi," kata Shofi seraya mengusap lengan Awan, mencoba meredakan emosi suaminya itu.
Nafas Awan masih memburu dengan wajah yang merah karena emosi.
"Mas," panggil Shofi lembut, masih dengan mengusap lengan suaminya itu.
Seakan tersadar, Awan kemudian menoleh ke arah Shofi. Dapat Awan lihat wajah Shofi yang nampak tertekan.
"Astaghfirullah hal adziim," lirih Awan seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Padahal tadi Awan sendiri yang mengingatkan kepada Shofi untuk bisa mengontrol emosinya. Tapi justru sekarang Awan sendiri juga yang tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
Awan merasa sangat marah begitu mendengar semua perkataan dari Alya tadi. Awan tidak menyangka kalau Shofi ternyata menjadi korban dari keegoisan dan kelicikan Alya juga Bayu sampai seperti itu. Awan marah, Awan tidak terima wanita yang sekarang sangat dia cintai itu diperlukan seperti itu dulu.
"Duduk dulu, Mas. Biar redaan emosinya," kata Shofi lembut.
Awan tersenyum kemudian kembali mendudukkan dirinya lagi yang langsung diikuti oleh Shofi. Bayu membuang pandangan ke samping seraya mendengus pelan. Ada rasa tidak suka yang dia rasakan melihat kemesraan Awan dengan Shofi tersebut.
'Andai dulu aku tidak melepaskan dia. Saat ini pasti aku masih bisa merasakan semua kehangatan, kasih sayang, dan rasa dihargai serta dihormati seperti itu,' keluh batin Bayu.
Shofi memegang tangan Awan yang sedang menggenggam tangannya yang lain di atas pangkuannya saat ini. Menguatkan hatinya sendiri dengan adanya dukungan dari suaminya itu.
__ADS_1
"Sudah cukup semua omongan yang tidak penting itu. Sekarang aku tanya, apa maksud kalian berdua datang kesini?" tanya Shofi tegas.
Dapat Awan rasakan tangan Shofi sedikit bergetar dalam genggamannya. Awan tau benar kalau saat ini istrinya itu pasti sedang berusaha untuk bisa bersikap setegar mungkin. Awan kemudian mengusap tangan Shofi yang sedang dia genggam menggunakan ibu jarinya, menyalurkan kekuatan untuk wanita yang sangat dia cintai itu.
"Seperti yang sudah kami bilang tadi, kami datang untuk meminta hak asuh Keinan secara baik-baik. Kami ingin agar Keinan bisa ikut tinggal bersama dengan kami," jawab Alya.
Shofi membulatkan kedua matanya.
"Apa hak kalian meminta hak asuh Keinan? Terutama kamu Alya. Siapa kamu sehingga tiba-tiba kamu ikut campur dan meminta Keinan untuk tinggal bersama dengan kalian?" tanya Shofi dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.
"Pengadilan sudah memutuskan dengan jelas bahwa hak asuh Keinan jatuh ke aku. Dan kamu juga sama sekali nggak mempermasalahkan hal itu kan Mas dulu? Bahkan selama empat tahun lebih ini juga kamu sama sekali nggak pernah mau peduli tentang Keinan. Aku juga nggak pernah sekalipun mengambil uang yang kamu kirim untuk biaya hidup Keinan, yang sering kamu titipkan melalui bapak dan ibu. Lalu kenapa sekarang kalian tiba-tiba datang dan ingin meminta hak asuh Keinan? Apa hak kalian? Selama ini aku yang membesarkan Keinan dengan hasil keringatku sendiri, tanpa bantuan dari kalian. Dan sekarang seenaknya saja kalian datang dan ingin mengambil Keinan dari aku. Kalian mikir enggak? Dimana hati nurani kalian?" ucap Shofi panjang lebar, meluapkan semua unek-uneknya.
Suasana hening sejenak. Bayu dan Alya terdiam karena mereka memang tidak bisa membantah semua ucapan Shofi tadi. Sementara Awan terus mengusap-usap lembut tangan Shofi yang dia genggam untuk menguatkan hati istrinya itu.
"Tidak perlu. Aku dan Mas Awan masih sanggup untuk memberikan kehidupan yang terbaik untuk Keinan. Keinan tidak membutuhkan kamu, apalagi Alya. Dan seperti yang sudah kamu dengar sendiri sebelumnya, Keinan juga nggak akan pernah mau untuk tinggal bersama dengan kalian berdua," tolak Shofi masih dengan nada tegasnya.
"Jangan egois dong, Shofi. Bayu kan juga ayahnya Keinan. Ayah kandung Keinan. Jadi dia juga berhak dong atas Keinan," kata Alya yang ikut angkat bicara.
Awan sebenarnya sudah meradang saat ini. Tapi sebisa mungkin Awan memilih untuk diam dan tidak ikut campur terlebih dahulu. Selama Shofi masih bisa menyelesaikan semuanya, Awan hanya cukup menjadi pendukung dan penyemangat bagi Shofi.
"Egois kata kamu? Kalau aku egois lalu kalian ini apa? Manusia tidak punya hati?" tanya Shofi mencibir.
__ADS_1
"Shofi, tolong mengertilah. Kami sudah hampir lima tahun menikah dan belum juga dikaruniai keturunan. Sekarang kan kamu juga udah nikah sama Awan. Kalian pasti bisa memiliki anak kalian sendiri nanti. Jadi tolong ijinkan Keinan untuk tinggal bersama dengan kami. Siapa tau nanti Keinan juga bisa jadi pancingan untuk Alya biar bisa segera hamil," kata Bayu masih berusaha membujuk.
Awan semakin meradang mendengar semua perkataan Alya dan Bayu. Shofi bisa merasakan genggaman tangan Awan yang menguat. Shofi melirik ke arah suaminya itu. Sekarang giliran Shofi yang mengusap lembut tangan Awan, mencoba meredam emosi suaminya itu.
"Maaf, tapi sepertinya sudah tidak ada yang perlu untuk kita bicarakan lagi. Apapun alasan kalian, sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tidak akan pernah menyerahkan hak asuh Keinan kepada kalian berdua. Aku tidak akan pernah membiarkan Keinan untuk tinggal bersama dengan kalian berdua," tegas Shofi sekali lagi.
"Shofi, kamu jangan keras kepala gitu dong. Kita berdua udah minta secara baik-baik loh ini," kesal Alya.
"Kenapa memangnya kalau aku keras kepala? Terserah aku dong. Keinan putraku. Dan selama ini juga aku yang membesarkan dan merawat dia, tanpa bantuan dari kalian berdua," ucap Shofi dengan entengnya.
"Kamu??? Oke, kamu sendiri yang minta. Karena kamu nggak mau menyerahkan hak asuh Keinan secara baik-baik, maka jangan salahkan kami. Kami akan menempuh jalur hukum dan menuntut hak asuh Keinan melalui pengadilan," ancam Alya.
Shofi kembali membulatkan kedua matanya. Shofi tidak menyangka kalau Alya berniat untuk membawa masalah ini ke jalur hukum. Masih jelas dalam ingatan Shofi ketika dulu dirinya harus keluar masuk kantor pengadilan pada saat mau bercerai dengan Bayu dan juga memperjuangkan hak asuh Keinan.
Tubuh Shofi menegang. Dirinya seakan bisa kembali merasakan bagaimana hancurnya perasaannya saat itu. Rasanya Shofi juga masih trauma dengan semua proses panjang yang cukup menyita waktunya itu.
Awan menyadari kegelisahan Shofi saat ini. Sudah saatnya bagi Awan untuk bertindak sekarang.
"Cukup, Bayu, Alya. Kalian sudah mendengar sendiri bagaimana keputusan dari Shofi selaku ibu kandung Keinan. Jadi aku minta, sekarang kalian berdua untuk meninggalkan tempat ini. Sudah tidak ada lagi yang perlu untuk kita bicarakan," kata Awan yang akhirnya ikut angkat bicara.
"Tapi, Wan," ucap Bayu merasa masih belum bisa menerima.
__ADS_1
"Tolong, Bay. Shofi sudah cukup terkejut dengan kedatangan kalian berdua yang tiba-tiba. Apalagi dengan keinginan kalian yang terdengar tidak masuk akal itu. Tolong tinggalkan dulu tempat ini sekarang. Lain waktu kita bisa membahas lagi tentang masalah ini jika kalian merasa masih belum puas," kata Awan lagi.
Bayu mengesah pelan. Bayu mengakui kalau semua yang dikatakan oleh Awan itu ada benarnya. Akhirnya dengan berat hati Bayu pun kemudian pamit dan membawa Alya pergi meninggalkan kafe milik Awan tersebut.