Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
55. Meneruskan Kafe Awan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Surya setelah turun dari mobilnya sore itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan dan Keinan bersamaan.


Saat ini Wulan sedang duduk bersantai di teras rumah seraya menunggui Keinan yang sedang bermain di lantai. Syukur alhamdulillah kondisi kesehatan Wulan sudah semakin membaik sekarang. Wulan dan Keinan kemudian mencium punggung tangan kanan Surya secara bergantian.


Seminggu sudah semenjak kecelakaan yang menimpa Awan terjadi. Tetapi sampai sekarang masih belum juga ada perkembangan yang signifikan. Awan masih belum juga diketemukan.


Meski sudah berusaha untuk ikhlas, tetapi Wulan, Shofi, dan keluarga yang lain masih tetap sangat berharap. Semoga keadaan Awan saat ini baik-baik saja dan semoga Awan dapat segera ditemukan kembali. Mereka semua masih selalu berdo'a untuk keselamatan Awan.


"Opa udah pulang?" tanya Keinan setelah mencium punggung tangan kanan Surya.


"Iya, Kei. Opa udah pulang," jawab Surya dengan tersenyum.


Surya kemudian mendudukkan dirinya di kursi di sebelah Wulan. Surya lalu menyandarkan kepalanya ke belakang, terlihat sangat lelah.


"Huft," terdengar helaan nafas dari Surya.


"Capek banget ya, Pa?" tanya Wulan seraya mengusap lengan suaminya itu.


"Lumayan, Ma. Ngurusin dua usaha sekaligus ternyata nggak mudah. Apalagi untuk seusia Papa gini. Harus bolak balik restoran sama kafe Awan tiap hari, ternyata capek juga," jawab Surya.

__ADS_1


Shofi yang baru saja datang dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan tidak sengaja mendengar perkataan ayah mertuanya tersebut.


"Papa udah pulang ya? Assalamu'alaikum, Pa," kata Shofi yang kemudian meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja lalu mencium punggung tangan kanan ayah mertuanya itu.


"Wa'alaikumsalam, Shof. Iya, Papa baru aja nyampe," balas Surya.


"Kebetulan Shofi bawa minum. Diminum dulu, Pa. Biar redaan capeknya," kata Shofi mempersilahkan.


"Iya, Shof. Makasih, ya," ucap Surya yang kemudian mengambil secangkir teh dari atas meja lalu mulai meminumnya.


"Duduk sini, Shof. Jangan berdiri kelamaan gitu," kata Wulan seraya menepuk kursi di sebelahnya.


"Iya, Ma," balas Shofi.


"Oh iya, Pa, Ma. Ada yang mau Shofi bicarakan sama Papa sama Mama. Mengenai masalah kafe," kata Shofi memulai obrolan kembali.


"Hmm, ada apa Shofi? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Surya.


Surya dan Wulan sama-sama penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Shofi tersebut.


"Begini, Pa, Ma. Rencananya Shofi mau resign aja dari kantor. Terus Shofi mau ngurusin kafenya Mas Awan aja. Shofi kasihan lihat Papa kecapekan karena harus bolak balik ngurusin dua usaha setiap harinya. Gimana menurut Papa sama Mama?" jawab Shofi, menjelaskan sekaligus meminta pendapat kepada kedua mertuanya tersebut.

__ADS_1


Surya dan Wulan saling pandang. Mereka berdua tau niat Shofi itu baik. Dan jujur saja mereka berdua merasa tersentuh dengan keinginan Shofi tersebut. Tetapi mereka berdua juga tidak ingin Shofi mengambil keputusan untuk resign tanpa pertimbangan yang matang.


"Apa kamu sudah mempertimbangkan masalah ini baik-baik, Shof?" tanya Surya meyakinkan.


"Insya Allah sudah, Pa. Shofi sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik," jawab Shofi.


"Apa kamu nggak sayang sama karir kamu, Shof? Gaji yang kamu dapatkan di perusahaan kamu itu juga tinggi loh, dibandingkan dengan perusahaan yang lainnya," tanya Wulan juga.


"Shofi nggak masalah kok, Ma. Bagi Shofi kelangsungan kafe milik Mas Awan itu jauh lebih penting daripada karir dan besarnya gaji yang Shofi dapatkan," jawab Shofi lagi.


Lagi-lagi Surya dan Wulan saling pandang. Tidak lama kemudian Surya nampak menganggukkan kepalanya pelan. Memberi isyarat setuju kepada istrinya itu.


"Shofi ingin melanjutkan usaha yang sudah dibangun oleh Mas Awan dari nol tersebut, Pa, Ma. Sampai saat Mas Awan kembali nanti, Shofi ingin menjaga kafe Mas Awan itu agar tetap bisa berjalan dengan baik," ucap Shofi.


"Selain itu Shofi juga nggak tega melihat Papa yang kecapekan karena harus bolak balik ngurusin dua usaha sekaligus tiap hari. Jadi biar Shofi aja yang ngurusin kafenya Mas Awan ya, Pa, Ma," lanjut Shofi lagi.


Surya dan Wulan terharu mendengar semua perkataan Shofi tersebut.


"Ya sudah kalau itu memang sudah menjadi keputusan kamu, Shof. Mama dan Papa mendukung keinginan kamu itu," kata Wulan seraya mengusap lengan Shofi.


"Iya, Shof. Papa juga setuju-setuju aja. Kebetulan Papa emang kewalahan ngurusin dua usaha sekaligus. Jadi kalau kamu emang mau ngurusin kafenya Awan ya Papa oke aja. Papa dukung niat kamu untuk meneruskan kafe milik Awan itu," imbuh Surya juga.

__ADS_1


"Makasih, Pa, Ma," ucap Shofi seraya tersenyum.


Surya dan Wulan sama-sama tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Shofi bersyukur karena kedua mertuanya itu menyetujui niatan Shofi untuk resign dari kantor dan beralih untuk mengurusi kafe milik Awan. Menjaga dan meneruskan usaha yang sudah dirintis oleh suaminya itu dari nol.


__ADS_2