
Kabar tentang kecelakaan Awan benar-benar menjadi sebuah pukulan yang berat untuk Surya dan keluarganya. Mereka semua tidak pernah menyangka sama sekali kalau Awan akan mengalami kecelakaan dan bahkan dinyatakan hilang seperti sekarang ini. Wulan bahkan sampai jatuh sakit karena terlalu memikirkan keadaan Awan yang masih hilang dan belum diketahui keberadaannya tersebut.
Shofi yang sedang hamil muda sebenarnya juga tidak kalah terpukulnya. Tetapi Shofi menyadari bahwa saat ini dirinya tidak boleh merasa tertekan, karena itu bisa berpengaruh terhadap kondisi janin yang sedang dikandungnya. Jadi sebisa mungkin Shofi berusaha untuk tetap berpikir tenang dan tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
Masih ada Keinan juga yang sangat butuh untuk ditenangkan dan dikuatkan oleh Shofi saat ini. Belum lagi kondisi kesehatan ibu mertuanya yang sangat menurun itu. Itu kenapa Shofi mengesampingkan kesedihannya sendiri saat ini dan sebisa mungkin mencoba untuk bersikap tetap tenang.
Tiga hari telah berlalu semenjak terjadinya kecelakaan tersebut. Proses pencarian terhadap Awan masih terus dilanjutkan oleh pihak kepolisian dan tim SAR. Tetapi sampai sekarang masih belum juga ada kabar tentang keberadaan Awan.
"Ma, makan dulu ya," kata Shofi seraya berjalan menghampiri tempat tidur Wulan.
Shofi membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih untuk Wulan. Shofi meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja nakas kemudian membantu Wulan untuk bangun dari tidurnya.
"Mama nggak laper, Shof," tolak Wulan lemah.
Semenjak kabar kehamilan Shofi, sikap Wulan terhadap Shofi memang sudah jauh lebih baik lagi. Tidak lagi dingin seperti sebelumnya. Apalagi memang Wulan akui, Shofi adalah seorang istri dan menantu yang baik. Sopan, rajin, nurut, dan tidak banyak tingkah juga.
"Nggak boleh bilang seperti itu, Ma. Mama tetep harus makan meskipun cuma sedikit. Biar Mama bisa segera sembuh dan sehat lagi," kata Shofi seraya mengambil kembali nampan yang tadi dia letakkan di atas meja nakas.
"Shofi suapin Mama, ya. Ayo buka mulutnya, Ma," pinta Shofi.
Mau tidak mau akhirnya Wulan pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Shofi. Shofi menyuapi Wulan dengan telaten dan sabar.
Beberapa saat kemudian,
"Udah, Shof. Mama udah kenyang," kata Wulan ketika Shofi hendak menyuapinya lagi.
"Tapi baru dikit loh, Ma. Belum juga habis separuhnya. Satu kali lagi ya, Ma. Satu ini aja," bujuk Shofi.
"Nggak mau, Shof. Mama udah kenyang," tolak Wulan.
"Ya udah kalau gitu. Mama minum dulu, ya. Aku ambilin obatnya Mama," kata Shofi pada akhirnya.
__ADS_1
Shofi menyerahkan segelas air putih kepada Wulan. Shofi lalu meletakkan piring yang dia pegang ke atas meja nakas kemudian mengambil obat Wulan yang berada di laci meja nakas tersebut.
"Diminum dulu obatnya, Ma," kata Shofi seraya mengangsurkan obat yang sudah dia ambil.
Wulan menerima obat dari Shofi kemudian meminumnya. Shofi mengambil alih gelas yang dipegang oleh Wulan kemudian menaruhnya di atas meja nakas.
"Makasih ya, Shof," kata Wulan.
"Iya, Ma. Sama-sama," balas Shofi dengan tersenyum.
"Shofi, kamu kalau mau pulang ke rumah ibu kamu, Mama nggak ngelarang kok," ucap Wulan tiba-tiba.
Wulan berpikir kalau tidak adanya Awan di rumah ini saat ini, pasti membuat Shofi merasa tidak nyaman. Jadi mungkin Shofi ingin pulang dulu ke rumah ibunya biar bisa menenangkan dirinya juga.
Shofi tersenyum lembut. Digenggamnya tangan Wulan yang berada di atas pangkuan tersebut.
"Shofi sama Keinan tetap disini saja, Ma. Shofi sama Keinan mau nemenin Mama sama Papa. Biar nanti pas Mas Awan pulang, dia bisa melihat kita semua yang berkumpul menanti kepulangan Mas Awan," jawab Shofi.
"Mas Awan pasti segera ditemukan, Ma. Mas Awan pasti baik-baik saja, dan dia pasti segera kembali ke rumah ini," kata Shofi meyakinkan ibu mertuanya tersebut.
Wulan kemudian memeluk Shofi. Di balik punggung Wulan, Shofi diam-diam menghapus air mata yang ternyata juga sudah mengalir di pipinya.
☘️☘️☘️
Malam ini, Shofi dan Keinan sudah membaringkan tubuh mereka berdua di atas tempat tidur. Shofi memeluk tubuh putranya tersebut.
"Bunda," panggil Keinan.
"Iya, sayang," balas Shofi.
"Kei kangen sama Papa," lirih Keinan.
__ADS_1
Tanpa dikomando kedua mata Shofi seketika langsung mengalirkan kembali buliran bening itu. Tetapi Shofi segera menghapusnya. Sebisa mungkin Shofi tidak ingin memperlihatkan tangisannya di depan putranya itu.
"Iya, sayang. Bunda juga kangen banget sama Papa," balas Shofi dengan suara sedikit bergetar.
Shofi semakin mengeratkan pelukannya kepada Keinan. Diciumnya puncak kepala putranya itu.
"Kita berdo'a sama-sama ya, sayang. Semoga Allah SWT selalu melindungi Papa, dimanapun Papa berada saat ini. Dan semoga Papa juga segera ditemukan dan bisa berkumpul lagi dengan kita semua. Aamiin," lanjut Shofi, mengajari Keinan untuk berdo'a.
"Aamiin. Iya, Bun. Kei juga selalu do'ain seperti itu kok buat Papa," balas Keinan.
"Pinter anaknya Bunda," puji Shofi yang kembali mencium puncak kepala Keinan.
"Udah ya, sekarang Kei bobok, udah malem. Besok biar nggak kesiangan bangun buat sholat subuhnya."
"Iya, Bun."
"Berdo'a dulu, sayang."
Keinan kemudian mengangkat kedua telapak tangannya dan membaca do'a sebelum tidur.
"Selamat malam, Bunda. Kei sayang sama Bunda. Sama dedek juga," ucap Keinan yang kemudian mencium pipi Shofi lalu mengelus lembut perut Shofi.
Shofi tersenyum lembut.
"Selamat malam, kakak Kei sayang. Bunda sama dedek juga sayang banget sama kakak Keinan," balas Shofi yang kemudian juga mencium kening Keinan.
Keinan pun kemudian mulai memejamkan kedua matanya. Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya Keinan pun sudah terlelap dalam tidurnya.
Air mata Shofi kembali mengalir. Diusapnya lembut perutnya yang sudah mulai membuncit itu. Biasanya sebelum tidur seperti ini Awan pasti akan selalu mengusap-usap perutnya itu dengan penuh sayang. Dan baru setelah itu Shofi bisa tertidur dengan nyenyak.
Tetapi sekarang, mau tidak mau Shofi harus membiasakan diri untuk sementara waktu ini tanpa kehadiran Awan dulu. Meskipun rasanya sangat berat. Tetapi Shofi harus bisa bertahan dan menunjukkan sikap kalau dia baik-baik saja. Demi putranya, Keinan. Demi ibu mertuanya yang sedang sakit karena terlalu syok. Dan demi semua keluarganya yang lain juga.
__ADS_1