
Shofi sudah mengundurkan diri dari perusahaan SR Group secara resmi. Meski Azril dan semua rekan kerjanya sangat menyayangkan keputusan Shofi tersebut, tetapi mereka juga berusaha memahami dan mendukung niat baik Shofi untuk meneruskan usaha milik suaminya itu.
Sekarang Shofi yang mengambil alih usaha kafe milik Awan dan mengelolanya. Mengingat kondisi Shofi yang sedang hamil, Surya pun kemudian dengan sengaja mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar-jemput Shofi, Keinan, dan juga dirinya sendiri. Wulan juga sangat mendukung ide suaminya tersebut karena Wulan juga tidak mau kalau sampai suami dan menantunya itu kecapekan.
Para karyawan di kafe Awan menyambut dengan baik kehadiran Shofi. Dan memang karena sebelumnya mereka semua juga sudah dekat dengan Shofi dan Keinan, jadi mereka dapat menyesuaikan diri dengan lebih mudah dan dapat bekerja sama dengan baik. Maya, Adit, Danu, Dedi, dan chef Yudha bahkan seringkali membantu meringankan tugas ibu bos mereka tersebut, mengingat kondisi sang Bu Bos yang sedang hamil.
☘️☘️☘️
"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Keinan begitu memasuki ruangan kerja Awan yang sekarang ditempati oleh Shofi tersebut.
Adit berjalan mengikuti Keinan di belakangnya. Sekarang tugas untuk menjemput Keinan pulang dari sekolah setiap harinya diambil alih oleh Adit. Dan lagi-lagi, itu karena para karyawan tidak ingin sang Bu Bos kecapekan. Mereka berlima begitu perhatian kepada Shofi dan Keinan, serta calon bayi yang sedang dikandung oleh Shofi tersebut.
"Wa'alaikumsalam. Eh, kakak udah pulang," balas Shofi setelah mendongak dari layar laptop yang sedang ditekuninya.
Keinan meminta untuk mulai dipanggil dengan sebutan 'kakak'. Itu kenapa sekarang semua orang pun memanggil Keinan dengan sebutan 'kakak' tersebut.
"Udah, Bun," ucap Keinan yang kemudian mencium punggung tangan kanan Shofi.
"Gimana tadi di sekolah? Kakak bisa ngerjain tugas dari Bu guru atau enggak?" tanya Shofi seraya mengusap lembut kepala Keinan.
"Bisa dong, Bun. Tadi pas latihan membaca juga kakak langsung lulus. Temen-temen kakak ada yang langsung lulus juga, tapi banyak yang harus diulangi juga. Terus tadi Fahri lupa nggak bawa bekal, Bun. Akhirnya kakak bagi bekal kakak sama Fahri deh," jawab Keinan, menceritakan.
"Fahri yang dulu suka gangguin kakak itu?" tanya Shofi dengan mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat.
__ADS_1
"Iya, Bun. Yang dulu suka ngeledekin kakak itu. Tapi kan kata Papa sama Bunda, kakak nggak boleh bales jahatin. Makanya kakak baikin dia. Terus sekarang kita jadi temenan deh," jawab Keinan dengan gaya khas anak kecilnya.
"Pinter anaknya Bunda. Oh iya, makasih ya, Dit, udah jemput Keinan," puji Shofi yang kemudian juga mengucapkan terima kasih kepada Adit yang masih berdiri di belakang Keinan tersebut.
"Sama-sama, Bu Bos," balas Adit. "Kalau gitu saya langsung balik ke depan ya, Bu Bos. Pengunjung lagi lumayan rame," lanjut Adit, berpamitan.
"Iya, Dit," kata Shofi.
"Makasih, kak Adit," ucap Keinan juga dengan tersenyum.
"Sama-sama, kakak Bos," balas Adit ikut tersenyum juga.
"Jangan lupa pesanan Kei ya, kak Adit," lanjut Keinan lagi.
"Oke, siip," ucap Keinan dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.
Adit ikut mengacungkan kedua jempol tangannya sama seperti Keinan. Setelah itu Adit pun kemudian meninggalkan ruangan sang Bos dan kembali melanjutkan tugas dan pekerjaannya.
☘️☘️☘️
Malam ini Shofi sedang menidurkan Keinan. Shofi memeluk seraya menepuk-nepuk pelan punggung Keinan, agar putranya itu bisa segera terlelap dalam tidurnya. Tidak lama kemudian akhirnya Keinan pun sudah tertidur dengan lelap.
Shofi kemudian mendudukkan dirinya dan bersandar pada headboard tempat tidur. Diraihnya foto di atas meja nakas di samping tempat tidur tersebut. Foto dirinya bersama dengan Awan dan Keinan. Ketiganya tertawa dengan begitu bahagia di dalam foto tersebut.
__ADS_1
Air mata Shofi kembali mengalir. Diusapnya foto tersebut, tepat pada bagian foto Awan.
"Mas Awan sekarang dimana? Aku kangen banget sama Mas Awan. Keinan, Mama, Papa, dan yang lainnya juga kangen banget sama kamu, Mas," lirih Shofi dengan suara bergetar karena tangisannya.
"Kami semua selalu mendo'akan kamu, Mas. Semoga dimanapun Mas Awan berada saat ini, Mas Awan dalam kondisi baik-baik saja. Cepatlah pulang, Mas. Kami semua menunggu Mas Awan untuk kembali. Mas Awan, hiks hiks hiks."
Shofi memeluk foto tersebut ke dalam dekapannya, dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajah cantiknya.
Shofi benar-benar tidak pernah menyangka bahwa kehidupan pernikahan keduanya yang begitu bahagia harus diterpa musibah kecelakaan dan hilangnya Awan, sang suami tercinta. Apalagi semuanya itu terjadi dalam kondisi Shofi yang sedang hamil seperti saat ini.
Angan Shofi menerawang jauh. Dulu sewaktu Keinan masih bayi, dirinya harus bercerai dengan Bayu, suami pertamanya. Seorang diri Shofi membesarkan putranya. Melalui keseharian yang bisa dibilang tidak mudah. Tetapi Shofi bersyukur karena dirinya mendapatkan dukungan dari ibu dan adiknya, sehingga Shofi bisa melalui semuanya dengan baik.
Dan sekarang, setelah dirinya bersusah payah untuk kembali membuka pintu hatinya dan menjalani sebuah hubungan rumah tangga yang baru, dirinya kembali harus dipisahkan dari sang suami karena sebuah kecelakaan. Dan itupun disaat dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami.
Semuanya ini benar-benar merupakan pukulan yang sangat berat untuk Shofi. Lagi-lagi dirinya harus berpisah dengan sang suami. Dulu ketika Keinan masih bayi, dan sekarang ketika dirinya sedang hamil anak keduanya.
Ini semua memang tidak mudah. Tetapi demi keluarga dan orang-orang yang menyayangi dirinya, Shofi harus tetap kuat. Sekali lagi Shofi harus bisa menjalani kehidupannya tanpa sang suami.
"Di depan semuanya, mungkin aku bisa menunjukkan bahwa aku bisa tanpamu, Mas. Tapi sesungguhnya aku tidak bisa. Aku membutuhkan kamu, Mas. Aku, Keinan, dan calon buah hati kita membutuhkan kamu. Tolong cepatlah kembali Mas Awan, hiks hiks hiks," lirih Shofi dalam tangisannya.
"Yaa Allah, Yaa Rohman, Yaa Rohim. Engkau yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Engkau yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hamba memohon dengan segala kerendahan hati, tolong jaga suami hamba dimanapun dia berada saat ini. Lindungi dia, Yaa Allah. Dan hamba juga memohon, dengan kuasa dan kehendak-Mu, tolong segera kembalikan Mas Awan agar bisa berkumpul kembali bersama dengan kami semua, Yaa Allah," do'a Shofi, memohon kepada Allah SWT.
Tanpa pernah merasa lelah dan tanpa pernah merasa bosan, Shofi selalu memanjatkan do'a yang sama, demi keselamatan Awan sang suami. Demikian juga dengan Keinan, Wulan, dan semua keluarga yang lainnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ Selesai ΩΩΩΩΩΩΩΩ...