Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
33. Pagi Pertama Di Rumah Mertua


__ADS_3

Shofi perlahan membuka kedua matanya. Dan Shofi sedikit terkejut begitu melihat dada bidang yang keras di depannya. Mengangkat wajahnya perlahan, Shofi dapat melihat wajah tenang Awan yang masih terlelap dalam tidurnya.


Shofi tersenyum kecil. Ternyata semalaman dirinya tidur sambil dipeluk oleh laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya tersebut. Dan jujur saja, tidur Shofi semalam justru terasa sangat nyenyak dan nyaman.


Dalam hatinya Shofi begitu mengagumi sikap bijak suaminya tersebut yang tidak memaksakan kehendak terhadap dirinya semalam. Padahal Papa Surya dan Mama Wulan sudah dengan sengaja mengajak Keinan untuk tidur bersama dengan mereka berdua.


Shofi mengesah dalam hati. Shofi merasa bersalah kepada Awan. Shofi tau benar kalau Papa dan Mama mertuanya itu sengaja memberikan kesempatan kepada dirinya dan Awan untuk bisa menghabiskan malam pertama mereka tanpa gangguan. Tetapi justru dirinya yang masih belum siap. Dan dengan bijaknya Awan pun juga tidak ingin memaksa Shofi.


Shofi tersenyum, merasa sangat bersyukur mendapatkan seorang suami seperti Awan. Meski usianya lima tahun di bawah Shofi, tapi sikap Awan begitu dewasa dan bijaksana. Shofi berdo'a di dalam hatinya, semoga pernikahannya kali ini bisa langgeng dan selalu dirahmati oleh Allah SWT.


"Selamat pagi, istriku," sapa Awan tiba-tiba dengan suara serak khas bangun tidur.


Shofi tersentak, tersadar dari lamunannya. Shofi sampai tidak menyadari kalau Awan sudah bangun dan membuka kedua matanya saat ini.


Cup.


Tiba-tiba Awan mendaratkan ciuman di kepala Shofi yang sukses membuat Shofi kembali mematung.


"Ngelamunin apa sih sampai ucapan selamat pagi Mas nggak dijawab?" tanya Awan.


"Eh, ma-maaf, Mas. Selamat pagi juga, Mas," jawab Shofi pada akhirnya.


"Gimana tidurnya semalem? Nyenyak nggak?" tanya Awan lagi yang masih setia melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Shofi.


"Nyenyak kok, Mas," jawab Shofi pelan, masih merasa malu.


"Syukurlah. Ya udah, yuk kita bangun. Ambil wudhu terus kita sholat subuh berjamaah, ya," ajak Awan.


"Iya, Mas."


Cup.


Awan kembali mendaratkan ciumannya, tetapi kali ini di kening Shofi. Dan hal tersebut langsung sukses membuat wajah Shofi menjadi tersipu. Awan tersenyum kecil.


Awan dan Shofi kemudian bangun dari tidur mereka. Keduanya kemudian mengambil wudhu secara bergantian lalu melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah.


Shofi merasa takjub dengan keindahan bacaan ayat-ayat suci yang dilafazkan oleh Awan. Lagi-lagi Shofi merasa sangat bersyukur di dalam hatinya. Sekarang dirinya memiliki seorang imam yang insya Allah bisa membimbing dirinya untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Selesai sholat subuh berjamaah dengan sang suami, Shofi kemudian ijin untuk turun ke bawah. Shofi hendak memasak untuk sarapan pagi mereka semua.


Sesampainya di dapur Shofi dapat melihat Bik Sani yang sudah terlebih dahulu memulai aktivitas memasak.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bik," sapa Shofi seraya berjalan menghampiri Bik Sani.


"Eh, Non Shofi. Selamat pagi, Non," balas Bik Sani setelah menolehkan kepalanya.


"Aku bantuin masak ya, Bik," kata Shofi seraya mengambil pisau untuk membantu memotong sayuran.


"Iya, Non, silahkan," balas Bik Sani.


Beberapa saat kemudian Wulan pun nampak turun dari lantai atas kemudian ikut bergabung dengan Shofi dan Bik Sani di dapur.


"Pagi, Ma," sapa Shofi.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Bik Sani juga.


"Hmm, pagi. Udah bangun kamu? Kirain belum bangun karena kecapekan," kata Wulan kepada Shofi.


"Udah kok, Ma. Udah sholat subuh juga tadi sama Mas Awan," balas Shofi sopan seraya tersenyum.


"Oh. Syukur deh kalau gitu," kata Wulan.


Wulan, Shofi, dan Bik Sani kemudian kembali melanjutkan aktivitas memasak mereka untuk sarapan pagi.


Pagi hari di meja makan.


Saat ini Surya, Wulan, Awan, Shofi, dan Keinan sedang bersama-sama menikmati sarapan pagi mereka.


"Hari ini kalian masih libur, kan?" tanya Surya di sela-sela sarapannya.


"Shofi masih libur, Pa. Baru besok dia masuk kerja lagi. Tapi Keinan hari ini udah masuk sekolah. Dia nggak mau libur lagi katanya," jawab Awan cepat.


"Keinan nggak mau kelamaan libur. Kan sekolahnya nggak sampai siang juga, Opa," kata Keinan.


"Pinter cucu Opa. Terus kalau kamu sendiri, Wan?" tanya Surya lagi.


"Anak-anak juga nggak mau libur. Hari ini mereka udah buka kafe lagi. Jadi rencana Awan nanti mau ngajak Shofi ke kafe setelah nganterin Keinan ke sekolah," jawab Awan.


"Oh, bagus deh kalau gitu. Restoran ayah juga udah buka nanti, tapi agak siangan. Sama kayak di tempat kamu, mereka juga nggak mau libur lama-lama. Tapi Papa kesana besok aja deh. Biar nanti Abang kamu yang nengokin dulu," kata Surya juga.


"Iya, Pa. Papa istirahat aja dulu," balas Awan.


"Hmm," jawab Surya dengan bergumam.

__ADS_1


Mereka pun kemudian melanjutkan acara sarapan mereka bersama.


Selesai sarapan pagi, Awan, Shofi, dan Keinan pun kemudian berpamitan kepada Surya dan Wulan untuk berangkat. Awan dan Shofi terlebih dahulu mengantar Keinan ke sekolahnya sebelum mereka pergi ke kafe.


Sesampainya di depan sekolah Keinan, mereka bertiga kemudian turun dari mobil yang dikemudikan oleh Awan. Awan dan Shofi menggandeng tangan Keinan di kanan dan kirinya, kemudian mengantar Keinan sampai ke depan gerbang sekolahnya.


"Keinan seneng banget. Akhirnya Keinan bisa ngerasain sekolah dianter sama Papa sama Bunda, kayak temen-temen Keinan yang lain," ucap Keinan terlihat begitu gembira.


Awan dan Shofi tersenyum lembut.


"Keinan nggak perlu khawatir. Kan sekarang Keinan udah punya Papa. Jadi mulai sekarang Keinan akan selalu dianterin sama Papa. Sama kayak temen-temen Keinan yang lain," kata Awan seraya mengusap kepala Keinan.


"Iya, Pa," balas Keinan.


"Ya udah, Keinan masuk dulu ya sekarang. Pokoknya nanti pulangnya nunggu dijemput Papa atau Bunda, oke?" kata Shofi sekaligus berpesan kepada Keinan.


"Oke, Bunda," balas riang Keinan.


Keinan kemudian mencium punggung tangan kanan Awan dan Shofi. Awan dan Shofi juga kemudian mencium pipi Keinan bergantian.


"Keinan sekolah dulu ya, Pa, Bunda. Assalamu'alaikum," pamit Keinan.


"Iya, sayang. Wa'alaikumsalam," balas Awan dan Shofi bersamaan.


Keinan melambaikan tangannya kemudian berbalik dan melangkah memasuki halaman sekolahnya.


Awan dan Shofi membalas lambaian tangan Keinan. Setelah memastikan Keinan masuk ke dalam sekolahnya, mereka berdua pun kemudian kembali ke mobil. Awan memutar mobilnya untuk menyeberang, menuju ke kafe miliknya.


Turun dari mobil, Awan kemudian mengajak Shofi untuk langsung masuk ke dalam kafe.


"Masih sepi. Yang lain belum pada datang ya, Mas?" tanya Shofi begitu memasuki ruangan kafe yang masih terlihat sepi tersebut.


"Belum. Kan kafe buka jam sepuluh. Jadi anak-anak datang sekitar jam sembilan-nan," jawab Awan.


Shofi nampak ber-oh ria seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Yuk kita ke ruangan Mas aja," ajak Awan kemudian.


"Iya, Mas," balas Shofi.


Awan kemudian mengajak Shofi untuk masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2