Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
41. Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Keinan," panggil Bayu yang saat ini sudah berdiri di hadapan Keinan.


Keinan yang baru saja keluar dari ruangan kelasnya itupun seketika menghentikan langkahnya. Diangkatnya wajah kecilnya, dapat Keinan lihat Bayu, ayah kandungnya, sedang berdiri di hadapannya bersama dengan seorang wanita yang berpakaian sangat bagus.


"Ayah Bayu?" panggil Keinan juga, kaget dan seakan tidak percaya karena tiba-tiba ayah kandungnya ada di hadapannya saat ini.


"Iya, sayang, ini Ayah Bayu," jawab Bayu dengan tersenyum senang.


Keinan kemudian mengangkat tangan kanannya, hendak salim. Bayu pun menyambut uluran tangan Keinan. Keinan mencium punggung tangan kanan Bayu.


"Assalamu'alaikum, Ayah," sapa Keinan.


"Wa'alaikumsalam, Keinan sayang," balas Bayu yang kemudian mengusap lembut kepala Keinan.


Bayu merangkul wanita yang berdiri di sebelahnya itu.


"Oh iya, Keinan sayang, kenalin ini Tante Alya. Dia istrinya Ayah," kata Bayu memperkenalkan wanita di sebelahnya yang ternyata adalah Alya kepada Keinan.


Keinan kemudian salim dan mencium punggung tangan kanan Alya juga.


"Assalamu'alaikum, Tante Alya. Nama saya Keinan," sapa Keinan sopan seraya memperkenalkan dirinya sendiri.


"Wa'alaikumsalam, Keinan. Duh, pinter banget sih anak kamu ini, sayang," puji Alya.


"Iya, Keinan memang anak yang pintar dan cerdas," kata Bayu dengan tersenyum bangga.


"Oke, aku setuju dia ikut kita," kata Alya tiba-tiba yang langsung membuat Keinan mengernyitkan keningnya merasa bingung.


"Apa maksud perkataan Anda itu?" tanya Awan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Bayu dan Alya.


"Papa," teriak Keinan riang.


Keinan langsung berlari menghampiri Awan kemudian memeluknya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Papa," sapa Keinan yang langsung salim dan mencium punggung tangan kanan Awan.


"Wa'alaikumsalam, Keinan sayang," balas Awan dengan tersenyum lembut.


Awan kemudian mengangkat Keinan dan menggendongnya.


"Hai, Awan," sapa Bayu.


"Hai juga," balas Awan mencoba bersikap ramah. "By the way, maksud dari perkataan istri kamu tadi apa, Bay?" tanya Awan kemudian yang seketika berubah menjadi serius.


Awan bisa melihat Bayu yang nampak menjadi salah tingkah.


"Ah, eh, itu ... Maksudnya ---"


"Maksud dari perkataan saya adalah kami ingin mengambil alih hak asuh atas Keinan. Kami ingin agar Keinan bisa ikut tinggal bersama dengan kami," potong Alya cepat pada perkataan Bayu.


"APA???" tanya Awan begitu terkejutnya


"Keinan nggak mau. Keinan mau tinggal sama Bunda sama Papa," tolak Keinan juga sedikit berteriak.


"Sebentar, Bay. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan kita disini," potong Awan cepat. "Silahkan ikut aku ke kafe milikku di seberang jalan sana. Mari!" ajak Awan kemudian.


Bayu mengangguk menyetujui perkataan Awan. Awan membalikkan tubuhnya dengan membawa serta Keinan dalam gendongannya. Awan melangkah terlebih dahulu meninggalkan area sekolah Keinan, menuju ke kafe miliknya. Bayu dan Alya pun kemudian mengikuti langkah Awan dari belakang.


☘️☘️☘️


"Halo, Bos kecil," sapa Adit begitu melihat Awan membawa Keinan dalam gendongannya.


Keinan yang meletakkan kepalanya di bahu Awan tidak menjawab sapaan dari Adit. Wajahnya terlihat sangat murung saat ini.


"Lah, kok wajahnya ditekuk gitu? Keinan kenapa, Bos?" tanya Adit kepada Awan.


"Adit, tolong tutup kafenya sekarang. Pelanggan yang sudah terlanjur datang, beritahu baik-baik, tapi jangan diburu-buru juga. Biarkan mereka menyelesaikan makan dan minum mereka terlebih dahulu. Tapi gratiskan pesanan mereka sebagai permintaan maaf dari kita," perintah Awan kepada Adit.

__ADS_1


"Eh. Ba-baik, Bos," balas Adit patuh, meskipun dia sebenarnya bingung juga.


"Mari, silahkan masuk," kata Awan mempersilahkan kepada Bayu dan Alya untuk mengikuti dirinya dan Keinan masuk ke dalam kafe tersebut.


Melaksanakan perintah dari bosnya tadi, Adit kemudian membalik tulisan yang tergantung pada pintu kafe menjadi 'CLOSED'. Adit juga lalu memberitahukan tentang perintah Awan tadi kepada Maya, Danu, Dedi, dan juga chef Yudha.


Setelah mendapatkan kabar dari Adit, meski Maya, Danu, Dedi, dan chef Yudha juga sama bingungnya dengan Adit saat ini, tapi kemudian mereka semua bergegas memberitahukan kepada para pelanggan yang berada di dalam kafe mereka tersebut bahwa kafe akan segera tutup, seperti perintah dari bosnya tadi. Dan sebagai permintaan maaf dari pihak kafe, para pelanggan tidak perlu membayar pesanan mereka.


Awan mempersilahkan Bayu dan Alya untuk duduk pada salah satu meja kafe terlebih dahulu.


"Adit, tolong bawakan minuman untuk tamu kita," kata Awan setengah berteriak kepada Adit.


"Siap, Bos," balas Adit dari depan meja barista.


Beberapa saat kemudian, satu per satu pelanggan mulai meninggalkan kafe Awan tersebut. Awan kemudian mengajak Keinan untuk duduk di kursi di depan Bayu dan Alya. Keinan duduk merapat dengan Awan seraya merangkul lengan kanan papanya tersebut. Awan mengusap lembut kepala Keinan, memberi rasa nyaman kepada putranya itu.


Tidak lama kemudian Adit pun datang dengan membawa dua gelas orange jus untuk Bayu dan Alya.


"Silahkan dinikmati," kata Adit setelah menghidangkan minuman di depan Bayu dan Alya.


Adit kemudian pamit untuk kembali ke meja barista. Menghampiri Maya, Danu, Dedi, dan chef Yudha yang sudah berkumpul disana terlebih dahulu.


"Silahkan diminum dulu," kata Awan mempersilahkan kepada Bayu dan Alya.


"Iya, Wan. Makasih," balas Bayu.


Bayu meminum orange jus miliknya, menghargai niat baik Awan. Tetapi berbeda dengan Alya di sebelahnya yang hanya duduk diam dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Raut wajah Alya juga nampak tidak bersahabat, Awan bisa melihat hal tersebut.


"Jadi, Bay, sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu datang bersama istri kamu? Dan kenapa juga tadi istri kamu mengatakan hal seperti itu?" tanya Awan mencoba untuk mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya dengan jelas.


"Ehem, sebenarnya gini, Wan, aku udah cerita sama Alya masalah Keinan dan juga masalah Shofi yang menikah dengan kamu. Ya, seperti yang kamu juga tau, aku dan Alya sudah menikah selama hampir lima tahun dan sampai sekarang kami juga belum dikaruniai seorang anak. Kebetulan ini Alya ada acara fashion show disini terus dia minta dipertemukan sama Keinan. Kami bermaksud untuk mengajak Keinan untuk tinggal bersama dengan kami," jawab Bayu menjelaskan kepada Awan.


"Nggak usah berbelit-belit deh, sayang. Bilang aja langsung kalau kita mau mengambil alih hak asuh Keinan. Jadi biar Keinan bisa ikut tinggal bersama dengan kita. Syukur-syukur Keinan bisa jadi pancingan biar aku juga bisa cepat hamil," kata Alya to the point.

__ADS_1


Maya, Adit, Danu, Dedi, dan chef Yudha yang masih bisa mendengar pembicaraan Awan dengan Bayu dan Alya dari meja barista kompak langsung merasa terkejut begitu mendengar perkataan dari Alya tadi. Mereka berlima saling berpandangan, tidak menyangka kalau akan terjadi hal tidak terduga seperti ini.


Keinan semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan kanan Awan. Dapat Awan rasakan kalau putranya itu sedikit ketakutan. Sementara Awan sendiri sebenarnya juga merasa kaget dan marah. Tetapi Awan berusaha untuk sebisa mungkin meredam amarahnya dan berusaha untuk tetap tenang dan berpikir dengan kepala dingin.


__ADS_2