Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
40. Makin Mesra


__ADS_3

Tanpa terasa sudah lebih dari dua bulan Awan dan Shofi menikah. Kehidupan mereka berdua bersama dengan Keinan juga semakin harmonis. Wulan juga sedikit demi sedikit sudah mulai bisa menerima kehadiran Shofi. Dan Shofi juga Awan, begitu juga dengan Surya, Langit, dan Anjani, sangat bersyukur untuk hal itu.


Tiap seminggu sekali, Awan juga selalu menyempatkan untuk membawa Shofi dan Keinan datang berkunjung ke rumah Aminah, meskipun tidak selalu dapat menginap. Tapi tetap, minimal dua minggu sekali, Awan pasti mengajak Shofi dan Keinan untuk menginap di rumah Aminah.


Seperti hari ini. Akhir pekan ini Awan mengajak Shofi dan Keinan untuk menginap di rumah Aminah. Kebetulan juga Hamzah sedang mendapat jatah libur dari kafe tempatnya bekerja sampingan. Sehingga suasana makan malam di rumah Aminah malam ini pun menjadi sangat ramai.


"Papa, Kei mau ayam gorengnya satu lagi dong," pinta Keinan.


"Oke, sayang," balas Awan yang kemudian mengambilkan satu potong ayam goreng untuk Keinan.


"Jangan ayam terus dong, Kei. Sayurnya juga dimakan itu," tegur Shofi halus.


"Iya, Bun. Nanti Keinan makan juga kok sayurnya," jawab Keinan.


"Awas aja kalau sampai sisa," kata Shofi lagi setengah mengancam.


"Tenang aja, Bun. Nggak akan sisa kok. Kan ada Papa yang siap ngabisin sayurnya Keinan," balas Keinan dengan entengnya.


"Keinan," seru Shofi dengan membulatkan kedua matanya.


"Haish, dasar kamu itu, Kei. Kebiasaan. Pasti ujung-ujungnya Papa deh yang dijadiin tumbal," gerutu Awan.


"Iya dong, Pa. Kan sekarang Keinan punya Papa, hahahaha," balas Keinan dengan tertawa riang.


"Dasar kamu, Kei. Pinter banget sekarang cari alesan," kata Hamzah seraya geleng-geleng kepala dan tersenyum.


"Gitu tuh, Dek, kelakuan keponakan kamu itu sekarang. Apa-apa pasti langsung papanya deh yang diajuin buat selametin dia," gerutu Shofi juga.


"Ya nggak pa-pa dong, sayang. Kan itu emang udah tugasnya Mas buat selalu bantuin Keinan," bela Awan.


Sekarang Awan mulai berani memanggil Shofi dengan sebutan 'sayang' di depan keluarganya yang lain. Meski awalnya Shofi merasa malu, tetapi akhirnya lama kelamaan Shofi menjadi terbiasa juga.


"Mas Awan juga sama aja deh. Mas itu seringnya terlalu manjain Keinan," gerutuan Shofi masih berlanjut.


"Kan masih dalam batasan wajar, sayang," kata Awan membela diri.

__ADS_1


"Ya tapi tetep aja, Keinan jadi ngeyel karena ngerasa ada yang belain terus," kesal Shofi dengan memberengut yang justru terlihat lucu.


"Tenang aja, kalau ngeyel nanti biar Mas deh yang bakalan jewer Keinan," hibur Awan.


"Udah, Bun. Jangan marah-marah terus. Awas loh nanti bobok dihukum sama Papa," peringat Keinan.


"Keinan," seru Shofi lagi dengan suara meninggi.


"Eh, emang hukumannya apaan, Kei?" tanya Hamzah kepo.


"Rahasia dong, Om. Hahahaha" jawab Keinan yang kemudian tertawa.


Awan ikutan tertawa kecil mendengar perkataan Keinan tadi. Sementara wajah Shofi sudah merah karena merasa malu.


Aminah mengulum senyum sedari tadi, menyaksikan perdebatan di antara anak-anak dan cucunya itu. Dalam hati Aminah sangat bersyukur melihat kebahagiaan yang sekarang dirasakan oleh Shofi dan juga Keinan.


"Nenek, nanti Kei mau bobok sama nenek aja, ya. Biar Papa bisa menghukum Bunda dengan bebas," celetuk Keinan tiba-tiba menoleh ke arah Aminah.


"Iya, sayang. Boleh," jawab Aminah yang akhirnya ikut angkat bicara juga.


"Mantap, Kei. Kamu memang yang paling bisa ngertiin Papa," puji Awan dengan mengangkat kedua jempol tangannya.


Awan tertawa melihat reaksi Shofi dan juga wajah istrinya yang sudah sangat merah itu. Keinan pun ikut mengangkat kedua jempol tangannya, membalas sang Papa. Hamzah tersenyum melihat kekompakan Keinan dengan ayah sambungnya tersebut.


"Udah-udah, ayo lanjutin dulu makannya. Bercandanya nanti lagi," tegur Aminah pada akhirnya.


Awan, Shofi, dan Hamzah pun mengangguk mengiyakan.


"Oke, nenek," seru Keinan yang kemudian kembali melanjutkan acara makannya.


Mereka berlima pun kemudian melanjutkan acara makan malam mereka. Suasana hangat penuh dengan canda tawa memenuhi seisi rumah Aminah malam hari ini.


☘️☘️☘️


Shofi melangkah masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh untuk Awan. Dihampirinya suaminya itu yang masih terlihat sibuk di meja kerja sederhana di dalam kamar mereka tersebut.

__ADS_1


"Diminum dulu tehnya, Mas," kata Shofi seraya mengangsurkan secangkir teh hangat kepada Awan.


Awan menoleh ke arah Shofi.


"Terima kasih, sayang," balas Awan dengan menerima cangkir teh tersebut dari tangan Shofi.


Setelah mengucap basmalah Awan kemudian mulai meminum teh buatan istrinya itu.


"Kamu tidur duluan aja, sayang. Temenin Keinan juga itu yang udah bobok," kata Awan kepada Shofi.


"Belum ngantuk, Mas. Lagian Keinan juga nggak perlu ditemenin kok. Kan kelihatan juga dari sini kalau semisal nanti dia kebangun," balas Shofi yang masih berdiri di samping Awan.


Awan menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan istrinya itu.


"Mas lagi ngerjain apa sih? Kok kayaknya sudah banget" tanya Shofi ketika melihat nota-nota yang berserakan di atas meja kerja suaminya itu.


"Ini nih, sayang, lagi mau ngrekap pemasukan dan pengeluaran kafe minggu ini. Mbak Maya kan udah mulai cuti, usia kehamilannya udah delapan bulan lebih kan. Terus si Adit yang gantiin kakaknya itu sementara ini. Tapi ya karena Adit belum berpengalaman juga masalah ginian, jadi ya gini deh, semua nota dia kumpulin jadi satu. Pembukuan juga cuma dijadiin satu kayak gini. Makanya ini Mas lagi mau misahin mana yang pemasukan mana yang pengeluaran. Tetapi ternyata susah juga, ya. Haduh,,," gerutu Awan setelah menjelaskan panjang lebar kepada Shofi.


"Mau aku bantuin, Mas?" tawar Shofi seraya tersenyum.


"Boleh banget dong, sayang," balas Awan bersemangat.


Shofi kemudian melihat sebentar ke arah buku yang sedang diperiksa oleh suaminya itu. Setelah itu Shofi kemudian beralih kepada nota-nota yang berserakan di atas meja. Ditelitinya nota-nota tersebut satu per satu.


"Kita pisahin dulu aja ya, Mas, mana yang nota pemasukan dan mana yang nota pengeluaran. Setelah itu baru kita susun berdasarkan tanggal. Biar lebih mudah nanti kita nyatetnya," kata Shofi kemudian.


"Eh, iya juga, ya. Wah, untung aja ada kamu, sayang. Mas jadi ada yang bantuin dan nggak bingung lagi ini," balas Awan dengan tersenyum senang.


"Lain kali kalau ada kesulitan bilang dong, Mas. Siapa tau kan aku bisa bantuin Mas," kata Shofi ikut tersenyum kepada suaminya itu.


"Iya, sayang. Mas sampai lupa kalau istri Mas ini ahli dalam bidang keuangan. Tau gitu dari tadi dong Mas minta bantuan sama kamu. Nggak perlu sampai pusing-pusing kayak gini, hehe," goda Awan.


"Udah deh, Mas. Masih sempet aja godain. Buruan kita selesai-in dulu ini, biar bisa segera istirahat," balas Shofi.


"Siap, Bu Bos," kata Awan seraya mengangkat tangan kanannya dengan posisi hormat kepada Shofi.

__ADS_1


Shofi tersenyum seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah suaminya itu.


Awan kemudian berdiri dari duduknya lalu mengambilkan satu kursi untuk Shofi. Keduanya kemudian bersama-sama memilah nota-nota tersebut kemudian mencatatnya berdasarkan jurnal masing-masing.


__ADS_2