Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
35. Keluarga Kecil Baru


__ADS_3

Setelah Keinan pulang sekolah, mereka bertiga pun kemudian pamit kepada para karyawan di kafe untuk pulang ke rumah lebih dulu.


"Mbak Maya, kita bertiga langsung balik, ya. Titip kafe. Nanti tutup kayak biasanya aja," pamit Awan kepada Maya yang saat ini sedang duduk di belakang meja kasirnya.


"Oke, Bos. Aman. Bos tenang aja pokoknya," balas Maya seraya mengangkat ibu jari tangan kanannya.


"Siiip," ucap Awan yang juga ikut mengangkat ibu jari tangan kanannya.


"Kami pamit duluan ya, Mbak Maya," pamit Shofi juga.


"Iya, Bu Bos. Hati-hati di jalan, ya," balas Maya seraya tersenyum.


"Iya, Mbak. Makasih," ucap Shofi dengan tersenyum juga.


"Semuanya, duluan, ya. Assalamu'alaikum," pamit Awan setengah berteriak kepada Adit, Danu, dan Dedi.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Bos," balas Adit, Danu, dan Dedi kompak.


"Yo-i," seru Awan.


Awan yang saat ini sedang menggendong Keinan kemudian menggandeng tangan Shofi juga. Shofi sempat terkejut, tetapi kemudian tersenyum dan berusaha untuk membiasakan diri. Awan adalah suaminya sekarang. Mereka bertiga kemudian melangkah keluar dari kafe dan menuju ke mobil Awan yang terparkir di halaman kafe.


☘️☘️☘️


Sesampainya di rumah, Shofi langsung membantu Wulan dan Bik Sani untuk mempersiapkan makan siang, sementara Awan menemani Keinan untuk berganti pakaian.


Setelah makan siang siap, Surya, Wulan, Awan, Shofi, dan Keinan pun kemudian makan siang bersama di meja makan.


"Bunda, nanti malam Keinan mau bobok sama Bunda sama Papa, boleh kan?" tanya Keinan.


Shofi yang kaget dengan pertanyaan dari Keinan pun langsung menoleh ke arah Keinan. Begitu juga dengan Awan, Surya, dan Wulan.


"Loh, kenapa? Keinan nggak suka ya bobok sama Oma sama Opa?" tanya Wulan dengan wajah cemberutnya yang menampakkan kesedihan.


"Bukan kok, Oma. Keinan suka kok bobok sama Oma sama Opa. Tapi kan dari dulu Kei selalu bobok sama Bunda. Jadi Kei mau bobok sama Bunda lagi. Apalagi sekarang kan udah ada Papa. Keinan kan juga pengen ngerasain bobok dikelonin sama Papa," jawab Keinan panjang lebar.


Awan tersenyum kemudian mengusap kepala Keinan penuh sayang.


"Iya, sayang. Nanti malam Keinan bobok sama Papa sama Bunda, ya. Nanti biar Papa yang ngelonin Keinan," kata Awan.

__ADS_1


"Yeay, asyik. Keinan bakalan bobok dikelonin sama Papa," girang Keinan.


"Tapi kapan-kapan Keinan mau kan bobok sama Oma sama Opa lagi?" tanya Wulan berharap.


"Mau kok, Oma. Nanti kapan-kapan Keinan bobok sama Oma sama Opa lagi, ya," jawab Keinan dengan tersenyum senang.


"Oke, Keinan sayang," balas Wulan dengan tersenyum juga.


Shofi tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah putranya itu.


"Siap-siap puasa dulu kamu malam ini, Wan," kata Surya pelan, menggoda Awan.


Uhukkk!


Shofi dan Awan seketika tersedak mendengar perkataan dari Surya tersebut.


"Papa," tegur Wulan dan Awan bersamaan.


"Hahahaha," Surya justru tertawa.


"Opa kenapa ketawa? Emang ada yang lucu, ya?" tanya polos Keinan.


"Yah, kasihan dong, Opa. Anak laki-laki itu nggak bisa main lagi dong dengan mainan barunya," kata Keinan merasa iba.


"Nah, makanya itu, sayang. Kasihan ya anak laki-laki itu, harus pinter-pinter mencari kesempatan untuk bisa bermain dengan mainan barunya lagi," lanjut Surya lagi.


"Papa, udah deh. Jangan ngeracunin pikiran anak kecil," sewot Awan dengan wajah masam.


Surya justru tertawa semakin keras. Wulan menggelengkan kepalanya beberapa kali, sudah terlalu hafal dengan sikap jahil suaminya itu. Sementara Shofi hanya bisa menundukkan kepalanya. Merasa malu dan canggung mendengar semua godaan dari Surya tadi.


☘️☘️☘️


Malam harinya.


Setelah selesai menggosok gigi, Shofi kemudian membawa Keinan untuk naik ke tempat tidur, dimana Awan sudah menunggu disana. Mereka bertiga lalu membaringkan tubuh mereka. Keinan berada di tengah, sementara Awan dan Shofi di sebelah kiri dan kanannya.


Sesuai janjinya tadi, Awan akan mengeloni Keinan tidur malam ini. Awan pun kemudian melingkarkan tangan kanannya di tubuh Keinan dan memeluk putra sambungnya tersebut dari samping. Diciumnya kening Keinan penuh sayang. Shofi yang berbaring miring di sebelah keduanya pun ikut tersenyum lembut.


"Papa," panggil Keinan.

__ADS_1


"Iya, sayang."


"Keinan seneng banget deh."


"Kenapa?"


"Karena sekarang Keinan udah punya papa kayak temen-temen Keinan yang lainnya. Keinan bisa ngerasain sekolah dianter sama Papa. Dijemput juga sama Papa. Ngerasain disayang Papa. Bahkan sekarang Keinan bobok sambil dikelonin sama Papa. Keinan seneng banget," jawab polos Keinan terlihat begitu gembira.


Kedua mata Shofi seketika berkaca-kaca mendengar semua perkataan putranya itu. Awan menyentuh tangan Shofi menggunakan jari tangannya yang sedang memeluk Keinan. Awan kemudian menggelengkan kepalanya pelan begitu Shofi menoleh ke arah dirinya.


Shofi yang paham dengan maksud dari Awan pun kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Papa juga seneng banget. Sekarang Papa punya Keinan sama Bunda yang nemenin Papa," kata Awan yang kemudian semakin mengeratkan pelukannya kepada Keinan.


"Keinan tenang aja, ya. Sekarang Keinan udah punya Papa. Dan Papa janji Papa akan selalu menyayangi Keinan dan juga Bunda. Sekarang kita adalah keluarga. Ini adalah keluarga kecil kita yang baru," lanjut Awan lagi.


"Iya, Papa," balas Keinan.


"Udah malem. Sekarang Keinan baca do'a terus bobok, ya. Kan besok Keinan sekolah," kata Awan.


"Siap, Papa," balas Keinan dengan tersenyum.


Shofi dan Awan ikut tersenyum. Awan kemudian memimpin do'a sebelum tidur untuk mereka bertiga.


"Selamat malam, Papa. Selamat malam, Bunda," ucap Keinan yang kemudian mencium pipi Awan dan Shofi bergantian.


"Selamat malam, Keinan sayang," balas Awan dan Shofi yang langsung mencium Keinan bersamaan di pipi kanan dan kirinya.


Keinan tersenyum senang, begitu juga dengan Awan dan Shofi. Keinan kemudian mulai menutup kedua matanya dan bersiap untuk tidur.


Awan mengulurkan tangan kirinya yang bebas melewati sebelah atas kepala Keinan. Awan kemudian mengusap lembut kepala Shofi menggunakan tangan kirinya tersebut.


Shofi yang kaget pun langsung melihat ke arah Awan. Dapat Shofi lihat Awan tersenyum dengan lembut.


"Selamat malam, Shofi," bisik Awan.


"Selamat malam, Mas," balas Shofi ikut berbisik juga.


Sepasang suami istri baru itupun saling melempar senyum. Keduanya kemudian mulai memejamkan mata mereka masing-masing. Menyusul Keinan yang sudah terlebih dahulu terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2