Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
50. Kabar Bahagia


__ADS_3

Bayu dan Alya sudah kembali ke London bersama dengan rombongan tim agensi model Alya yang kemarin mengikuti acara fashion show di ibukota.


Awan dan Shofi merasa bersyukur karena akhirnya masalah hak asuh Keinan yang ingin diambil alih oleh Bayu dan Alya sudah benar-benar selesai sekarang. Kepulangan Bayu dan Alya kembali ke London menandakan bahwa mereka berdua tidak jadi melanjutkan permasalahan pengambilalihan hak asuh atas Keinan.


Hari-hari selanjutnya dijalani oleh Awan, Shofi, dan Keinan dengan bahagia. Keluarga kecil mereka juga semakin harmonis dari hari ke hari. Tidak ada masalah yang berarti menerpa rumah tangga mereka.


☘️☘️☘️


Satu bulan kemudian.


"Sayang, kamu kenapa? Kok megangin kepala kayak gitu?" tanya Awan khawatir ketika dirinya keluar dari kamar mandi dan melihat Shofi yang sedang duduk di kursi meja riasnya seraya memegangi kepalanya.


Shofi mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Awan yang terdengar cemas itu. Awan pun segera melangkah mendekati Shofi.


"Kamu kenapa, sayang? Pusing kah?" tanya Awan dengan memegangi bahu Shofi.


"Aku nggak pa-pa kok, Mas. Cuma pusing sedikit aja kok," jawab Shofi dengan tersenyum, tidak ingin membuat suaminya itu merasa semakin khawatir.


"Beneran nggak pa-pa? Wajah kamu pucat loh, sayang," tanya Awan lagi masih khawatir.


"Iya, Mas. Beneran nggak pa-pa kok. Udah, Mas Awan ganti baju dulu, ya. Itu udah aku siapin bajunya," jawab Shofi sekaligus mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hmm, ya udah. Mas ganti baju dulu, ya. Setelah itu kita turun untuk sarapan," kata Awan yang pada akhirnya mengalah, meski jujur Awan tetap saja merasa Shofi sedang tidak sehat saat ini.


"Iya, Mas," balas Shofi dengan tersenyum.


Awan kemudian berjalan ke arah tempat tidur, dimana Shofi sudah mempersiapkan pakaian ganti untuk dirinya. Awan pun segera memakai pakaiannya tersebut.


Sudah beberapa hari ini Shofi merasakan pusing, mual-mual, dan juga tubuhnya yang mudah merasa capek. Kejadian ini hampir sama dengan yang dia alami ketika dirinya sedang hamil Keinan dulu. Dan seingat Shofi, memang dirinya juga sudah terlambat datang bulan sejak seminggu yang lalu.

__ADS_1


Shofi tersenyum kecil, besar harapan Shofi semoga perkiraannya ini benar. Tetapi Shofi juga harus memastikannya terlebih dahulu sebelum memberitahukannya kepada Awan. Shofi berencana untuk mampir ke apotek nanti untuk membeli testpack kehamilan.


Selesai memakai pakaiannya, Awan kemudian mengajak Shofi untuk turun ke bawah. Surya, Wulan, dan Keinan sudah menunggu mereka di meja makan untuk sarapan pagi bersama.


Sarapan pagi berlangsung dengan hangat seperti biasanya. Setelah selesai sarapan pagi, seperti biasanya juga Shofi menyempatkan diri untuk membantu Wulan dan Bik Sani untuk membereskan meja makan.


"Mama perhatiin dari kemarin-kemarin kamu sering mual tiap kali lagi bantuin masak. Makan kamu juga jadi sedikit, nggak kayak porsi biasanya. Kamu hamil, ya?" tanya Wulan pelan seraya berdiri di samping Shofi yang sedang membereskan piring kotor.


Shofi tertegun, tidak menyangka kalau ibu mertuanya itu akan memperhatikan sampai sedetail itu. Shofi mengangkat wajahnya dan menatap ibu mertuanya, yang walaupun masih bersikap sedikit dingin tetapi begitu perhatian, tersebut.


"Perkiraan Shofi juga seperti itu, Ma. Soalnya aku udah telat juga. Tapi nanti aku baru mau beli testpack untuk memastikan dulu, Ma," jawab Shofi dengan pelan juga.


Shofi tau kalau ibu mertuanya itu pasti tidak ingin yang lain mendengar pembicaraan mereka dulu sebelum semuanya pasti. Dan Shofi pun juga berpikir seperti itu. Shofi ingin memastikan semuanya terlebih dahulu sebelum memberitahukannya kepada keluarganya yang lain.


"Semoga hasilnya positif dan sesuai dengan perkiraan kamu," ucap Wulan mendo'akan, masih dengan suara yang pelan.


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Semoga saja ya, Ma. Dan terima kasih banyak untuk do'anya," balas Shofi.


☘️☘️☘️


Saat ini Shofi sedang berada di dalam kamar mandi dan mencoba testpack kehamilan yang tadi siang sudah dia beli di apotek ketika sedang istirahat makan siang.


Shofi mencelupkan ujung testpack tersebut ke dalam wadah yang berisi air seninya. Shofi menunggu dengan perasaan yang was-was dan penuh harap. Jantung Shofi terasa berdebar-debar saat ini.


Setelah sekitar satu menit berlalu Shofi kemudian mengangkat testpack tersebut. Dan senyum lebar seketika menghiasi wajah cantik Shofi ketika dia melihat ada dua garis merah pada testpack yang sedang dia pegang saat ini.


"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin," ucap syukur Shofi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Shofi bergegas untuk keluar dari dalam kamar mandi. Dan begitu Shofi membuka pintu kamar mandi, kebetulan sekali Shofi berpapasan dengan Awan yang baru saja masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang," panggil Awan setelah menutup pintu kamarnya.


Dan begitu terkejutnya Awan begitu melihat air mata yang sudah mengalir membasahi wajah cantik istrinya itu. Setengah berlari Awan langsung bergegas menghampiri Shofi.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu nangis?" tanya Awan khawatir dengan menangkup wajah Shofi menggunakan kedua tangannya.


Awan mengerutkan keningnya ketika melihat Shofi yang justru tersenyum begitu lebar.


"Sayang?" tanya Awan bingung.


Shofi mengangkat testpack kehamilan dengan dua garis merah yang sedang dia pegang dan menunjukkannya kepada Awan.


"Aku hamil, Mas," lirih Shofi dengan senyuman yang masih setia menghiasi wajah cantiknya yang berurai air mata itu.


Awan terpaku seraya membulatkan kedua matanya. Seketika otaknya blank begitu mendengar perkataan istrinya itu. Awan merasa terkejut dan seakan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Tetapi sesaat kemudian, bibir Awan terbuka dan menampakkan senyuman lebarnya yang terlihat begitu bahagia. Awan mengambil alih testpack kehamilan yang dipegang oleh Shofi kemudian melihatnya dengan seksama. Dan benar saja, ada dua garis merah yang terlihat pada benda pipih tersebut. Senyuman Awan semakin lebar melihat hal tersebut.


"Kamu hamil, sayang?" tanya Awan yang juga sudah mulai menitikkan air mata tanpa dia sadari.


"Iya, Mas," jawab Shofi seraya mengangguk pelan.


"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin. Terima kasih banyak, Yaa Allah," ucap syukur Awan yang langsung menarik Shofi ke dalam pelukannya dan menciumi puncak kepala istrinya itu berulang kali.


Shofi membalas pelukan Awan sama eratnya. Sepasang suami istri tersebut menangis haru dengan berpelukan setelah mengetahui kabar bahagia yang memang sudah mereka nanti-nantikan tersebut.


"Syukur alhamdulillah. Terima kasih banyak, Yaa Allah. Terima kasih untuk kabar bahagia ini. Terima kasih atas kepercayaan yang sudah Engkau titipkan kepada kami ini. Kami berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, Yaa Allah," ucap syukur Awan, lagi dan lagi.


"Terima kasih ya, sayang. Terima kasih karena kamu sudah bersedia mengandung benih cinta kita. Mas bahagia banget, sayang," ucap Awan juga kepada Shofi seraya menciumi puncak kepala istrinya itu lagi.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sama-sama. Aku juga bahagia banget, Mas," balas Shofi dari dalam pelukan Awan.


Rasa syukur yang tak terhingga Awan dan Shofi panjatkan kehadirat Allah SWT atas kepercayaan berupa keturunan yang sudah Allah SWT titipkan dalam rahim Shofi saat ini.


__ADS_2