Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
38. Memiliki Seutuhnya


__ADS_3

Setelah seharian kemarin Shofi merawat Awan dengan sebaik mungkin, akhirnya Awan pun sudah sembuh dan sudah tidak panas lagi sekarang.


Shofi yang pagi ini sedang duduk menyisir rambut di depan meja riasnya pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika mengingat tingkah laku suaminya itu kemarin, saat dia sedang sakit.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya sebelumnya, Awan kalau sedang sakit manjanya bisa melebihi anak kecil. Awan selalu meminta untuk tidur di pangkuan Shofi. Dan ketika dia meminum obatnya, maka Awan akan mencium Shofi setelahnya dengan alasan untuk menghilangkan rasa pahit.


Grep.


Shofi terperanjat ketika tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Mas Awan," kaget Shofi begitu melihat bayangan suaminya tersebut pada kaca di depannya.


"Lagi mikirin apa apa sih, sayang?"


Wajah Shofi tersipu mendengar Awan yang memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'. Ya, semenjak ciuman mereka kemarin, Awan kemudian merubah panggilannya kepada Shofi menjadi 'sayang'.


Tetapi hal itu hanya dilakukan oleh Awan ketika mereka sedang berdua saja. Karena ketika ada Keinan, Awan memanggil Shofi dengan sebutan 'bunda', mengikuti panggilan Keinan.


"Tuh kan malah jadi bengong. Tadi nyisir rambut sambil senyum-senyum sendiri, eh sekarang malah bengong. Mikirin apa sih, sayang?" tanya Awan lagi.


Shofi tersadar dari lamunannya. Shofi kemudian tersenyum lembut.


"Nggak lagi mikirin apa-apa kok, Mas," jawab Shofi.


"Bohong banget. Pasti lagi mikirin suami kamu yang ganteng ini, iya kan?" tebak Awan seraya menaik-turunkan alisnya berkali-kali.


Shofi tertawa kecil melihat tingkah suaminya itu. Dan Shofi juga mengakui dalam hatinya kalau suaminya itu seringkali bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan dengan sangat tepat.


"Mas Awan pede banget, sih. Dasar narsis," olok Shofi masih dengan tertawa kecil.


"Biarin narsis. Yang penting kamu udah sayang kan sama Mas, hmm-hmm?" lagi-lagi Awan menggoda Shofi dengan menaik-turunkan alisnya.


"Maaasss,,," rajuk Shofi dengan memanjangkan kata.


Ceklek.


Tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka, menampakkan tubuh kecil Keinan yang mulai melangkah masuk ke dalam kamar.


"Bunda, Papa, ayo turun. Kita sarapan dulu. Malah peluk-pelukan lagi disini," kata Keinan yang sudah berdiri di samping Awan dan Shofi.


Bukannya melepaskan pelukannya, Awan justru menarik tubuh kecil Keinan lalu memeluk Keinan dan Shofi secara bersamaan.

__ADS_1


"Bentar ah. Masih nyaman peluk-pelukan," kata Awan seraya memejamkan kedua matanya, meresapi hangatnya kebersamaan mereka bertiga.


Shofi dan Keinan pun kemudian ikut merentangkan kedua tangan mereka dan saling memeluk satu sama lain seperti yang dilakukan oleh Awan. Mereka bertiga berpelukan, saling meluapkan rasa kasih sayang mereka.


Beberapa saat kemudian, Shofi yang terlebih dahulu mengakhiri acara pelukan mereka tersebut.


"Udah yuk. Kita turun buat sarapan. Kasihan Opa sama Oma kelamaan nungguin kita," kata Shofi.


Awan dan Keinan kompak menganggukkan kepala mereka. Awan kemudian menggendong Keinan. Tangan kirinya yang bebas pun lalu menggenggam tangan kanan Shofi. Mereka kemudian turun untuk bergabung dengan Surya dan Wulan di meja makan untuk sarapan pagi bersama.


☘️☘️☘️


Sore ini Awan menjemput Shofi pulang kerja seperti biasanya. Ya, semenjak menikah dengan Awan, Shofi dan Keinan berangkat dan pulang selalu diantar oleh Awan.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Shofi seraya membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam dan duduk di kursi di sebelah Awan.


Shofi kemudian mencium punggung tangan kanan Awan.


"Wa'alaikumsalam, sayang," balas Awan dengan tersenyum lembut.


"Keinan nggak ikut, Mas?" tanya Shofi seraya memakai sabuk pengamannya.


"Enggak. Tadi Bang Langit sama Bintang jemput Keinan ke kafe. Mereka ngajakin Keinan untuk nginep di rumah mereka malam ini. Mumpung besok tanggal merah juga, anak-anak kan pada libur sekolahnya. Bintang punya mainan baru katanya, mau ngajak Keinan main bareng."


"Keinan mau nginep di rumah Bang Langit?"


"Iya."


"Seriusan enggak? Anak itu belum pernah jauh dari aku. Takutnya malah nanti malam-malam dia rewel terus ngerepotin Bang Langit sama Kak Jani," kata Shofi sedikit khawatir.


"Tenang aja. Tadi Bang Langit udah bilang kok sama Mas, kalau nanti sewaktu-waktu Keinan rewel dia bakal langsung ngabarin kita. Justru biar Keinan latihan mandiri juga kan, sayang."


"Hmm, iya juga sih, Mas. Ya udah deh. Semoga nggak rewel itu anak nanti di rumah Bang Langit."


"Aamiin. Semoga enggak ya, sayang."


☘️☘️☘️


Sesuai harapan Awan dan Shofi tadi sore, Keinan benar-benar tidak rewel di rumah Langit. Bahkan tadi Langit telepon Awan dan mengabarkan kalau Keinan, Bintang, dan Inara sudah tidur semua karena kecapekan bermain.


Awan dan Shofi saat ini juga sudah membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Sini, sayang," panggil Awan, meminta Shofi untuk masuk ke dalam pelukannya.


Shofi tersenyum, kemudian segera beringsut untuk masuk ke dalam pelukan hangat suaminya tersebut.


Cup. Cup. Cup.


Awan menciumi kepala Shofi beberapa kali seraya mengeratkan pelukannya. Shofi adalah wanita yang sudah dewasa. Dan Shofi paham, Shofi bisa merasakan kalau ada sesuatu yang berbeda dengan suaminya itu malam ini.


"Mas," panggil Shofi.


"Hmm," jawab Awan dengan bergumam.


"Mas pengen, ya?" tanya Shofi pelan.


"Hmm-mmm. Tapi seperti janji Mas dulu, Mas akan nunggu sampai kamu benar-benar merasa siap."


Shofi menarik nafas dalam, menguatkan hatinya sendiri. Sudah saatnya bagi Shofi untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan Shofi tidak ingin menundanya lebih lama lagi dan membuat suaminya itu terus menunggu.


"Insya Allah aku udah siap kok, Mas," kata Shofi pada akhirnya.


Awan yang kaget pun seketika mengangkat wajahnya kemudian menatap lekat ke arah Shofi.


"Kamu bilang apa tadi, sayang?"


Awan seakan belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya tadi. Itu kenapa dia bertanya lagi kepada Shofi untuk memastikan.


"Insya Allah malam ini aku udah siap untuk menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri, Mas," ulang Shofi mantap seraya tersenyum lembut kepada suaminya itu.


Awan sampai melongo karena terkejut.


"Beneran, sayang?"


Shofi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Senyum Awan langsung mengembang. Awan kemudian kembali memeluk Shofi dengan erat. Diciuminya lagi kepala istrinya itu.


Awan merenggangkan pelukannya. Diusapnya lembut pipi Shofi. Awan kemudian mencium kening istrinya itu. Mencium kedua mata Shofi yang terpejam, kedua pipi Shofi, hidung Shofi, dan terakhir Awan pun kemudian mencium bibir manis Shofi yang sekarang sudah menjadi candunya itu.


Ciuman Awan yang mulanya lembut penuh dengan perasaan kasih sayang itupun akhirnya mulai berubah menjadi menuntut. Perlahan Awan mulai mengangkat tubuhnya dan memposisikan diri di atas tubuh Shofi.


Shofi kemudian melingkarkan kedua tangannya pada leher Awan. Menyadari Shofi yang sudah bertindak kooperatif dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Awan, Awan pun akhirnya semakin berani untuk bertindak lebih jauh lagi.


Dan akhirnya malam itu Awan bisa memiliki Shofi seutuhnya. Setelah dua minggu, akhirnya sepasang pengantin baru itupun melakukan apa yang sudah seharusnya mereka lakukan sejak malam pertama pernikahan mereka dulu.

__ADS_1


__ADS_2