Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
36. Pacaran Halal


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, Awan dan Shofi sengaja mengajak Keinan untuk berolahraga ke taman di kompleks perumahan mereka tersebut. Mereka joging ringan sekaligus menemani Keinan bermain disana.


"Keinan udah capek belum?" tanya Shofi ketika mereka sudah selesai berlari satu putaran.


"Larinya udah ya, Bunda. Kei mau main bola sama Papa aja," jawab Keinan sekaligus meminta.


Shofi melihat ke arah Awan. Awan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya udah. Yuk kita main bola. Biar Bunda yang jadi penontonnya," kata Awan dengan mengusap kepala Keinan.


"Ayo, Pa," sambut Keinan riang.


"Kamu istirahat aja dulu, ya. Mas nemenin Keinan main bola dulu disana," kata Awan kepada Shofi.


"Iya, Mas. Sekalian aku siapin minum untuk kita bertiga, ya," balas Shofi.


Awan menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.


"Ayo, Pa. Buruan," kata Keinan tidak sabar.


Keinan kemudian menarik tangan Awan, mengajaknya menuju ke tempat yang lebih lapang untuk bermain bola.


Shofi mendudukkan dirinya di rerumputan, tidak jauh dari Awan dan Keinan yang sedang bermain bola saat ini. Shofi juga menyiapkan minuman untuk mereka bertiga yang memang sudah dia bawa sejak dari rumah tadi.


"Ayo, Pa. Tangkap bolanya," teriak Keinan riang seraya menendang bola ke arah Awan.


Awan yang berpura-pura jatuh dan tidak dapat menangkap bola dari Keinan, membuat Keinan memekik senang.


"Horeee, gooollll," pekik Keinan seraya berlari berputar-putar.


Awan kemudian bangun lalu mengambil bola yang tadi ditendang oleh Keinan.


"Hebat ya anaknya Papa," puji Awan dengan mengusap kepala Keinan penuh sayang.

__ADS_1


"Baru satu kali. Ayo Pa kita main lagi," ajak Keinan bersemangat.


"Ayo!" balas Awan ikut bersemangat juga.


Awan dan Keinan melanjutkan permainan bola mereka. Riuh suara tawa Keinan yang begitu bahagia bisa didengar dengan jelas oleh Shofi dari tempatnya duduk saat ini.


Shofi tersenyum melihat keakraban putra dan suaminya tersebut. Apalagi ketika melihat kebahagiaan di wajah putranya itu, Shofi benar-benar merasa sangat bersyukur.


☘️☘️☘️


Siang harinya, Awan mengajak Shofi dan Keinan untuk berbelanja keperluan bulanan mereka ke mall.


Seperti biasanya, Awan menggendong Keinan dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggandeng tangan kanan Shofi. Mereka berjalan beriringan memasuki salah satu mall terbesar di kota mereka tersebut.


Shofi mulai membiasakan diri dengan semua perlakuan manis Awan kepada dirinya. Meski jujur saja, hati Shofi rasanya masih selalu berdegup kencang tiap kali mendapati perlakuan manis maupun gombalan dan juga godaan-godaan Awan kepada dirinya itu.


Suasana berbelanja kali ini sangat menyenangkan dirasakan oleh mereka bertiga.


"Pa, Pa, yang itu, Pa," tunjuk Keinan pada pasta gigi anak yang dia inginkan.


"Yang rasa strawberry aja, Pa," jawab Keinan.


"Idih, cowok kok strawberry. Yang lain dong Kei. Jeruk atau anggur gitu," ejek Awan menggoda Keinan.


"Tapi kan Kei sukanya yang rasa strawberry, Pa, manis," kekeuh Keinan.


"Nggak mau. Pokoknya Papa mau beliin Keinan yang rasa lain aja. Nah, rasa anggur boleh juga tuh," goda Awan lagi.


"Iiihhh, Papa. Nggak mau. Pokoknya Kei maunya yang rasa strawberry aja," kata Keinan ngotot.


"Yang rasa anggur aja," kata Awan seraya memasukkan satu buah pasta gigi anak dengan rasa anggur ke dalam troli belanjaan mereka.


"Nggak mau. Yang rasa strawberry aja," balas Keinan dengan mengambil pasta gigi yang tadi diletakkan oleh Awan kemudian menggantinya dengan pasta gigi rasa strawberry yang sudah dia ambil sendiri.

__ADS_1


"Dih, ngeyel. Cowok kok suka rasa strawberry sih, Kei," cibir Awan masih menggoda Keinan.


"Biarin, wleee," balas Keinan dengan menjulurkan lidahnya.


Awan tertawa melihat kelakuan Keinan tersebut. Sementara Shofi hanya bisa ikut tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suami dan putranya itu. Dari tadi seperti itulah keseruan Awan dan Keinan ketika mau mengambil barang-barang belanjaan yang hendak mereka beli.


Selesai acara berbelanja, mereka bertiga kemudian makan siang bersama di salah satu restoran di mall tersebut. Dan seperti biasanya juga, acara makan siang mereka tersebut pun juga tidak kalah serunya. Dari tadi Awan dan Keinan terus saja bercanda dan saling menggoda satu sama lain.


"Mas, Keinan, udah dong. Makan dulu yang bener. Nanti keselek lho," tegur Shofi ketika mendapati Awan dan Keinan yang masih saja terus bercanda di sela-sela acara makan mereka.


"Uhuk, uhuk!!!"


Dan benar saja, Awan pun akhirnya tersedak dan terbatuk-batuk.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Ini, Mas, minum dulu," kata Shofi seraya mengangsurkan minuman kepada Awan.


Awan menerima gelas minum dari Shofi kemudian meminumnya. Shofi pun kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Awan.


"Makasih," kata Awan tersenyum ke arah Shofi, setelah batuknya reda.


"Mas Awan kayak anak kecil deh. Masak makan aja masih belepotan kayak gini," kata Shofi yang kemudian mengambil tisu lalu mengusap saus yang terdapat di dekat bibir Awan.


"Hehe, kan biar dibersihin sama kamu," kata Awan dengan cengirannya.


"Ck, apaan sih, Mas," rajuk Shofi pelan.


"Cieee, Bunda sama Papa kayak orang lagi pacaran aja," goda Keinan seraya tersenyum jahil melihat interaksi Awan dan Shofi tersebut.


"Kei,,," kata Shofi terkejut dengan membulatkan kedua matanya.


"Kan emang lagi pacaran, Kei. Pacaran halal, hahahaha," balas Awan yang kemudian tertawa terbahak-bahak.


Keinan pun ikut tertawa. Sementara Shofi menjadi salah tingkah dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Keinan dan Awan benar-benar cocok satu sama lain. Bahkan Shofi juga merasa kalau sekarang Keinan sudah banyak ketularan sifat Awan yang jahil dan suka menggoda itu.


Shofi mengesah pelan dan tersenyum diam-diam. Kesehariannya bersama dengan Keinan terasa semakin berwarna semenjak kehadiran Awan dalam kehidupan mereka. Dan Shofi merasa sangat bersyukur untuk hal itu.


__ADS_2