Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
52. Kabar Mengejutkan


__ADS_3

✉️: Assalamu'alaikum, sayang. Sayang ada sedikit masalah dengan supplier bahan baku di kafe. Hari ini juga Mas harus selesai-in dan datengin langsung kesana. Tempatnya di daerah perbukitan di pinggiran kota. Nggak pa-pa kan, sayang? Oh iya, Mas udah minta tolong sama Hamzah untuk jemput kamu saat pulang kerja nanti. Kalau untuk Keinan, Mas juga udah minta tolong sama Adit untuk nganterin dia pulang ke rumah nanti. Maaf ya, sayang. Dadakan banget soalnya.


Shofi membaca pesan yang dikirimkan oleh Awan kepada dirinya. Shofi tersenyum kemudian segera mengetikkan pesan balasan untuk suaminya itu.


✉️: Wa'alaikumsalam, Mas. Iya, Mas. Nggak pa-pa kok. Tanggung jawab Mas untuk menyelesaikan masalah kafe lebih penting. Mas Awan hati-hati di jalan, ya. Aku do'akan semoga urusannya berjalan dengan lancar nanti dan Mas bisa segera pulang dengan selamat.


Setelah mengirimkan pesan balasannya kepada Awan, tidak lama kemudian pesan balasan dari Awan pun masuk kembali ke ponsel Shofi.


✉️: Aamiin Yaa robbal 'aalamiin 🤲. Terima kasih untuk do'anya ya, sayang. Kamu juga hati-hati, ya. Jaga calon buah hati kita baik-baik. Setelah urusannya selesai Mas pasti segera pulang. I love you Shofi. Mas sayang banget sama kamu 😘.


Shofi mengernyitkan keningnya seraya tertawa kecil membaca balasan pesan dari Awan tersebut. Tidak biasanya Awan mengirimkan pesan yang mesra seperti ini. Awan biasanya lebih sering mengungkapkannya secara langsung. Entah ketika mereka sedang bersama atau juga melalui telepon.


Sejauh yang Shofi ingat, ini adalah pertama kalinya suaminya itu mengirimkan pesan yang romantis seperti ini.


Tidak ingin suaminya menunggu terlalu lama, Shofi pun kemudian mengetikkan pesan balasannya lagi.


✉️: Love you too Mas Awan. Shofi juga sayang banget sama Mas Awan. Cepet pulang, ya. Aku, Keinan, dan calon buah hati kita nungguin Mas di rumah.


✉️: Siap, sayangku.


Shofi kembali tersenyum. Setelah itu Shofi pun kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.


☘️☘️☘️


Shofi, Billa, Hana, dan Tari baru saja kembali dari makan siang mereka. Keempat wanita cantik itu berhenti dan mengobrol sejenak di dekat meja kerja Shofi dan Hana. Jam istirahat masih tersisa sekitar sepuluh menit lagi saat ini.


"Cieee, yang mau nikah, dari tadi senyum-senyum aja neng sambil mainin HP," ledek Tari kepada Hana yang sedang senyum-senyum sendiri seraya memainkan ponselnya.


"Iiihhh, Mbak Tari mah. Cuma lagi balesin WA aja kok," ucap Hana sedikit salah tingkah seraya menyimpan ponselnya kembali.


"WA dari calon suami kan?" tanya Billa yang ikut menggoda Hana juga.

__ADS_1


"Mbak Billa,,," seru Hana semakin malu dan salah tingkah.


Tawa Tari dan Billa seketika langsung pecah. Shofi yang sudah mendudukkan dirinya di kursi kerjanya itu pun juga ikut tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya tersebut.


Tiba-tiba saja,


Prang!!!


Tangan Shofi tidak sengaja menyenggol foto keluarga yang ada di atas meja kerja Shofi sehingga terjatuh dan pecah.


"Astaghfirullah hal adziim," kaget Shofi seraya memegangi dadanya.


Shofi, Billa, Hana, dan Tari pun seketika berjengit karena terkejut.


"Kamu nggak pa-pa kan, Shofi?" tanya Billa khawatir yang langsung menghampiri Shofi dan memegang pundaknya.


"A-aku nggak pa-pa kok, Mbak," jawab Shofi, masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar-debar karena terkejut.


"Iya, Mbak Tari. Makasih, ya," balas Shofi.


Tari menganggukkan kepalanya kemudian berjongkok untuk mengumpulkan pecahan kaca dari bingkai foto yang pecah tersebut.


Hana mengambil bingkai foto yang terjatuh itu kemudian menyerahkannya kembali kepada Shofi.


"Ini Mbak fotonya," kata Hana.


"Makasih ya, Hana," ucap Shofi seraya menerima bingkai foto yang sudah tidak ada kacanya tersebut dari Hana.


Tari segera membuang pecahan kaca yang sudah dia kumpulkan itu ke dalam tempat sampah. Sementara Billa dan Hana berdiri di sebelah kanan dan kiri Shofi seraya memegangi pundak Shofi.


Shofi melihat foto keluarga yang berada di tangannya tersebut. Foto dirinya, Awan, dan juga Keinan. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan Shofi merasa sangat khawatir saat ini. Shofi merasa seperti sesuatu telah terjadi.

__ADS_1


"Kenapa bisa jatuh sih, Mbak?" tanya Hana hati-hati.


"Nggak tau, Han. Kayaknya kesenggol tangan Mbak tanpa sengaja," jawab Shofi masih dengan raut wajah cemasnya.


"Ya udah. Cuma bingkai foto yang pecah, nanti bisa kita ganti lagi. Yang penting kamu nggak kenapa-kenapa, Shof," kata Billa juga.


"Tapi kok tiba-tiba perasaan aku jadi nggak enak banget ya, Mbak," lirih Shofi.


"Jangan terlalu dipikirkan, Shofi. Bingkai fotonya jatuh dan pecah karena nggak sengaja kesenggol sama kamu, itu aja kok," kata Tari yang baru saja kembali setelah membuang pecahan kaca ke tempat sampah.


"Iya, Shofi. Jangan berpikiran yang macam-macam ya. Itu cuma kejadian yang tidak disengaja aja," imbuh Billa juga.


"Iya, Mbak. Semoga saja begitu," balas Shofi, lirih.


Dan tiba-tiba,


"Telah terjadi sebuah kecelakaan di daerah perbukitan di pinggiran kota. Sebuah truk yang mengangkut buah dan sayur mengalami rem blong dan menabrak beberapa kendaraan yang berada di depannya. Sebuah mobil Av*nza berwarna silver dengan nomor polisi B 4488 AD terjatuh ke dalam jurang yang berada di sisi jalan. Beberapa sepeda motor yang juga ikut terlibat dalam kecelakaan tersebut juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Proses evakuasi dan identifikasi saat ini masih berlangsung dari pihak kepolisian."


Terdengar berita yang mengalun nyaring dari televisi yang tergantung pada dinding kantor di dekat pantry, yang memang biasa dihidupkan ketika jam istirahat sedang berlangsung seperti saat ini.


Shofi membulatkan kedua matanya.


"B 4488 AD? Itu mobilnya Mas Awan," pekik Shofi tiba-tiba.


Billa, Hana, Tari, dan juga beberapa rekan kerja mereka yang memang sudah kembali dari istirahatnya pun seketika menoleh ke arah Shofi dengan terkejut.


Shofi langsung berdiri dari duduknya dengan panik.


"Itu mobilnya Mas Awan, Mbak. Dan tadi emang Mas Awan bilang sama aku kalau dia mau ke daerah perbukitan di pinggiran kota untuk mendatangi supplier bahan baku di kafenya," kata Shofi panik seraya memegang tangan Billa yang berada di sampingnya.


"Shofi, kamu tenang dulu, Shofi. Jangan panik dulu. Kita konfirmasi dulu kebenaran beritanya. Oke?" kata Billa berusaha menenangkan Shofi yang sedang panik tersebut.

__ADS_1


Hana dan Tari pun juga berusaha untuk menenangkan Shofi. Keduanya merangkul dan mengusap-usap punggung serta lengan Shofi untuk bisa menenangkan ibu hamil yang terlihat sangat panik tersebut.


__ADS_2