
"Itu mobilnya Mas Awan, Mbak. Dan tadi emang Mas Awan bilang sama aku kalau dia mau ke daerah perbukitan di pinggiran kota untuk mendatangi supplier bahan baku di kafenya," kata Shofi panik seraya memegang tangan Billa yang berada di sampingnya.
"Shofi, kamu tenang dulu, Shofi. Jangan panik dulu. Kita konfirmasi dulu kebenaran beritanya. Oke?" kata Billa berusaha menenangkan Shofi.
Hana dan Tari pun juga berusaha untuk menenangkan Shofi. Keduanya merangkul dan mengusap-usap punggung serta lengan Shofi untuk bisa menenangkan ibu hamil yang terlihat sangat panik tersebut.
Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel Shofi yang berdering nyaring. Shofi segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya tersebut.
Shofi melihat layar pada ponselnya tersebut, panggilan masuk dari Langit. Shofi pun kemudian segera menerima panggilan tersebut dengan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya ke atas.
"Assalamu'alaikum, Bang," sapa Shofi cepat.
"Wa'alaikumsalam, Shofi. Kamu udah lihat berita di televisi?" tanya Langit dari seberang panggilan.
"Udah, Bang. Tapi itu bukan Mas Awan kan, Bang?" Shofi balik bertanya dengan menuntut.
"Papa tadi ngabarin Abang kalau pihak kepolisian sudah menghubungi Papa. Ini Abang udah jemput Papa. Sekarang Abang sama Papa lagi dalam perjalanan ke kantor kamu buat jemput kamu. Kita kesana sama-sama, ya," jawab Langit tidak bisa memberikan kepastian.
"Jadi maksud Bang Langit? Itu beneran Mas Awan, Bang?" lirih Shofi yang semakin terkejut.
"Kita pastikan dulu sama-sama ke lokasi kejadian, ya," kata Langit mencoba menjawab dengan hati-hati.
Tubuh Shofi seketika melemas dan limbung. Untung saja Hana dan Tari masih memegangi Shofi di kanan dan kirinya. Mereka berdua kemudian mendudukkan Shofi ke kursi kerjanya.
Air mata semakin mengalir menganak sungai di wajah Shofi. Tangisan Shofi semakin menjadi. Hana, Tari, dan Billa terus berusaha untuk menenangkan Shofi. Tidak lama kemudian nampak Azril yang menghampiri meja kerja Shofi tersebut.
"Billa," panggil Azril.
"Iya, Pak," balas Billa.
"Surya sudah menghubungi saya. Kalian bantu bereskan barang-barang Shofi. Setelah itu kalian temani Shofi turun ke bawah. Surya dan Langit sudah dalam perjalanan untuk kesini menjemput Shofi," kata Azril mengarahkan kepada Billa, Hana, dan Tari.
__ADS_1
"Baik, Pak," balas Billa.
Hana dan Tari kemudian membantu membereskan barang-barang Shofi di atas meja.
"Shofi, yuk kita temenin turun ke bawah," ajak Billa.
Shofi mengangguk lemah sebagai jawaban. Billa dan Tari kemudian memapah Shofi di sebelah kanan dan kirinya, sementara Hana membawakan tas Shofi. Mereka bertiga menemani Shofi untuk turun ke bawah, menunggu Surya dan Langit yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput Shofi.
☘️☘️☘️
Surya, Langit, dan Shofi bergegas menuju ke lokasi terjadinya kecelakaan. Sementara Hamzah menemani Wulan dan Keinan bersama dengan Anjani, Bintang, dan Inara di rumah.
Setibanya di lokasi terjadinya kecelakaan, Shofi semakin lemas begitu melihat keadaan yang masih lumayan kacau tersebut. Surya dan Langit kemudian mengajak Shofi untuk langsung menemui pihak kepolisian yang berwenang dan menanyakan tentang keberadaan Awan.
"Mobil dalam keadaan kosong ketika tim kami sampai di bawah. Tim kami juga sudah menyisir di sekitar lokasi jatuhnya mobil tersebut. Kami menduga kalau pengemudi terjatuh ke sungai di bawahnya karena kami menemukan bekas seperti seseorang sudah jatuh menggelinding dan juga ceceran darah menuju ke tebing di atas sungai di bawah sana," kata polisi yang bertugas, menjelaskan kepada Langit yang berada di depannya.
Di belakang Langit, tubuh Shofi seketika melemas dan limbung kembali begitu mendengar semua perkataan polisi tersebut. Untung Surya dengan sigap menopang tubuh menantunya tersebut.
"Boleh kami lihat, Pak?" tanya Langit.
"Silahkan," jawab polisi tersebut.
Langit kemudian mengambil kantong plastik tersebut dari tangan Pak polisi dan memperlihatkannya kepada Surya juga Shofi. Shofi segera bangun dari dekapan Surya dan melihat kantong plastik yang dibawa oleh Langit tersebut. Shofi langsung membulatkan kedua matanya.
"Ini dompetnya Mas Awan, Bang. Mas Awan kalau nyetir memang selalu meletakkan dompetnya di dashboard mobil. Katanya ngganjel kalau ditaruh di saku celana. Jadi,,, Mas Awan,,,"
Brugh!!!
Tubuh Shofi langsung ambruk. Untungnya Surya dengan sigap kembali menangkap tubuh menantunya tersebut. Shofi seketika jatuh pingsan karena dirinya terlalu syok.
"Shofi," pekik Surya dan Langit bersamaan.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Setelah jatuh pingsan tadi, Shofi sempat dibawa ke rumah sakit. Beruntungnya keadaan Shofi dan janin yang sedang dikandungnya berada dalam kondisi sehat. Shofi segera meminta untuk dibawa pulang setelah sadar karena kepikiran dengan Keinan.
Saat ini Shofi sedang berada di dalam kamarnya dengan memeluk Keinan. Aminah dan Hamzah duduk di pinggiran tempat tidur, menemani Shofi dan Keinan.
"Keadaan Mama gimana, Bu?" tanya Shofi dengan wajah sembabnya
"Kata Anjani tadi Mama kamu sudah sadar. Tapi ya gitu, beliau masih nangis terus," jawab Aminah.
"Kakak mau lihat Mama, Bu," kata Shofi.
"Ya sudah. Ayo, biar ibu sama Hamzah anterin," balas Aminah.
Aminah kemudian membantu Shofi untuk turun dari tempat tidur. Hamzah juga menggandeng Keinan. Mereka berempat kemudian berjalan pelan menuju ke kamar Wulan dan Surya.
"Mama," panggil Shofi begitu memasuki kamar Wulan.
Shofi kemudian menghampiri Wulan yang sedang ditenangkan oleh Anjani dan Surya di atas tempat tidurnya.
"Shofi," balas Wulan.
Shofi kemudian duduk di hadapan Wulan. Wulan pun kemudian langsung memeluk Shofi. Kedua wanita berbeda generasi tersebut menangis dengan saling berpelukan.
"Awan pasti baik-baik saja, Shofi. Mama yakin itu. Awan pasti baik-baik saja," kata Wulan di sela-sela tangisannya.
"Iya, Ma. Shofi tau itu. Shofi juga yakin kalau Mas Awan pasti baik-baik saja, Ma. Mas Awan pasti segera kembali pulang dan berkumpul lagi dengan kita semua, Ma," balas Shofi yang juga sudah kembali menangis.
Anjani ikut menangis melihat Shofi dan Wulan yang sedang berpelukan dengan menangis tersebut. Langit segera merangkul Anjani. Mencoba menenangkan istrinya, wanita yang sangat dicintainya itu.
Suasana di dalam kamar tersebut begitu penuh dengan kesedihan saat ini. Keluarga Surya sedang berduka karena kecelakaan yang sudah dialami oleh Awan. Apalagi mengingat kondisi Awan yang menghilang dan belum diketahui keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Seluruh keluarga berdo'a semoga Awan berada dalam kondisi baik-baik saja dan dapat segera ditemukan kembali.