Aku Bukan Bidadari Surgamu

Aku Bukan Bidadari Surgamu
54. Merindu buah hati


__ADS_3

Mina membuatkan pisang goreng untuk cemilan ayah dan bunda yang tengah mengobrol dengan Athar di ruang tamu. Karena bunda sangat menyukai pisang goreng sejak dulu hingga Mina berinisiatif untuk membuatkannya.


"Silahkan di makan ayah..bunda..mumpung masih hangat," ucap Mina seraya mempersilahkan mertuanya untuk makan cemilan yang tersedia.


"Makasih Mina, ayo duduk dulu, kamu juga ikut makan dong.." kata bunda yang juga ingin mengobrol dengan Mina.


Mina pun duduk dan ikut mendengarkan obrolan.


"Apa belum ada tanda tanda kehadiran cucu kami" ucap Bunda mengagetkan Mina hingga ia tersedak saat memakan pisang goreng.


"Bunda..itu semua kan rahasia Allah, kita hanya bisa berusaha, sampai sejauh ini belum ada tanda tanda Bun, mungkin Allah belum mengizinkan kami untuk memiliki seorang buah hati," jelas Athar pada Bunda.


Mina Hanya terdiam karena tak bisa menjawab apa pun.


"Maaf ya kalau pertanyaan bunda menyinggung kalian, bunda tidak bermaksud.."


"Iya Bun Mina faham kok, setiap orang pasti menginginkan kehadiran buah hatinya, Mina faham bagaimana perasaan bunda, tapi kita harus sabar dulu ya Bun, mungkin Allah masih ingin membimbing kami untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik bagi keturunan kami nanti," tutur Mina dengan lembut.


Malam itu, saat Athar dan Ayah masih di mesjid, Bunda mencoba berbicara berdua dengan Mina. Tepatnya di ruang tengah. Bunda berbicara dengan nada lembut namun tampaknya yang ia bicarakan amat serius.


"Mina..maaf ya nak kalau bunda salah telah berbicara seperti tadi, tapi jujur bunda memang merindukan seorang cucu, tak masalah itu kaki laki atau perempuan, tapi bunda dan ayah ingin sekali menggendong cucu, rasanya itu adalah keinginan setiap orang tua yang mulai lanjut usia seperti kami," tutur Bunda dengan lembutnya.


"Iya bunda..Mina mengerti kok, Mina juga ingin memiliki buah hati yang hadir di keluarga ini, tapi apalah daya Mina Bun, semuanya kembali pada kehendak Allah,"


"Jangan berkecil hati ya nak, bunda tidak bermaksud menyinggung kamu dan Athar, hanya saja rasanya wajar jika bunda menanyakan ini karena usia pernikahan kalian sudah hampir tiga bulan,"


Mina tampak merasa bersalah di depan bunda karena ia belum juga bisa memberikan cucu pada ayah dan bundanya.


"Bunda doain ya, semoga Mina di percayakan Allah untuk mengandung, jujur Mina juga ingin sekali memiliki keturunan Bun, tapi Mina mencoba percaya kalau Allah tau yang terbaik untuk Mina, mungkin saja Allah belum memberi karena Mina dan mas Athar belum mampu menjadi orang tua yang baik," ucap Mina yang menahan air matanya.

__ADS_1


...*...


Saat Mina tengah melamun di kamar, Athar datang menemuinya. Ia baru pulang dari mesjid dan langsung menemui mina di kamar.


"Kamu kenapa ngelamun sayang," sapa Athar dan duduk di samping Mina.


"Mas..apa kita perlu ke dokter untuk konsultasi, sepertinya bunda dan ayah sangat ingin menimang cucu,"


"Sayang..usia pernikahan kita kan masih muda, wajar saja kalau kita belum punya momongan, di luar sana banyak yang usia pernikahannya sudah bertahun tahun namun belum di karuniai anak,"


"Tapi mas.."


"Udah..jangan di pikirkan lagi, mungkin Allah belum meridhoi kita menjadi orang tua, kita harus banyak bersabar dan berdoa sayang," lanjut Athar seraya menenangkan hati Mina.


Mina pun terdiam dan bersandar pada Athar, ia mencoba menuruti perkataan suaminya itu.


Keesokan hari,


"Kok pulangnya buru-buru sih Bun," tanya Athar saat mereka sudah di depan rumah.


"Nggak enak lama lama gangguin kalian nak, lagian bunda takut ketinggalan kajian, bunda mau buru-buru pulang, semalam udah di telponin sama ibu ibu wirid," jelas Bunda.


"Iya Athar..kami harus pamit ya, lain kali insyaa allah kami ke sini lagi" tutur Ayah sebelum mereka pergi.


tak lupa sebelum ayah bunda pergi Mina mencium tangan mertuanya begitupun Athar.


"Kami pamit ya, assalamualaikum," ucap ayah sebelum mobil benar-benar berjalan.


Keduanya tampak melambaikan tangan saat mobil sudah berjalan.

__ADS_1


Pasangan suami-istri itu masih menatap mobil orang tuanya yang semakin jauh dari pandangan.


Kini rumah kembali sepi setelah ayah dan bunda pergi. Saat Athar menatap Mina ia merasa aneh melihat Mina yang sedari tadi melamun. Ia tampak memikirkan sesuatu.


"Sayang..kamu kenapa, ada masalah apa?" tanya Athar, ia mengelus kepala Mina sembari menatap matanya.


"Nggak..aku nggak pa pa kok mas, oh ya..kita harus segera ke panti, kata Aisha dia akan memastikan apakah dia menyetujui atau tidak niat kita untuk memasukkan dia ke pesantren,"


"Ya udah kita ke sana sekarang ya, aku berharap Aisha mau,"


"Katanya dia bersedia mas, tapi dia cuma khawatir karena biayanya yang tidak sedikit, padahal aku udah bilang kalau dia nggak perlu mikirin biaya,"


"Ya sudah biar aku yang bujuk dia nanti ya," ucap Athar dan keduanya pun bergegas ke panti asuhan.


Sampailah di sana, Athar dan Mina kini mengobrol dengan Aisha di taman belakang panti asuhan.


"Bagaimana Aisha? apa kamu sudah memutuskan?" tanya Mina sembari menggenggam tangan Aisha.


Aisha hanya terdiam.Mungkin masih bingung keputusan apa yang harus ia ambil. Tentu ia merasa tidak enak untuk merepotkan Athar lebih banyak lagi.


"Umi..Abi.. sebenarnya aku tidak berharap jauh. apa yang umi dan Abi berikan ini sudah lebih dari cukup, aku tidak berharap banyak lagi, apalagi untuk sekolah di pesantren yang bagus, pasti itu mengeluarkan banyak biaya," tutur Aisha sembari menunduk.


"Aisha..jangan pikirkan biaya, tugas mu adalah belajar, selebihnya serahkan saja pada Abi," ucap Athar mencoba membujuk Aisha.


"Iya Aisha..justru kami senang melihat kamu sekolah di pesantren yang bagus, karena umi udah lihat kalau kamu benar-benar memiliki prestasi yang baik, terlebih dengan hafalan Qur'an mu, jadi umi harap kamu tidak menolak ya, ini demi kebaikan kamu sayang," tutur Mina sembari mengelus kepala Aisha.


"Abi juga nggak akan mengusulkan ini tanpa alasan, Abi sudah tau kalau kamu ini benar-benar bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu," lanjut Athar seraya meyakinkan Aisha.


Aisha pun memikirkan kembali. Ia memang sangat ingin melanjutkan sekolah di pesantren. Salah satunya adalah karena ia sudah tidak tahan dengan perlakuan tidak baik dari teman teman sekelasnya di sekolah.

__ADS_1


"Baiklah..aku bersedia," ucap Aisha singkat, ia mencoba meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan ini.


"Alhamdulillah," Mina amat lega setelah mendengar jawaban Aisha. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin melihat Aisha tumbuh menjadi santriwati yang Solehah.


__ADS_2