
8 Tahun Kemudian,,
Enam tahun berlalu. Kehidupan Mina dan Athar tak jauh berbeda dari dulu. Keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Athar selalu memperlakukan Mina dengan baik meskipun keduanya belum memiliki keturunan.
Pagi itu suasana panti asuhan sudah jauh berbeda dari enam tahun lalu. Anak anak yang ada di sana pun sudah berganti seiring berjalannya waktu. Yang sudah lulus SMA bepergian dan digantikan dengan anak anak yang membutuhkan tempat tinggal.
Anak anak tampak mencium tangan Mina dan Athar sebelum mereka berangkat ke sekolah masing masing. Itulah yang membuat hari hari Athar dan Mina lebih berwarna meski keduanya belum dikaruniai keturunan.
"Mas..aku bangga melihat semangat anak anak panti ini dalam menuntut ilmu, semoga masa depan mereka cerah ya," ucap Mina menoleh pada suaminya yang sedang memberangkatkan anak anak ke sekolah.
"Iya sayang..ini anak anak kita, jadi jangan pernah bersedih lagi meski allah belum memberi kita keturunan," balas Athar dengan tersenyum pada Mina.
Semua anak anak panti yang sekolah pun sudah berangkat. Kini tinggal Mina dan Athar di gerbang panti asuhan.
"Sayang...sebentar lagi Aisha akan sampai, kita harus menyambut dia, kamu rindu sama Aisha kan," ucap Athar, kini Aisha akan segera sampai di panti. Ia telah lulus kuliah di sebuah UIN yang cukup jauh.
8 Tahun Aisha pergi menuntut ilmu, hingga Mina amat merindukannya. Pagi ini Mina sangat bersemangat untuk menanti kedatangan Aisha.
"Iya mas..aku rindu sama Aisha, semoga Allah melindunginya dalam perjalanan ya," tutur Mina pada suaminya.
"Aamiin.."
Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan panti asuhan. Mina bersemangat mendekat ke depan. Perlahan pintu taksi terbuka. Terlihatlah sosok gadis cantik berjilbab abu abu. Ia adalah Aisha, kini ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang memiliki tatapan Indah dan akhlak yang baik.
"Umi.." teriak Aisha begitu ia melihat Mina. Ia pun berlari ke pelukan Mina.
"Akhirnya kamu pulang juga Aisha...tadi kami hampir tidak mengenali kamu, sekarang kamu cantik seperti bidadari," ucap Mina di pelukan Aisha.
"Umi juga tetap cantik seperti dulu, dan tetap menjadi wanita tercantik yang Aisha temui," ucap Aisha yang masih memeluk erat tubuh Mina.
__ADS_1
Semua pengurus panti yang ada di sana pun ikut menyambut kedatangan Aisha. Athar hanya berdiri di sana menatap Mina dan Aisha yang melepas rindu. Ia ikut bahagia melihat istrinya bahagia.
Setelah penyambutan itu, Mina dan Athar mengobrol dengan Aisha di taman panti asuhan. Keduanya saling melepas rindu. "Gimana kabar umi sama Abi, umi sama Abi sehat kan.." tanya Aisha yang duduk di samping Mina. Sedang athar berada di depannya.
"Alhamdulillah kabar kami selalu baik Aisha, gimana..pasti rasanya senang kan setelah kamu lulus S1 dengan nilai yang bagus," ujar Athar pada Aisha.
"Iya Alhamdulillah Aisha lega bi, bagaimanapun juga ini semua berkat umi dan Abi, makanya aku bisa dapat beasiswa kuliah,, terimakasih ya, aku tidak tau lagi bagaimana cara membalas itu semua," tutur Aisha, ia amat berhutang Budi pada Athar dan Mina yang selalu memberikan yang terbaik padanya.
"Sama sama Aisha, kamu tidak perlu membalas apa pun," balas Athar.
"Iya Aisha, justru kami bangga sama kamu nak, kamu sekarang menjadi orang yang berguna, jadi apa rencana kamu sekarang nak?" tanya Mina
"Aisha ingin mencari pekerjaan umi, tapi sementara waktu Aisha akan mengajar di sebuah Madrasah Aliyah di dekat sini, kemarin teman Aisha nelpon dan mengajak Aisha untuk bergabung di sekolah itu, Aisha pikir nggak ada salahnya Aisha terima pekerjaan itu sebelum dapat pekerjaan yang lebih baik," jelas Aisha menatap Mina.
"Iya nak..umi akan mendukung apa pun keputusan mu," tutur Mina sembari tersenyum menatap Aisha.
"Nggak usah umi, Aisha sangat senang bisa mengabdi di panti asuhan ini, saatnya aisha membantu adik adik di sini," tutur Aisha dengan lembut.
"Ya sudah kalau begitu kami pamit ya nak.. assalamualaikum," ucap Athar menatap Aisha yang berdiri di sana.
"Waalaikumussalam.."
Di mobil.
Athar dan Mina mengobrol seputar Aisha. Keduanya benar benar bangga melihat Aisha tumbuh dengan baik.
"Aisha sangat cantik ya mas, dia baik, Solehah..dan Sekarang sudah lulus S1, rasanya baru aja dia memakai seragam SMP saat aku ke sekolahnya dulu, eh sekarang udah jadi gadis dewasa yang baik," tutur Mina
"Iya sayang..aku Juga bangga dengan Aisha," balas Athar.
__ADS_1
...***...
Keesokan hari,
Saat Athar sedang berangkat bekerja, Mina menemui ayah dan bunda di rumah mertuanya itu. Kini ia sudah bisa menyetir mobil sendiri. Ia sudah izin pada suaminya terlebih dahulu karena ada barang penting milik Mina yang ketinggalan di rumah orang tua Athar.
Sampailah di depan rumah.
Mina berjalan ke dalam rumah, namun ia terhenti di depan pintu ketika mendengar suara perdebatan ayah dan bunda Athar.
"Ayah, bunda sebenarnya prihatin pada Athar, pernikahan Athar sudah berusia 8 tahun, tapi sayangnya kita belum juga dikaruniai cucu, usia bunda semakin menua, keriput di wajah mulai bermunculan, tapi belum juga menimang cucu," ucap bunda pada ayah di dalam rumah. Mereka tak menyadari bahwa Mina menyaksikan itu.
"Mau gimana lagi Bun, pasti kita semua menginginkan cucu, tapi ini kan sudah kehendak Allah, kita sabar aja ya, jangan sampai kita menyakiti Mina dengan perkataan kita," tutur Ayah menatap Bunda.
"Apa Athar harus menikah lagi yah, biar kita bisa menimang cucu,"
"Hus..jangan ucapkan itu lagi Bun, Athar sudah berkali kali mengingatkan kita agar tidak berkata seperti itu,"
"Tapi ayah..
"Udah..jangan mengeluh lagi bunda, masih syukur Allah memberi kita nikmat kesehatan hingga saat ini, jadi jangan banyak menuntut lagi,"
Mina mendengar itu semuanya. Hatinya bagai di tusuk mendengar perkataan pahit itu. Ternyata selama ini semua orang berusaha menjaga perasaannya tanpa memikirkan perasaan mereka sendiri yang sudah merindukan seseorang cucu.
Air mata Mina mulai menetes, ia mengelap air mata di pipinya sembari berjalan mundur. Ia tak jadi masuk dan memutuskan untuk pulang.
"Ya Allah..maafkan aku yang terlalu egois, aku tidak menyangka jika mas Athar benar benar menjaga perasaan ku, hingga ia mengingatkan orang tuanya untuk tidak menyinggung ku," batin Mina yang menangis saat ia menyetir mobil.
Mina pun merasa bersalah pada semua orang yang ia sayangi. Di sisi lain ia terharu dengan besarnya cinta Athar padanya. Sampai sejauh ini Athar tidak pernah menyakiti hatinya dengan kata kata apa pun apalagi tentang keturunan.
__ADS_1