Aku Bukan Bidadari Surgamu

Aku Bukan Bidadari Surgamu
56. Keluarga Baru


__ADS_3

Malam hari,


Malam itu Mina masih memikirkan hal yang sama. Yang mana ia khawatir bahwa orang tua athar akan terus menanyakan pertanyaan seperti kemarin.


Dengan kondisi mukenah yang masih di kenakan, Mina melamun di atas sajadah seusai ia sholat isya. "Ya Allah..apa pun yang suamiku katakan untuk menenangkan aku, tetap saja aku akan merasa sedih dengan hal ini, aku pasti akan kepikiran," batin Mina yang sedari tadi melamun.


Suara ketukan pintu terdengar, menghentikan lamunan Mina. Ia buru-buru berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Tak salah lagi pasti ketukan pintu itu adalah Athar yang baru pulang dari mesjid.


"Iya.. sebentar mas.." Sahut Mina dan kemudian membukakan pintu itu.


Benar saja, Athar sudah berdiri di sana. Namun Mina terkejut melihat Athar menggendong keranjang berisi Ayam betina berwarna kuning dengan bercak hitam. "Ini maksudnya apa mas?" tanya Mina yang masih terkejut dengan bawaan Athar.


"Kamu kesepian kan? ini keluarga baru kita sayang, kenalin ini namanya Swety, dia asli ayam kampung," jelas Athar sembari tersenyum menatap ayam yang ia jinjing keranjang nya.


Mina ternganga seolah masih tak mengerti dengan maksud Athar membawa ayam malam malam hari.


"Lah terus ini untuk apa? kamu mau aku masakin ayam ini?" tanya Mina lagi sambil tangannya menunjuk ayam betina itu, hingga ayam merasa malu. Ayam itu seketika berkokok menyambar Mina.


Mina menatap seolah kesal dengan suara keras ayam itu.


"Nggak lah, ini ayam untuk kita pelihara sayang, tadi ada warga yang menghadiahkan aku ayam ini, ya aku terima aja, kan nggak enak kalau aku tolak, lagian kamu kan kesepian kalau aku tinggal kerja, jadi mulai sekarang kamu nggak sendirian lagi di saat aku pergi kerja," tutur Athar sembari mengelus bulu kepala ayam tersebut.


Mina memegang kepalanya yang tidak sakit. Ia tak habis pikir dengan ide Athar yang sama sekali tidak menarik dan tentu tidak berfaedah.


"Mas..aku emang menginginkan kehadiran seorang anak, tapi nggak gini juga caranya mas! masa kamu suruh aku merawat ayam sih mas,"


"Sayang..anggap aja ini latihan, biar kamu pandai untuk menjaga dan merawat anak kita nanti," lanjut Athar sedang matanya sedari tadi menatap Swety si ayam betina.

__ADS_1


"Mas..merawat anak dan merawat ayam itu nggak bisa di samain mas, itu jauh beda! mana kotoran ayam nantinya pasti bau kan," gerutu Mina yang masih komplain.


"Tenang aja, ini ayamnya kita taro di teras rumah aja sayang, aku udah siapin rumah rumah ayam ini," ucap Athar sembari menoleh ke rumah ayam yang ternyata sudah ia siapkan dengan bentuk yang terlalu bagus untuk seekor ayam.


Mina ternganga, menatap ke samping, ia melihat kandang ayam yang lengkap dengan tirai berwarna pink. "Mas..sejak kapan itu ada di sini?"


"Tadi sore sayang, kamu nggak lihat karena dari tadi kamu di kamar Mulu kan, kerjaan kamu cuma ngelamun aja, makanya aku bawain kamu hadiah, biar kamu senang," lanjut Athar seraya tersenyum menatap Mina.


Mina tak bisa berkata apa apa lagi. Ia hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "terserah kamu deh mas,"


Athar mengeluarkan ayam betina itu dari keranjang untuk di letakkan di rumah ayam yang sudah ia sediakan. Bahkan itu tidak layak dikatakan kandang ayam, sepertinya lebih cocok di sebut sebagai rumah karena tampilannya yang indah.


Mina hanya menatap Athar dengan ekspresi yang masih bingung. Kenapa tiba-tiba suaminya menjadi seaneh ini. Apakah ini efek dari keinginan mempunyai anak yang tidak terpenuhi? entahlah intinya Mina ikuti saja kemauan suaminya.


Sebelum Athar memasukkan Swety ke rumahnya, Athar masih sempat mengelus dan mencium kepala Ayam itu.


Hingga Mina ternganga, rasanya tak bisa di percaya, suaminya yang merupakan laki-laki terhormat di perumahan ini ternyata bersikap semanis itu pada seekor ayam.


"Sekalian aja kamu tidur sama ayam itu mas, nggak usah masuk ke rumah ini, nanti ayam mu kesepian," cetus Mina dan langsung masuk ke dalam rumah.


...**...


Sementara itu di sisi lain bunda dan Ayah Athar sedang mengobrol di ruang tamu rumah ayah.


"Bun.. sepertinya bunda salah bicara sama Mina deh, kata Athar ..Mina akhir akhir ini selalu murung, apa bunda mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya?" tanya Ayah yang sedang menonton televisi bersama bunda Athar.


"Aku nggak sengaja menyinggung soal cucu Yah, apa Mina tersinggung ya? tapi bunda nggak bermaksud apa apa kok," tutur Bunda yang khawatir bahwa mina benar-benar tersinggung dengan ucapannya itu.

__ADS_1


"Bunda..lain kali bunda jangan bahas itu lagi di depan Mina ya, kalau memang ia sudah mengandung, pasti kita di kasih tau kok," ucap Ayah dengan pelan memberi saran pada bunda.


"Iya Yah..bunda minta maaf ya, lain kali bunda akan lebih hati hati saat bicara dengan Mina," tutur Bunda yang amat merasa bersalah.


"Ya sudah, mendingan kita banyak banyak berdoa, agar kita di karuniai cucu yang Soleh atau Solehah, kita hanya bisa berdoa Bun, Allah yang memberi dan Allah yang memutuskan!"


"Iya Yah, bunda akan mendoakan yang terbaik,"


...***...


Seperti biasa, sebelum subuh Athar dan Mina sudah berjalan berdua menuju mesjid di suasana sebelum fajar yang masih gelap. Hiasan langit yaitu bulan dan bintang masih terlihat jelas dan terang di pandangan Mina.


Julia datang menyapa dari belakang. Si tetangga perempuan itu memang tidak ada putus asanya untuk menarik simpati Athar.


"Ustad, tunggu!" panggil Julia dari arah belakang.


Athar dan Mina menoleh. begitu melihat Julia, Mina dengan sigap menggenggam tangan Athar dengan erat.


"Batal dong sayang!" ucap Athar dengan pelan ke telinga Mina.


"Biarin! stok air di mesjid masih banyak kan mas, kita bisa wudhu di sana," tegas Mina menatap Athar dengan tajam.


Melihat pemandangan di depannya melihat Julia sedikit kesal.


"Mba Mina kok nggak sholat di rumah aja, kan harusnya mba Mina di rumah aja, biar lebih nyaman gitu mba," tutur Julia yang berjalan di samping Mina.


"Iya sih, sholat di rumah memang baik untuk perempuan, tapi kan suami saya katanya kalau kemana mana harus ada saya, jadi saya sholat di mesjid aja, ngikutin suami mba," ucap Mina tersenyum menatap Athar.

__ADS_1


Rasanya Julia ingin mual mendengar jawaban itu. "Sok romantis bangat sih, kelihatan bangat kalau ustad Athar itu nggak cinta sama dia, pasti ustad athar cuma terpaksa tuh," batin Julia dengan tatapan sinis nya melirik Mina.


__ADS_2