
Beberapa hari kemudian, Mina masih memikirkan pembicaraan ayah dan bunda yang tidak sengaja ia dengar kemarin. Tentu Mina masih kepikiran dengan itu.
Ia amat bingung apa yang harus dilakukan saat ini. Konsultasi pada dokter pun sudah ia lakukan semuanya, namun Allah belum berkehendak. Ia hanya bisa sabar menanti.
Mina terlalu banyak beban pikiran, hinga ia tergeletak di kamar karena sakit. Kepalanya sedikit pusing. Dan nafsu makannya berkurang. Mungkin ini adalah asam lambung yang biasa kambuh ketika Mina jarang makan dan banyak beban pikiran.
Athar yang baru pulang dari mesjid melihat Mina yang tampak pucat di tempat tidur.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Athar dan mengecek kondisi Mina. Ia mendekat dan meletakkan tangannya di kening Mina.
"Kamu nggak panas kok, kamu sakit apa sayang, apa Asam lambung kamu naik lagi? soalnya aku perhatikan akhir akhir ini kamu susah makan,"
"Aku nggak pa pa mas," ucap Mina sembari tersenyum.
"Jangan bohong sayang, kamu sakit kan,"
"Cuma pusing dikit kok mas,"
"Bentar ya aku ambilkan obat kamu," ucap Athar dan bergegas mengambil obat yang tersedia di rumah.
Ia memberi obat itu pada Mina dan kemudian mengelus kepala Mina agar ia tertidur.
"Mas..aku mau kamu menikah lagi!" ucap Mina mengagetkan Athar.
Athar pun terkejut dengan ucapan Mina itu. "Sayang..maksud kamu apa?"
"Mas..ini demi kita mas, demi orang orang yang kita sayangi juga, dan demi kamu juga, apa alasan kamu tidak ingin menikah lagi? kamu punya harta yang cukup, punya ilmu yang cukup, jadi apa lagi mas, dan mumpung usia kamu juga masih memungkinkan, kamu juga masih terlihat tampan, pasti ada yang mau menjadi istrimu yang kedua,"
"Stop Mina..aku tidak bisa mencintai wanita selain kamu, perkara anak aku kan sudah berkali kali bilang, kalau anak anak panti adalah anak kita juga," balas Athar seraya menatap Mina.
"Mas..kita tidak boleh egois, aku tau ayah dengan bunda pasti sudah lama menanti seorang cucu, tolong pikirkan baik baik mas, aku ikhlas kalau kamu menikah, tolong dengarkan aku untuk kali ini saja," pinta mina dengan bersungguh sungguh.
"Tapi sayang.. sedikit banyaknya pasti akan ada yang sakit di antara kita,"
"Nggak mas..aku mengizinkan kamu menikah lagi karena Allah, bukankah kamu yang bilang kalau kita harus selalu menempatkan Allah menjadi yang paling utama untuk kita cintai, makanya aku tidak akan sakit jika berbagi cinta mu, dan dengan mengikhlaskan kamu menikah, siapa tau Allah melimpahkan pahalanya pada ku jika aku menjadi hamba-nya yang ikhlas,"
__ADS_1
"Mungkin ini karena efek samping dari ras pusing mu, tidurlah sayang, besok kita bicara lagi," tutur Athar dan kemudian keluar dari kamarnya.
Ia tak habis pikir dengan ucapan Mina tadi. Ia sama sekali tak berniat untuk menikah. Namun melihat kesungguhan Mina tadi membuat Athar harus berpikir lebih panjang. Mengingat orang tuanya yang juga sering kali menyuruhnya untuk menikah lagi.
Keesokan harinya,,
Mina dan Athar sarapan pagi bersama sebelum athar berangkat bekerja. Dan lagi lagi Athar dan Mina membicarakan hal yang sama.
"Apa kamu sudah memikirkan ucapan ku semalam mas?" tanya Mina yang duduk dihadapan Athar.
"Sayang..tolong jangan bahas itu lagi ya,"
"Kenapa mas..ini harus di bahas, tolong kamu pikir pikir lagi ya mas, ini demi kita juga," ucap Mina bersungguh sungguh.
Tatapannya membuat athar tak tega untuk menyangkalnya.
"Baiklah..aku pikir pikir dulu ya sayang, tapi apa kamu kira akan ada yang mau menikah dengan laki-laki beristri seperti ku, usiaku juga tidak termasuk muda lagi sayang, sekarang sudah menginjak 33,"
Mina pun tersenyum mendengar ucapan Athar itu. "Itu masih muda untuk laki laki, siapa yang tidak mau dengan ustad tampan seperti kamu, jangan khawatir, kamu tidak perlu mencarinya aku sudah menemukan orang yang tepat,"
Pagi ini Mina masih sedikit pusing, dan kadang kadang ia tidak bisa berdiri terlalu lama. Hingga Athar tak bisa meninggalkannya sendirian di rumah. Namun ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan.
Athar menelpon Aisha untuk menemani Mina di rumah selama ia bekerja.
"Halo.. assalamualaikum abi.." sapa Aisha di telpon.
"Iya waalaikumussalam Aisha, kamu tolong datang ke rumah ya nak, Abi mau pergi kerja, umi mu sedang sakit, kasihan kalau dia sendirian di rumah,"
"Hah sakit? ya udah Aisha segera ke sana ya Bi.." ucap Aisha dan buru-buru bergegas ke rumah Athar.
Sementara itu Athar pun berangkat bekerja karena sebentar lagi Aisha akan datang menemani Mina.
Satu jam kemudian
Mina berbaring di sofa karena masih lemas dengan kondisi asam lambungnya yang belum stabil. Tiba-tiba Aisha datang dan langsung masuk menemuinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum.. astaghfirullah...umi kenapa?" tanya Aisha dan buru-buru menemui Mina yang terbaring di sofa.
"Waalaikumussalam, umi cuma sakit magh biasa kok," jawab Mina sambil tersenyum.
"Umi udah makan?" tanya Aisha
"Udah nak, oh ya, kamu tolong ambilkan air putih ya,"
"Iya bentar ya mi," ucap Aisha yang buru-buru mengambil segelas air untuk Mina.
Tak lama kemudian ia kembali.
"Ini umi..sini Aisha bantu duduk," Aisha membantu Mina duduk untuk meminum segelas air itu.
"Makasih Aisha," ucap Mina sembari tersenyum
"Sama-sama umi, Aisha akan merawat umi selama umi sakit," ucap Aisha dengan perhatiannya pada Mina.
"Apa kamu mau membantu ku untuk hal lainnya?" tanya Mina dengan serius.
"Insyaallah Aisha akan selalu membantu umi, tapi umi mau di bantuin apa?"
"Menikahlah dengan mas Athar," ucap Mina mengagetkan Aisha.
Aisha masih tak percaya dengan kata kata itu. Ia merasa mungkin ia hanya salah dengar.
"A-apa mi.."
"Tolong menikah dengan mas Athar," ucap Mina sekali lagi.
"Umi bercanda ya, mana mungkin aku menikah dengan suami umi sendiri yang sudah aku anggap keluarga," tutur Aisha dengan lembut.
Mina menatap Aisha dengan tatapan yang lembut seraya meyakinkan Aisha. "Aisha..kamu adalah gadis yang baik, kamu orang yang tepat untuk menjadi istri kedua, itu pun kalau kamu mau, ya mungkin selisih usia kalian memang cukup jauh, tapi apa kamu tidak tertarik sama sekali nak, bagaimana pun juga ustad Athar masih berusia 33 tahun, dia masih tampan dan ilmu agamanya telah memadai untuk menikah lagi, apa kamu tidak mau nak .."
Ucapan Mina itu membuat Aisha terdiam sejenak. Ia masih tak percaya jika Mina mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1