Aku Bukan Bidadari Surgamu

Aku Bukan Bidadari Surgamu
55. Mengantar ke pesantren


__ADS_3

Seminggu Kemudian,,


Athar dan Mina mengantarkan Aisha ke pondok pesantren yang cukup jauh dari rumah. Aisha mungkin akan menetap di pesantren hingga ia lulus.


Athar menyetir mobil, sedang Mina dengan Aisha malah asyik mengobrol di bangku belakang.


"Aisha..kalau nanti kamu butuh apa apa..kamu telpon umi ya, terus kalau kamu di gangguin sama teman asrama kamu, kamu langsung kasih tau sama ustadzah nya, pokoknya jangan sampai kamu di perlakukan tidak baik ya," ucap Mina yang sedari tadi mengajak Aisha mengobrol karena ini adalah detik-detik terakhir ia bisa bersama Aisha.Kalaupun bisa mungkin tidak akan sesering kemarin kemarin.


"Iya mi..umi dan Abi jangan khawatir, aku bisa jaga diri kok, dan makasih ya, sudah menjadi orang tua bagi Aisha, Aisha bersyukur punya umi dan Abi di dalam kehidupan Aisha," ucap Aisha sedang matanya berkaca-kaca.


"Iya sayang..umi juga beruntung punya kamu," ucap Mina yang dengan tulus menyayangi anak yang baru tumbuh remaja itu.


Athar yang menyetir ikut tersenyum melihat keakraban Mina dan Aisha dari kaca spion mobilnya. Ia merasa bahagia karena Mina menjadi sosok penyayang di hidup Athar.


Beberapa jam kemudian, Sampailah di pondok pesantren.


Saat akan meninggalkan Aisha di sana, Mina merasakan kesedihan karena ia tak akan bisa bertemu Aisha setiap hari lagi. Namun di satu sisi ia juga merasa bangga karena Aisha sangat semangat untuk mondok.


"Jaga diri baik baik ya sayang.." ucap Mina sembari mencium kening Aisha. Meski usia Mina dengan Aisha hanya selisih kurang lebih 11 tahun, namun Mina sudah menganggap Aisha layaknya anak kandungnya terlebih karena Mina belum juga memiliki buah hatinya.

__ADS_1


"Iya umi.." jawab Aisha yang juga menetes air matanya.


Bahkan ketika sore hari athar dan Mina bergerak pulang, Aisha masih menatap mobil mereka hingga jauh. Menetes air matanya karena baru kali ini dia jauh dari orang orang yang ia sayangi.


Kini Aisha mencoba memasuki lingkungan baru, ia berharap semoga lingkungan pesantren ini mampu membuatnya nyaman untuk belajar.


...***...


Sementara itu Mina di mobil masih terlihat murung dengan kenyataan bahwa Aisha telah tinggal di pondok pesantren.


"Sayang..kok kamu malah sedih sih, kan ini kemauan kamu juga sayang, ini demi kebaikan juga," tegur Athar melirik Mina yang melamun ke arah kaca mobil. Mina hanya diam sejak mereka berangkat tadi.


"Akhir akhir ini kamu sering ngelamun, ada apa sayang, kamu lagi mikirin apa aja sih," tanya Athar yang amat memperhatikan Mina. Athar sering mendapati Mina yang melamun sendiri hingga membuat Athar bertanya-tanya apa yang terjadi pada istrinya.


"Aku nggak pa pa kok mas," jawab Mina menunjukkan senyumnya yang ia paksakan padahal sangat tampak dari wajah nya bahwa ia menyimpan sesuatu beban yang membuat ia melamun setiap harinya.


"Ayo cerita dong sayang, masa kamu nggak kasih tau aku apa apa, kamu kan istri ku Mina, kalau ada apa apa atau ada beban pikiran kamu bisa cerita sayang, biar masalahnya bisa kita pikul bersama," ujar Athar dengan tatapan sayu pada Mina.


"Nggak ada mas, aku nggak pa pa.." tegas Mina lagi, padahal ia hanya tak ingin menceritakan apa pun pada athar.

__ADS_1


"Apa jangan jangan kamu masih mikirin kata kata bunda kemarin kemarin..makanya kamu selalu ngelamun mikirin hal itu?" tanya Athar yang sudah bisa menebak alasan di balik lamunan Mina.


Mina diam seolah jawaban Athar itu benar adanya. Memang akhir akhir ini ia selalu berpikir tentang ucapan bunda yang ingin sekali menimang cucu. Dan Mina tau persis bahwa athar juga pasti menginginkan seorang anak meski ia tak berkata apa pun.


"Jawab sayang..kamu mikirin ucapan bunda kan?" tanya Athar lagi.


"Mas..apa aku memang tidak pantas menjadi bidadari Surgamu seperti yang sering kamu impikan, sampai saat ini aku tidak bisa memberi keturunan untuk kamu, aku merasa tidak berguna mas, aku tau betul kalau bunda dan ayah mu pasti menginginkan seorang cucu, begitupun kamu yang menginginkan anak meski kamu tidak berkata apa apa mas," tutur Mina yang akhirnya mengungkap alasan mengapa ia sering melamun.


"Sayang..jadi kamu masih mikirin itu? kan aku udah bilang, jangan di pikirkan lagi! lagi pula kenapa kamu merasa bersalah, ini sudah jalan hidup yang Allah berikan pada kita, dan Allah mungkin masih ingin membimbing kita menjadi calon orang tua yang baik sebelum ia menitipkan janin di dalam rahim mu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri lagi ya," ucap Athar yang kini mengelus kepala Mina.


Ia menghentikan mobil hanya untuk menenangkan hati Mina terlebih dahulu.


"Mas..kamu jujur aja sama aku, kamu menginginkan keturunan kan..kalau kamu ingin itu, aku ikhlas kok mas kalau memang kamu ingin menikah lagi," tutur Mina mengagetkan Athar.


"Astaghfirullah sayang ...kamu bicara apaan sih, aku tidak pernah sama sekali berpikir ke arah itu, lagian aku sudah bilang kalau aku tidak masalah kalaupun kita belum dikaruniai keturunan, lagian usia pernikahan kita belum sampai setahun sayang," jelas Athar meyakinkan Mina bahwa ini bukan salahnya.


"Tapi mas..


"Udah...kamu jangan mikirin itu lagi ya, aku yakin ayah dan bunda pun tidak akan menyalahkan kamu karena mereka juga luas pemahamannya tentang ilmu agama, jadi jangan khawatir lagi ya," ucap Athar memotong pembicaraan Mina.

__ADS_1


__ADS_2