
Setelah melihat koper dan semua barang barangnya Tata sungguh sangat lega tapi tunggu dulu dimana anaknya? Semua pertanyaan Tata sudah terjawab saat Tata melihat dan juga membaca isi amplob coklat itu.
Amplop coklat.
Aku memberikanmu uang dalam bentuk cek agar suatu saat nanti kau bisa mencairkannya dan memakainya untuk keperluanmu. Dan satu lagi urusan kita sudah selesai anggap saja ini bayaran karena kau berhasil memuaskanku. Dan masalah anak itu kau bisa mencarinya di ibu kostmu yang bernama buLili.
Zayn Richi
Itu lah isi surat yang sebelumnya sudah dibaca Tata dan lalu dirobeknya hingga tak berbentuk.
Kasian sekali Tata. Selalu menjadi bahan pemuas nafsunya. Sebegitu nafsunya laki laki bule ini menggarapkan. Bagaimana istrinya?Tata tak mau ambil pusing dengan itu semua.
Sekarang ini yang Tata fikirkan adalah nasib anaknya yang sekarang berada di ibukostnya Bu Lili.
Tata lupa bila didalam ruangan itu masi ada seseorang.
"Hemm..hemm"
"Maaf. Aku" cicit Tata.
"Panggil aku Irwan" ucap Irwan sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Tata" balasnya dengan mengulurkan tangannya lalu menatap Irwan sekilas.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Tata.
"hem"
__ADS_1
"Mau mendengarnya?"
Lalu Tata mengangguk setuju.
Irwan menceritakannya secara detail dari awal melihat Tata dan sampailah didepan mata.
Tata mengeluas senyum sekilas. Semua itu tak luput dari pandangan Irwan. Laki laki berkharisma ini mennyimpan rasa yang tak bisa diartikan bisa diartikan bahwa ada rasa yang tak bisa dijelaskan seperti jatuh cinta .
Tiba tiba suara dering handphone milik Irwan berbunyi.
Tringgggggg.. "Bang Adi Memanggil"
"Maaf ya aku terima telpon dulu" pamit Irwan untuk memgangkat telpon dari bosnya tapi Irwan rak menjauh dari Tata. Dan ingin Tata mendengarnya sehingga wanita yang masih berbaring lemah ini tak menaruh curiga. Karena Irwan ini masih menyimpan rasa yang tak bisa diartikan.
"Itu tadi dari bos tempat ku kerja karena lusa kami sudah harus pulang.Aku?" ucap Irwan ragu.
"Sudah gak apa apa bang. Aku bisa sendiri" jawab Tata.
Irwan tak tega meninggalkan Tata dalam keadaan seperti ini. Wanita rapuh ini harus ada yang mendampingi dan mendapat dukungan dari orang terdekat termasuk dirinya. Sayangnya Irwan juga bukan siapa siapany Tata. hanya kenalan biasa.
"Dia adalah mantan suamiku. kami bercerai sudah hampir satu tahun. laki laki berparas bule itu yang abang pernah lihat dia. Kami punya anak satu " ucap Tata tegas.
Irwan tersenyum melihat Tata berbicara .
"Manis sekali. Oh Tuhan bisa gila aku bila tak mendapatkannya" bathin Irwan .
.
__ADS_1
.
mampir yuk kekarya temanku.
blurb.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
__ADS_1
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.