
Untukmu yang di takdirkan untuk orang lain,
Maaf, aku tidak mampu merangkai banyak kata
yang mampu membuatmu terkesan dalam setiap baitnya.
Namun akan ku buatkan cerita dimana kamulah
permeran utama dalam setiap bab-nya.
-Athanasia
-2008-
"Athy!!"
Aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang menyerukan namaku. Aku tersenyum, "Ada apa?" Ia terlihat sangat senang membuatku bertanya-tanya di dalam hati.
"Kamu ingat tidak anak kelas A yang di gosipkan manis itu?"
Aku mencoba menerawang
mengingat setiap gosip yang selalu aku dengar dari Rini, akhirnya aku
menggeleng tanda menyerah. Terlihat jelas ia berdecak kesal dengan tingkahku.
"Ishh.. kamu ini!"
"Jadi, kata dia hari ini dia ikut ekskul basket. Jadi kita akan sering
bertemu dengan dia" Pekiknya senang, aku hanya mengangguk dan ikut senang
melihatnya senang.
Seperti yang di katakan rini saat di kantin tadi, 'dia' yang akhir-akhir ini sering di
gosipkan karena wajah manis yang mampu membuat gadis manapun jatuh cinta,
ets... bukan kataku ya tapi kata mereka.
Kini berada di lapangan basket, seperti biasanya hari ini selepas pulang sekolah akan di
adakan latihan basket bagi yang mengikuti ekstakulikuler tersebut. Seperti aku
dan rini contohnya, yang saat ini bersiap-siap untuk pemanasan sebelum memulai
latihan. Kami membuat pola lingkaran besar mengelilingi bola basket yang ada di tengah lapangan, 'dia'
yang entah siapa namanya, berdiri tepat di sampingku. Membuat beberapa dari
mereka ingin bertukar tempat denganku, tentu aku tidak ambil pusing dan
mengiyakannya.
Tapi sebuah kesalahan fatal terjadi, seseorang menarik tanganku. Memaksaku untuk menoleh
dan melihat siapa pelakunya, aku diam dan menatap laki-laki itu bingung
lalu menepis pelan tangannya yang berada di tangan kananku.
"Jangan pindah, tetap disini saja" Aku tidak ingin berdebat panjang dan tetap
berada di sampingnya, karena abang pelatih sudah menyuruh kami memulai pemasan.
Setelah itu kami disuruh lari, masing-masing 10 putaran. Aku berada tepat di belakang 'dia'
dan di barisan paling belakang pula, entah kenapa 'dia' memperlambat laju
larinya. Terlalu malas untuk bertanya, aku pun membalapnya sehingga kini akulah yang ada di depannya.
Saat istirahat tiba, ku selojorkan kakiku yang sudah mulai lemas karena berlarian mengejar
bola. Rini dan teman-teman yang lainnya sedang jajan di warung sekolah yang
memang masih buka hingga sekarang ini, aku menatap lapangan kosong di hadapanku
dengan lelah.
"Bayu"
Aku menoleh lalu melihat sekitaranku yang sunyi hanya ada beberapa anak laki-laki
yang sedang berbicara dan itupun ada di belakangnya.
"Kamu ngobrol sama aku?"
Ia ikut mendudukan diri di sampingku, "Iya"
Aku mengangguk lalu kembali menatap lapangan basket yang catnya mulai pudar.
"Siapa namamu?"
"Athanasia, panggil saja Athy" Kataku tanpa mengalihkan pandangan.
"Mulai hari ini kita berteman. Ingat itu" Putusnya sepihak membuatku terpaksa menoleh
dan menatapnya bingung.
"Senang berteman denganmu, athy" katanya, lalu menghampiri para anak laki-laki
yang tadinya sedang berbincang dan meninggalkan aku.
"Omg athy!!"
"Rini, telingaku sakit. Bisa-bisa setelah ini gendang telingaku bolong karena
teriakanmu itu" Ketusku. Rini hanya menyengir lalu memusatkan perhatiannya
pada laki-laki yang baru saja meninggalkanku.
"Tadi dia ngapain datengin kamu?" Aku mengerutkan keningku bingung.
"Siapa?"
"Itu loh, cowo manis itu" Arah matanya menunjuk ke laki-laki yang
mengenakan baju kaos warna merah.
"Bayu maksudmu"
"Kamu kenalan sama dia?" Aku langssung mengangguk mengiyakan
ucapannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?"
"Dia datang dan membertahukan namanya" Rini memukul lenganku kencang.
"Aww, ada apa?"
"Kenapa kamu terlihat sangat santai di saat laki-laki mengajakmu berkenalan, huh"
"Lalu?Setidaknya dia tidak mengusikku"
Akupun bangkit mengambil sebuah bola dan mengiringnya untuk bermain bersama meninggalkan rini
yang menatapku dengan pandangan yang, entahlah aku sendiri tidak mengerti.
•*•*•*•*•
Seperti apa yang laki-laki itu katakan, kami berteman sejak hari dimana ia mengajak aku
berkenalan. Hampir setiap hari ia menyapaku baik itu di kantin atau hanya
sekedar berpapasan saat di sekolah. Sikapnya menimbulkan beribu tanya dari
anak-anak kepo di sekolah, terlebih gadis-gadis yang menyukainya. Tentang
hubunganku dengan laki-laki bernama Bayu itu dan dengan jenggahnya aku
mengatakan jika kami hanya sekedar teman dan tidak lebih.
Pagi ini guru mengadakan rapat membuat siswa-siswi di pulangkan lebih cepat dari biasanya. Ku
alihkan pandanganku untuk mencari keberadaan sepeda yang menjadi alat
transportasiku bersekolah, setelah menemukannya ku tunggangi dan mengayuh
pedalnya dengan santai.
"Hai!" Sapa seseorang yang kini sudah berada di sampingku mengiringi laju jalan sepeda
yangku kayuh.
"Bayu?"
"Kenapa sendiri?" Tanyanya sesekali melirik kearah jalan.
"Tadi Andre di suruh kumpul sama kakak-kakak paskibra" Ia mengangguk lalu tersenyum,
"Kalau begitu pulang bareng aku aja"
Tidak apakah untuk mengiyakannya?
"Rumah kita searah kok" Ucapnya seolah memahami isi kepalaku.
Aku mengangguk mengiyakannya. Benar apa yang di katakannya, jalan rumah kami
searah hanya saja rumahnya ada di komplek sebelum jembatan sedangkan aku harus
melewati 1 jembatan lagi. Kami perpisah saat ia memasuki kompleknya, tidak lama
setelah itu aku tiba di rumah dengan selamat dan memarkirkan sepeda gunungku.
Baru kali ini aku merasakan perasaan aneh saat mengingat cara dia tersenyum, ku tepis kasar
pas untuk tertidur, mengingat hari sudah gelap.
Hari ini waktu berjalan sangat cepat, membuatku takut untuk bertemu hari esok, ah lebih
tepatnya dia. Untuk pertama kalinya aku takut untuk bertemu dengan seseorang.
•*•*•*•*•
Ternyata setelah mengenalnya, hari-hari ku menjadi lebih.. em bagaimana untuk mengatakannya?
Lebih baik mungkin.
Aku sudah terbiasa dengan sapaan yang sering ia berikan terkadang aku juga melontarkan
sapaan terlebih dahulu. Kami sering pulang bersama di saat ada ataupun tidak
ada Andre. Lalu aku mengenal Adit dan Johan dari Bayu, aku merasa nyaman
berteman dengan mereka. Tapi entah sejak kapan aku merasa nyaman dengannya,
bukan. Ini bukan rasa nyaman seperti berteman pada umumnya. Aku sendiri bahkan
tidak bisa mengartikan perasaan ini, dan sudah sering kali ku tepis namun
selalu datang kembali dengan tidak tau malu.
Helaan nafas keluar dari bibirku, ku lipat rok biru panjangku hingga selutut, bersiap untuk
lari. Saat hitungan ketiga, aku segera merebut bola dan berlari menggiring bola
kering basket di susul oleh Johan yang menjadi tim ku saat ini. Hari ini tidak
ada jadwal latihan basket, hanya saja kami sedang ingin bermain dan kebetulan
adit selalu membawa bola kesekolah. Dan berakhirlah kami disini, di lapangan
yang mulai sepi dan tinggal segelintir orang yang masih menetap untuk kegiatan
ekskul masing-masing.
Kami berempat masih menggunakan seragam sekolah putih biru khas SMP yang melekat di tubuh
kami. Meski masih menggunakan rok aku masih bisa bermain dengan lincah
menggiring dan mengover bola, aku tidak peduli ada yang memandangku aneh karena
bermain basket menggunakan rok.
Kami mengakhiri permainan disaat tim ku bersama Johan di kalahkan oleh Bayu dan Adit. Aku tertawa kecil
saat Johan melemparkan botol minuman kearahku yang sebelumnya kami beli
beruntungnya aku bisa menangkapnya dengan benar dan ikut mendudukan diri di
sebelahnya. Diiringi oleh 2 orang yang sedang memamerkan senyum kemenangan
mereka padaku dan Johan.
"Jangan senyum, Geli gue" dengus Johan membuat kami betiga tertawa.
__ADS_1
"Udahlah Jo, next time kita balas. Okay?" Johan mengangguk dan membalas toss ku.
Bayu duduk berselojor kesamping di depanku dan tersenyum kearahku, senyum yang mampu
mengalihkan duniaku meski hanya sesaat. Terbuat dari apa sebenarnya orang ini?
•*•*•*•*•
Tidak terasa kini sudah memasuki ajaran baru, hari pertama masuk sekolah tidaklah buruk.
Jika tahun lalu aku menjadi salah satu peserta MOS (Masa Orentasi Siswa), kali ini aku menjadi
penonton. Aku tidak pernah mengira menjadi kakak kelas semenyenangkan ini. Saat ini aku sedang bersantai
di kantin bersama ketiga temanku, siapa lagi kalau bukan Adit, Bayu dan Johan.
Awalnya aku bersama Rini, sayangnya kami tidak satu kelas lagi sekarang dan wali kelasnya
kebetulan masuk untuk menyapa dan berakhirlah disini aku bersama ketiga
laki-laki gila ini. Aku mengenali setiap pandangan yang orang lain tunjukan,
apa salahnya aku menjadi satu-satunya perempuan yang duduk bersama 3 orang
laki-laki? Apa mereka iri? Huh tidak ada yang pantas untuk di irikan.
Aku sadar jika aku tidaklah secantik perempuan lain, bahkan ketiga temanku itu pun meragukan
jika aku ini seorang perempuan, wajar? Entahlah.
Aku hampir bosan mendengarkan nasihat yang selalu mereka lontarkan untukku, perempuan itu harusnya gini lah, terus begitu lah, terus seperti ini lah, dan lainnya.
"Thy, duduk yang bagusan dikit coba" tegur Adit memperhatikan cara dudukku.
"Sudah bagus kok"
Johan dan bayu menggeleng pasrah mendengar sahutanku begitu juga Adit,
"Gimana mau ada yang naksir kalo kamunya kaya laki gini" celetuk Bayu membuat perhatianku pada makanan teralih kearahnya.
"Aku gak niat pacaran juga, ribet. Cukup 3kali" Putusku bulat.
"Loh kapan kamu pacarannya sampai pernah 3 kali begitu" Aku menanggapi perkataan bayu dengan senyum.
"Athy gitu loh, jadi waktu SD aku pernah pacaran 1kali lalu sebelum kenal kalian 2kali" dari tatapan matanya aku yakin mereka agak meragukan kejujuranku itu.
"Gila, dari SD aja udah pacaran"
"Jo.. bukan masalah dia kapan pacaran, aku justru gak habis pikir sama cowo yang mau jadi pacarnya athy"
Aku mendengus mendengarkan kata-kata menusuk dari Adit, laki-laki satu itu memang tidak bisa
di saring dulu kalo bicara.
"Sudah sudah mungkin aja cowo itu khilaf, iyakan thy?" Aku menatap tajam Bayu yang kini
tertawa terpingkal-pingkal di ikuti 2 makhluk yang lainnya.
"Ishh.. suka suka kalian mau percaya atau engga, yang pasti itu benar adanya. Lagipun aku lebih suka berteman seperti ini dari pada memiliki hubungan mengikat yang menjerat"
"Ohya.. hari latihan di majukan jadi besok sore kata abang" kataku mengalihkan
pembicaraan yang tidak berbobot seperti sebelumnya.
"Hmm... hari ini seharusnya kita promosi ekskulkan ya?" Tanya johan, aku menganggukan kepala.
"Aku temenin tapi kalian yang masuk kelas buat promosi, ya hehehe" Kataku seenaknya. Jujur aku terlalu malas memandangi wajah-wajah adik kelasku yang baru ini.
•*•*•*•*•
"Hallo nama kakak Adit" Sapa Adit ramah di sertai senyuman.
"Kalo yang sana itu namanya kak Johan terus di sebelahnya lagi itu kak Bayu nah abis itu yang sebelah Bayu, itu namanya kak Athy" jelasnya sekaligus memperkenalkan kami.
"Ingetnya dia itu cewe, biar pun gaya sama kelakuannya kayak cowo" Ku leparkan bola yang tadinya ku dribble tepat kena lengannya keras.
"Mampos! Whahaha" Teriak Johan dengan tawa.
Hari ini dikarenakan abang Rey ada keperluan dadakan dan anak-anak yang lainnya susah di hubungi jadilah hanya kami berempat yang melakukan pengenalan pada anggota baru. Ingat hanya kami berempat, kakak kelas 9 sudah tidak di wajibkan lagi mengikuti kegiatan ekskul. Lalu sisa dari angkatan kami sedang sibuk dengan urusan lain, jadi mau tidak mau hanya kami berempat yang hadir mewakili semuanya.
"De, jangan di dengerin kata-kata dia tadi" Kataku dengan nada biasa saja sambil berjalan mendekati Adit yang menatapku malas.
"Kalian bisa ball-handling gak?" Dengan seirama mereka mengatakan 'tidak', aku tersenyum kecil lalu menyuruh mereka membuat 3 buah barisan dengan 1 bola basket di masing-masing barisan.
"Hari ini kita latihan ballhandling aja ya, tadi udah pemanasan jugakan. Kakak contohin dulu ya"
Ku mencontohkan pergerakan ball-handling bersama Adit. Aku tersenyum tipis mendapati Bayu yang dengan sabar membantu adik-adik kelas itu untuk melakukan ball-handling dengan benar. Ahh.. perasaan ini lagi! Dengan cepat ku tepis perasaan asing yang kembali hinggap di hatiku dan kembali fokus melatih para pemula.
Pandanganku jatuh pada anak laki-laki yang kulitnya terlihat lebih coklat dari pada yang lainnya,
ku hampiri dia dan mencoba membantunya untuk memegang bola dengan benar. Ia tersenyum dan
berterimakasih padaku, aku pun ikut tersenyum membalasnya. Aku tidak tau siapa namanya, yang ku tau setelah membantunya aku sering mendapatinya melirik kearahku. Seperti saat aku baru saja membubarkan barisan untuk istirahat sejenak, aku melirik sekilas sekitar dan mendapati laki-laki itu membuang muka setelah tertangkap basah tengah memandangiku.
Ku merasakan ada tangan yang hinggap di bahu kananku,
"Baru juga hari pertama, udah ada yang ngincer kamu nih" Celetuk Bayu merangkulku akrab, jarak kami sangat
dekat terlebih kepalanya yang hampir menyentuh keningku saat aku menoleh kearahnya.
Ku menatapnya
bingung, tapi berbeda dengan debaran jantungku yang berpacu lebih cepat dari
biasanya dan aku merasakan desiran aneh yang beberapa saat lalu hinggap dan
kini menghampiriku lagi.
Ku menghela nafas
mencoba menetralkan debaran yang mulai mengila ini lalu mengusir rasa aneh yang
akhir-akhir ini selalu mengganggu dan terakhir ku tepis pelan tangannya yang ada di bahuku.
"Jangan asal nyeletuk deh" Ketusku agar terlihat biasa saja. Dan ikut bergabung bersama Adit dan Johan yang sedang bercengrama dengan anggota baru meninggalkan Bayu yang sedang tertawa kecil disana.
__ADS_1
•*•*•*•*•