
-2019
Dentuman musik mengalun nyaring sampai penjuru ruangan salah satu Ballroom Hotel ternama di kota Bandung, malam kian larut tapi tidak ada tanda-tanda pesta akan berakhir begitu pun diri ini yang sangat menikmati tarian sesuai irama lagu tanpa tau kapan harus berhenti. Sebuah tangan menarik ku keluar dari segerombolan yang melikak likuk di atas lantai dansa dengan paksa, tanpa pikir panjang dengan sekali hentakan aku melepaskan diri dari kukuhan tangannya. "Apa kamu gila!" Teriak pribadi itu didepan wajahku.
"Ya aku gila" jawabku tak kalah lantang namun terendam oleh suara musik yang menggelegar.
"Thy.. sadar ini bukan kamu"
"Enyahlah" ia menahan lenganku erat saat aku berbalik berniat kembali ke lantai dansa.
"Lepas" gadis itu menggeleng.
"Aku bilang lepas"
"Kamu gak boleh kesana lagi"
"Ayla lepas!"
Bukannya melepaskan ia malah menarikku semakin jauh dari pesta yang belum berakhir.
"Ayla!" Pekikku kesal dan dengan sekali hentakan tarikannya terlepas dari tanganku.
"Apa-apaan sih?! Pesta belum berakhir"
"Ini sudah larut"
"Lalu apa peduli ku?"
"Athy, kendaliin diri kamu"
Tanpa memperdulian Ayla aku kembali melangkahkan kaki menuju segerombolan orang yang menikmati pesta, aku meringis kesal saat lengan kembali tertarik memaksa diri untuk menoleh dan melihat siapa pelakunya kali ini.
Manik coklat terangku terpaku akan sosoknya yang menatapku tajam tapi tidak dapat menutupi aura khawatir yang ia pancarkan sekaligus rindu yang tak terbendung. Hati ku menjerit mempertanyakan sorot rindu yang ia tunjukan, pertahananku mulai goyah hanya dengan tatapan yang ia berikan. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
Dengan sekuat tenaga aku menghempaskan tangannya, nihil. Ia menarikku keluar dari Ballroom meninggalkan pesta yang masih berlangsung, ia masih menggenggam tanganku sampai ke basement hotel hingga memaksaku masuk kedalam mobilnya.
"Apa maumu" tanyaku yang akhirnya membuka suara tanpa menoleh sedikitpun kearah kemudi.
"Mendatangi tempat bersejarah bagi kita" aku hanya menggalihkan pandanganku ke arah jendela mobil tanpa beniat membalas perkataannya, kata 'kita' yang ia ucapkan terdengar merdu sekaligus asing bagiku.
"Apa kamu masih mau diam disitu?" Mobil yang kami tumpangi memang sudah terpakir rapi tepi jalan dari beberapa menit yang lalu hanya saja aku terlalu enggan untuk turun dari mobil.
"Atau mau aku gendong?"
Dengan kesal aku keluar lalu membanting pintu mobil dan melewati pribadinya begitu saja, dapat ku dengar suara tawa kecil yang ia keluarkan. Aku menyorot sendu pemandangan yang ada di depan mata, bayangan masa lalu hinggap mengikuti angin yang menerpa wajah dan meniup pelan helaian rambut gelombang sepunggungku. Sebuah jas hinggap dan membalut tubuh semampaiku,
"Kamu terlihat cantik dengan gaun itu, sayangnya kurang cocok kamu kenakan dipuncak"
Aku diam membisu tidak tau harus membalas perkataannya dengan apa, pertemuan ini terlalu mendadak. Jika di ingat kembali.. sepertinya tidak hanya saja, batinku yang belum siap bertemu kembali dengannya. Ku eratkan jas pemberiannya saat angin dingin menusuk tubuh,
"Dingin?"
Aku masih diam, enggan untuk membuka suara. Pikirku masih kacau saat ini, dan aku masih terbelenggu oleh bayangan masa lalu yang kembali hinggap dan mencubit setiap sisi dihati.
"Kamu sudah menerimanya?" Fokusku mulai teralihkan,
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu" terselip nada frustasi disana, atau aku keliru? Ku abaikan jerit pinta sang hati untuk merekuhnya kedalam peluk pribadinya yang terlihat rapuh. Rapuh? Lalu bagaimana denganku?
Kurasakan sebuah tangan menggenggamku erat, mata kami saling terpaku satu sama lain. Desiran hangat yang kurindukan menjalar pelan menyisir darah dengan pelan, meski demikian aku hanya memberi sorot datar, tak ku biarkan ia menembus pertahananku dengan mudah. "Apa tidak ada rindu yang tersisa?"
"Entahlah" lirihku yang terdengar serak. Ia tersenyum kecil, terlihat menawan sekaligus menyedihkan bagiku.
"Apa kabarmu?"
Aku melihat kearahnya tanpa ekspresi atau sorotan rindu yang biasa ku tunjukan,
"Seperti yang kau lihat, aku baik..baik saja" ucapku yang memelan di akhir kata.
"Benarkah?"
"Apa kamu masih menyukai dongeng?" Aku meliriknya sebentar lalu menggeleng pelan dan menghella nafas pelan.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Coz all those fairy tales are full of shit.... mereka semua palsu"
Pribadinya tidak membalas perkataanku, ia justru mendekatkan diri kearahku lalu merekuhku kedalam peluknya. Tanganku menggantung berniat membalas pelukannya yang semakin erat namun logika berkata lain, tanganku mendorong bahunya pelan sehingga pelukannya terlepas.
"Aku ingin pulang" lirihku lalu berbalik menjauhi pribadinya yang diam membatu.
"Apa aku gak punya kesempatan lagi?" Aku terus melangkah mengabaikan pertanyaannya yang mulai membuat hati ini tercubit ngilu.
"Athanasia"
"Sudah lama aku menunggu kamu"
...Menanti kepulanganmu...
....Aku hampir mati putus asa"
"Athy...
...aku telah jatuh hati sejak pertama kali aku melihatmu" ungkapnya yang sukses membuat kakiku membatu ditempat.
"Maafkan aku" gumamnya terdengar pilu.
"Maaf aku baru mengatakannya"
Aku bergeming, tidak tau harus berkata apa. Tubuhku sedikit terhuyung kedepan saat ia mendekapku dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di teruk leherku, tubuhnya bergetar, apa ia menangis? Sebulir air mataku lolos tatkala ia kembali bergumam 'cinta' yang menyayat hati.
"Hentikan" kataku dengan suara bergetar namun tegas.
Ia tidak merubisnya, kedua tanganku mengepal kuat lalu melepaskan diri dari pelukannya yang hangat.
"Aku bilang hentikan!" Wajahnya terlihat pias begitupun aku yang sudah berliang air mata.
"Apa kamu tau?" Ia memandangku lurus dengan sorot sedihnya.
"Kamu salah satu dari kumpulan dongeng itu"
__ADS_1
Aku langsung lari menjauhinya, hati dan logika seakan berhenti bekerja hingga membiarkan kaki berlari tanpa arah maupun tujuan.
Dewi Keberuntungan... dimana dirimu saat aku membutuhkan pertolonganmu.
Cahaya terang menghalangi penglihatanku, yang kudengar hanya suara decitan ban dengan aspal jalan lalu cahaya itu redup. Tubuhku bergetar ketakutan kakipun terasa tidak lemah tidak sanggup lagi untuk menahan beban tubuh hingga luruh terduduk diatas aspal sambil memeluk erat jas yang membalut sebagian gaun merah selututku, air mata tidak ada henti-hentinya mengalir membasahi wajah.
Kurasakan seseorang turun dari mobil lalu menghampiriku, ia menyentuh bahuku hati-hati dan memintaku untuk memperlihatkan wajah.
"Athy?" Hanya isak tangis yang dapat kusuarakan. Pribadi itu nampak terkejut saat mampu mengenali diriku yang dalam keadaan tidak baik.
"Ini beneran kamu? Athanasia?" Aku hanya mampu mengangguk dengan isak yang menyerukan isi hati tanpa kata. Seolah mengerti keadaanku pribadi itu memapahku memasuki mobilnya, ia menuntunku ke kursi belakang penumpang dan membawaku pergi.
"Kakimu luka, apa perlu kita singgah ke mini market dulu?" Tanya laki-laki itu lembut setelah tangisku mulai mereda. Mendengar perkataannya aku melirik sekilas keadaan kakiku yang katanya terluka, aku tersenyum miris tanpa sadar air mataku kembali jatuh, dengan cepat aku menghapusnya.
"Kakiku baik-baik saja" sahutku penuh dusta, dan ku yakin laki-laki yang sedang menyetir itu pun tau jika aku sedang membohonginya dan diriku sendiri.
"Aku gak sebodoh itu.. bahkan orang bodoh juga tau kalo kaki kamu itu penuh luka!" Aku tersentak mendengar bentakannya.
"Kita singgah dulu"
Aku menyorot kosong minuman botol genggamanku, sekarang aku sedang duduk didepan salah satu mini market jalan menuju kota.
"Hei!" Aku menoleh lalu tersenyum kecil kearahnya, ia membawa satu kotak minimalis hansaplast, 2botol air mineral juga obat merah. Ia berjongkok didepan mengamati kakiku yang sudah terdapat banyak darah kering. Dengan lembut dan penuh hati-hati ia mencuci kakiku lalu mengobatinya.
"Kebiasaan kamu gak pernah ilang, masih suka ngelamun" aku hanya tersenyum menanggapi pekataannya.
"Sakit?"
"Tidak" ia menatapku lama.
"Aku akan lebih hati-hati" senyumku kembali terbit meski tidak selebar dulu setidaknya aku masih ingat cara untuk tersenyum.
"Aldy.. terimakasih" pribadi itu menatapku lekat.
"Untuk apa?"
"Semuanya"
Aldy membuang nafas panjang setelah mengobati lukaku lalu mendudukan diri disampingku yang terdapat kursi kosong. "Aku gak nyangka bisa ketemu kamu"
Aku tersenyum dan membenarkan perkataannya, "Senyum kamu terlihat berbeda dari yang ku ingat sebelumnya" aku meliriknya sekilas lalu memandang lurus kedepan.
"Really?"
"Yeah, your smile looks gloomier than I have ever remembered before"
"Eem.. maybe"
Aldy terdiam, mungkin ia bingung dengan situasi ini. "Ah.. terakhir aku dengar kamu pergi keluar negeri"
"Iya... aku menetap disana"
"Lalu kenapa kamu kembali? Ah aku gak suka kamu balik ta-" aku menatapnya dengan senyum simpul.
"Ada yang harus aku selesaikan...
__ADS_1
... sayangnya aku belum sesiap itu"
•*•*•*•*•*•