ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 3


__ADS_3

Hari ini lebih membosankan di


bandingkan minggu sebelumnya, aneh rasanya bila hari libur terkesan membosankan


di bandingkan hari produktif biasanya. Ponselku berdering tanda pesan masuk,


sudut bibirku tertarik membentuk lengkungan kecil. Aku bangkit dari posisi


malasku, segera mandi dan menyiapkan keperluan untuk bermain seperti sepatu,


baju dan celana pendek khusus latihan basket.


Ya, Bayu mengirimkan pesan untuk


bermain basket bersama dengan Adit dan Johan di sekolah. Ah, kadang aku bingung


dengan diriku sendiri, hanya karena sebuah pesan teks dari nya dapat membuat


hariku yang tadinya ku pikir membosankan kini terasa lebih berwarna dan menyenangkan,


ritme debar jantungku pun tak karuan di buatnya.


Ku lihat pemandangan mengesankan


saat memasuki lapangan sekolah, merasa di pandangi ia menoleh kearahku dan


tanpa sadar aku tersenyum kearahnya begitupun sebaliknya.


 


 


"Mana yang lain?" Tanyaku


setelah memarkirkan sepeda.


"Biasa, beli minum di luar" Aku mengangguk, lalu mengambil bola di


tangannya dan main di tengah lapangan. Bayu tidak keberatan justru ia senang


karena ada teman duel untuk bermain.


Kami bermain Man to Man, atau Women


to Man? Intinya satu lawan satu. Setelah beberapa saat bermain bersama, Adit


dan Johan datang membawa 1 box iced biru berisi minuman dan es. Mereka


mengintrupsi kami untuk berhenti bermain sejenak, dan terpaksa aku menurutinya.


Jika saja mereka datang lebih lama mungkin aku lah yang akan mengungguli point.


Helaan nafas kasar keluar dari bibirku, Bayu menyadari hal itu hanya tersenyum


geli.


 


 


"Kenapa kamu?" Aku melirik


Adit malas.


"Kalian datangnya di waktu yang tepat"


"Tepat dari mananya? Coba aja kalian gak nyuruh kami berhenti main pasti


aku yang memimpin angka, bukannya dia" Bayu tertawa mengejek mendengar


keluhanku.


"Ya udahlah nanti lanjut lagi" Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan


perkataan Adit kali ini.


 


 


"Ohya thy, katanya kemarin kamu


di kasih coklat ya sama cowo" Tanya Johan sambil memainkan bola di tangannya.


"Tau dari mana kamu?"


"Kan ada informan di kelas kami"


"Rini?" Mereka bertiga mengangguk bersamaan, ah aku hampir lupa jika


Rini satu kelas dengan mereka bertiga.


 


 


"Cowo itu ya?" Aku melotot


tak percaya Bayu dapat menebak dengan tepat.


"Kamu kenal Bay?"


"Kan aku ada cerita kemarin di kantin, kalo ada yang main mata sama


Athy" kini Johan menatapku dengan pandangan mengejek.


 


 


"Aduh si Athy udah jadi cewe


nih" goda Johan mencolek daguku genit.


"Apaan sih! Gak usah di bahas mending kita pikirin aja tentang sabtu depan

__ADS_1


gimana"


Setelah itu mereka nampak berpikir


sejenak, Adit membuang nafas "Basket, futsal gak ada ekskul pagi.."


kami menatap Adit bertanya. "... jadi kita harus nyari ekskul baru lagi


buat kegiatan sabtu pagi, kalo ketahuan gak punya kegiatan bakal dapat


sanksi"


 


 


"Aneh..."


"...kok cuma ekskul yang berhubungan dengan bola aja yang gak di dapat


izin gitu?" Adit hanya mengangkat bahu tidak tau.


 


 


"Terus kalian ikut ekskul


apa?" Tanyaku langsung ke intinya.


"Aku sih pramuka soalnya dari awal aku udah ikut itu" Jawab Adit di


ikuti Bayu.


"Aku padus, kalo kamu apa thy?"


Aku mendengus, ternyata mereka


bertiga punya ekskul cadangan sedangkan hanya aku sendiri yang tidak. "Gak


tau"


•*•*•*•*•


 


 


Aku hanya mengaduk-aduk makananku


tanpa berniat untuk memakannya. Dila memandangku aneh, "Makan


thy"


"Gak nafsu dil"


"Mikirin apa sih"


"Aku bingung mau gabung ekskul apa sabtu ini"


 


 


Aku menggeleng kuat, ia nampak


bingung.


"Loh kenapa?"


"Gak ada minat disana akunya" ia mengangguk mengerti.


Hari ini aku tidak makan bersama


dengan tiga teman laki-laki ku itu karena mereka ada ulangan matematika. Karena


itu aku makan bersama Dila, teman sebangkuku. Hari menjelang sore, banyak dari


siswa/i sudah pulang kerumah dan ada juga yang bertahan di sekolah untuk


mengikuti kegiatan sekolah tambahan yang mereka minati, seperti aku contohnya. Yang


kini sudah mengenakan baju santai untuk latihan begitupun yang lainnya. Rini


menghampiriku dengan sebotol minuman dan ikut duduk di sebelahku, aku menerimanya


tanpa protes sedikitpun.


 


 


"Thy" aku berdeham tanpa


berminat mengalihkan pandangan kedepan.


"Misalnya ada cowo yang nyatakan cinta sama kamu, kamu terima gak?"


Aku mengerutkan kening bingung dan menatapnya aneh.


 


 


"Kok tiba-tiba nanya itu?"


"Jawab aja" dengan nada memaksa.


"Tidak"


"Maksudmu?"


"Aku tidak mau menjawabnya, sudahlah Abang Rey udah dateng tuh" Lalu


ku berlari ketengah lapangan bersiap untuk pemanasan.

__ADS_1


Shilla yang di sampingku tiba-tiba


bertukar tempat dengan laki-laki yang minggu lalu memberikanku coklat, aku


hanya mengangkat bahu tak peduli dan malakukan pemanasan seperti biasa.


 


 


"Istirahat 15 menit abis itu


kumpul lagi di lapangan ya" Ucap abang Rey lantang.


"Siap bang!" Setelah itu banyak yang membubarkan diri untuk sekedar


menghilangkan dahaga atau bercengrama dengan teman.


Tapi tidak denganku, aku masih


berkutat dengan bola basket yang sedang ku dribble dan memasukannya kedalam keranjangnya, lalu melakukan lay up. Aku tidak merasa lelah sama sekali setelah melakukannya


berkali-kali. Tiba-tiba Bayu memblock bola yang baru saja aku shots ke arah


ring basket. Ia memamerkan senyum pesonanya membuat aku ikut tersenyum, ah


desiran ini lagi. Untuk kali ini kubiarkan desiran hangat itu menyapu habis


hatiku, untuk kali ini saja. Kami bermain, saling merebut bola tanpa ada niatan


untuk berhenti hingga suara tiupan peluit menyuarakan kemenanganku. Aku


tersenyum lega, lalu merangkul Bayu ke tepi lapangan ia terlihat


terhenggah-henggah sama sepertiku.


Ku selojorkan kakiku lalu minum


dengan rakus, lalu membagi minuman dengan Bayu. Kami tidak peduli dengan


pandangan yang tertuju dengan interaksi kami berdua. Abang Rey saja tidak


mempersalahkannya.


 


 


"Kalian ini kalo main gak inget


waktu"


Aku nyengir membalas perkatan Abang Rey, "Makasih ya bang niup peluitnya


tepat waktu, jadinya aku deh yang mimpin score" Abang Rey tersenyum dan menggeleng


pelan.


"Yaudah kalian berdua istirahat dulu, apa lagi kamu thy hati-hati


dehidrasi"


"Okey bang"


 


 


 


 


Lalu Abang Rey meninggalkan kami berdua untuk lanjut melatih anggota lain.


Aku dan Bayu di hinggapi oleh


keheningan, tidak ada satupun dari kami yang berbicara, hanya ada deru nafas


kami yang saling bersahutan, hingga ia membuka suaranya.


 


 


"Kamu udah milih?" Aku


menoleh lalu menggeleng pelan.


"Belum, masih bingung"


"Ikut pramuka aja udah"


"Kenapa pramuka?" Tanyaku heran dengan sarannya. Ia tersenyum tanpa


berniat untuk membalas pertanyaanku, lagi-lagi perasaan aneh hinggap.


Apa Bayu penyebab perasaan aneh ini?


Entah ada angin apa aku mengangguk


menyetujui sarannya, ia tersenyum lalu mengacak surai rambut pendekku hingga


berantakan. Kali ini bukan desiran yang memelukku tapi debaran jantung tak


terkontrol yang ku rasakan, aku jadi takut jika Bayu dapat mendengarnya.


Aku mendengus kesal untuk menutupi


debaran yang semakin menjadi, membuatku tidak menyesal telah menyetujui


sarannya. Mungkin saja jika aku ikut pramuka aku jadi mengetahui jawaban atas


segala keanehan yang ku rasakan.


•*•*•*•*•

__ADS_1


__ADS_2