
Hari ini lebih membosankan di
bandingkan minggu sebelumnya, aneh rasanya bila hari libur terkesan membosankan
di bandingkan hari produktif biasanya. Ponselku berdering tanda pesan masuk,
sudut bibirku tertarik membentuk lengkungan kecil. Aku bangkit dari posisi
malasku, segera mandi dan menyiapkan keperluan untuk bermain seperti sepatu,
baju dan celana pendek khusus latihan basket.
Ya, Bayu mengirimkan pesan untuk
bermain basket bersama dengan Adit dan Johan di sekolah. Ah, kadang aku bingung
dengan diriku sendiri, hanya karena sebuah pesan teks dari nya dapat membuat
hariku yang tadinya ku pikir membosankan kini terasa lebih berwarna dan menyenangkan,
ritme debar jantungku pun tak karuan di buatnya.
Ku lihat pemandangan mengesankan
saat memasuki lapangan sekolah, merasa di pandangi ia menoleh kearahku dan
tanpa sadar aku tersenyum kearahnya begitupun sebaliknya.
"Mana yang lain?" Tanyaku
setelah memarkirkan sepeda.
"Biasa, beli minum di luar" Aku mengangguk, lalu mengambil bola di
tangannya dan main di tengah lapangan. Bayu tidak keberatan justru ia senang
karena ada teman duel untuk bermain.
Kami bermain Man to Man, atau Women
to Man? Intinya satu lawan satu. Setelah beberapa saat bermain bersama, Adit
dan Johan datang membawa 1 box iced biru berisi minuman dan es. Mereka
mengintrupsi kami untuk berhenti bermain sejenak, dan terpaksa aku menurutinya.
Jika saja mereka datang lebih lama mungkin aku lah yang akan mengungguli point.
Helaan nafas kasar keluar dari bibirku, Bayu menyadari hal itu hanya tersenyum
geli.
"Kenapa kamu?" Aku melirik
Adit malas.
"Kalian datangnya di waktu yang tepat"
"Tepat dari mananya? Coba aja kalian gak nyuruh kami berhenti main pasti
aku yang memimpin angka, bukannya dia" Bayu tertawa mengejek mendengar
keluhanku.
"Ya udahlah nanti lanjut lagi" Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan
perkataan Adit kali ini.
"Ohya thy, katanya kemarin kamu
di kasih coklat ya sama cowo" Tanya Johan sambil memainkan bola di tangannya.
"Tau dari mana kamu?"
"Kan ada informan di kelas kami"
"Rini?" Mereka bertiga mengangguk bersamaan, ah aku hampir lupa jika
Rini satu kelas dengan mereka bertiga.
"Cowo itu ya?" Aku melotot
tak percaya Bayu dapat menebak dengan tepat.
"Kamu kenal Bay?"
"Kan aku ada cerita kemarin di kantin, kalo ada yang main mata sama
Athy" kini Johan menatapku dengan pandangan mengejek.
"Aduh si Athy udah jadi cewe
nih" goda Johan mencolek daguku genit.
"Apaan sih! Gak usah di bahas mending kita pikirin aja tentang sabtu depan
__ADS_1
gimana"
Setelah itu mereka nampak berpikir
sejenak, Adit membuang nafas "Basket, futsal gak ada ekskul pagi.."
kami menatap Adit bertanya. "... jadi kita harus nyari ekskul baru lagi
buat kegiatan sabtu pagi, kalo ketahuan gak punya kegiatan bakal dapat
sanksi"
"Aneh..."
"...kok cuma ekskul yang berhubungan dengan bola aja yang gak di dapat
izin gitu?" Adit hanya mengangkat bahu tidak tau.
"Terus kalian ikut ekskul
apa?" Tanyaku langsung ke intinya.
"Aku sih pramuka soalnya dari awal aku udah ikut itu" Jawab Adit di
ikuti Bayu.
"Aku padus, kalo kamu apa thy?"
Aku mendengus, ternyata mereka
bertiga punya ekskul cadangan sedangkan hanya aku sendiri yang tidak. "Gak
tau"
•*•*•*•*•
Aku hanya mengaduk-aduk makananku
tanpa berniat untuk memakannya. Dila memandangku aneh, "Makan
thy"
"Gak nafsu dil"
"Mikirin apa sih"
"Aku bingung mau gabung ekskul apa sabtu ini"
Aku menggeleng kuat, ia nampak
bingung.
"Loh kenapa?"
"Gak ada minat disana akunya" ia mengangguk mengerti.
Hari ini aku tidak makan bersama
dengan tiga teman laki-laki ku itu karena mereka ada ulangan matematika. Karena
itu aku makan bersama Dila, teman sebangkuku. Hari menjelang sore, banyak dari
siswa/i sudah pulang kerumah dan ada juga yang bertahan di sekolah untuk
mengikuti kegiatan sekolah tambahan yang mereka minati, seperti aku contohnya. Yang
kini sudah mengenakan baju santai untuk latihan begitupun yang lainnya. Rini
menghampiriku dengan sebotol minuman dan ikut duduk di sebelahku, aku menerimanya
tanpa protes sedikitpun.
"Thy" aku berdeham tanpa
berminat mengalihkan pandangan kedepan.
"Misalnya ada cowo yang nyatakan cinta sama kamu, kamu terima gak?"
Aku mengerutkan kening bingung dan menatapnya aneh.
"Kok tiba-tiba nanya itu?"
"Jawab aja" dengan nada memaksa.
"Tidak"
"Maksudmu?"
"Aku tidak mau menjawabnya, sudahlah Abang Rey udah dateng tuh" Lalu
ku berlari ketengah lapangan bersiap untuk pemanasan.
__ADS_1
Shilla yang di sampingku tiba-tiba
bertukar tempat dengan laki-laki yang minggu lalu memberikanku coklat, aku
hanya mengangkat bahu tak peduli dan malakukan pemanasan seperti biasa.
"Istirahat 15 menit abis itu
kumpul lagi di lapangan ya" Ucap abang Rey lantang.
"Siap bang!" Setelah itu banyak yang membubarkan diri untuk sekedar
menghilangkan dahaga atau bercengrama dengan teman.
Tapi tidak denganku, aku masih
berkutat dengan bola basket yang sedang ku dribble dan memasukannya kedalam keranjangnya, lalu melakukan lay up. Aku tidak merasa lelah sama sekali setelah melakukannya
berkali-kali. Tiba-tiba Bayu memblock bola yang baru saja aku shots ke arah
ring basket. Ia memamerkan senyum pesonanya membuat aku ikut tersenyum, ah
desiran ini lagi. Untuk kali ini kubiarkan desiran hangat itu menyapu habis
hatiku, untuk kali ini saja. Kami bermain, saling merebut bola tanpa ada niatan
untuk berhenti hingga suara tiupan peluit menyuarakan kemenanganku. Aku
tersenyum lega, lalu merangkul Bayu ke tepi lapangan ia terlihat
terhenggah-henggah sama sepertiku.
Ku selojorkan kakiku lalu minum
dengan rakus, lalu membagi minuman dengan Bayu. Kami tidak peduli dengan
pandangan yang tertuju dengan interaksi kami berdua. Abang Rey saja tidak
mempersalahkannya.
"Kalian ini kalo main gak inget
waktu"
Aku nyengir membalas perkatan Abang Rey, "Makasih ya bang niup peluitnya
tepat waktu, jadinya aku deh yang mimpin score" Abang Rey tersenyum dan menggeleng
pelan.
"Yaudah kalian berdua istirahat dulu, apa lagi kamu thy hati-hati
dehidrasi"
"Okey bang"
Lalu Abang Rey meninggalkan kami berdua untuk lanjut melatih anggota lain.
Aku dan Bayu di hinggapi oleh
keheningan, tidak ada satupun dari kami yang berbicara, hanya ada deru nafas
kami yang saling bersahutan, hingga ia membuka suaranya.
"Kamu udah milih?" Aku
menoleh lalu menggeleng pelan.
"Belum, masih bingung"
"Ikut pramuka aja udah"
"Kenapa pramuka?" Tanyaku heran dengan sarannya. Ia tersenyum tanpa
berniat untuk membalas pertanyaanku, lagi-lagi perasaan aneh hinggap.
Apa Bayu penyebab perasaan aneh ini?
Entah ada angin apa aku mengangguk
menyetujui sarannya, ia tersenyum lalu mengacak surai rambut pendekku hingga
berantakan. Kali ini bukan desiran yang memelukku tapi debaran jantung tak
terkontrol yang ku rasakan, aku jadi takut jika Bayu dapat mendengarnya.
Aku mendengus kesal untuk menutupi
debaran yang semakin menjadi, membuatku tidak menyesal telah menyetujui
sarannya. Mungkin saja jika aku ikut pramuka aku jadi mengetahui jawaban atas
segala keanehan yang ku rasakan.
•*•*•*•*•
__ADS_1