
Entah sudah kali keberapa aku menerima paket dengan ciri yang sama, kali ini dengan isi sebuket mawar ungu dan tentunya di sertai kartu ucapan yang terselip di sela-sela bunga cantik itu. Aku membaca isi kartu itu dengan penuh minat, mungkin karena aku penasaran. Mengapa mawar ungu? bukannya merah atau pink.
Dan terjawablah pertanyaanku...
Hai...
Ini aku, orang yang sama yang selalu mengirimimu paket.
Mungkin kamu bertanya, mengapa kali ini aku mengirimkan mawar ungu bukannya merah atau bunga lainnya.
Karena mawar ini melambangkan rasa ku untukmu, Athanasia.
-Your secret admirer
Sebuah lengkungan tipis terbit dari sudut bibirku, ku ambil sebuket mawar ungu itu, tercium aroma bunga segar saat ku menghirupnya lalu aku kembali mempertanyakan sosok pengirim misterius tersebut. "Sebodoh apa dia, hingga rutin mengirimi ku sebuah paket dengan isi yang selalu membuat aku mempertanyakan sosoknya"
"Siapa?" tanya seseorang di belakangku, aku meletakan kembali buket itu pada asalnya dengan cepat dan berbalik menghadap orang itu. "Kok diem?" aku menggelengkan kepala lalu mendudukan diri di ujung ranjang.
"Aku sendiri pun tidak tau"
"Masa?" ucapnya dengan nada tak yakin, lalu kembali bersuara. "kalau kamu tidak tau, lantas bagaimana kamu menjelaskan aura kasmaranmu itu"
Aku terhenyak mendengar apa yang baru saja di katakan Ka Riza, aku menenunduk sembari menangkup pipiku yang terasa panas menjalar ke area telinga. Dapat ku dengar suara tawa kecil yang pastinya berasal dari Ka Riza, Kakak sulungku, jarak usia kami hanya terpaut 3 tahun. "Asik juga ternyata, godain orang kasmaran whahaha" Aku hanya bisa mendengus sebal menanggapi ejekan yang laki-laki itu lontarkan untukku.
"Kak" Panggilku pelan, hampir seperti bisikan. Namun, masih bisa Ka Riza dengar buktinya laki-laki bertubuh tinggi itu menoleh dan menatapku bertanya dengan senyum hangat yang selalu ia tunjukan untukku.
"Aku menyukainya" Tuturku lantang, menatap manik yang serupa denganku tanpa keraguan sedikitpun. Ka Riza tersenyum tipis dengan hangatnya ia mengusap surai rambutku lembut dan bertanya dengan pelan,
"Siapa?"
Tatapanku menyendu, sambil memaksakan senyum aku membalas.
"Bayu, sahabatku"
•*•*•*•*•
Aku mendribble bola dengan lemah dari pinggir lapangan, tidak memperdulikan pandangan aneh orang-orang yang melintas di depanku. Jiwaku seakan terbang jauh, meniggalkan raga yang nampak lelah dan pikirku buntu mengajak akal sehat yang ku punya untuk bergabung denganya. Begitu besarnya efek dari perkataan Ka Riza tempo hari pada tubuhku.
"Woy! melamun aja" aku menoleh dan hanya tersenyum tipis membalas perkataannya.
"Kamu kenapa thy?" Tanya Johan heran, aku menggeleng pelan seolah berkata 'aku baik-baik saja'. Ku berikan senyum terbaikku untuk Johan dan meninggalkannya ke tengah lapangan basket, aku menggiring bola dengan lincah lalu melemparkannya kearah ring. Setiap gerakan yang ku lakukan terasa sedikit aneh dan berbeda, seperti sedang di awasi.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, tidak ada yang mencurigakan.
"Kamu ngapain sih?"
"Eh?"
"Emm.. gak ngapa-ngapain kok" sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Bayu hanya mengangguk lalu mengusap kepala ku pelan dan tersenyum hangat sebelum beranjak pergi dari tempatku berpijak. Darahku berdesir lambat dan hangat, terlintas perkataan Ka Riza di ingatanku membuat tatapanku menyendu mengamati punggungnya yang mulai menjauh.
"Berhenti thy, dia bukan untukmu" imbuhku untuk menyadarkan diri, lalu berbalik memunggungi tempatnya berpaling dan pergi.
<<<<<
"Sahabatmu?" aku mengangguk pelanlalu menunduk dalam.
"Hei, lihat kemari" sambil mengangkat daguku, mataku sedikit berkaca saat pandangan kami bertemu. Ka Riza tersenyum hangat mengusap pipiku lembut, lalu bertanya. "Kamu meneteskan air mata ini untuk siapa? Untuk laki-laki itu atau karena mengasihani diri?"
Aku terdiam, tidak tau jawaban mana yang benar. Lagi-lagi Ka Riza tersenyum kali ini ia mengusap kepalaku dengan sayang. "Tidak ada jawaban yang benar dan salah di antara 2 pilihan itu, thy" mata kami bertemu.
"Aku..." aku menunduk, lidah tiba-tiba mengelu tidak dapat melontarkan kata. Ku lirik ka Razi yang masih mempertahankan senyumnya.
"Bagaimana rasanya?" Membaringkan diri di ranjangku, "Menyukai seseorang" sambungnya.
Sudut bibirku tertarik bukannya terlihat manis atau cantik, justru terlihat menyedihkan. "Sangat menyedihkan" seruku.
"Benarkah?" Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Ka Riza.
"Kalo menyedihkan harusnya kamu berhenti"
Aku terhenyak, apa yang Ka Riza katakan ada benarnya, jika rasa ini menyedihkan mengapa aku tetap menyimpannya?
"Ini membingungkan" keluhku tanpa sadar.
"Aku gak mau dia jauhin aku kak. Mungkin aku terdengar egois tapi nyatanya aku gak mau dia ngejauh cuma gara-gara hal sepele lalu persahabatan kami runtuh"
"Ya artinya kamu harus tanggung resiko dari pilihan kamu itu" nafasku tercekat, dengan ragu aku menyuarakan ketakutanku.
"Maksud kakak?" sorot mataku menyendu menatap Ka Riza, berharap apa yang akan disampaikan laki-laki bertubuh tegap di hadapanku itu bukan seperti apa yang aku perkirakan.
Ia menggelengkan kepala, "Berhenti dari sekarang sebelum kamu menyesal nantinya".
"Artinya dia bukan untuk aku? Iya?" tanyaku diiringi tawa sumbang.
"Thy, bukan gitu"
"Lantas apa?"
"Kakak gak mau lihat kamu terpuruk lalu terjebak karena cinta monyet khas anak remaja" kurasakan sebuah sentuhan di bahuku,
"Ingat ini hanya sesaat" setelah mengatakan itu Kak Riza bangkit,
"Beberapa hari yang lalu aku gak sengaja nangkep ekspresi cem-"
"Kalo pun dia punya rasa sama kamu, harusnya dia gak akan ngebiarin perasaan tulus kamu" perkataanan Ka Riza membungkam mulutku. Lalu menghilang dari pandanganku.
>>>>>
__ADS_1
Akhir-akhir ini aku kembali menghindari Bayu, lebih tepatnya melarikan diri darinya. Dengan harap, rasa ini melayu. Sebuah senyum manis tercetak jelas di wajahku, tentu untuk menyambut laki-laki berambut gondong yang tidak lain Ka Riza. "Loh kenapa kamu? kesambet?"
Aku memutar bola mata malas, mendengar candaan Ka Riza yang garing. "Gak lucu" setelah berkata sinis aku kembali memamerkan senyum manis padanya, aku tau kakak ku yang satu itu tengah kebingungan menglihat tingkah laku adiknya yang satu ini.
"Kamu kenapa sih de?"
"Masa gak ngerti sih?" bukannya menjawab aku malah memberikan pertanyaan lain, belum sempat Ka Riza ingin menyuarakan kekesalannya aku kembali mendengus saat mendengar suara derap langkah tergesah-gesah yang mulai mendekati kami berdua.
"Ka Iza!!!" Teriak Anando sedikit cempreng ala anak-anak pada umumnya lalu berlari menuju Ka Riza yang sudah dalam posisi jongkong dengan tangan terentangkan dan dengan begitu saja Anan sudah berada dalam gendongan Ka Riza. Huh bikin iri saja.
"Ka Iza, Anan mau oleh-oleh" mendengar permintaan Anan, laki-laki yang lebih tua dari ku itu terlihat kebingunan lalu menatapku seolah mengetahui sesuatu. "Apa?" ucapku dengan wajah tanpa dosa, ia terlihat menggeleng pelan lalu, "Oleh-oleh kamu ada di depan thy" aku mendongkak menatap Ka Riza dengan mata membola.
"Serius?" Ka Riza mengangguk pasti lalu teralihkan menatap Anan yang terlihat cemberut, bingung. "Kamu kenapa de?"
"Paling juga kepengen" celetukku asal.
"Bener?" Anan mengangguk mengiyakan petanyakan Ka Riza. "Kalo gitu, ayo kitalihat oleh-oleh buat Anan" seketika raut bocah laki-laki itu berubah senang dan ikut berseru dengan Ka Riza hingga hilang dari pandanganku.
Penasaran dengan oleh-oleh yang di maksud, dengan langkah riang aku menghampi oleh-oleh yang kata Ka Riza untukku. Ku buka knop pintu tergesa-gesa hingga sebuah penampakan seorang remaja sebayaku terlihat dengan balutan kaos oblong dan celana kain selutut yang ia kenakan tanpa pikir panjang aku langsung membanting keras pintu lalu berlari cepat menaiki anak tangga dan memasuki kamar.
Jantungku berpacu cepat, pikirku buyar, pintu kamar ku jadikan sandaran hingga kaki terkuai lemas seakan tak mampu lagi menahan bobot tubuh. "Apa yang dia lakukan disini?" Tanyaku pada diri sendiri.
Deru nafas tak teratur dariku kembali terdengar seiring dengan ketukan pintu yang saling bersahutan dari luar ruanganku. "Thy? Kakak tau kamu di dalam, ayo keluar"
"Ada temen kamu itu" ucap Ka Riza yang masih terus mengetuk pintu bahkan mencoba membukanya, betapa bersyukurnya aku telah mengunci pintu sebelum aku benar-benar jatuh terduduk di dekat pintu kamar.
Hening. Tidak ada lagi seruan Ka Riza atau ketukan dari laki-laki itu, belum sempat aku bernafas lega suara yang tidak asing lagi bagiku bahkan ku rindukan mangalun jelas di balik pintu yang menjadi pembatas ruangan yang selalu ku anggap sebagai tempat persembunyian terbaik. Sayangnya kali ini tidak. Ia menemukanku, bahkan di tempat yang ku anggap aman sekalipun ia masih tetap bisa menemukanku.
Ia kembali memanggil namaku kali ini terdengar putus asa, benarkah? Atau telingaku yang sedang bermasalah? Seketika hati tercubit dan merasa sangat bersalah saat mendengar ia berkata dengan demikian.
Ku buka pintu yang sedari tadi menjadi pembatas, "Maaf!!" Teriakku sebelum ia menuruni tangga yang tidak jauh dari tempat aku berdiri.
Ia berbalik begitupun Ka Riza yang sedikit tersentak, badanku sedikit terhuyung ke belakang saat menerima pelukan darinya. "Maaf udah ngacuhin kamu, bay" ku rasakan kepalanya menggeleng pelan di belakang kepalaku, ia semakin mengeratkan pelukan. Bukannya merasa sesak justru aku merasa hangat dan seakan kembali hidup di dekapnya.
Hingga wajah seakan kembali di tampar kenyataan, ku dorong tubuhnya sedikit menjauh dariku. Mengingat hal tersebut semakin membuatku terluka saja. "Maaf thy, mungkin aku punya salah yang gak aku sadar ke kamu sampai-sampai kamu ngejauhin aku gitu"
Aku menggeleng pelan, "Engga kok, aku yang minta maaf ngejauhin kamu tanpa sebab" ia mengerutkan kening.
"Terus kenapa kamu jauhin aku kalo aku gak ada salah apa-apa sama kamu?"
"Cuma lagi pengen menyendiri aja" Bayu menghembuskan nafas kasar.
"Aku udah cemas setengah mati tau gak" aku hanya bisa tesenyum simpul mendengarkan keluhannya.
Aku menoleh, pandangan kami saling bertemu seakan menyapa dan menyalurkan suatu hal yang kasat mata tapi tidak ku mengerti.
"Aku kangen kamu thy"
•*•*•*•*•
__ADS_1