
Line
*Andika**: Jam 5 aku jemput.*
Aku hanya menatap datar layar ponselku lalu meletakannya sembarang. Waktu menunjuk ke angka 4 masih ada waktu untuk bersantai sebelum Andi datang dan menjemputku untuk melaksanakan rencana gila miliknya. Ya benar, aku menyetujui kesepakatan yang tempo lalu ia tawarkan padaku. Mungkin dengan sedikit bantuannya aku dapat melupakan sedikit rasa untuk laki-laki yang selalu menghantuiku itu siapa lagi kalau bukan Bayu.
"Thy.. itu ada temen kamu dibawah" seru Mamah yang tiba-tiba membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Astagfirullah.. kaget Mah" Mamah hanya mengangkat bahu acuh. "Yaudah bentar lagi Athy turun"
"Jangan kelamaan. Kasihan orang nungguin" setelah mengiyakan perkataannya, Mamah langsung pergi meninggalkan kamarku.
Bisa kulihat betapa akrabnya Andi dengan Ka Riza yang tengah berbincang di ruang tamu, kedatanganku di sambut dengan selingan geli dari Ka Riza. "Apaan sih?!"
"Nyolot aja" aku memutar bola mata malas menanggapi sahutan menyebalkan dari manusia aneh itu. "Hati-hati ya Ndi sama adek gue, orangnya suka ngerepotin jadi harap maklum" Andi tertawa renyah.
"Santai aja bang, gue udah bisa kok di repotin sama dia"
"Puas banget kalian ketawanya!" Seruku lalu langsung keluar dari rumah disusul Andi yang bergegeas mendahuluiku untuk membukakan pintu mobil.
Kena angin apa ini?
"Ayo masuk" aku menghela the nafas pelan lalu ia menutup pintu mobil setelah memastikan aku sudah masuk kedalamnya dan duduk dengan nyaman disamping kemudi.
"Kenapa bawa mobil?" Tanyaku setelah Andi duduk dikursi kemudi. Ia menoleh dengan senyum rona yang terukir di wajahnya.
"Karna ini kencan pertama aku sama kamu"
"Kencan?" Ia mengangguk seraya menjalankan mobil.
__ADS_1
"Terserah apa katamu lah" ucapku lagi dengan membuang muka menatap jendela mobil yang memperlihatkan pemandangan kota Bandung. Bisa ku dengan suara tawa gemasnya dari samping dan entah kenapa tawa tersebut terdengar sangat merdu di indera pendengaranku.
*•*•*•*•*•*•*
"Eoh? Ka Dika?!" Seru seorang gadis dari kejauhan bersama seorang laki-laki yang begitu ku kenal. Hatiku mendadak ngilu melihat keduanya yang beranjak mendekat kearah kami berdua yang sedang berdiri di tengah-tengah lautan manusia yang berada didalam mall.
"Okta" sahut Andika yang mulai memainkan dramanya dan menyambut gadis itu kedalam peluknya. Ssdangkan aku hanya menatap keduanya bergantian dengan sosok lain yang tak jauh dari gadis itu.
"Hai" ia menyapaku dengan canggung. Secanggung itukah ia bertemu denganku saat berkencan dengan seorang gadis?
Dengan susah payah aku mengukir sebuah senyum untuknya dan membalas sapaannya, "Hai Bay" mungkinkah ini yang pertama kalinya aku membenci senyum laki-laki itu atau dulu aku pernah berkata membencinya? Jika tidak, maka untuk pertama kalinya hari ini aku membenci senyum menerka miliknya yang selalu ku kagumi itu. Ia hanya tersenyum, tapi dengan senyumnya itu ia mampu mengikis hati yang sudah dipenuhi memar dan luka basah yang ia ukir sedari dulu hingga sekarang.
"Aku gak nyangka, Kakak bisa ngajak jalan cewe secantik Ka Athy" takjub gadis itu seraya menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya. Setelah pertemuan tak sengaja versi Andi tadi, Okta dengan inisiatifnya mengajak kami ikut bersamanya. Melihat seringkai yang hanya beberapa saat laki-laki itu tampakkan sudah ku pastikan jika rencana yang laki-laki itu susun berjalan sebagaimana mestinya, dan kedua kakak beradik itu memutuskan untuk pergi makan.
"Kamu juga cantik kok" aku berkata jujur, gadis itu cukup cantik dan begitu manis. Pantas saja Bayu mengincarnya, ujung mataku melihat kearah Bayu yang terus-menerus menatapku sedari awal pertemuan tak sengaja versi Andi, ingat versi Andi.
"Iya, kami temenan dari SMP" aku sedikit mengangkat kepalaku melihat laki-laki itu.
"Kalian kelihatannya akrab deh" gadis itu nampak tertarik dengan kedekatanku dengan Bayu.
Bolehkah? Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memisahkan mereka. "Engga juga kok" jawabku dengan senyum. Tidak. Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak ingin menjadi orang jahat lagi terlebih untuk Bayu.
"Kata siapa?" Pandangan kami semua tertuju padanya. Kulihat Okta mengedipkan matanya lalu tersenyum kaku.
"Maksud kamu apa Bay?" Tanya Okta.
"Kami akrab, sangat akrab"
"Dan kamu hampir selalu pergi bersama" jawabnya dengan lirih. Bukannya sedih aku justru menyukainya, entah menyukai perkataannya atau aku tatapannya yang menyorot kearahku. Aku tidak tau.
__ADS_1
Aku saling bertatapan dengan Andi yang ada di sampingku, ia tersenyum kecut. Apa aku melukainya? Melihat respond yang Andi berikan sepertinya jawabannya adalah iya. "Andi?"
"Ya"
"Apa rencana kamu selanjutnya?" Tanyaku setelah memastikan dua insan tersebut pergi membeli popcorn dan minuman soda untuk menonton bioskop. Andika menyorotku sendu.
"Kayanya gak perlu dilanjutin thy"
"Kenapa?" Aku tidak mengerti.
Kenapa dia tiba-tiba seperti ini, kemana semangat mengebun-embunnya tempo lalu?
"Athanasia!" Aku tersentak.
"Kamu gak peka atau gimana sih?" Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
"Aku gak paham, Kamu ngomongin apa sih?" Dia menggeleng pelan lalu berjalan pelan seraya merangkulku menyusul dua insan yang melambai kearah kami.
Apa perasaanku saja atau memang ini benar adanya. Bayu menatap lekat tangan Andi yang bertangar melingkar dipundak ku, tapi bukannya melepaskan Andi justru semakin mengeratkan rangkulannya seakan tidak ingin melepaskanku dan membalas tatapan Bayu dengan datar. Ada apa dengan mereka?
"Ayo! Film nya bentar lagi mau dimulai" girang Okta sambil menarik lengan kanan Bayu.
Tidak. Aku tidak boleh memperlihatkan perasaan terkutuk ini, tidak boleh. Kurasakan seseorang tengah menggenggam erat tangan kananku. Andi? Ku menatapnya sendu.
"Maaf" ia hanya tersenyum seolah mengerti apa yang tengah aku rasakan saat ini.
"Ayo, nanti ketinggalan film nya" aku membalas senyumnya dan mengangguk setuju menyusul sepasang insan didepan kami.
*•*•*•*•*•*
__ADS_1