ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 20


__ADS_3

Jaka mendatangiku dengan senyum yang membingkai manis diwajahnya meletakan coffe latte pesananku dengan mulus diatas meja lalu mendudukan diri dihadapanku, jarak kami hanya dibatasi oleh sebuah meja persegi yang ukurannya tidak seberapa. Entah dari mana aku harus memulainya melihat senyum yang ia tunjukan padaku begitu tulus membuat hati yang tertuju untuk satu orang kini sedikit terketuk. "Kamu ngelamunin apa?"


"Cara berpisah denganmu" pribadi Jaka bergeming menatap ku dalam.


"Maksud kamu?"


"Aku ingin mengakhirinya" aku membalas tatapan Jaka dan melanjutkan kalimat, "Hubungan kita"


Jaka terkekeh pelan lalu terdiam serius saat matanya kembali melirik kearahku, "Kamu serius?"


"Aku gak lagi ngelawak"


"Kenapa? Aku ada buat salah sama kamu?" Lagi-lagi kalimat tersebut kembali mengudara, terlalu sering kudengar sampai muak. Kalimat klise yang selalu terlontar ketika hendak mengakhiri sebuah hubungan terlebih dalam hubungan sepihak yang tidak menguntungkan.


"Aku hanya bosan"


"..." Aku tersenyum mendapati diamnya pemuda tersebut.


"Mari kita akhiri, senang tlah mengenalmu Jaka" setelah mengatakan itu aku beranjak meninggalkan pribadi yang terdiam. Ini memang kejam, mungkin kini aku terlihat lebih kejam dari pria yang sepenuhnya telah memiliki hatiku.


Untuk Jaka, terimakasih telah menjadi bagian lain dari kenangan singkat hidupku. Dan untukmu Dewi Cinta, bisakah kau lebih selektif ketika menjebak seseorang? Setidaknya janganlah kau menjebak pribadi tulus lainnya dengan sosok kosong sepertiku yang dengan sengajanya kau buat aku telihat seperti seorang gadis jahat!


*•*•*•*•*•*•


Ku tatap lekat pribadi tinggi tersebut dari kejauhan, Ah... aku seperti mengenang masa lampau dimana aku hanya mampu memandangnya dari kejauhan ketika ia bersama gadis lain. Kini berbeda. Dengan perlahan namun pasti aku melangkah mendekat kearahnya, seperti menyadari kehadiranku ia berbalik lalu tersenyum seakan senyum itu memang ia tunjukan untukku. Debaran hangat kembali ku rasakan setelah sekian lama terendam, Semesta... jika bisa izinkan lah aku untuk menghentikan ruang dan waktu agar aku terjebak bersama dengan pemuda itu.


"Bayu! Sudah lama?"


"Engga kok, jalan sekarang?" Aku mengangguk menjawabnya seraya berjalan beriringan menelusuri alun-alun kota di sore hari.


"Maaf" aku meliriknya bingung.


"Apa?"


"Akuu gak akan maksa kamu lagi buat jauhin Irgi" mata kami bertemu saling mengunci pandangan satu sama lain.

__ADS_1


"Sesulit itu ngasih tau alasannya?"


"Bukan gitu, cuma keadaannya masih terlalu rumit buat kamu pahami"


"Aku gak maksa kamu buat cerita kok"


"Athy" aku hanya memperlihatkan senyum singkat lalu berjalan mendahuluinya. Sejujurnya aku tau permasalahan Bayu dengan Ka Irgi hanya saja aku ingin Bayu sendiri yang menceritakannya kepadaku, bukankah aku sangat egois? Aku tidak ingin Bayu menyembunyikan apapun dariku tapi nyatanya aku menyembunyi suatu hal besar darinya—rasa yang tidak seharusnya hadir diantara kami.


Langkahku terhenti tepat di depan penjual cendramata, mengamati pernak-pernih yang dipertontonkan unttuk menarik pembeli. "Gelangnya Neng?" Aku tersenyum mencoba salah satu gelang yang terpajang disana beberapa saat kemudian Bayu datang menyusul dengan nafas agak tersengahnya.


"Kamu cepet banget ilangnya" aku tidak menanggapi ucapannya, mataku terfokus pada gelang yang melingkar manis dipergelangan tangan kananku. "Mang berapa?" Aku melirik pribadi itu tersentak.


"Lima rebu aja kasep"


"Saya beli 2 ya Mang" setelah memberikan selembar uang pas lalu ia mengambil sebuah gelang serupa dengan warna berbeda.


"Aku bayar sendiri aja" ucapku yang tidak ditanggapi oleh pribadi tinggi yang kini sudah menarik tanganku menjauhi pedagang tersebut.


Fokusku jatuh pada genggamannya pada tanganku, hangat. Aku menyukainya, darahku berdesir pelan menimbulkan sengatan aneh yang sialnya membuat candu tersendiri. Aku menghempaskan tangannya hingga tautan tangan kami terlepas, aku merasa kehilangan namun segera ku kesampingkan rasa itu lalu menatapnya dengan sorot bingung. "Kamu kenapa sih Bay?"


"Bukan, bukan itu"


"Lalu?"


"Sikap kamu hari ini berbeda, kamu kek bukan Bayu yang aku kenal"


Bayu diam tidak menjawab pertanyaanku, "Ada apa?" Tanyaku lagi.


"Aku jatuh cinta" jantungku berdenyut nyeri mendengar ungkapan singkat darinya.


"Bukannya itu hal yang baik? Terus apa hubungannya sama sikap kamu kali ini?" Tanyaku lagi, kali ini dengan gejolak aneh yang datang merasuki hati. Dia tersenyum hangat padaku, tidakkah dia tau senyumnya kali ini menyakitiku?


"Hanya ingin" alisku menyatu bimbang antara harus percaya atau tidak dengan jawabannya tersebut. "Aku serius" aku hanya menganggkat bahu tidak peduli.


"Gak ada yang bilang kalo kamu lagi ngelucu" jawabku terkesan acuh yang sejatinya hanya ingin menutupi gejolak aneh yang selalu muncul dikala aku mengetahui hati pemuda itu lagi-lagi berhasil dicuri oleh gadis lain, dan bukan aku.

__ADS_1


*•*•*•*•*•*


Semesta bahkan enggan berpihak padaku lalu apa kabar dengan para Malaikat dan Dewa- Dewi yang berada di langit sana? Telebih Dewi Cinta, ia sangat membenciku. Terbukti, ia membiarkan pemuda yang kucintai atas kesalahannya menjatuhkan hatinya untuk gadis lain. "Dia tlah jatuh cinta untuk kesekian kalinya"


"Dengan siapa?"


"Gadis lain" jawabku tanpa menoleh pada sang empun tanya. Merasa tidak mendapati adanya sahut balas dari Ka Riza lantas aku menoleh kesamping kiri dimana Ka Riza sedang merapikan tampilannya. Keningku membentuk kerutan tipis, "Mau kemana?"


"Jalan dong, emang kek kamu apa ngerenung didepan rumah"


"Malam Mingguan sama siapa emang? Temen? Jangan macetin jalan deh" sahutku tak mau kalah, terlihat jelas raut kesal Ka Riza membuatku tertawa geli.


Suara deru motor mengalun samar di indera pendengaranku, Ka Riza yang tadinya menapikan raut kesal kini beganti dengan raut senang miliknya, lalu beranjak keluar dari rumah. Aku lumayan penasaran dengan siapa kakak ku itu pergi pun mengekorinya dari belakang, aku mengamati satu persatu wajah temen-teman Ka Riza entah hanya perasaku saja atau memang mereka terlihat familiar. Aku tersadar dari lamunan singkat setelah terdengar seseorang menyerukan suara kearahku. "Iya kamu!" Ucapnya lagi saat aku menunjuk diri sendiri memastikan jika memang akulah orang yang mereka panggil.


Sekilas aku melirik Ka Riza meminta pertolongan dan sialnya pribadi itu hanya terkekeh geli kearahku. Dengan berat hati aku beranjak mendekati kerumunan para pria tersebut. "Loh? Dia yang beberapa hari lalu nimpuk lo pake batukan ya?" Bukan hanya aku namun Ka Riza yang berada didekatku ikut mengerutkan keningnya tanda kebingungan.


"Maksud lo?" Tanya Ka Riza terdengar nada menuntut disana.


"Jadi gini bang, cewe ini kemarin disekolah nimpuk Andi pake batu kerikil" jabarnya membuat otakku memutar kembali beberapa kejadian yang ku lalui benerapa hari yang lalu.


Jantungku mengelos begitu saja ketika ingatanku berada ditanam dekat koridor sepi dimana aku menendang asal batu kerikil usai menerima telepon dari Bayu dan tanpa di sengaja mengenai Kakak Kelas yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri. "Thy, apa yang dia bilang itu bener?" Tanya Ka Riza. Baiklah, tidak ada jalan keluar lagi selain mengaku dan kembali meminta maaf.


"Waktu itu aku gak sengaja Ka" jawabku dan di angguki oleh Ka Riza. "Dan untuk Kakak, aku minta maaf kalo batu yang ku tendang asal kemarin kena punggung Kakak" ucapku penuh sesal tertuju pada pemuda yang terkena batuku.


Pribadinya tersenyum tipis kearahku, lumayan tampan hanya saja aku tidak semudah itu jatuh kedalam pesonanya. "Gak apa kok dek, next time hati-hati ya" ucapan tersebut sukses membuat teman-teman Ka Riza lainnya menyoraki kata 'cie' dan 'modus' kearah laki-laki itu, sedangkan aku hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu aku pamit untuk masuk kedalam rumah, tanpa di sengaja aku mendengar percakapan singkat mereka,


"Gila, Adek lo Riz? Cantik banget"


"Iya Bang, cantik. Next time ajak dia nongkrong bareng kek"


"Pala lo pada mau gue piting hah?" Bisa ku tebak itu suara Ka Riza.


"Namanya siapa Bang?" Suara ini, suara laki-laki yang tadinya menjadi lawan bicaraku.


"Tanya aja sendiri sama orangnya" aku langsung membekap mulutku saat tawaku ingin keluar. "Oh ya, hati-hati. Jangan terlalu kepo sama adek gue, ntar lo naksir" dari bilik pintu aku berdecih kesal dengan perkataan Ka Riza yang satu itu, tidak semua orang mudah menjatuhkan hati mereka dengan orang yang baru saja dikenal terlebih teman-temen Ka Riza tidak terlalu mengenalku jadi kecil kemungkinan jika mereka akan menyukaiku atau justru malah sebaliknya?

__ADS_1


*•*•*•*•*•*•*


__ADS_2