
"Ram"
"Hm"
"Menurutmu aku harus bagaimaana?" seketika itu ia menatapku bertanya seolah kemampuan yang sering ia banggakan sirna.
"Untuk kali ini aku gak tau arah pembicaraan kamu kemana" aku tersenyum.
"Engga tau kenapa aku jadi seneng"
"Kenapa gitu?"
Senyumku semakin mengembang membuat laki-laki di sampingku itu diselimuti rasa heran. "Karena kamu gak ngertiin aku"
Bisa ku lihat ia memutar malas bola matanya, "Dasar cewe"
Aku tertawa pelan lalu mengalihkan pandangan ke jalan raya, mengamati para penguna jalan dengan senyum tipis yang terukir jelas.
"Apa yang kamu amati?"
"Entahlah" sahutku tanpa mengalihkan pandangan.
"Apa kabarnya?"
"Tidak baik" lalu menatapnya dengan senyum yang sama. Ia terlihat menghela nafas.
"Aku bertanya tentang laki-laki itu, bukan hatimu"
Alisku sedikit terangkat "Benarkah?"
"Jawab saja"
"Ia terlihat baik, sangat baik" jawabku memelan tepat di akhir kata.
"Lalu apa yang sudah kamu dapat?"
Ku tompang dagu dengan tangan, melirik Rama dengan senyum manis. "Pelajaran berharga?"
Ia tertawa pelan lalu meletakan kembali gelasnya. "Kamu udah bisa mainin ekspresi ternyata"
"Yeah thanks to you"
"Your Welcome Sweetheart" jawabnya sambil memaninkan alis.
"Ram, itu menggelikan!"
"Hahaha.. aku kira kamu udah terbiasa" aku hanya menghendikan bahu acuh.
Hmm apa aku sudah bilang kalau hubunganku dengan Rama berjalan baik, ah tunggu hubungan yang ku maksud bukan seperti kabar yang beredar. Membingungkan? Tidak juga, menurutku dengan adanya berita tersebut akan lebih mudah untuk berpaling darinya bahkan Rama berpikir demikian. 3bulan sudah aku menjalin hubungan palsu dengan Rama tentu kami menjadi semakin akrab, ia sudah seperti kakak kedua bagiku, banyak pula pelajaran yang dapat aku ambil darinya ada benarnya dengan apa yang ia katakan sebelumnya, aku tidak akan rugi menyandang status sebagai kekasih meski dalam artian bukan yang sebenarnya.
"Thy" panggilnya pelan. Aneh. Ku tatap Rama bertanya seraya miringkan sedikit kepalaku.
"Apa?"
"Mari akhiri" ucapnya spontan. Mataku berkedip beberapa kali mencoba mencerna apa yang barru saja ia sampaikan, lalu tawaku meluncur begitu saja.
"Aku serius"
"Haha.. aku gak ada bilang kalo kamu lagi bercanda" jawabku lalu tersenyum.
__ADS_1
Ku senderkan bahuku pada tiang beton pelataran rumahku, ya kami sedang berada di rumahku emm.. lebih tepatnya di depannya. "Katakan saja"
"Aku menyukai seseorang" darahku berdesir pelan, bayangan Bayu kembali terlintas.
"Lalu?" Ucapku mencoba tenang.
"Mari akhiri, hubungan palsu ini" ucapnya dengan wajah memelas.
Jujur saja, ia membuatku bingung. Bukankah ia yang memulai dan bersikeras tidak ingin mengakhiri lalu kenapa sekarang? Ah sudahlah, jika sudah begini aku bisa apa. "Kalau begitu lakukan"
Ia sedikit mendongkak setelah beberapa saat menunduk dalam diam.
"Beneran?"
"Aneh, ini cuma hubungan palsu. Lagian kamu itu udah kaya kakak aku tau" Rama tersenyum lalu memelukku erat.
"Makasih thy"
"Iya sama-sama"
Setelah melepaskan pelukan dan berpamitan untuk pulang sebelum itu ia sempat mengatakan, "Ingat apa yang selalu ku katakan" aku mengangguk dan tersenyum lalu tak ku lihat lagi punggungnya setelah di persimpangan jalan seakan angin membawanya pergi.
•*•*•*•*•*•
"Ciee yang abis putus"
Aku hanya bergumam sambil memakan pie buatan Mamahnya Adit, "Tapi thy, kok bisa sih"
"Maksud kamu?" Tanyaku.
"Maksud Johan kamu kenapa bisa putus sama si Rama, gitu loh thy" aku ber'oh ria mendengar perunturan dari Adit.
"Apasih? Ganggu orang makan aja" Bayu menampilkan cengiran khasnya, "Makanya orang nanya dijawab, jangan makan aja"
Aku memutar bola mata malas dan meletakan piring kecil berisi pie nanas yang sisa setengah lalu menatap satu persatu ketiga laki-laki di depanku. Kami sedang berkumpul diteras rumah Adit, masih lengkap dengan seragam sekolah bedanya tidak ada atribut yang membelenggu, kecuali Adit dia sudah berganti dengan kaos santai ala anak rumahan.
Helaan nafas panjang keluar dari ronggaku, "Dia suka sama orang lain" ucapku enteng.
"Maksudnya kamu dicampakan?"
"Aku gak ada bilang kek gitu"
"Tapi thy"
"Bay, kami putus dengan baik" kataku dengan sedikit penekanan di akhir kalimat. Bayu menghela nafas, "Terserah apa kata kamu aja udah" setelah itu ia bangkit meninggalkan kami semua sambil menuntun sepedanya.
Aku mengamati kepergiannya dalam diam, tidak ada niatan untuk menahan ataupun menghalangi langkahnya. "Kamu sih thy" aku menoleh melirik Johan dengan senyum kecut.
"Aku salah ya?"
"Nggak ada yang salah" kata Adit sambil menggeleng,
"Bayu itu peduli, makanya gitu" imbuh Johan menambahkan.
"Gitu ya" sahutku dengan senyum kecut menatap kearah jalan yang tadi di lewati Bayu.
•*•*•*•*•*•
Bingung, marah, sedih, sakit menjadi satu. Apa yang dikatakan Rama benar! Bodoh jika terus memendam tapi perkataan Ka Riza kembali menghantuiku, ini resiko yang harus ku terima. Bolehkah aku menyesal?
__ADS_1
Tidak. Ini sudah terlalu terlambat untuk menyesali segalanya.
Waktu berjalan sangat cepat dan aku membencinya. Sekarang kami harus berhadapan dengan Ujian Nasional, hahaha cepat sekali bukan?
Aku tidak mengkhawatirkan proses ataupun hasil ujian yang ku cemaskan saat ini adalah ketika hari kelulusaan tiba dan kami semua berpisah. Untuk memikirkannya saja aku tidak sanggup apa lagi jika itu benar terjadi? Aku bahkan sangat yakin kecil kemungkinan jika kami berempat akan bersekolah di tempat yang sama setelah ini.
Lalu apa yang akan ku lakukan tanpa melihat kehadirannya disisiku?
"Hobbi banget ngelamun" ah baru saja aku membayangkan masa SMA ku tanpanya, "Lah malah diem, ayo pengawasnya baru aja masuk" aku hanya mengangguk dan membiarkan laki-laki itu menarik tanganku hingga kami memasuki ruang ujian.
Oh iya, aku dan dia satu ruangan begitu pun dengan Johan. Setelah selesai aku bersiap pulang namun tertahan karena seseorang, aku menengok belakang melihat siapa pelakunya, "Nongkrong yuk!"
Aku menggeleng pelan sambil membenahi tas rangselku, "Kok gitu" aku tersenyum tipis.
"Aku mau belajar" aku tau itu jawaban terbodoh yang pernah aku lontarkan, siapa yang akan percaya seorang Athy belajar?
"Belajar?" Kulihat ia mengerutkan keningnya lalu tertawa seakan mengejek perkataanku, ah lebih tepatnya dia memang sedang mengejekku. "Sejak kapan haha.. astaga gak nyangka banget"
"Suka suka aku lah"
"Idih ngambek"
"Duluan ya" lalu ku berjalan menuntun sepeda gunungku.
"Jadi beneran gak mau? Padahal ada Farhan loh" langkahku terhenti begitu saja dan menoleh menatap Bayu bingung, apa hubungannya dengan Farhan?
"Terus?" Ia berjalan mendekat,
"Ya kali aja kamu mau ikut abis aku nyebut nama dia" lalu terkekeh. Aku memutar bola mata malas lalu menaiki sepeda dan mengayuh menjahui Bayu.
Selama di perjalanan aku merasa diawasi, apa perasaanku saja? Langkahku memendek saat retina menangkap sosok familiar yang sudah lama tidak aku temui belakangan ini. Aku melihat sekitar, sepi. Dimana semua orang?
Aku menghendikan bahu acuh dan membawa paket abu itu menuju kamar.
"Kali ini apa lagi?" Tanyaku lalu membuka perlahan kotak misterius itu. Mataku terbuka lebar, "K..kok" ucapku sedikit tertahan.
"Kakak" Dengan gerakan cepat aku langsung menutup kembali kotak abu itu lalu tersenyum menoleh pada Anando yang menatap aku bingung sambil mmiringkan sedikit kepalanya.
"Kenapa nan?"
Ia mengedipkan mata cepat beberapa saat lalu menyurungkan susu kotak stroberi padaku, "Ini, Anan tadi beli banyak"
"Tumben ngasih, yaudah makasih" Anan mengangguk lalu pergi berlalu meninggalkan kamarku.
Kuletakan susu kotak pemberian Anan diatas meja belajar dan kembali membuka kotak abu itu, lalu membuka kartu ucapan yang selalu terselip di dalamnya.
Hai!
Udah lama ya..
Baguskan? Aku yakin kamu pasti suka
-you're secret admirer
Satu kata yang selalu ku pertanyakan,
Siapa?
Ya, kata itulah yang selalu ku ucapkan setelah menerima paket-paket yang orang itu kirimkan dan isi paket ini cukup mengejutkan. Bagaimana tidak, ia mengirimkan beberapa fotoku yang diambil secara diam-diam entah itu saat sedang ekskul atau saat jam sekolah. Satu hal yang ku yakini, kami satu sekolah. Tapi siapa? Siapa orang bodoh itu?
__ADS_1
•*•*•*•*•*•