
Dari sisi mana pun gadis itu terlihat cantik sekaligus manis, aku iri. Iri karna gadis itu mampu menarik perhatiannya, iri ia dapat dengan mudahnya mengikatnya dan aku iri karena ia mendapatkan seseorang yang tidak dapat ku miliki seutuhnya.
"Athy, aku menyerah" putusnya terdengar lirih.
"Apa maksud kamu?"
"Aku menyerah thy. Aku nyerah! Rasa kamu begitu besar dan aku gak bisa bantu kamu buat berpaling bahkan untuk sebentar aja aku gak bisa thy" aku terdiam, tidak ada kata yang mampu ku ucapkan untuk sekedar menghiburnya. Ia terlihat rapuh, seperti aku. Apa ia cerminan lain dari diriku atau dia hanya terlihat seperti diriku yang lain?
*•*•*•*•*
"Gimana kencannya?"
"Gak ada yang spesial" acuhku lalu menjatuhkan diri disamping Anan yang tengah asik menonton serial kartun.
"Tapi kamu spesial dimatanya"
"Dia terlalu bodoh Mah" bagaimana bisa Mamah berkata omong kosong seperti itu? Bodoh jika menyanggapku spesial.
Mamah tertawa pelan, "Memang gitu, dia terlalu kasmaran sampai terlihat bodoh"
"Neng.. kamu yang udah bikin dia jadi bodoh kaya gitu" aku tertegu. Apa wanita di depanku ini ibu kandungku?
"Bodoh itu apa mah?" Beo Anan. Jadi Anan dari tadi ada di samping aku. Ah aku terlalu pusing memikirkan laki-laki itu hingga tidak fokus dibuatnya. Mungkin jika aku berkunjung kealam mimpi akan membuat pikiran lebih jernih.
Suara ketukan terdengar nyaring dan begitu menganggu, "Apaan sih!"
"Hehe kamu udah mau tidur ya?"
"Ya" tangan Ka Riza tergerak menahan pintu kamarku ketika aku hendak menutupnya. Aku menghela nafas lelah.
"Kakak mau dengar cerita hari ini ya?" Seketikka bayangan Bayu bersama Okta terlintas begitu saja diingatanku, hati mendadak ngilu dan air mata tak tebendung lagi.
"Athy.. kamu kenapa?"
"Gak, aku gakpapa. Besok aja aku ceritanya ya ka" buru-buru ku usap jejak air mata yang mulai mengalir turun membanjiri pipi. "Aku ngantuk banget soalnya, Selamat malam!" Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menutup pintu dan menguncinya. Menjadikan pintu sebagai sandaran hingga kaki tidak dapat lagi menahan bobot tubuh.
Sepi, bahkan aku dapat mendegar jelas suara jarum jam dan dengan senyum kecut aku berbisik pada diri "Aku bodoh"
*•*•*•*•*
Hari mendadak mendung, entah sudah keberapa kalinya aku mendapati langit tengah bersedih dan entah untuk keberapa kalinya aku kembali menjadi salah satu saksi dari kesedihan langit dan menguyur permukaan bumi dengan tetesan airnya. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak insiden hari itu, dimana aku mengikuti skenario Andi sampai detik ini ia tidak pernah memperlihatkan wujudnya dihadapanku.
Seolah sengaja untuk menghindar, entah menghindar karena apa aku pun tidak tau jelas dan tanpa sadar aku mulai merindukan keberadaannya yang selalu mengganggu keseharianku. "Kamu yang namanya Athy kan? Anak kelas 11 Ips?"
"Iya, ada apa?"
__ADS_1
"Pacar Andika kan?" Celetuk laki-laki dengan wajah datarnya.
"Bukan" jawabku enteng dan melaluinya begitu saja.
Bisa-bisanya orang asing itu menganggap aku kekasih dari makhluk menyebalkan seperti Andika, aku berjalan tanpa arah hingga tak sengaja menabrak punggung lebar didepanku.
"Maaf.. kamu gakk.. Athy??"
"Andi?" Wajahnya nampak sangat terkejut seolah bertemu dengan seorang rentenir. Segera aku menggenggam tangannya berharap dapat menahan laki-laki itu lebih lama, jujur aku merindukannya dengan sangat.
"Kenapa buru-buru?"
"Kamu mau menghindar sampai kapan Ndi?!" Nafasku terhenggah-henggah, dia laki-laki pertama setelah Ka Riza yang pernah ku teriaki.
"A-andika?" Suaraku memelan kala mata kami saling bertemu, ia menatapku dengan iris gelapnya yang terlihat sendu dan aku membalasnya dengan sorot bingung dan aneh.
Aneh karena ada perasaan asing yang pernah kurasakan sebelumnya kembali menyelinap kedalam rongga hati, aneh karena perasaan itu muncul dengan orang yang berbeda. Satu hal yang baru aku sadari membuat diri menghempaskan genggamku padanya, dia bukan Bayu.
Tidak masuk akal! Kenapa rasa itu harus muncul saat aku bersamanya? Dia bukan Bayu!
Kenapa harus Andi?
Dan kenapa harus sekarang?
Kepalaku terasa pening akibat banyak tanya yang berkeliaran dalam benak.
Dan detik itu pula aku tersadar, aku telah jatuh hati padanya.
*•*•*•*•*•*
Malam berganti pagi, bulan berganti tahun secepat itukah siklus bumi atau hanya aku yang merasa waktu berjalan dengan cepat?
Tidak disangka hari ini akan tiba. Hari dimana aku menggunakan gaun cantik untuk menghadiri perpisahan sekolah. Ya, tahun ini adalah tahun kelulusanku. Aku cukup takjub dengan pantulan diri dicermin, dia seperti bukan aku. Terlalu cantik untuk dipanggil seorang Athy, dan terlalu baik jika dipanggil Athanasia. Untuk pertama kalinya aku mengenakan gaun seperti ini, cukup merepotkan tapi masih dapat dinikmati.
Kelulusanku kali ini, tidak begitu spesial bahkan terkesan biasa-biasa saja. Jika di kelulusanku sebelumnya aku mulai merelakan cinta tapi kali ini berbeda, aku mulai mengharapkannya. Aku berharap ada cinta yang baru datang menemuiku, dan berharap yang lama benar-benar terkubur dalam.
"Athy!" Seru seseorang dari kejauhan, pandangan mataku teraih begitu saja menatap takpercaya akan kehadiran sosoknya. Apa ini pertanda jika harapku mulai terkabul?
"Andika?" Gumamku.
"Udah lama ya" ia tersenyum memperlihatkan lengkungan manisnya.
"Iya, udah lama"
"Terakhir kita ketemu waktu acara kelulusan aku kan" aku mengangguk membenarkan perkataannya.
__ADS_1
Ya, ini pertemuan pertama kami setelah satu tahun berlalu sejak aku menyadari perasaanku untuknya.
"Hm.. abis itu kamu gak pernah kelihatan lagi, ngucapin salam perpisahan aja engga" ia menggusap tekuk lehernya. "Tapi aku tau kok kalo selama ini kamu selalu ngawasin aku lewat Ka Riza"
Andi terlihat kaget.
"Bang Riza ngasih tau kamu ya?" Aku menggeleng pelan.
"Engga, kamu pikir aku orang bodoh yang gak peka apa?!" Kesalku.
Ahh iya, tepatnya saat acara kelulusan Andika. Setelah itu kami tidak pernah bertemu sapa atau sekedar mengirim pesan satu sama lain. "Kamu masih sama ya thy"
"Suka banget deh kamu itu ngalihin topik" ia hanya tertawa pelan, ku akui setelah sekian lama tidak bertemu ia menjadi laki-laki yang cukup menawan atau pria?
Ia memberikanku sebuket bunga tulip putih dan oranye sangat indah tapi siapa sangka artinya begitu dalam. Hatiku bergetar nyaman ketika mata kami saling bertemu sekilas aku melihat sorot sendunya dan dengan sekilas pula sorot itu berganti menjadi sorot senang, apa dia sedang melakukan permainan emosi? Dia terlihat handal dalam menyembunyikan perasaannya sendiri.
"Kamu mau lanjut kemana?"
Astaga, apa dia sedang bermain peran? Kenapa aku tidak bisa membaca ekspresi yang dia tunjukan. Menyebalkan. "Kayaknya aku bakal kuliah di Jakarta"
"Kenapa harus di Ibu Kota? Emang di Bandung gak ada yang bagus?" Haha dia terlihat lucu.
"Bukan gitu, tapi gimana ya haha"
"Kok ketawa" wajah bingungnya membuatku semakin ingin menertawakannya.
"Ekspresi kamu lucu Ndi, whahaha"
Tawaku mereda seiring Andika mentapku dengan wajah tentramnya, "Kamu kenapa liatin aku kaya gitu? Aku tau kok kalo aku ini aneh jadi stop liatin aku kayak gitu"
"Aku seneng lihat kamu bisa ketawa luluasa kayak tadi thy" hatiku berdenyut ngilu mendengar perkataan sendunya. Ada apa?
"Kamu sangat cantik" tangan kanannya terulur menyentuh sisi wajahku dengan gerakan halus dan penuh kehati-hatian seakan khawatir dapat melukaiku kapan saja. "Semuanya sangat cantik"
*•*•*•*•*•*
Hi! Chioo disini, maaf ya lama gak update:(
Sekarang lagi ngeusahain buat update terus minimat 2minggu sekali. Walaupun sekarang lagi masa pengisolasian diri tetep aja aku gak bisa ninggalin kewajiban aku dikampus oleh karena kebijakan kuliah daring dan tugas yang selalu nambah dan merengek minta dikerjain:(
Semoga kalian maklum:( aku gak maksud buat curhat dan ngeluh tapi ini keadaan aku yang sesesungguhnya. Terus buat kalian para readers tetap dirumah ya! Mari kita bantu tenaga medis kita dengan doa, donasi dan sebagainya, yang paling penting stay dirumah! Dengan beegitu aja kita udah termasuk membantu mengirangi penyebaran virus.
Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih udah mau nungguin novel aku😭❤️
Jangan lupa buat like+comment+vote+share❤️😭❤️
__ADS_1
Stay Safe and Healthy Readers ❤️
#selfquarantine #dirumahaja