ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 4


__ADS_3

"Riz, kamu gak ada ekskul kan?


Bareng sama aku yuk"


"Kemana thy?" Aku tersenyum.


"Pramuka"


 


 


 


 


Rizka nampak ragu untuk menyetujuinya, tapi buka Athy namanya kalo gak bisa


meyakinkan orang. Kami berdua langsung menuju lapangan yang di penuhi anak


kelas 7 yang memakai atribut lengkap pramuka beserta tongkat, lalu menghampiri


Adit yang sedang berdiri di pinggir lapangan.


 


 


"Adit!" Laki-laki itu


nampak terkejut melihat kehadiranku dan Rizka.


"Kamu ngapain thy disini?"


"Aku sana Rizka mau gabung pramuka aja"


"Kesambet apa ka-" Aku tersenyum kearah Bayu yang datang memotong


perkataan Adit yang belum tuntas.


"Akhirnya dateng, di tungguin


juga" Aku mengangguk.


 


 


 


 


"Aku ngajak Rizka juga nih"


"Iya gakpapa, yaudah ayo"


"Kemana?" Tanya aku dan Rizka bersamaan.


 


 


Adit terlekeh, "Kita mengawasi


adik kelas thy" lalu menjentik keningku, sakit:)


"Sakit tau!" Adit hanya terkekeh lalu menarik pergelangan tanganku


dan aku juga menarik pergelangan tangan Rizka, seperti kereta api menurutku.


Awalnya aku dan Rizka sempat bingung


harus melakukan apa, tapi terima kasih kepada Bayu dan Adit yang sudah menuntun


kami untuk menjalankan tugas pertama. Setelah lonceng kedua berbunyi tanda


aktivitas pagi harus di bubarkan, lalu anggota pramuka di suruh kumpul baik


yang lama maupun yang baru seperti aku dan Rizka.


 


 


"Siapa namanya?" Tanya


kakak kelas sambil melirik ke arah Rizka.


"Rizka Amanda kak" kakak itu mengangguk lalu menatao kearahku.


"Kalo kamu dek, namanya siapa?" Tanya kakak itu sambil tersenyum


kearahku, nafasku terpotong karena ucapan Bayu yang mendahuluiku.


 


 


"Panggil aja dia Athy kak"


aku menatapnya sinis, lalu tersenyum cangggung kearah kakak kelas tadi.


"Athanasia Aprilyana kak, panggil aja Athy"


"Irgi" ucapnya sambil menyurungkan tangan kearahku, aku menyalami


tangannya tanda perkenalan. Aku membalas senyum yang ka Irgi berikan padaku,


hingga..


"Ekhm.. waktunya masuk kelas


nih" Ucap Bayu ada nada ketus yang kudengar dari perkataannya, kak Irgi


segera menarik tangannya begitupun aku, lalu kami saling pamit menuju kelas


masing-masing.


•*•*•*•*•

__ADS_1


Siang ini aku bergegas untuk pergi


kesekolah, bukan untuk belajar tapi untuk latihan pramuka. Setelah memarkirkan


sepeda aku segera menghampiri anggota lain yang ada di lapangan voli, aku


tersenyum lega melihat Rizka yang sedang duduk bercengrama dengan ka Irgi. Rizka


tersenyum menyadari kehadiranku, "Baru dateng mbak?" Aku mengangguk


lalu terkekeh pelan. Belum sempat aku duduk di sebelah ka Irgi, sebuah tangan


menarikku menjauh,


Bayu?


 


 


Ia menggiringku ke bangku lain yang


sudah ada Adit disana seperti menunggu kedatangan kami berdua.


"Apa-apaan sih kamu bay" Kataku yang sudah terduduk di samping Adit.


"Jangan terlalu deket sama ka Irgi" aku mengerutkan kening bingung


kearah Adit.


"Biasa aja sih menurut aku"


"Yaudah yang pasti aku sama Adit sudah ngingetin kamu" aku hanya


mengangguk mengiyakan.


 


 


Selama latihan aku mempelajari


banyak hal dari tali-temali, sandi pramuka yang lumayan sulit untuk di ingat


dan sebagainya. Selama perjalanan pulang tak henti-hentinya aku memperlihatkan


senyum mengembang di wajahku, hari ini Adit sama Bayu ternyata gak pake sepeda


tapi di antar sama orang tua mereka jadi aku pulang sama Andre yang kebetulan


tadi latihan paskibra di sekolah. "Kamu kesambet apa thy?" Tanya


Andre mulai merinding melihat senyumku yang tidak luntur-luntur.


"Gak tau nih"


"Kamu lagi suka sama seseorang ya?" Tiba-tiba saja aku nge-rem


sepedaku hingga menimbulkan bunyi karena gesekan ban dan aspal. Senyumku luntur


dalam sekejap, Andre ikut nge-rem sepedanya dan menghampiri aku.


 


 


sepi, kamu kenapa sih?" Aku menggeleng pelan, bingung harus berkata apa.


"Kalo gitu jalan lagi, hari udah mau gelap nih" ku ikuti perkataan


Andre tanpa menjawab perkataannya.


Sesampainya di rumah ku rebahkan


diri kekasur, memikirkan segala kemungkinan yang ada tanpa memperdulikan


tubuhku yang mulai lengket tak nyaman karena habis beraktivitas hampir


seharian.


 


 


"Astagfirullah! Neng mandi udah


mau magrib juga" aku tersentak mendengar teriakan mamah dari pintu


kamar.


"Iya mah, ini mau mandi" dengan berat hati aku mandi lalu sholat


setelah mengambil air wudhu. Aku mendudukan diri di pinggiran kasur, memikirkan


apa yang Andre katakan. Lalu aku mencari keberadaan ponselku dan menghubungi


salah satu teman perempuanku dan tersambung.


"Hallo, ada apa thy? Tumben


nelpon malem-malem".Aku tersenyum meski hati tengh gundah.


"Kamu pernah suka sama


cowo?".Tanyaku terbilang tiba-tiba.


"Eh? Emm.. pernah sih


kayanya, kenapa nanya?" Jawabnya terdengar ragu, tapi aku yakin


bukan ragu pengalamannya ia hanya ragu tentangku yang menanyakan hal aneh


secara tiba-tiba.


"Bagaimana rasanya?" Tanyaku


lagi tanpa membalas pertanyaan Rini sebelumnya.


 

__ADS_1


 


"Kamu lagi mastiin


diri lagi suka sama orang atau engga ya?" Aku tau ia


sedang mentertawakanku.


"Athy.. athy.. akhirnya kamu nanya ini juga"


"Udah jawab aja!"


 


 


"Ketus banget, jadi gini.


Kamu akan merasa senang hanya dengan memandangnya.."


"..lalu kamu bakal ngerasain desiran hangat gitu... jantung kamu


berdebar kencang.. lalu-"


Ku putuskan sambungan teleponnya


sepihak, aku tidak mampu lagi mendengar penjelasan yang Rini sampaikan.


Menurutku ini aneh, kenapa semua yang di katakan Rini sama persis dengan apa


yang ku rasakan saat bersama Bayu? Apa aku suka sama Bayu?


Aku letakan tangan kanan ke dada ku,


berdebar kencang. Ah, aku bahkan hanya menyebut seutas namanya saja di dalam


benahku tapi jatungku sudah berdebar sangat keras.


Sedetik kemudian bayangan Bayu


tengah tersenyum terlintas di pikiranku, desiran aneh nan hangat kembali


menghampiriku, gejolak aneh menyerang tubuhku. Bagaimana ini?


 


 


Sekarang aku mulai takut.


Seharusnya aku tidak menyukainya lebih dari teman. Aku yakin ia hanya


menganggap aku sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Debaran demi debaran


mengisi ruang pendengaranku diiringi isak tangis kecil yang keluar dari


bibirku. Harusnya aku senang mengetahui orang yang ku suka adalah temanku


sendiri, tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan mengetahui jika aku telah


menyukainya?


Apa karena dari awal aku tidak


memiliki niat untuk menyukai seseorang? Apa lagi kepada teman sendiri. Terbesit


sebuah ingatan saat Viona (sahabat ku dari kecil, seumur tapi 1 angkatan di


bawah aku) putus dengan kekasihnya.


<<<


 


 


"Kamu tau thy kesalahanku apa?"


"Kamu punya salah apa?" Vio memandangku dengan mata berkaca-kaca.


"Kesalahanku yang pertama adalah aku mengenalnya, hingga aku menjadi


dekat dengannya..." Ia mengambil nafas dalam melanjutkan kalimatnya.


"...Kesalahan selanjutnya adalah aku mencintainya, hingga aku menaruh


harapan untuk memilikinya..."


"...Kesalahan berikutnya adalah aku memberitahunya bahwa aku


mencintainya, hingga ia berbuat sesukanya...."


"... lalu kesalahan yang paling


fatal adalah aku sudah terlanjur menjatuhkan hatiku sejatuh-jatuhnya, hingga


berapa kalipun ia membuatku terluka tapi tetap selalu ku maafkan" Wajah


manis Vio di banjiri oleh air matanya sendiri. Ku dekap tubuh rampingnya yang


terlihat rapuh malam ini.


 


 


>>>


 


 


"Ah! Apa karena ucapan Viona


waktu itu?" Entah kepada siapa aku bertanya, tapi aku tau jelas


jawabannya. Iya.


Ternyata tanpa sadar saat malam itu aku sudah tidak berniat untuk menyukai

__ADS_1


seseorang apa lagi jatuh cinta.


•*•*•*•*•


__ADS_2