
"Riz, kamu gak ada ekskul kan?
Bareng sama aku yuk"
"Kemana thy?" Aku tersenyum.
"Pramuka"
Rizka nampak ragu untuk menyetujuinya, tapi buka Athy namanya kalo gak bisa
meyakinkan orang. Kami berdua langsung menuju lapangan yang di penuhi anak
kelas 7 yang memakai atribut lengkap pramuka beserta tongkat, lalu menghampiri
Adit yang sedang berdiri di pinggir lapangan.
"Adit!" Laki-laki itu
nampak terkejut melihat kehadiranku dan Rizka.
"Kamu ngapain thy disini?"
"Aku sana Rizka mau gabung pramuka aja"
"Kesambet apa ka-" Aku tersenyum kearah Bayu yang datang memotong
perkataan Adit yang belum tuntas.
"Akhirnya dateng, di tungguin
juga" Aku mengangguk.
"Aku ngajak Rizka juga nih"
"Iya gakpapa, yaudah ayo"
"Kemana?" Tanya aku dan Rizka bersamaan.
Adit terlekeh, "Kita mengawasi
adik kelas thy" lalu menjentik keningku, sakit:)
"Sakit tau!" Adit hanya terkekeh lalu menarik pergelangan tanganku
dan aku juga menarik pergelangan tangan Rizka, seperti kereta api menurutku.
Awalnya aku dan Rizka sempat bingung
harus melakukan apa, tapi terima kasih kepada Bayu dan Adit yang sudah menuntun
kami untuk menjalankan tugas pertama. Setelah lonceng kedua berbunyi tanda
aktivitas pagi harus di bubarkan, lalu anggota pramuka di suruh kumpul baik
yang lama maupun yang baru seperti aku dan Rizka.
"Siapa namanya?" Tanya
kakak kelas sambil melirik ke arah Rizka.
"Rizka Amanda kak" kakak itu mengangguk lalu menatao kearahku.
"Kalo kamu dek, namanya siapa?" Tanya kakak itu sambil tersenyum
kearahku, nafasku terpotong karena ucapan Bayu yang mendahuluiku.
"Panggil aja dia Athy kak"
aku menatapnya sinis, lalu tersenyum cangggung kearah kakak kelas tadi.
"Athanasia Aprilyana kak, panggil aja Athy"
"Irgi" ucapnya sambil menyurungkan tangan kearahku, aku menyalami
tangannya tanda perkenalan. Aku membalas senyum yang ka Irgi berikan padaku,
hingga..
"Ekhm.. waktunya masuk kelas
nih" Ucap Bayu ada nada ketus yang kudengar dari perkataannya, kak Irgi
segera menarik tangannya begitupun aku, lalu kami saling pamit menuju kelas
masing-masing.
•*•*•*•*•
__ADS_1
Siang ini aku bergegas untuk pergi
kesekolah, bukan untuk belajar tapi untuk latihan pramuka. Setelah memarkirkan
sepeda aku segera menghampiri anggota lain yang ada di lapangan voli, aku
tersenyum lega melihat Rizka yang sedang duduk bercengrama dengan ka Irgi. Rizka
tersenyum menyadari kehadiranku, "Baru dateng mbak?" Aku mengangguk
lalu terkekeh pelan. Belum sempat aku duduk di sebelah ka Irgi, sebuah tangan
menarikku menjauh,
Bayu?
Ia menggiringku ke bangku lain yang
sudah ada Adit disana seperti menunggu kedatangan kami berdua.
"Apa-apaan sih kamu bay" Kataku yang sudah terduduk di samping Adit.
"Jangan terlalu deket sama ka Irgi" aku mengerutkan kening bingung
kearah Adit.
"Biasa aja sih menurut aku"
"Yaudah yang pasti aku sama Adit sudah ngingetin kamu" aku hanya
mengangguk mengiyakan.
Selama latihan aku mempelajari
banyak hal dari tali-temali, sandi pramuka yang lumayan sulit untuk di ingat
dan sebagainya. Selama perjalanan pulang tak henti-hentinya aku memperlihatkan
senyum mengembang di wajahku, hari ini Adit sama Bayu ternyata gak pake sepeda
tapi di antar sama orang tua mereka jadi aku pulang sama Andre yang kebetulan
tadi latihan paskibra di sekolah. "Kamu kesambet apa thy?" Tanya
Andre mulai merinding melihat senyumku yang tidak luntur-luntur.
"Gak tau nih"
"Kamu lagi suka sama seseorang ya?" Tiba-tiba saja aku nge-rem
sepedaku hingga menimbulkan bunyi karena gesekan ban dan aspal. Senyumku luntur
dalam sekejap, Andre ikut nge-rem sepedanya dan menghampiri aku.
sepi, kamu kenapa sih?" Aku menggeleng pelan, bingung harus berkata apa.
"Kalo gitu jalan lagi, hari udah mau gelap nih" ku ikuti perkataan
Andre tanpa menjawab perkataannya.
Sesampainya di rumah ku rebahkan
diri kekasur, memikirkan segala kemungkinan yang ada tanpa memperdulikan
tubuhku yang mulai lengket tak nyaman karena habis beraktivitas hampir
seharian.
"Astagfirullah! Neng mandi udah
mau magrib juga" aku tersentak mendengar teriakan mamah dari pintu
kamar.
"Iya mah, ini mau mandi" dengan berat hati aku mandi lalu sholat
setelah mengambil air wudhu. Aku mendudukan diri di pinggiran kasur, memikirkan
apa yang Andre katakan. Lalu aku mencari keberadaan ponselku dan menghubungi
salah satu teman perempuanku dan tersambung.
"Hallo, ada apa thy? Tumben
nelpon malem-malem".Aku tersenyum meski hati tengh gundah.
"Kamu pernah suka sama
cowo?".Tanyaku terbilang tiba-tiba.
"Eh? Emm.. pernah sih
kayanya, kenapa nanya?" Jawabnya terdengar ragu, tapi aku yakin
bukan ragu pengalamannya ia hanya ragu tentangku yang menanyakan hal aneh
secara tiba-tiba.
"Bagaimana rasanya?" Tanyaku
lagi tanpa membalas pertanyaan Rini sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu lagi mastiin
diri lagi suka sama orang atau engga ya?" Aku tau ia
sedang mentertawakanku.
"Athy.. athy.. akhirnya kamu nanya ini juga"
"Udah jawab aja!"
"Ketus banget, jadi gini.
Kamu akan merasa senang hanya dengan memandangnya.."
"..lalu kamu bakal ngerasain desiran hangat gitu... jantung kamu
berdebar kencang.. lalu-"
Ku putuskan sambungan teleponnya
sepihak, aku tidak mampu lagi mendengar penjelasan yang Rini sampaikan.
Menurutku ini aneh, kenapa semua yang di katakan Rini sama persis dengan apa
yang ku rasakan saat bersama Bayu? Apa aku suka sama Bayu?
Aku letakan tangan kanan ke dada ku,
berdebar kencang. Ah, aku bahkan hanya menyebut seutas namanya saja di dalam
benahku tapi jatungku sudah berdebar sangat keras.
Sedetik kemudian bayangan Bayu
tengah tersenyum terlintas di pikiranku, desiran aneh nan hangat kembali
menghampiriku, gejolak aneh menyerang tubuhku. Bagaimana ini?
Sekarang aku mulai takut.
Seharusnya aku tidak menyukainya lebih dari teman. Aku yakin ia hanya
menganggap aku sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Debaran demi debaran
mengisi ruang pendengaranku diiringi isak tangis kecil yang keluar dari
bibirku. Harusnya aku senang mengetahui orang yang ku suka adalah temanku
sendiri, tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan mengetahui jika aku telah
menyukainya?
Apa karena dari awal aku tidak
memiliki niat untuk menyukai seseorang? Apa lagi kepada teman sendiri. Terbesit
sebuah ingatan saat Viona (sahabat ku dari kecil, seumur tapi 1 angkatan di
bawah aku) putus dengan kekasihnya.
<<<
"Kamu tau thy kesalahanku apa?"
"Kamu punya salah apa?" Vio memandangku dengan mata berkaca-kaca.
"Kesalahanku yang pertama adalah aku mengenalnya, hingga aku menjadi
dekat dengannya..." Ia mengambil nafas dalam melanjutkan kalimatnya.
"...Kesalahan selanjutnya adalah aku mencintainya, hingga aku menaruh
harapan untuk memilikinya..."
"...Kesalahan berikutnya adalah aku memberitahunya bahwa aku
mencintainya, hingga ia berbuat sesukanya...."
"... lalu kesalahan yang paling
fatal adalah aku sudah terlanjur menjatuhkan hatiku sejatuh-jatuhnya, hingga
berapa kalipun ia membuatku terluka tapi tetap selalu ku maafkan" Wajah
manis Vio di banjiri oleh air matanya sendiri. Ku dekap tubuh rampingnya yang
terlihat rapuh malam ini.
>>>
"Ah! Apa karena ucapan Viona
waktu itu?" Entah kepada siapa aku bertanya, tapi aku tau jelas
jawabannya. Iya.
Ternyata tanpa sadar saat malam itu aku sudah tidak berniat untuk menyukai
__ADS_1
seseorang apa lagi jatuh cinta.
•*•*•*•*•