ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 8


__ADS_3

Satu bulan lamanya aku menjalani


hubungan sepihak dengan Aldy, hati kecilku mengatakan untuk mempertahankan


laki-laki baik itu di sisiku, tapi ego ku berkata sebaliknya.


 


Dan disinilah aku berdiri berhadapan


dengan Aldy yang menatapku dengan sorot mata rumitnya, rumit karena sulit untuk


membacanya seperti ada rasa sedih, kecewa, marah, sesal yang menjadi satu


disana.


"Maaf Al" aku menundukan kepala.


"Gakpapa, makasih sudah jujur" aku menatapnya dengan sorot sedih dan


bersalah, Tuhan, ia laki-laki yang baik.


"Aku me-"


 


"Aku tau, kamu gak pernah suka sama aku lebih dari teman" aku mengangguk


lemas, rasa bersalah menyelimutiku.


"Makasih sudah singgah thy" katanya lagi lalu memelukku. Aku membalas


pelukannya erat, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk terakhir


kalinya.


Ia mendorong bahuku pelan melepaskan


pelukan, aku tersenyum memaklumi, ia pamit meninggalkan aku dengan sejuta rasa


bersalah. Peri Cinta, di lain waktu jangan kau bidik hati laki-laki lain


untukku, aku takut akan melukai mereka yang berusaha mendekatiku. Cukup Aldy.


Lalu aku meninggalkan tempat itu meninggalkan rasa bersalah yang tadi


menggrogoti hati.


•*•*•*•*•


Aku menepuk pelan punggung Johan


membantu mengurangi rasa sakit akibat tersedak makanan karena ceritaku, ya aku


memberitahu mereka bertiga tentang kandasnya hubunganku dengan Aldy.


 


"Sayang banget astaga"


"Kamu gak ada rasa gitu sama si Aldy?"


Aku menggeleng pelan lalu tersenyum kecil. Adit membuang nafas kasar,


 


"Kok bisa barengan sih kalian


putusnya?" Aku menautkan alis bingung dengan pertanyaan Johan.


"Maksudnya?" Ku lirik Johan yang ada di sampingku bingung, ia memberi


tatapan ke arah Bayu.


"Si Bayu juga baru putus sama pacarnya, yang kakak kelas itu" aku


langsung menatap Bayu terkejut, benarkah? Hubungan mereka berakhir? Tapi


kenapa?


 


"Kok bisa sih? Bukannya masih


baik-bak aja ya?" Tanyaku dengan nada menuntut untuk menutupi rasa senang


di hati, Bayu hanya menggendikan bahu acuh. Adit kembali membuang nafas kasar,


membuatku jenggah.


 


"Dit, udah berapa kali kamu


buang nafas kasar gitu, cape aku liatnya"


"Ya gak usah liat"


"Tapikan aku punya mata"


"Ya tutup" Aku melongo, ingin sekali aku membantainya.


 


Johan menahan lenganku lalu


menggeleng,


"Jangan di ladenin, Adit abis putus juga sama cewenya" aku reflek


menutup mulutku dengan tangan.


"Lah kamu han? Putus juga?" Ia menggeleng.


"Akukan emang gak punya pacar" aku ber'oh ria.


"Terus kenapa wajah kamu gitu?"


"Cuma ikut-ikutan menghayati gitu, biar kompak berempat hehe" Bayu


dan Adit melemparkan tatapan tajam mereka kearah Johan. Aku hanya bisa tertawa

__ADS_1


kecil menanggapinya.


"Betewe nich gaes, besok


sabtu" kami bertiga memutar bola mata jenggah mendengar perkataan alay


Johan.


 


"Terus kalo besok sabtu emang kenapa, hah?"


"Ihh sayang judes banget deh ah" bukan hanya aku tapi Bayu dan Adit


ikut menggendikan bahu geli mendengar panggilan Johan yang kini sudah tertawa terpingkal-pingkal.


"Makanya gak usah sedih-sedih, lagian udah seminggu putus juga"


timpal Johan, ya aku membenarkan perkataannya.


Sudah satu minggu aku mengakhir


hubungnku dengan Aldy tapi baru hari ini aku mengatakannya langsung pada mereka


bertiga, dan selama satu minggu itu pula aku tidak melihat keberadaan Aldy


bahkan saat latihan laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku itu tidak


terlihat membuatku semakin tidak enak. Aku mendongkakan wajahku dan menatap


mereka dengan senyum cerah.


"Kenapa?" Tak kurubis


pertanyaan Adit, aku langsung melirik kearah Johan lalu memeluk laki-laki itu


dari samping, jika saja ia tidak menahan tubuhku dengan baik bisa saja kami


jatuh bersamaan, aku tau kedua temanku yang lain sedang menatapku aneh.


 


"Makasih Han" kataku lalu melepas pelukan, ia menatapku dongkol


membuatku semakin mengembangkan senyum.


"Anjir ini ada apa sebenernya??" Masih dengan senyum yang sama aku


menatap Bayu, lalu menjaab pertanyaannya.


"Karena besok Sabtu"


"Lalu?" Kini giliran Adit yang betanya.


"Ketemu Aldy"


•*•*•*•*•


Kuarahkan pandanganku mencari


keberadaan laki-laki yang selama 1 minggu ini menghindariku, aku ingin


meluruskan segalanya, aku tidak ingin ada dendam atau apapun itu yang membuat


Dengan mantap ku langkahkan kakiku


kearah kerumunan salah satu regu putra, ia tampak terkejut saat menoleh dan


mendapati keberadaanku yang sedang menyentuh pundak laki-laki itu. Aku


tersenyum canggung, kata-kata yang sebelumnya sudah aku persiapkan sebelumnya


hilang dalam sekejap saat retina mata kami saling pandang.


 


"Emm, Al kita perlu bicara"


 


Laki-laki yang lebih tinggi dariku itu mengangguk dan mengikuti kemana kakiku melangkah, hingga kami berada di


tempat itu.


"Maaf.." aku mengangkat kepalaku sedikit untuk menatap tepat diiris


matanya.


"Tidak.. aku yang harusnya meminta maaf" aku tersenyum. "Dan aku


tidak ingin kamu menghindariku, maaf aku egois. Jika memang kamu belum bisa


untuk bertemu denganku secara sengaja atau tidak aku memakluminya tapi bisakah


kamu tetap menjalani aktifitasmu sebagaimana mestinya? Aku tidak ingin di


jadikan alasan karena keterpurukanmu, dan sekali lagi aku egois karena tidak


ingin disalahkan."


 


Ia menatapku lama, apa dia


tercengang dengan perkataanku? Jika iya maka aku juga sama, aku bahkan tidak


tau dari mana asal kata-kata yang tadinya sangat lancar ku ucapkan, tidak


sesuai dengan apa yang ku susun sebelumnya.


"Baiklah, aku gak akan ngehindar lagi" senyum simpul terbit dari


sudut bibirnya.


"Kita sama-sama egois, itu salah satu alasan kenapa aku suka sama


kamu" aku terteguh.


•*•*•*•*•


Perkataan Aldo 3 hari yang lalu

__ADS_1


berhasil membuat ritme jantungku tak teratur setiap kali mengingatnya, aku


mengutuk Peri Cinta yang telat mengirimkan getaran aneh seperti yang pernah ku


rasakan saat bersama Bayu.


"Hoi!!" Aku mendesis tak suka saat Vanya dengan wajah tanpa dosanya


sengaja mengagetkanku.


"Apaan sih"


"Nyesel ya mutusin Aldy" aku menatapnya terkejut.


"Ahh jadi beneran nyesel


ya" katanya lagi lalu tertawa geli.


"Gak tuh!"


"Halah gak pinter boong hahaha. Ngaku aja coba"


 


"Aku gak nyesel, cuma ya heran aja" Vanya mengerutkan kening bingung,


"Kok heran?"


"Kenapa hati aku baru bereaksi saat kami sudah berpisah"


"Karena cara dia ngedeketin


kamu salah" aku terkejut bukan main saat Ayla tiba-tiba datang dan asal


menyeletuk.


"Ih bikin kaget aja!" Ayla hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya


tanpa merasa bersalah.


"Salah gimana?" Tanyaku mengembalikan topi awal, lalu Ayla mendudukan


diri di samping kananku membuat aku berada di antara 2 perempuan yang mulai


fokus pada permasalahanku.


"Dari awal dia deketin kamu


lewat orang lain makanya kamu gak ada feel sama dia pas awal-awal


pacaran"


"Jadi..." lalu Vanya mengangguk seolah mengetahui apa yang akan aku


sampaikan.


"Cinta datang karena terbiasa thy"


"Sayangnya aku gak terlalu percaya hal yang kek gituan, Van"


"Terus kamu percaya apa? Cinta pada pandangan pertama?"


"Elah kek lagu aja" celetuk Ayla membuat Vanya tertawa.


Aku bangkit berniat untuk pergi


kekelas sendirian, meninggalkan dua orang gadis yang sedang tertawa yang tidak


menyadari kepergianku, berkali-kali aku menghela nafas panjang. Ah aku baru


kelas 8 SMP kenapa sudah berhadapan dengan masalah yang menurutku tidak


penting, tanpa sengaja aku menubruk keras tubuh laki-laki sehingga ia terjatuh


dan aku terhuyung kebelakang bahu kananku terasa sakit.


Ku lirik laki-laki itu lalu berdecak


sebal, "Maaf" kataku dan kembali melangkah pergi tanpa berniat


membantu laki-laki itu yang ku yakin adik kelas.


 


"Woy minta maaf gak cukup tau gak!" Ku hentikan langkahku lalu


membalikkan tubuh dan menatapnya datar, tidak ada sedikitpun aku berniat untuk


membalas perkataannya. Aku memutar bola mata malas lalu membantunya berdiri,


manja!


"Udah kan?" Tidak perlu


menunggu ia menimpali pertanyaanku, aku langsung pergi sengan cepat


meninggalkannya di koridor sepi itu.


 


"Loh? Vanya sama Ayla


mana?" Tanya Rizka heran mendapatiku masuk kelas sendiri.


"Aku tinggal di kantin tadi"


Rizka membuang nafas, "Kebiasaan"


"Oh iya tadi si Bayu nyariin kita"


 


Hati ku berdesit hangat, benarkah?


Dia mencariku juga. Aku menautkan alis menatap Rizka, mencoba terlihat tenang


dan biasa "Ngapain?" Gadis itu menggendikan bahu acuh.


"Ya gak tau, samperin yuk" lalu aku mengangguk mengiyakan


perkataannya. Ah sesenang inikah rasanya jika keberadaanmu di cari seseorang

__ADS_1


yang kamu suka?


•*•*•*•*•


__ADS_2