ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 13


__ADS_3

Esoknya berita tentang hubunganku dengan Rama mengalir begitu deras terutama di kalangan teman terdekatku, entah dari mana mereka mengetahui berita tidak masuk akal tersebut. Lagipun aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengan laki-laki itu, mengingat kami baru saja bertemu dan berkenalan, Ingat! Kami baru saja berkenalan. Lalu bagaimana bisa berita burung itu tersebar begitu saja? Dan hampir menghebohkan satu sekolah, seterkenal itukah laki-laki bernama Rama hingga teman-temanku ikut terkejut tak percaya dengan kabar yang menjadi topik pembicaraan terkini di sekolah.


Aku mendengus sebal dengan tatapan penasaran yang ku terima sedari tadi, hanya perlu waktu setengah hari berita bohong itu tersebar luas ke seluruh penjuru sekolah, bahkan guru pengajar pun mengetahui tentang kabar tersebut, heh?! Bagaimana bisa!


"Kamu itu sebenarnya siapa sih!" tanyaku di sertai bunyi hentakan meja membuat seisi kelas beranjak keluar meninggalkan kami berdua. Jika kalian bertanya dari mana aku mengetahui kelas Rama, tentu saja dari sumber terpercaya yang ku miliki, siapa lagi kalau bukan Vanya gadis dengan segudang informasi.


Rama terlihat sangat tenang menghadapi kemarahanku, apa dia sedang meremehkanku hanya karena aku perempuan? Aku menerjab mata heran, apa dia sudah gila? Bisa ku lihat ia mencoba meredakan tawanya, entah tertawa karena apa. "Haha.. Aku gak gila thy, aku juga gak pernah anggap kamu remeh" Ucapnya seraya menyeka air mata akibat tertawa tadi.


Jujur aku sedikit tersentak mendengar perkataan yang ia berikan padaku tapi dengan cepat aku menyadarkan diri dari rasa kaget yang sempat melandaku. "Kenapa kamu-"


Perkataanku ia potong begitu saja, "Kan sudah ku bilang, aku mau lihat sepintar apa dia menyimpan rahasia"


Aku mengerutkan kening tidak mengerti dengan apa yang Rama katakan, tentang rahasia yang ia maksud. "Lonceng udah bunyi tuh, kamu gak mau masuk kelas?" Aku mendongak, mata kami bertemu beberapa saat setelah itu aku berbalik keluar dari kelasnya dengan tanda tanya yang semakin menjadi, beberapa orang memandangku ingin tahu tapi tidak terlalu ku ambil pusing.


•*•*•*•*•


"Ekhm" dengan malas ku tolehkan wajahku kearah Adit yang sedang menatapku kasihan, entah kasihan terhadap apa.


"Kamu gak papa kan thy?" Terselip nada khawatir di dalamnya, aku hanya bisa mengangguk lemas. Lalu Johan datang dengan sepiring penuh martabak dan di ikuti Bayu yang membawa nampan air di belakang, aku tersenyum tipis menyambut nampan yang di berikan laki-laki yang kini sudah duduk di sampingku.


"Kamu belum cerita, gimana kamu bisa jadian sama Rama" aku terdiam beberapa detik lalu menelan martabak yang ada di mulut setelah mengunyahnya terlebih dahulu.


"Gak banyak yang bisa aku ceritain, itu terjadi begitu saja" Mereka menatapku tidak yakin tak terkecuali Bayu. Aku menghela nafas panjang "Hei, I'm okay" kataku, menatap mereka bertiga  tepat di iris mata bergantian agar terlihat meyakinkan. Sejujurnya aku sendiri tidak tau dan mengerti apa yang mereka risaukan jadi aku jawab saja seperti itu.


Aku menatap Bayu bingung saat ia pergi begitu saja masuk kedalam kamarnya, ya sekarang kami sedang berada di rumah Bayu hanya sekedar untuk bermain bersama. Aku menoleh kearah Adit dan Johan bergantian dengan wajah bertanya 'Kenapa?' namun mereka berdua seirama mengangkat bahu tidak tau, tidak berapa lama kemudian Bayu datang dengan pemutar kaset dan sebuah album lagu?


"Buat apaan?" tanya Johan yang sedari tadi memperhatikan Bayu yang dengan telaten membenahi alat pemutar kaset yang ia bawa tadi. Aku mengendikan bahu acuh sesaat Johan menatapku tanda minta jawaban terdengar dengusan kecil dari Johan membuat Adit menggelengkan kepala lelah.


"Nah udah!" Seru Bayu sontak membuat kami bertiga memusatkan perhatian kepadanya. Ia menyalakan alat pemutar kaset dengan volume sedang, aku memiringkan kepalaku sedikit kesamping.


"Ini.."


"YAP! Lagu baru Sheila On 7" Kami bertiga menganggukdan ikut menikmati lagu yang mengalun dari pemutar kaset itu, "Lagunya asik, judulnya apa?" Bayu tersenyum beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Adit.


"Pemuja Rahasia"  aku hanya tersenyum kecil saat ia mengalihkan pandangannya ke arahku mata kami hanya bertemu beberapa saat.


"Kamu beli CD-nya?" Bayu mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"CD bajakan ya?" aku tertawa terbahak begitu juga Adit saat Bayu melotot dan menendang kaki Johan.


"Enak aja! Beli yang asli dong" Sahut Bayu tidak terima membuat tawa ku dan Adit semakin menjadi, ditambah ekspresi Johan yang seperti minta di tertawakan.


"Nah gitu dong thy. Jangan murung terus"


"Aku gak murung tuh" elakku.


"Semenjak berita kamu jadian sama Rama, kami jarang liat kamu barbar" ku lemparkan tatapan sinis pada Adit,


"Oh jadi maksud kamu selama ini aku orangnya barbar?"


"Ehh gak salah lagi sih thy" sahut Johan dengan wajah bodohnya. Aku hanya mendengus kesal tidak ingin memperpanjang masalah sepele yang mereka ucapkan.


Drrr


Drrr


Ponselku bergetar nyaring di atas meja, terdapat 2 pesan masuk dari nomer yang tidak ku kenal. Aku sedikit tersentak saat membaca isi pesan tersebut, membuat yang lain menatapku penasaran.


From: Unknown


From: Unknown


Ini Rama


Aku segera mematikan ponselku dan menyinpannya kedalam saku celana jeans pendek selututku.


"Siapa?" Sontak aku mendongkakan kepala dan tersenyum kecil. Aku menggeleng pelan,


"Bukan siapa-siapa" sahutku lalu membaringkan diri di sofa panjang setelah mengusir Johan yang tadinya duduk di sampingku.


"Kurang ajar" aku hanya menanggapi makiannya dengan tawa ringan. Setidaknya sedikit bebanku menghilang dengan berkumpul dengan mereka, terlebih dengan adanya 'dia'. Ku ratapi wajah tegas Bayu dengan sendu, lalu membuang muka kearah lain, entah sampai kapan aku akan terus menyiksa diri dengan memendamnya.


•*•*•*•*•


Aku menatap kaget sosok laki-laki di hadapanku yang menjadikan pilar beton rumahku sebagai sandaran seraya memamerkan senyum simpulnya. Dia tau rumahku? Aku sedikit mengerutkan kening saat laki-laki itu tiba-tiba terkekeh pelan, apa ada yang lucu disini?

__ADS_1


"Aku bisa membaca isi kepalamu, jadi berhentilah berkutat dengan pikiran-pikiran anehmu tentangku"


Aku membulatkan mata tak percaya dengan apa yang Rama katakan, apa dia memiliki indra ke-6 atau semacamnya?


"Iya, ini kelebihanku" ia tersenyum sembari mengacak surai rambut yang ku ikat jadi satu.


Aku terlalu lama melamun sampai tak menyadari jika kami masih berada di teras rumahku, mungkin jika Mamah tidak datang dan mengintrupsiku untuk menyambut tamu, aku tidak akan pernah mengajak Rama masuk kedalam rumah.


"Kamu ngapain kesini?"


"Well.. aku cuma mau ngapelin pacar, apa itu salah?" Aku memandangnya tidak suka.


"Aku gak pernah setuju jad-"


"Aku gak perlu persetujuan dari kamu"


Aku menerjapkan mata berkali-kali mencerna apa yang baru saja Rama katakan, "A...apa?" Tanyaku terbata di liputi amarah.


"Singkatnya, aku sudah suka sama kamu dari pertama kali ketemu, kamu menarik" ia mengesap teh hangat yang memang di sajikan untuknya, lalu melanjutkan kata.


"Terlebih dengan adanya hati yang telah terpahat, semakin menarik" Rama menatapku intens. Ia memutuskan kontak mata kami setelah beberapa saat mengunci segala pergerakan iris coklat terangku.


"Dan lagi, kamu tidak mengelak saat semua orang mengatakan kamu itu kekasihku" Laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu kembali menatapku. "Nikmatin aja, toh gak ada ruginya jadi pacar seorang Rama, justru kamu akan belajar banyak dariku"


Setelah mengucapkan itu Rama berpamitan dengan Mamah dengan sopan, sedangkan aku? Aku hanya memperhatikan kepergiannya dengan raut wajah yang aku sendiri tidak bisaku jelaskan. Perkataan Rama sebelumnya masih terngiang-ngiang di ingatanku, terpahat? Aku tidak mengerti, perkataan Rama terlalu sulit untuk ku terjemah.


"Kak" aku menoleh ke empun suara yang menyadarkanku dari lamunan singkat.


"Hm"


"Temen kakak ya?" Aku tersenyum kecil menanggapi pertanyaan polos Anando yang terpaut usia 4tahun denganku.


"Iy-"


"Kabogoh teteh kamu itu" serga Mamah memotong perkataanku.


Bisa ku lihat Anan membulatkan mata terkejut dengan apa yang di katakan Mamah.

__ADS_1


"Mah! Cuma temen, gak lebih" setelah mengatakan itu aku pergi menaiki tangga menuju kamar meninggalkan Mamah dan Anan yang terus berceloteh menanyakan hal yang sama.


•*•*•*•*•


__ADS_2