
Hari ini akan menjadi hari yang
melelahkan untuk anggota inti pramuka dan peserta persami, setelah memohon izin
dari Ayah akhirnya aku di izinkan untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung
2hari 1malam itu.
Langit menduh hari kian sore, para
peserta sedang membangun tenda terpal regu mereka, dan di saat inilah aku dan
Bayu turun tangan mengawasi sekaligus memberi penilaian tenda mereka. Tidak
banyak yang ku tau tentang pramuka, karena dari awal aku mengikuti ekskul ini
untuk menghindar dari hukuman sabtu pagi, tapi lama kelamaan aku jadi menyukai
segala kegiatan ini bukan tanpa sebab, sepertinya aku menyukainya karena adanya
Bayu. Ah lagi-lagi wajah Bayu yang melintas di benahku, padahal baru saja
laki-laki itu aku bertemu dengannya tapi sekarang aku sudah kembali
memikirkannya.
"Athy!"
"Iya kak?" Sahutku sopan.
"Kamu belum makankan? Ini makan dulu nanti kamu sakit, kegiatan kita masih
banyak loh" aku tersenyum seraya menggeleng pelan.
"Makasih kak, tapi aku belum lapar" kak Irgi menghela nafas kecewa
atas penolakanku, aku tidak tega tapi aku memang belum lapar.
"Oh ya kak, abis ini kita ada
briefing ya kak?"
"Iya, sekitar 15 menit lagi kita kumpul di lab. Ipa ya" kata kak Irgi
sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oke kak" aku berdecak kesal rambut pendekku berantakan karena ulah
kak Irgi yang tengah tertawa geli menikmatik ekspresiku.
"Rese banget sih kak!" Tawa kak Irgi semakin menjadi sembari
menggeleng pelan
"Yaudah kakak duluan, dah" dan pergi begitu saja.
•*•*•*•*•
Setelah selesai briefing Ara
memanggil nama sambil berlarian kearahku, "Kenapa ra?" Gadis itu diam
sejenak mengatur nafasnya lalu berkata.
"Itu ada yang ngirim paket buat kamu"
"Paket?" Ara mengangguk.
"Kok bisa, malam-malam gini? Disekolah lagi"
"Aku juga gak tau, datengin muka gerbang gih, paketnya ada di situ sama
Adit"
"Okee thanks ya ra"
Aku bergegas menuju gerbang depan
untuk melihat paket yang dikirim untukku, siapa tau aja isi nya penting yakan?
Sesampai disana aku bisa melihat
sosok Adit dan Rifan yang sedang menjaga gerbang. "Loh Rifan? Bukannya
kamu di bagian konsumsi ya?" Rifan mengangguk meengiyakan perkataanku.
"Iya tapi lagi gak ada kerjaan jadi ikut bantu keamanan"
"Oh gitu, btw katanya ada paket buat aku" Adit tiba-tiba datang
sambil menyurrungkan kotak yang terliihat familiar dimataku.
"Ini?" Adit mengangguk.
"Dari pengagum" kata Adit yang memang sudah mengetahui ciri-ciri
paket yang sering aku terima akhir-akhir ini kareena ceritaku tentunya. Helaan
nafas keluar dari bibirku,
"Orang gila emang" Rifan
tertawa kecil sedangkan Adit mengangguk meenyetujui perkataanku.
"Harusnya kamu seneng thy"
"Seneng dari mananya coba? Malah bikin was was" kataku jengkel lalu
pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, aku tidak betah berlama-lama disana
apalagi dengan perkataan Rifan tadi yang membuat emosiku sedikit naik.
Aku meletakan kotak abu-abu berhias
pita biru itu di atas meja kelas yang kami selaku panitia gunakan selama
kegiatan berlangsung, tiba-tiba saja ada seseorang yang mumcul dari balik pintu
kelas membuatku sedikit memekik.
__ADS_1
"Astaga gak usah kaget gitu juga kali thy, kaya ngeliat jurik aja
kamu"
"Ya kan kamu juriknya" celetukku asal.
"Kurang ajarr"
Tawa geliku tak di hiraukannya,
justru arah mata Rizka jatuh pada kotak yang ada di sampingku,
"Apa isinya?" Aku mengendikan bahu tidak tau, Rizka berdecak sebal.
"Ya buka lah!"
"Gak, kita keluar aja bentar lagi acara api unggun"
"Ihh tapi aku kepo, emang itu dari siapa sih?" Kekeuh Rizka.
Aku menghela nafas lalu mendudukan
diri bersiap untuk membuka kotak abu berpita cantik itu.
"Sampai sekarang aku masih belum tau siapa pengirimnya" Rizka
menatapku bertanya lalu membulatkan mata sembari menutup mulutnya.
"Astaga! Ini dari orang misterius itu?" Aku mengangguk lalu membuka
kotak itu. Rizka berdecak kagum setelah melihat isi kotak itu.
"Astaga manis banget sih pengirimnya"
Aku mengambil kartu ucapan yangg
terrselip di antara snank dan minuman di dalam kotak itu. Ya isi kotak itu
snak, minuman seperti susu kotak, teh botol, autan semprot dan senter mini. Ku
baca pelan isi kartu itu,
Hai lagi..
Ini snak sama minuman buat kamu, di habiskan ya.
Jangan kecapean ya, nanti aku sedih.
- Your secret Admirer
Rizka yang ikut membaca isi kartu
itu terpekik hiteris, "ihhh pengen dapet kek gitu juga!"
"Shutt.. udah malem jangan teriak teriak kalo ada apa-apa"
peringatku. Rizka langsung mengangguk patuh.
"Sudahkan? Yuk keluar" ajak ku setelah menutup kembali kotak itu
sebelumnya aku mengambil susu kotak rasa strobery lalu mminumnya sambil jalan
•*•*•*•*•
Jika ragaku sedang terduduk di sudut
dekat kobaran api unggun berbeda dengan nyawaku yang kini tengah meelayang
mengingat setiap kotak abu berpita biru yang selalu ku dapat dan malam ini
adalah kali ke4 orang itu mengiriminya paket dengan wadah yang sama namun
berbeda isinya.
Paket pertama berisi mawar 4
tangkai, paket kedua berisi coklat putih kesukaanku, paket ketiga sepasang
gelang cantik, lalu paket keempat malam ini berisi snak dan hal-hal yang cukup
ku perlukan saat berkemah. Ohya jangan lupakan kartu ucapan berisi ungkapan
manis di setiap kirimannya.
"Jangan suka ngelamun, ntar di
samperin jurik tau rasa" tubuhku membeku panik mendengar suara bisikan
dari arah belakangku, perlahan aku menolehkan wajah meski takut aku tetap harus
memastikannya, dan
"Whaaaa!!""
"Akhhhhh!!!!!!" Jeritku
nyaring saking kagetnya tanpa sengaja aku meninju pipi orang itu, tunggu orang?
Astaga!!
"Bayuu! Sadar yu.. Bayu!" Beberapa orang sudah mendekatiku, mereka
ikut bingung melihat ekspresi panikku yang sangat jelas, bagaimana tidak. Orang
yang berbisik tepat di telingaku itu adalah Bayu dan sialnya tanpa di sengaja
aku meninju pipinya keras dan dengan cahaya minimpun aku masih dapat melihat
sudut bibirnya sedikit robek entah karena ulahku atas tergores karena dia jatuh
dengan tidak mulus.
"Astaga ini kenapa thy?"
"Saking kagetnya aku gak sengaja nonjok Bayu, dam" Adam dan yang
lainnya menatapku horor.
"Sangar kamu thy"
"Aduh cepetan di angkat! Keburu mati Bayu nya!" Omelku panik, sudah
__ADS_1
banyak pasang mata yang menyorot kearah kerumunan kami dan aku tidak
memperdulikan itu.
"Berat thy"
"Tapi kamu kan laki dra"
Candra dan Adam mendengus lalu
mengambill ancang-ancang untuk membopong Bayu, tapi tiba-tiba saja Bayu membuka
mata lalu tertawa dengan wajah tanpa dosa. Aku, ah maksudnya bukan hanya hanya
aku tapi Adam dan Candra menatap Bayu horor, tanpa basa-basi kedua laki-laki
itu melepaskan pegangan mereka pada Bayu, membiarkan tubuh laki-laki tak tau
diri itu mencium tanah.
"Aduh! Kok di lepas sih"
"Udah tinggalin aja dia" Kataku sambil menarik Candra dan Adam
menjauhi Bayu yang masih ke sakitan. Rasa khawatirku di gantikan dengan rasa
jengkel, berani sekali dia mempermainkanku dengan candaan tidak lucu yang
mengakibatkan kami sedikit panik.
Candra dan Adam sudah memisahkan
diri dariku saat mereka di minta bantuan dari pembina dan sekarang aku kembali
menyendiri sambil mengistirahatkan diri mengingat tidak ada lagi yang harus aku
lakukan setelah setengah hari tadi di sibukan menilai dan membantu panitia yang
lainnya.
"Maaf kali thy"
"Athy"
aku tak menghiraukan ucapan orang itu, dan aku juga ikut mengabaikan desiran
aneh saat mendengar namaku lolos dari bibirnya.
"Athy.."
"Athanasia"
Aku langsung menatapnya datar, entahlah hanya saja akhir-akhir ini aku tidak
terlalu suka orang memanggil nama panjangku, tapi berbeda dengan laki-laki yang
sedang duduk di sampingku sembari memandang wajahku lekat.
"Kamu sakit?" Aku
mengerutkan kening bingung.
"Engga tuh"
"Terus kenapa mukamu
merah?" Aku sedikit tersentak,
benarkah? Aku langsung menyentuh wajahku. Hangat.
"Oh cuacanya mayan dingin
kulitku biasa gini" alibiku yang ternyatta mudah di terimanya. Aku menarik
sudut bibirku, kebodohannya membuatku tersenyum ternyata.
"Thy kamu kenal Nurul?"
"Nurul?" Bayu mengangguk.
"Kenal kok, kenapa?" Tanyaku mulai penasaran dengan kalimat yang akan
ia katakan setelah ini.
"Aku suka dia"
Seperti di hujam oleh puluhan panah
saat ia mengucapkan kalimat yang tadinya ku nanti beberapa saat lalu,
dapatku lihat senyum indah terukir di wajahnya setetes air mataku lolos begitu
saja, dengan cepat aku menghapus bulir air mata itu ku kmbangkan senyumku
selebar mungkin agar terlihat baik-baik saja.
"Serius? Sejak kapan? Ciee udah
move on sama yang kemarin hahaha" sergaku di iringi tawa.
Bayu ikut tertawa bersama ku bedanya
dia tertawa dengan rasa, sedangkan aku... ah aku tertawa hambar lebih tepatnya
menertawakan perasaan tak terbalasku.
"Aku juga suka sama kamu kok thy" aku terdiam begitu juga dengannya,
aku menatapnya dalam ada sebutir harapan menampakan diri, lalu sirna begitu
saja.
"Kamu kan temen aku"
•*•*•*•*•*•
__ADS_1