ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 10


__ADS_3

Hari ini akan menjadi hari yang


melelahkan untuk anggota inti pramuka dan peserta persami, setelah memohon izin


dari Ayah akhirnya aku di izinkan untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung


2hari 1malam itu.


Langit menduh hari kian sore, para


peserta sedang membangun tenda terpal regu mereka, dan di saat inilah aku dan


Bayu turun tangan mengawasi sekaligus memberi penilaian tenda mereka. Tidak


banyak yang ku tau tentang pramuka, karena dari awal aku mengikuti ekskul ini


untuk menghindar dari hukuman sabtu pagi, tapi lama kelamaan aku jadi menyukai


segala kegiatan ini bukan tanpa sebab, sepertinya aku menyukainya karena adanya


Bayu. Ah lagi-lagi wajah Bayu yang melintas di benahku, padahal baru saja


laki-laki itu aku bertemu dengannya tapi sekarang aku sudah kembali


memikirkannya.


"Athy!"


"Iya kak?" Sahutku sopan.


"Kamu belum makankan? Ini makan dulu nanti kamu sakit, kegiatan kita masih


banyak loh" aku tersenyum seraya menggeleng pelan.


"Makasih kak, tapi aku belum lapar" kak Irgi menghela nafas kecewa


atas penolakanku, aku tidak tega tapi aku memang belum lapar.


 


"Oh ya kak, abis ini kita ada


briefing ya kak?"


"Iya, sekitar 15 menit lagi kita kumpul di lab. Ipa ya" kata kak Irgi


sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oke kak" aku berdecak kesal rambut pendekku berantakan karena ulah


kak Irgi yang tengah tertawa geli menikmatik ekspresiku.


"Rese banget sih kak!" Tawa kak Irgi semakin menjadi sembari


menggeleng pelan


"Yaudah kakak duluan, dah" dan pergi begitu saja.


 


•*•*•*•*•


 


Setelah selesai briefing Ara


memanggil nama sambil berlarian kearahku, "Kenapa ra?" Gadis itu diam


sejenak mengatur nafasnya lalu berkata.


"Itu ada yang ngirim paket buat kamu"


"Paket?" Ara mengangguk.


"Kok bisa, malam-malam gini? Disekolah lagi"


"Aku juga gak tau, datengin muka gerbang gih, paketnya ada di situ sama


Adit"


"Okee thanks ya ra"


Aku bergegas menuju gerbang depan


untuk melihat paket yang dikirim untukku, siapa tau aja isi nya penting yakan?


 


Sesampai disana aku bisa melihat


sosok Adit dan Rifan yang sedang menjaga gerbang. "Loh Rifan? Bukannya


kamu di bagian konsumsi ya?" Rifan mengangguk meengiyakan perkataanku.


"Iya tapi lagi gak ada kerjaan jadi ikut bantu keamanan"


"Oh gitu, btw katanya ada paket buat aku" Adit tiba-tiba datang


sambil menyurrungkan kotak yang terliihat familiar dimataku.


 


"Ini?" Adit mengangguk.


"Dari pengagum" kata Adit yang memang sudah mengetahui ciri-ciri


paket yang sering aku terima akhir-akhir ini kareena ceritaku tentunya. Helaan


nafas keluar dari bibirku,


"Orang gila emang" Rifan


tertawa kecil sedangkan Adit mengangguk meenyetujui perkataanku.


"Harusnya kamu seneng thy"


"Seneng dari mananya coba? Malah bikin was was" kataku jengkel lalu


pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, aku tidak betah berlama-lama disana


apalagi dengan perkataan Rifan tadi yang membuat emosiku sedikit naik.


 


Aku meletakan kotak abu-abu berhias


pita biru itu di atas meja kelas yang kami selaku panitia gunakan selama


kegiatan berlangsung, tiba-tiba saja ada seseorang yang mumcul dari balik pintu


kelas membuatku sedikit memekik.

__ADS_1


"Astaga gak usah kaget gitu juga kali thy, kaya ngeliat jurik aja


kamu"


"Ya kan kamu juriknya" celetukku asal.


"Kurang ajarr"


Tawa geliku tak di hiraukannya,


justru arah mata Rizka jatuh pada kotak yang ada di sampingku,


 


 


"Apa isinya?" Aku mengendikan bahu tidak tau, Rizka berdecak sebal.


"Ya buka lah!"


"Gak, kita keluar aja bentar lagi acara api unggun"


"Ihh tapi aku kepo, emang itu dari siapa sih?" Kekeuh Rizka.


Aku menghela nafas lalu mendudukan


diri bersiap untuk membuka kotak abu berpita cantik itu.


"Sampai sekarang aku masih belum tau siapa pengirimnya" Rizka


menatapku bertanya lalu membulatkan mata sembari menutup mulutnya.


"Astaga! Ini dari orang misterius itu?" Aku mengangguk lalu membuka


kotak itu. Rizka berdecak kagum setelah melihat isi kotak itu.


"Astaga manis banget sih pengirimnya"


Aku mengambil kartu ucapan yangg


terrselip di antara snank dan minuman di dalam kotak itu. Ya isi kotak itu


snak, minuman seperti susu kotak, teh botol, autan semprot dan senter mini. Ku


baca pelan isi kartu itu,


Hai lagi..


Ini snak sama minuman buat kamu, di habiskan ya.


Jangan kecapean ya, nanti aku sedih.


- Your secret Admirer


 


Rizka yang ikut membaca isi kartu


itu terpekik hiteris, "ihhh pengen dapet kek gitu juga!"


"Shutt.. udah malem jangan teriak teriak kalo ada apa-apa"


peringatku. Rizka langsung mengangguk patuh.


"Sudahkan? Yuk keluar" ajak ku setelah menutup kembali kotak itu


sebelumnya aku mengambil susu kotak rasa strobery lalu mminumnya sambil jalan


 


•*•*•*•*•


Jika ragaku sedang terduduk di sudut


dekat kobaran api unggun berbeda dengan nyawaku yang kini tengah meelayang


mengingat setiap kotak abu berpita biru yang selalu ku dapat dan malam ini


adalah kali ke4 orang itu mengiriminya paket dengan wadah yang sama namun


berbeda isinya.


Paket pertama berisi mawar 4


tangkai, paket kedua berisi coklat putih kesukaanku, paket ketiga sepasang


gelang cantik, lalu paket keempat malam ini berisi snak dan hal-hal yang cukup


ku perlukan saat berkemah. Ohya jangan lupakan kartu ucapan berisi ungkapan


manis di setiap kirimannya.


"Jangan suka ngelamun, ntar di


samperin jurik tau rasa" tubuhku membeku panik mendengar suara bisikan


dari arah belakangku, perlahan aku menolehkan wajah meski takut aku tetap harus


memastikannya, dan


"Whaaaa!!""


"Akhhhhh!!!!!!" Jeritku


nyaring saking kagetnya tanpa sengaja aku meninju pipi orang itu, tunggu orang?


Astaga!!


"Bayuu! Sadar yu.. Bayu!" Beberapa orang sudah mendekatiku, mereka


ikut bingung melihat ekspresi panikku yang sangat jelas, bagaimana tidak. Orang


yang berbisik tepat di telingaku itu adalah Bayu dan sialnya tanpa di sengaja


aku meninju pipinya keras dan dengan cahaya minimpun aku masih dapat melihat


sudut bibirnya sedikit robek entah karena ulahku atas tergores karena dia jatuh


dengan tidak mulus.


 


"Astaga ini kenapa thy?"


"Saking kagetnya aku gak sengaja nonjok Bayu, dam" Adam dan yang


lainnya menatapku horor.


"Sangar kamu thy"


"Aduh cepetan di angkat! Keburu mati Bayu nya!" Omelku panik, sudah

__ADS_1


banyak pasang mata yang menyorot kearah kerumunan kami dan aku tidak


memperdulikan itu.


 


"Berat thy"


"Tapi kamu kan laki dra"


Candra dan Adam mendengus lalu


mengambill ancang-ancang untuk membopong Bayu, tapi tiba-tiba saja Bayu membuka


mata lalu tertawa dengan wajah tanpa dosa. Aku, ah maksudnya bukan hanya hanya


aku tapi Adam dan Candra menatap Bayu horor, tanpa basa-basi kedua laki-laki


itu melepaskan pegangan mereka pada Bayu, membiarkan tubuh laki-laki tak tau


diri itu mencium tanah.


"Aduh! Kok di lepas sih"


 


"Udah tinggalin aja dia" Kataku sambil menarik Candra dan Adam


menjauhi Bayu yang masih ke sakitan. Rasa khawatirku di gantikan dengan rasa


jengkel, berani sekali dia mempermainkanku dengan candaan tidak lucu yang


mengakibatkan kami sedikit panik.


 


Candra dan Adam sudah memisahkan


diri dariku saat mereka di minta bantuan dari pembina dan sekarang aku kembali


menyendiri sambil mengistirahatkan diri mengingat tidak ada lagi yang harus aku


lakukan setelah setengah hari tadi di sibukan menilai dan membantu panitia yang


lainnya.


"Maaf kali thy"


 


"Athy"


aku tak menghiraukan ucapan orang itu, dan aku juga ikut mengabaikan desiran


aneh saat mendengar namaku lolos dari bibirnya.


"Athy.."


"Athanasia"


Aku langsung menatapnya datar, entahlah hanya saja akhir-akhir ini aku tidak


terlalu suka orang memanggil nama panjangku, tapi berbeda dengan laki-laki yang


sedang duduk di sampingku sembari memandang wajahku lekat.


 


"Kamu sakit?" Aku


mengerutkan kening bingung.


"Engga tuh"


"Terus kenapa mukamu


merah?"  Aku sedikit tersentak,


benarkah? Aku langsung menyentuh wajahku. Hangat.


"Oh cuacanya mayan dingin


kulitku biasa gini" alibiku yang ternyatta mudah di terimanya. Aku menarik


sudut bibirku, kebodohannya membuatku tersenyum ternyata.


 


"Thy kamu kenal Nurul?"


"Nurul?" Bayu mengangguk.


"Kenal kok, kenapa?" Tanyaku mulai penasaran dengan kalimat yang akan


ia katakan setelah ini.


 


"Aku suka dia"


 


Seperti di hujam oleh puluhan panah


saat ia mengucapkan kalimat yang tadinya ku nanti beberapa saat lalu,


dapatku lihat senyum indah terukir di wajahnya setetes air mataku lolos begitu


saja, dengan cepat aku menghapus bulir air mata itu ku kmbangkan senyumku


selebar mungkin agar terlihat baik-baik saja.


"Serius? Sejak kapan? Ciee udah


move on sama yang kemarin hahaha" sergaku di iringi tawa.


Bayu ikut tertawa bersama ku bedanya


dia tertawa dengan rasa, sedangkan aku... ah aku tertawa hambar lebih tepatnya


menertawakan perasaan tak terbalasku.


"Aku juga suka sama kamu kok thy" aku terdiam begitu juga dengannya,


aku menatapnya dalam ada sebutir harapan menampakan diri, lalu sirna begitu


saja.


"Kamu kan temen aku"


•*•*•*•*•*•

__ADS_1


__ADS_2