
Waktu terus berjalan maju tanpa kenal lelah hingga hari kian larut meninggalkan getaran singkat sebuah pesan dari nomer tak dikenal.
"Nomer privat?"
Lidah terasa kelu, isi pesan tersebut mengingatkanku pada seseorang meski mustahil tapi tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba tenang agar berpikir lebih jernih agar berbagai macam spekulasi tidak muncul bersamaan.
"Pagi Buk" sapa ku cerah pada Bu Asri yang serang menyirami tanaman depan rumah kost.
"Ah iya pagi nak Athy, mau ngampus ya?"
"Hehe engga kok Bu, saya cuma mau jalan-jalan saja. Kalau begitu saya pamit dulu ya Bu"
"Iya nak, hati-hati ya" begitulah kira-kira percakapan singkat kami setiap hari.
Apa yang ku katakan pada Bu Asri tidak sepenuhnya salah, pagi ini dengan inisiatif sendiri aku ingin berjalan-jalan berkeliking Kota Tua. Lucu jika di bilang ini pertama kalinya aku menginjakan kaki ketempat wisata satu ini, tapi itu memang benar adanya.
Aku terlalu sibuk dengan kuliah dan mengasihani hati sampai-sampai hampir tidak punya waktu untuk membahagiakan diri. "Wahh" binar mataku takjub melihat sekeliling yang cukup ramai didatangi oleh keluarga kecil yang tenah menikmati pemandangan Kota Tua.
Hal pertama yang ingin ku lakukan adalah menaiki sepada dan berkeliling, "Mang saya mau sewa sepedanya"
"Oh iya silakan neng tinggal pilih mau pake sepeda yang mana" aku mengangguk antusias seraya memberikan uang selembar 50 ribu pada Bapak penyewa itu.
"Ini kembaliannya ya neng" aku tersenyum sopan.
"Terimakasih pak"
Tidak pernah terbayang sebelumnya aku akan menjelajahi Batavia Lama sendirian dengan sepada sewaan ini. Sudah lama rasanya tidak merasa sesenang ini dan entah sejak kapan aku merasa lega sekaligus haru, perasaan macam apa ini?
Apa aku berhasil melarikan diri dari ruang gelap beserta rantai pembelenggu itu?
__ADS_1
Jika benar begitu kenapa bayangan laki-laki itu kembali muncul didepan mata? Terlihat nyata, sangat nyata. Ku hentikan kayuhan sepeda dan menuruninya berjalan selangkah demi langkah mendekat kearah laki-laki yang ku anggap bayangan itu. Tidak.
Aku salah, dia bukan hanya sekedar bayangan. Langkah kaki seketika memberat tak sanggup untuk kembali melangkah maju begitupun senyum diwajah yang seketika meluntur dikala laki-laki itu mendekat dan memanggil namaku, suara itu.
Suara yang ku kenal. Sejak kapan bayangan yang ku kira manis itu menjadi sepahit ini?
*•*•*•*•*•*
Langit begitu cerah seakan tengah mengejek kecanggungan hati. Dia, ternyata hanya pembelengu lainnya.
Sebenarnya apa yang kamu harapkan Athy?
"Apa kabar?" Tanyanya dengan suara lembut yang ku pikir hanya ditujukan padaku seorang.
"Baik, kamu?"
"Aku juga baik" tidak ada lagi percakapan diantara kami.
Oh benar, bukan 'kami' tapi 'aku' dan 'dia'. Tidak ada kata kami ataupun kita yang tercipta, itu hanya sebuah kata pengalih agar terus berharap dengan sesuatu yang tidak nyata. Melelahkan.
"Iya, sekarang sudah Semester 2" jawabku seadanya.
"Kamu banyak berubah ya"
"Oh ya?"
"–Gak kebalik ya?" Ucapku dengan kata sedikit menyindir.
Ia hanya tersenyum samar dan mengalihkan pembicaraan, ia benar-benar sudah berubah. "Kamu mainnya jauh juga ya sampe ke Jakarta" ia menatap tepat pada iris terangku.
Sebuah senyum samar ku perlihatkan padanya, "Ya, lagipun Depok ke Jakarta gak jauh-jauh banget" ia mengangguk membenarkan pandangan matanya lurus tersenyum cerah seraya melambaikan pada perempuan yang tak jauh dari tempat dia duduk.
"Maaf lama" sedihnya. Andika menggeleng pelan memakluminya. Gadis itu tersenyum dengan rona samar dipipinya lalu melirik kearahku dan tersenyum bersahabat.
"Aku gak tau kalo kamu sama Ka Dika pernah kenal sebelumnya kok kamu gak cerita sih, Thy" aku hanya membalasnya dengan senyum.
__ADS_1
"Kamu gak pernah nanya tuh" kataku. Entah kenapa rasanya tidak sesakit atau sengilu saat memergoki Bayu bersama perempuan lain bahkan aku merasa lega saat tau Andika sudah memiliki pacar.
"Ishh" aku tertawa kecil sambil menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Tina.
Ya, perempuan itu Tina. Pacar Andika. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dua yang yang kukenal menjalin sebuah hubungan terlebih orang itu adalah Andika. Apa ini yang di maksud Ka Riza dengan kata 'Mungkin' satu tahun lalu sebelum berangkat test kesehatan di Jakarta yang masih ku ingat.
"Aku duluan ya" ucapku yang tidak mau mengganggu kebersamaan mereka.
"Kok buru-buru sih, Thy" keluh Tina.
"Aku harus ngembaliin sepeda, nanti bayar lagi kalo telat hehe" ucapku tak sepenuhnya berbohong. Gadis itu mengerut sedih sedangkan Andika hanya bisa menatapku dengan senyum tipisnya.
"Kalo gitu duluan ya.. Bye"
"Hati-hati ya" aku hanya tersenyum lalu pergi berjalan menjauh dari sepasang kekasih itu. Tanpa sepengathuan Tina, aku dan Andika sepakat untuk tidak memberi tahu Tina tentang hubungan lama antara aku dan Andika.
Dan kesedihan Tina tempo lalu itu ternyata ulah dari Andika yang menjahili Tina pura-pura tidak menemui gadis itu hanya untuk memberi kejutan. Apa dia tidak tau jika Tina seperti mayat hidup yang sedang menangis saat itu. Huft.
Setidaknya semuanya sudah berakhir.
Antara aku dan Andika. Tidak ada lagi kata Kami yang Mungkin akan Bersama.
Entah kenapa hati merasa lega, apa karena Andika bahagia atau pada dasarnya aku memang tidak menaruh perasaan apapun padanya?
Jika pilihan pertama itu benar, kenapa saat melihat Bayu terlihat senang dengan gadis lain hatiku merasa sakit.
Lalu jika jawaban yang benar adalah pilihan kedua, apa artinya hatiku yang ku kira sudah berada ditempat paling aman ternyata masih berada digenggaman Bayu?
*•*•*•*•*•*
New Cover ALL: Aku.Lalu.Luka
Like+Comment+Share
__ADS_1
#staysafe❤️