
Pada umumnya seorang gadis yang sedang jatuh cinta secara alami akan mencoba mencuri perhatian dengan cara mendekati laki-laki yang ia sukai, dan hal tersebut berlaku juga denganku namun peluangku untuk mendapatkan perhatiannya sebagai seorang gadis sangat sedikit. Karena ia hanya menganganggap ku sebagai seorang teman, haha ironi. Pertemanan yang tak sehat hanya karena aku tak sengaja menjatuhkan hati pada laki-laki itu. Namun, salahkah aku bila berharap kelak ia akan menyadari keberadaanku dan perasaan yang tersimpan untuknya?
"Jangan kelewatan!" Teriakku. Laki-laki itu tak bergeming dari tempatnya dan masih menatapku dengan tawanya.
"Kamu yang maksa aku buat ngelakuin hal kotor kek gini ke kamu" ingin rasanya aku menampar wajah laki-laki itu, namun sayangnya tidak bisa. Ia sudah mendapatkan kelemahanku. "Jadi... dia?" Tanya Andika dengan nada mengejek miliknya.
"Masih cakepan aku kali Thy" ucapnya lagi seraya mengangkat sebuah foto kesamping wajahnya seperti memaksaku membandingkan wajahnya dengan wajah yang ada di foto tersebut.
Tidak ku hiraukan perkataannya, diamku membuat Andika semakin menjadi. "Bayu?" Aku mendongkak mentapnya tajam dan ia terkekeh. "Aku baru nyebut namanya, kamu udah tengang begitu. Cinta banget ya kamu sama dia sampai nolak aku berkali-kali?"
"Cinta?" Sahutku remeh.
"Jangan ngelawak deh" ketusku lalu mencoba beranjak dari kursi.
"Ets... nona cantik mau kemana?"
"Mau pulang lah" Andika tersenyum,
"Yuk pulang sama aku"
"Bisa sendiri" aku berlalu melewatinya begitu saja, ia kembali mencegatku dilorong kelas yang mulai sepi, bisa dikatakan ia terlalu kekanak-kanakan untuk seukuran remaja kelas 3 SMA.
*•*•*•*•*•*
"Kak"
__ADS_1
"Hmm"
"Menurut Kakak, Andi itu bagaimana?" Ka Riza menoleh dan memposisikan diri duduk menghadapku.
"Kenapa tiba-tiba nanya Andi lagi?" Serius.
"Aku cuma nanya aja kok Ka" Seperti orang bodoh aku mempertanyakan laki-laki itu pada Kakak ku sendiri yang berstatus sebagai temannya, ingin sekali aku berkata apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Andika pada Kakakku itu tapi... aku terlalu takut jika ia akan memberi pembelaan dan mendukung laki-laki itu mengingat Ka Riza selalu memintaku untuk berhenti untuk menanti sebuah keajaiban yang sepertinya tidak akan pernah datang menghampiriku.
Pikirku melayang pada perkataan Andika petang tadi di lorong sekolah, satu sisi aku ingin mempercayai ucapan demi ucapan yang ia lontarkan padaku. Namun hati seolah menguatkan agar tidak cepat percaya dengan perkataan Andika terlebih ia tidak memiliki bukti apapun untuk aku mempercayai semua omong kosong yang ia lontarkan. "Semua menjadi rumit" aku memejamkan mata sejenak. Sebuah getaran terdengar dari meja belajar yang tidak jauh dari tempatku berada, hanya ada beberapa pesan singkat dari pengirim yang berbeda. Pupil mataku sedikit melebar mendapati sebuah pesan singkat dari seseorang yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya, jantung mendadak berpacu lebih cepat dari sebelumnya. "Astaga Athy! Ini hanya sebuah pesan kamu gak perlu segugup ini" gumamku mencoba mengatasi debaran yang mulai mengiasai diri. Anggap saja ini berlebihan tapi bagiku tidak, untuk pertama kalinya ia mengirimkan ku pesan dalam bulan ini.
Line
Bayu : Bentar lagi aku sampai di rmh kamu thy.
Aku terdiam sesaat setelah membaca pesan singkat yang ia kirimkan padaku, hingga sebuah tanya muncul begitu saja. Ada apa? Tidak selang berapa lama suara ketukan kamar membuyarkan lamunan singkatku.
"Eh Athy?" Ah sang Dewa asmara begitu jahat, ia kembali membusurkan panahnya dan membuatku terpaku pada laki-laki manis sepertinya.
"Aku belum pernah bilang ya?"
"Tentang apa" kusandarkan bahu pada punggunh sofa lalu menatapnya.
"Kalo kamu itu kelihatan lucu kalo lagi kaget hahaha" ucapku diiringi tawa geli.
Ia hanya tersenyum memandangiku yang menertawakannya. "Kenapa kamu liatin aku kek gitu sih" tanyaku setelah berhasil meredakan tawa. Ia menggeleng pelan.
__ADS_1
"Apa aku udah pernah bilang kalo kamu kelihatan lebih cantik pas lagi ketawa" senyumnya menghantarkan getaran lain dalam diri sekaligus mengilukan hati saat logika menyadarkan jika senyumnya bukanlah milikku.
"Lama gak ketemu, kamu udah jadi perayu ulung aja nih" ucapku dengan nada jahil terselip disana, ia terkekeh. "Udah berapa cewe nih yang kamu rayu kek gitu"
"Mungkin cuma kamu"
Tawaku meledak begitu saja mendengar bualan yang ia lontarkan padaku dengan harap ia tak menyadari jika aku sedang mencoba menutupi debaran jantung yang mulai tak terkendali. Tidak sadarkah dia jika kata murahannya itu mampu memberikan efek yang luar biasa padaku? Ah! Benar ia tidak mungkin sadar. "Aku serius thy"
"Ya ya ya aku juga serius hahaha" ia menghela nafas panjang, apa aku salah bicara?
"Jadi, kamu ngapain nih malem-malem dateng kerumah orang lagi kaya gak punya kerjaan aja" kataku mengalihkan pembicaraan.
Ia hanya mengangkat bahu singkat seraya bersadar ke punggung sofa. "Cuman mau mampir"
"Mampir? Jam segini? Ngelawak kamu hahaha"
"Cepetan bilang ada apa" ia tersenyum tipis.
"Kayaknya aku jatuh cinta deh thy" setelah itu ia mengatakan itu indera pendengaranku seakan menuli dan tidak lagi menyimak apa yang ia katakan selanjutnya. Ini bukan yang pertama kalinya bagiku, tapi rasa sakit itu masih terasa sama bahkan lebih mengilukan dari yang sebelum-sebelumnya. Hingga aku hati ku menyimpulkan pada akhirnya selalu begini, Ia menemukan pendampingnya dan aku diam-diam masih mencintainya.
*•*•*•*•*
Happy New Years 🎉
Wah gak kerasa udah tahun 2020 aja nih🎈
__ADS_1
Btw cek juga ya novel ALL di wattpad disana juga ada novel lain yang bakal aku terbitin💜
Jangan lupa like n comment nya readers😘❤️