
"Wahh kamu semakin menarik saja"
"Oh tuan.. anda terlalu memuji" lalu kami tertawa geli mendengar perkataan kami sendiri.
"Kamu banyak berubah"
"Kakak juga.." kataku menggantung, aku tertawa kecil melihat ekspresi penasaran dari laki-laki didepanku itu. "..Lebih ganteng dari terakhir kali ketemu"
Ia tertawa renyah menanggapi gombalan rejehku, "Wow aku gak pernah tau tau kamu bisa ngegombal"
"Kakak ngasih kode ya? Kalo mau kenal lebih jauh bisa kok" sahutku disusul tawa geli.
"Lama gak ketemu, kamu jadi nakal ya"
"Kek nya kakak aja deh yang gak tau" Ka Irgi menggeleng pelan menanggapiku.
Ingat percakapan text ku dengan Ka Irgi? Kami memutuskan untuk bertemu dengan alasan reuni, tapi percayalah tidak ada yang namanya reuni antara laki-laki dan perempuan terlebih salah satu dari mereka pernah memiliki atau mengungkap rasa. Aku dan Ka Irgi contohnya aku tau laki-laki jankung itu memiliki niat lain untuk bertemu denganku begitupun sebaliknya, aku hanya memerlukan hiburan dan pilihanku jatuh kepada Ka Irgi.
"Athy? Hai!" Seru seseorang memanggil namaku.
"Oh Lily.. apa kabar?" Sahutku dengan riang mengetahui siapa yang memanggilku, sedangkan Ka Irgi hanya diam memandang interaksi kami sampai Lily menyadari keberadaannya.
"Kamu jalan sama siapa? Kok gak di kenalin?" Terlihat Lily sedang menggodaku,
"Ah dia?" Tanyaku melirik sekilas Ka Irgi, Lily mengangguk pelan sambil terkekeh.
"Terus kamu sendiri jalan sama siapa? Kok gak ngenalin sih" aku menyerigai jail membalas godaannya dengan telak terlihat wajah Lily bersemu, ah sifat pemalunya masih tidak berubah.
Laki-laki di samping Lily tersenyum kearahku, "Sean, senang bisa bertemu denganmu"
Aku tertawa kecil, "Athanasia, panggil aja Athy" lalu aku menarik lengan Ka Irgi untuk mendekat.
"Ini Ka Ir-"
"Irgi, pacarnya Athy" aku sedikit tersentak dan menoleh Ka Irgi menatapku dengan berani, membuatku semakin tertantang lalu tersenyum kearah Lily dan Sean.
"Ya dia pacarku" bisa dilihat dari ekor mataku Ka Irgi tersenyum senang, lalu Lily tertawa kecil.
"Wah Sean keknya kita ganggu acara mereka deh" Sean mengangguk pelan dan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kalo gitu kami duluan ya thy, dan pacarnya" pamit Lily yang tidak lupa menggodaku.
Sepeninggalan pasangan itu kami kembali melangkah menuju restoran cepat saji dan diam tanpa ada obrolan yang pas sangat kebetulan sekali makanan kami datang lebih cepat membuatku lebih fokus dengan berbagai macam pangsit dan sumpit dihadapanku membuat aku malas untuk menatap Ka Irgi yang diam seribu bahasa. Seperti memikirkan sesuatu atau dia sedang memikirkan perkataanku tadi?
Emm... mungkin akan merepotkan tapi mengapa terdengar menarik. Astaga apa aku sudah berubah menjadi perayu ulung? Meski begitu.. tetap saja Bayu tidak pernah melirikku sebagai perempuan barang sedetikpun.
"Bagaimana? Kamu mau?"
"Eh??" Aku mengedipkan mata beberapa kali mencoba memahami apa maksud dari pertanyaan Ka Irgi, terlalu asik melamun membuatku terlihat bodoh ternyata. Pribadi itu menghela nafas pelan,
"Kamu gak nyimak ya?"
"Hehehe... maaf kak"
"Gapapa bukan salah kamu kok"
Eh ada apa ini. Kenapa murung? Sebenarnya apa yang ia sampaikan, tunggu... apa ia mencoba mengungkapkan perasaannya kembali?
"Ka Irgi"
"Hm.. iya" pribadi itu menatapku lama,
"Kakak masih suka aku? Bukannya mau kepedean nih-"
Kak Irgi mencodongkan tubuh kedepan dan memangku dagunya,
"Aku mengatakan yang sebenarnya"
Di detik itu pula suara tawaku terhenti.
•*•*•*•*•*•
Brakk!!
Semua mata tertuju pada laki-laki yang mendobrak keras pintu, termasuk aku yang mencoba melihat sang pelaku. Namun terhalang oleh beberapa orang didepanku, aku hanya menghela nafas kasar dan kembali mengerjakan soal yang seolah memohon untuk diselesaikan. Gerakannya tak terduga terjadi membuat kursiku berpaling miring hingga menghadap seseorang, "Adit?"
Laki-laki jankung itu memijat pelipisnya pelan bersamaan dengan hembus nafas kasar yang ia keluarkan. Lalu mencondongkan tubuh di depan mejaku membuat diri harus mudur beberapa senti dan menadahkan kepala agar dapat melihat kegelisahan yang bergitu kontras.
"Dit?" Panggilku pelan dan hati-hati.
__ADS_1
Tanpa aba-aba pribadi itu menarik lenganku keluar dari ruang kelas yang sedari tadi menjadikan kami berdua sebagai pusat mata memandang. Secara tiba-tiba pula ia melepaskan tarikan dari lenganku sampai koridor sepi dekat tangga,
"Kamu kenapa sih dit?" Suaraku mengudara membuka percakapan. Laki-laki jakung itu melirikku sekilas lalu mendorong sedikit tubuh ku hingga menabrak dinding bangunan.
"Harusnya aku yang nanya kek gitu ke kamu!" Udara disekitar terasa berbeda ketika suara beratnya mengantikan suara kesal yang ku lontarkan.
"Thy"
"Kamu ketemu sama Irgi kan" Aku menadahkan kepala keatas, terlihat jelas guratan kesal yang terlihat di sekitaran pilipisnya. Tidak ku jawab pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan untukku, seolah mengerti arti diamku ia membuang nafas berat yang terdengar sangat gusar.
"Jangan temui dia lagi, ini perintah" ucapnya penuh otoriter, namun sayang dengan segala sayang hal tersebut tidak mempan untukku.
"Sejak kapan kamu bisa merintah aku?"
"Bahkan mamah aku aja gak pernah sampai ngasih perintah kaya gitu" aku lirik laki-laki itu dengan sorot datar yang kumiliki, setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkannya yang mematung ditempat.
Sungguh aku tidak habis pikir dengan sikap Adit kali ini, maksudku apa salahnya aku pergi bersama dengan Ka Irgi? Dia laki-laki yang cukup menyenangkan untuk di ajak berteman dan lagi Ka Irgi sangat cocok menjadi teman sepermainan mengingat kami hampir memiliki banyak kesamaan. Langkahku mulai melambat seiring nyaringnya dering ponsel milikku, nama Bayu tertera dilayar pipih tersebut.
"Hallo?"
"Jauhi Irgi" aku menghela nafas panjang.
"Kalian itu kenapa sih? Baru aja tadi ngasih aku peringatan buatt jauhin Ka Irgi, sekarang kamu nelpon aku cuma buat nyampein itu?" Terdengar suara hela nafas kasar dari ujung telepon.
"Kalian itu sebenernya kenapa sih?"
"Thy.. maksud kami itu baik" Cukup aku muak mendengar perkataan yang mengatas namakan kebaikan.
"Bay, aku gak akan jauhin Ka Irgi sebelum kalian nyertai alasan logis yang bisa aku terima" tanpa pikir panjang aku langsung mematikan sambungan telepon.
Aku menendang asal batu kerikil yang ada di dekat kakiku, dan tanpa disengaja terkena punggung orang lain. Aku meringis sesal melihat lambang kelas yang tertulis di lengan baju kirinya. Sekelompok laki-laki itu menengok kanan dan kiri mereka hingga mendapati sosok ku yangg berdiri tidak jauh dari tempat perkumpulan mereka, salah satu diantaranya menyuruhku untuk mendekat dan dengan berat hati aku mendekati mereka.
"Maaf kak, aku gak sengaja" seperti diacuhkan, mereka malah bertanya padaku dengan nada intimidasi, sebenarnya itu tidak mempan hanya saja aku harus berakting layaknya adik kelas lemah agar tidak menimbulkan banyak perkara kedepannya.
"Kelas mana kamu"
"11 Ips kak" jawabku dengan susah payah, oh untuk kali ini aku tidak berakting. Suaraku sekaan tenggelam dilautan atmosfer dingin yang tengah menyelimutiku saat ini, belum lagii tatapan 5 laki-laki yang hampir mengelilingiku seperti sedang melucuti pakaianku.
"Lain kali hati-hati ya de" ucap salah satu dari kakak kelas tersebut. Aku menadahkan kepala untuk melihat wajahnya, lumayan. Lantas aku tersenyum cerah "Iya kak, kalo gitu permisi" mereka semua bergeming hingga aku beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sesekali aku melihat kearah belakang, takutt-takut diekori sampai kelas oleh sekelompok kakak kelas tadi, membayangkannua saja sudah sangat mengerikan. "Ihh amit-amit" ucapku tanpa sadar sambil mendelik bahu merinding. Semoga saja aku tidak bertemu dengan mereka lagi di lain waktu.
•*•*•*•*•*•