
Kali ini bukan masalah hati melainkan kaki yang tidak mampu lagi untuk melanjutkan berlari keputaran berikutnya. Dengan nafas tak teratur aku berjalan pelan menyusuri Track Jogging sambil memeriksa denyut nadi di leher lalu mengatur nafas perlahan.
"Udahan larinya?" Aku tersenyum singkat dan menganggukan kepala pelan menanggapinya.
"Abis ini makan yuk!" Ajaknya lagi.
"Boleh"
Kami kini sudah duduk di salah satu warung bubur terdekat dari tempat Track Jogging,
"Kamu mau apa thy?"
"Bubur separoh sama teh hangat aja" lalu ia memesankan permintaanku. Pesanan kami tiba dengan cepat tidak lupa aku berterimakasih pada Amang penjualnya, "Kamu udah punya pacar?"
Kegiatanku terhenti dan tersenyum tipis menatap pribadi di hadapanku.
"Kenapa nanya?" Lalu menyuap kembali bubur yang sempat tertunda. Jaka terlihat gelisah, "Aku cuma mau tau, kita kan teman"
Aku tersenyum kecut ketika selebat ingatan melintas begitu saja.
"Kamu kan temenku"
Sakit yang masih terasa sampai sekarang. "Iya kita temen" Jaka tersenyum malu-malu, ah.. ini membuatku ingin mempermainkannya dia menarik. Masa bodo dengan Dewi Cinta dan Peri-nya, lagipun pribadi Jaka lah yang terlihat jelas sedang mendekatiku, tidak ada salahnya jika bermain sebentar dengannya. Bukankah itu termasuk kesalahanmu, wahai Peri Cinta?
Kami berpisah di persimpangan jalan setelah turun dari angkutan umum. Sudah lebih dari 1 bulan kami saling mengenal, cukup banyak yang ku ketahui tentang Jaka seperti kegiatan yang ia ikuti atau lingkup pertemanannya yang ternyata termasuk introvert, sangat menarik bukan? Seorang introvert mencoba mendekati sosok ambivert yang condong ke extrovert seperti aku.
Drr
Drr
Drr
Ponselku bergetar nyaring, ah baru saja aku memikirkan tentangnya dan sekarang Jaka mengirimkan beberapa pesan yang memenuhi pusat notifikasiku.
Line
Jaka : Kamu udah sampai rumah?
Jaka : Kalo mau jogging lagi, ajak aku ya
*Jaka**: stiker*
Begitulah isi pesan yang terlihat di pusat notifikasi, tidak ku buka ataupun membalas pesan tersebut hingga satu notifkasi mampu membangunkanku dari rasa malas.
Line
Bayu : Thy... jalan yuk!
__ADS_1
•*•*•*•*•*•
Tidak dapat lagi ku sembunyikan kesenangan ini, sekarang aku sudah rapi dengan pakaian ala anak tongkrongan zaman sekarang sambil-sambil menunggu jemputan ku lihat lagi pantulan diri dari cermin full body di kamar lalu sedikit membenarkan tataan ikat rambut.
"Wih ngedate nih" Tidak ku tanggapi perkataannya dan hanya terfokus pada pantulan diri yang ada di cermin. Senyumku kembali mengembang saat mamah datang dan mengatakan temanku datang untuk menjemput, masih dengan senyum yang sama aku melewati tubuh Ka Riza yang hampir menghalangi pintu kamar tanpa melirik kearah pria itu.
"Berangkat?" Tanyaku sesampainya diruang tamu. Bayu mengiyakannya lalu kami berdua pamit dengan mamah.
"Kemana?"
"Miko mall aja gimana?"
"Boleh" sahutku dengan nada biasa saja, mencoba biasa lebih tepatnya.
Selama perjalanan kami lumayan banyak berbagi cerita tentang keseharian kami selama disekolah, tidak terasa kam sudah sampai dipakiran mall setelah itu kami memutuskan untuk pergi menonton di bioskop, aku tidak tau film apa yang Bayu pilih aku hanya mengikutinya saja sampai kami bersinggah di kedai kopi yang ada di dalam mall sambil menunggu jam tayang film.
"Udah lama ya" ungkapnya tiba-tiba, terlihat senyum tipis terukir manis di sudut bibirnya.
"Iya, sayangnya hari ini cuma kita berdua aja" sepertinya aku berhak mendapatkan kategori pembual, buktinya sekarang aku terlihat sangat pandai mengukir kata bualan.
Bayu mengangguk sambil memakan kue pesanannya lalu menatapku aneh, seperti ada yang ingin ia sampaikan tapi tidak bisa. "Thy, aku mau bicara"
Jantungku tiba-tiba memompa darah lebih cepat dari biasanya, apa ini artinya predisiku tidak salah?
"Loh emang sekarang kamu gak lagi bicara apa?" Ucapku jenaka sambil tertawa kecil. Okay itu tidak mempan, terbukti dengan raut wajahnya yang tidak berubah, aku menghela nafas panjang dan menyandar punggung kebelakang. "Cerita"
Manik kami bertemu, melihatnya tersenyum seperti itu membuat hati ini seperti tercubit. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
"...Kami berpisah Thy" aku bergeming menatapnya lurus, bolehkah aku merasa senang mendengar kabar ini?
Gerak-gerik Bayu tidak lepas dari pandanganku membuat aku sedikit penasaran dan menunggu kalimat yang akan ia lontarkan selanjutnya.
"Katanya dia bosan" Bayu tersenyum kecut, "Apa aku membosankan?"
Ingin sekali aku berteriak mengatakan 'Wanita itu yang bodoh' di depan wajahnya, sayangnya itu tidak mungkin aku lakukan.
"Bosan itu manusiawi" Bayu menegakan sedikit tubuhnya. "Wajar kalo dia bilang bosan, karena dia sudah mendapat penggantinya" terangku dengan santai lalu menyeruput Coffe Latte pesananku.
"Seperti kamu ya?"
"Aku?"
"Iya, kamu orangnya juga cepat bosankan?" Aku tetawa kecil menanggapinya.
"Mungkin"
"Ayo, bentar lagi filmnya diputar" ajakku.
__ADS_1
"Kamu emang pinter mengalihkan pembicaraan" lalu kami berjalan beriringan.
Andai kamu tau, aku tidak pernah merasa bosan menunggu kamu melihat keberadaan hatiku. Dan ingin sekali aku mengatakan semuanya, hanya saja aku terlalu rapuh dan takut menghadapi konsekuensi yang menyakitkan seperti 'kehilangan', lebih baik aku diam dan menunggu hari itu tiba sambil memohon pada Dewi Cinta untuk melepas mantra yang melekat pada panah asmara sang Peri yang tak kunjung terlepas berantisipasi jika hari itu tidak pernah datang padaku.
"Filmnya ba-"
"Woy!"
"Athy"
"Athanasia"
"Aduh! Eh??" Aku mendongkak dan menghadap Bayu yang memposisikan kedua tangannya dipinggang dengan raut kesal. "Wajah kamu kenapa Bay?"
Ia berdecak sebal lalu menggandeng tanganku menjauh dari tempat awal kami berdiri.
Darahku berdesir hangat sambil ku lirik tangan kami yang saling terpaut, "Jangan abaikan aku"
Kulirik wajahnya dari samping lalu terkekeh geli, "Iya maaf" entah ia sadar atau tidak aku semakin menggenggam erat tangannya seakan ingin menghentikan waktu dan terus berada di posisi hangat ini. Sayangnya angan tetaplah angan, aku harus kembali pada kenyataan pahit jika dia masih berstatus sahabatku.
•*•*•*•*•*•
Line
Bayu : Thanks ya thy, aku jadi ngerasa baikan
Sudut bibirku terangkat menciptakan lengungan manis setelah membaca pesan baru dari Bayu, dengan segera aku membalas pesan tersebut.
Line
Athanasia
Santai aja kali, kaya sama siapa aja
Mataku membola sekaan ingin keluar dari sarangnya, tanpa basa basi aku langsung keluar dari ruang obrolan Bayu setelah melihat tanda ia telah membaca pesan dariku. Lalu ku cek kembali lagi pusat notifikasi yang kini membuat hati berdebar sangat kencang.
Line
Bayu : Next time jalan lagi, ntar aku yang traktir😎
Bolehkah aku terbang saat ini? Rasanya sangat senang mendapati notifikasi pesan dari orang yang selaluku dibayangkan sebelum tidur dan sesudah bangun dari tidur bahkan di mimpipun aku ikut membayangkan sosoknya.
Line
Athanasia
Aku tunggu!
__ADS_1
Setelah membalas pesannya ku letakan ponselku di atas meja belajar lalu menganti lampu dengan lampu tidur. Hei! Peri Cinta, sampaikan salamku untuknya lalu katakanlah bahwa aku telah jatuh cinta padanya karena ulahmu. Aku tersenyum dalam diam dan memasuki alam mimpi.
•*•*•*•*•*•