
"Cari yang baru"
Aku diam, mencerna kalimat yang Viona lontarkan kepadaku. Sisi ranjang bergerak, bisa ku rasakan Viona duduk di sampingku lalu menepuk bahuku pelan.
"Move on" aku menatapnya bimbang.
"Aku bingung"
"Thy, kamu gak perlu bingung. Move on itu gampang!" Ingin sekali aku mempercayai ucapan Viona yang satu ini, tapi rasakanya sangat sulit.
"Thy, kamu percaya aku kan?" Tanya Viona menahan kedua pundakku, aku menatapnya ragu.
Ia membuang nafas kasar dan kembali menatapku, kali ini dengan tatapan lembutnya.
"Athy"
"Aku tau kamu ragu, tapi apa salahnya mencoba"
Aku masih diam, yang dikatakan Viona memang ada benarnya tapi... entahlah.
"Kamu bukan seperti Athy yang aku kenal"
"Maksudmu?" Beo-ku. Viona membaringkan diri di sampingku dan mentap langit-langit kamar seakan menerawang sesuatu.
"Kamu sadar gak sih, semenjak kamu cerita tentang laki-laki itu kamu bukan lagi Athy yang dulu" ia menoleh menatapku dengan sorot kosong.
"Athy yang aku kenal belum mengerti tentang laki-laki dan perasaan, Athy yang ku tau -"
"Vi" peringatku. Gadis berkuncir itu membungkam, kehilangan kata.
Aku tersenyum tipis dan ikut membaringkan diri di sampingnya.
"Kamu tau? Aku juga tidak mengenal diriku yang sekarang " aku menoleh membalas tatapannya dengan senyum.
"Aku gak suka kamu jatuh cinta" aku mengerutkan kening lalu tertawa geli.
"Cinta? Whahaha.. aku gak yakin deh"
"Kamu itu udah jatuh cinta sama dia!"
"Vio.. Vio kita itu masih SMP"
"Athy.. Athy kamu gak tau ya kalo cinta itu datangnya suka tiba-tiba" ucapnya mengikuti gaya bicaraku.
"Gak nyambung kamu"
__ADS_1
"Kamu nya aja yang belum ngerti!" Aku mendengus mendengar perkataannya yang sok tau itu.
•*•*•*•*•
Tuhan, Semesta, para Malaikat dan Peri izinkan lah aku untuk membuang perasaan yang salah ini. Terutama untukmu Peri Cinta, izinkan aku membuang rasa yang tumbuh akibat kesalahanmu. Aku bukanlah manusia berhati baja, pula tak berhati, aku hanya seorang gadis yang memiliki hati selayaknya seorang gadis, janganlah memaksaku untuk bertahan demi cinta sepihak.
Jangankan untuk bertahan, mengerti arti cinta dan bertahan demi cinta saja aku tak mengerti. Jika sudah begini, masihkah kau menghalangiku untuk membuang rasa tercela ini?
Tak ku alihkan pandanganku darinya, setiap gerak-geriknya tidak pernah ku lewatkan sedetikpun, satu sisi di dalam hatiku selalu memuji sosoknya, lalu di sisi lainnya aku mengutuk Dewi Cinta yang dengan lancang memberikn perintah pada sang Peri untuk mengutukku. Hei kau Peri nakal! Dengarkan aku, pergilah dan katakan pada Dewi-mu, sang Dewi Cinta. Katakan padanya jika aku ingin mengakhiri kutukan ini, aku ingin mengakhiri segalanya dengan restu yang ia berikan.
Namun ada satu dari ribuan soal yang ingin ku tanyakan, akankah Ia memberiku restu?
"Semenawan apa dia?"
Aku tersentak dari lamunan panjangku lalu menatap laki-laki itu bingung. Mata kami saling bertemu, ia tertawa kecil.
"Kamu lupa?" Tanyanya yang membuatku semakin bingung. Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Laki-laki ini memang terlihat familiar, namun bukan berarti aku mengenalnya.
"Kamu lagi ngomong sama aku?" Entah kenapa aku menanyakan hal yang jawabannya sudah ku ketahui, mengingat hanya ada kami berdua di koridor sekolah yang mengarah ke lapangan futsal. Bisa ku lihat laki-laki itu mentertawakan pertanyaan bodohku barusan,
"Engga, aku lagi ngomong sama bayangan" jawabnya jenaka.
"Garing banget, hehehe" sahutku dengan tawa sumbang.
"Oke, berarti kamu emang lupa" ia tersenyum dan memperkenalkan diri, "Aku Rama" aku memandang tangannya yang terulur, lalu menjaba tangannya setelah beberapa saat aku terdiam.
"Athy"
"Bagaimana kamu...?"
Aku kehilangan kata, laki-laki asing ini sulit di terka. "Aku tau segalanya"
Aku menaikan sebelah alisku aneh, laki-laki bernama Rama itu tersenyum kecil. "Sesuka itu kah kamu dengannya?"
Nafasku tertahan sejenak, ku netralkan ekspresiku, "Maaf? Apa yang-"
"Diakan orangnya?"
Ia memotong perkataanku sembari menunjuk kearah Bayu yang sedang bermain futsal dengan beberapa orang lainnya. Aku terdiam menatap arah telunjuknya kaku, semudah itukah ia dapat menebaknya? Aku mengalihkan mata kearahnya yang sedang tertawa geli, terlihat jelas dari wajahnya yang sedang mentertawakanku.
"Kamu sangat lucu" Rama menatap lurus kedepan lalu kembali berkata,
"Percayalah padaku, ia hanya ragu padamu" Aku mengerutkan kening bingung, apa yang baru saja ia katakan? Ragu? Siapa?
"Anggap saja aku sebagai cenayang" katanya lagi dengan arah pandang lurus kedepan, aku sedikit tersentak dengan apa yang ia katakan. Sulit untuk mempercayai orang yang baru saja aku temui. Aku mendengar suara decak kesal yang ku yakin berasa dari Rama, aku donggakan wajahku untuk menatapnya setelah beberapa saat menundukan pandangan ke lantai.
__ADS_1
"Sudahku katakan, kita pernah bertemu sebelumnya"
"Ohya?" Sahutku dengan nada tidak yakin.
Laki-laki itu menghela nafas lalu tersenyum kearahku, okay itu cukup menakutkan menurutku.
"Kamu pernah menabrak ku di koridor lab" ujarnya mencoba mengingatkanku, ah sayangnya aku memiliki ingatan yang cukup buruk akhir-akhir ini alhasil aku hanya mengaruk kepalaku bingung.
"Sudah, gak usah di pikirin" aku mengangguk.
"Senang bisa berkenalan dengan gadis semanis dan selucu kamu" ucap Rama ramah diiringi senyum tulus, belum sempat aku membalas perkataan Rama, suara merdu yang sangat ku kenal menyerukan namaku.
Ku pusatkan seluruh pandangku kepadanya, yang kini sudah berada tepat di aku dan Rama, dengan cepatku netralkan debaran jantung yang mulai menggila terlebih dengan adanya Rama yang dengan mudahnya menyadari ketertarikanku pada laki-laki yang saat ini berdiri tepat di hadapan kami berdua.
"Kamu lagi sama siapa?" Tanya Bayu menatapku dengan sorot yang tidak bisa ku baca.
"Aku Rama" aku langsung mengalihkan pandanganan kearah Rama yang memamerkan senyumnya, aku hampir terpesona dengannya jika saja Bayu tidak menyuarakan kekesalannya.
"Oh? Bayu, sahabatnya Athy" entah perasaanku saja atau memang itulah yang sedang terjadi saat ini, suara Bayu terdengar tidak bersahabat dengan Rama. Kesadaranku seperti di tarik paksa dari lamunan singkat yang ku buat, aku menatap Rama terkejut saat ia dengan lugas mengatakan,
"Aku pacarnya Athy"
Ada apa dengan orang ini? Bukannya ia menyadari ketertarikanku pada Bayu? Lantas mengapa mengaku sebagai kekasihku di depan orang yang ku suka? Gila!!
Aku melirik Bayu ragu, tidak ada ekspesi apapun di wajahnya. Aku bertanya-tanya apa yang sedang terlintas di benahnya?
"Ohhh pacar baru? Wahh jangan lupa pajak jadiannya ya" sahutnya riang setelah beberapa saat terdiam. Aku memaksakan senyum saat mata kami saling bertemu,
"Ehh aku pergi main lagi ya, gak mau ganggu orang pacaran hehe" setelah mengatakan itu ia membalikan badan dan pergi sebelum itu aku tidak sengaja melihat tangan Bayu yang terkepal kuat.
"Bagaimana?"
"Kenapa kamu bilang kalo kita pacaran?" Ia tertawa pelan mendengar protesanku lalu menggendong ranselnya.
"Aku cuma mau tau reaksinya" ia mengatakan itu dengan nada santai melangkahkan kaki menyusuri koridor kearah parkiran sekolah dengan aku yang mengikutinya dari belakang, lalu ia kembali melanjutkan kata,
"Dia cukup pintar menyembunyikannya" aku menghentikan langkahku begitu juga Rama yang sadar dengan diamku,
"Maksud kamu?" Rama melangkah mendekatiku, membungkuk mensejajarkan tinggi kami dan menatapku dalam,
"Nanti kamu bakal tau sendiri"
Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan aku sendirian, tepat di koridor lab. Ipa. Seakan menyadari sesuatu aku mengedarkan pandanganku,
"Ternyata aku emang pernah ketemu kamu sebelumnya"
__ADS_1
Menatap canggung punggung Rama yang mulai menjauh.
•*•*•*•*•