
Bhuk!
"Astagfirullah! Bodo kok dipelihara!" Pekikan Viona memang bukan main aku sampai harus menghindari beberapa lemparan bantal sambil menutup telinga dengan rapat.
"Kalem Vi, kalem" ucapku yang kini sudah berdiri di atas sofa ruang tamu.
"Kalem katamu? Mana bisa!"
"Tapi kamu marah tanpa sebab tau gak sih"
"Kamu mainin perasaan orang itu ya yang namanya tanpa sebab hah?!"
"Aku ga-"
"Halah gak usah ngeles kamu, buktinya udah banyak" perkataan Viona membungkamku. Gadis itu terlihat menghela nafas lelah lalu menatapku tajam, apa aku melakukan kesalahan?
"Kamu kenal Jaka?" Tanya Vio yang langsung ku iyakan, Vio kembali membuang nafas kali ini dengan gusar.
"Dia sepupu aku" mataku membola dengan sempurna, perkataan Vio sukses membuatku terkejut.
"Bagaimana bisa?" Vio tidak langsung menjawabnya, ia mengesap teh kotak yang ada di meja sejenak. "Jangan permainkan dia"
Aku menundukkan kepala sambil menggeleng pelan, "Kenapa?" Bisa ku tangkap nada lirih yang Vio keluarkan.
"Dia sudah jatuh terlalu dalam, akan sulit untuk lepas dari permainan ini" lalu ku pandangi wajah Viona dengan sesal.
"Maaf" hanya kata itu yang mampu ku keluarkan setelah mengetahui siapa Jaka sebenarnya.
"Gak ada cara lain?" Aku kembali menggeleng, "Engga, kecuali kamu mau ngambil resiko" Vio langsung menatapku penuh tanya. Aku tersenyum miris, bukan untukku tapi untuk Vio dan setelah itu Vio seakan mengerti arti dari senyumanku.
"Kamu bukan lagi Athy yang aku kenal"
"Bahkan aku sendiri gak kenal sama aku yang sekarang" ucapku miris.
"Apa kabar?" Kutolehkan sedikit kepalaku kearah Vio yang menatap lurus ke depan.
"Ngomong-ngomong kamu tau dari mana kalo Jaka lagi deketin aku?" Vio tersenyum seolah tau aku tengah mengalihkan pembicaraan.
"Dia cerita sambil nunjukin foto kamu, aku sampai kaget kalo dia jadi salah satu korban kamu" aku bernafas lega mendengar Vio membalas pertanyaan ku tanpa mengungkit pertanyaan dia sebelumnya, tapi apa katanya tadi... Korban?
Aku memincingkan mata dengan kesal, "Korban apa maksud kamu" Vio tertawa kecil sambil menepuk pelan punggungku.
__ADS_1
"Tentu saja korban perasaan" ucapnya yang ku sahuti dengan dengusan.
"Hahaha.. aku bener kan thy, semenjak kamu kenal sama Rama Rami itu kamu jadi suka mempermainkan perasaan orang apa lagi perasaan cowo.. hedeuh" aku diam membiarkan Viona mengeluarkan kalimatnya.
"Aku tau kamu perlu pelampiasan, tapi bukan gini caranya thy"
Vio menatapku dengan sorot mata yang tidak dapat kuartikan.
"Maksud kamu?"
Viona tersenyum hangat, "Nanti kamu bakal tau"
•*•*•*•*•*•
Alangkah baiknya bila hari ini tidak datang, selebat rasa bersalah menguasai lengungan hati. Aku menarik nafas pelan lalu memandang Jaka malu-malu, iya aku tau kalau aku pandai berekting.
"Kamu serius?"
"Ya! Aku suka kamu, kamu mau jadi pacarku?" Ucapnya lantang meski begitu tetap saja ia tidak apik dalam menyembunyikan kegugupannya, Dewi Cinta.. sungguh ini sangat menyenangkan.
Aku mengangguk sungkan dengan senyum sedikit tertahan,
"YES!" Teriaknya membuatku semakin ingin mentertawakan laki-laki bodoh itu. Vio maaf, tapi dia sudah terlalu jauh untuk kembali dan yang bisa ku lakukan saat ini hanya menuntaskan permainan lalu pergi.
"Siapa lagi korbannya?"
"Bukan urusan Kakak" aku langsung menaiki tangga dan mengunci pintu kamar. Merebahkan diri dikasur empuknya, tanpa sengaja retina menangkap pemandangan tak asing namun mampu membuatku bangkit dari posisi awalku.
"Dia kembali?" Gumamku setengah berbisik.
Apa ini nyata? Maksudku sudah lama orang itu tidak mengirimkan ku paket lagi lalu mengapa tiba-tiba paket ini kembali bersarang di kamarku?
Tanpa ragu aku membuka kotak abu manis berpita biru itu, "Album lagu?" Lalu ku ambil kertas ucapan yang selalu terselip di dalamnya, oh Athy bahkan sudah satu tahun terlewat pun kamu masih saja mengingat ciri khas sang pengirim paket misterius itu.
Eem.. Hai?
Masih ingat aku? Sang pengirim paket setiamu. Mungkin sekarang kamu sedang bertanya-tanya, "Kemana saja kamu selama ini sampai baru ngirim paket lagi"
Eh.. bercanda doang, aku gak sePede itu hehe..
Sudah lama ya? Dari terakhir kali aku mengirim paket, oh ya dengerin lagu dari album itu ya, anggap aja sebuah clue.
__ADS_1
-you're secret admirer
Aku mengerutkan kening, apa maksud dari isi surat pendek itu? Seakan ia memintaku untuk menebak pribadinya. Hei! Aku tidak punya waktu luang untuk melakukannya dan untukmu Peri Cinta, bisakah kau memberiku keringanan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pengirim misterius ini? Seperti memberitahuku siapa dia melalui mimpi. Ah sayangnya aku yakin kau tidak pernah berada di pihakku, maka lupakan saja perkataan ku tadi.
Ting
Pandanganku jatuh pada benda pipih di nakas, keningku mengerut mengamati sebagian isi pesan yang terlihat pada pusat pemberitahuan. "Ka Irgi?" Aku mengedipkan mata berkali-kali memastikan apa yang kulihat kali ini tidak salah.
Setelah membereskan paket misterius itu aku menghempas tubuh keranjang dan menatap bimbang pesan yang Ka Irgi kirimkan padaku, jika kalian lupa Ka Irgi itu kakak kelas yang pernah ku tolak saat SMP. Untuk mengingatnya saja aku sudah malas tapi akan menarik jika dia menyatakan perasaannya lagi padaku.
Line
Athanasia
Kak Irgi??
Putusku bulat, akhirnya aku membalas pesan dari laki-laki itu, tidak butuh waktu lama ia membalas pesanku.
Line
Irgias
Wah kamu inget aku
Apa kabar?
Lucu sekali pertanyaan yang laki-laki itu kirim, tanpa sadar aku menyeringai sambil mengetik text balasan untuknya.
Line
Athanasia
Tentu
Baik, kalo kakak? Hehe
Akhirnya kami mengirim pesan satu sama lain, hingga Kak Irgi mengajakku pergi jalan yang tentunya aku iyakan.
Aku menatap langit-langit kamar datar, sangat lama... tanpa sadar air mataku luruh melewati pelipis, dengan isak yang yang kucoba kendalikan agar tidak keluar begitu saja. Aku tidak ingin membuat para budak Dewi Cinta itu tertawa senang melihat ketidak berdayaanku.
Sayangnya aku terlalu lelah untuk mempertahankan kendali dan untuk malam ini ku persilakan kalian para budak Dewi Cinta menari bahagia dengan tawa seru yang terdengar kepelosok dunia di atas tangis lelahku.
__ADS_1
•*•*•*•*•*•