ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 22


__ADS_3

"Neng, kamu mau kemana?"


"Gak mau kemana-kemana tuh, emang kenapa Mah?" Tanyaku, Mamah mengangkat bahunya acuh seraya melirik Ka Riza yang sedang pura-pura menonton televisi, disaat itulah aku mengerti maksud pernyataan dari Mamah. "Kenapa Ka?" Tanyaku membuka suara setelah tiba duduk disamping Ka Riza yang terlihat tersentak melihat sosokku.


"Kenapa apaan coba?" Sejujurnya aku paling tidak suka dengan orang yang memberiku pertanyaan tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya, tapi untuk kali ini ku biarkan pribadi tersebut melakukannya.


"Menurut kamu Andi orangnya gimana?"


"Andi? Siapa?"


"Kamu gak inget?" Aku menggeleng cepat, tidak tau ingatan mana yang dimaksud olehnya.


"Andi temen kakak itu loh"


"Siapa sih aneh banget" aku beranjak menjauhi Ka Riza di ruang keluarga, meninggalkannya bersama Mamah yang hanya menggelengkan kepala pelan mungkin terlalu pusing dengan tingkah anaknya.


Kamar terasa hening, ku nyalakan musik dari handphone dan pilihanku jatuh pada WestLife - My Love. Sejujurnya aku tidak terlalu mengenal band mereka hanya saja aku menyukai karya yang mereka ciptakan terlebih Bayu lah orang yang mengenalkannya padaku.


🎵 An empty street


An empty house


A hole inside my heart


I'm all alone


The rooms are getting smaller🎵


Baitan pertama terdengar merdu mencerminkan kekosongan hati, hingga bait demi bait selanjutnya kembali mengingatkanku pada sosok yang selama ini kudamba– Bayu. Bagaimana kabarnya hari ini? Aku mulai merindukannya lagi.


🎵To hold you in my arms


To promise you my love


To tell you from the heart


You're all I'm thinking of


Reaching for the love that seems so far🎵


Aku tersenyum getir, sekilas sebuah pertanyaan muncul mampukah aku merekuhmu yang nampak jauh disana kedalam pelukku? Sebuah ketukan halus terdengar nyaring diiringi panggilan lesu dibaliknya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku setelah membuka pintu kamar. "Bayu?" Ucapku dengan nada sedikit terkejut mendapati sosok yang sedari tadi bersinggah dalam benah kini berada didepan mataku.


Bayu menampilkan senyum hangat yang biasa ia tunjukan meski demikian senyum itu terlihat berbeda dari biasanya, "Katakan" ia mengusap pucuk kelapaku lembut, aku hanya memasang wajah datar tanpa merespon apapun.


"Kamu selalu peka tapi kenapa kamu gak sadar sih?"


"Tentang?" Bayu menggeleng pelan lalu menerobos masuk kedalam kamarku begitu saja.


"Ngapain sih kamu kesini kek gak ada kerjaan aja"


"Emang gak ada"


Ia tertawa pelan sambil merebahkan diri dikasurku sedangkan aku mendudukan diri di kursi dekat meja belajar seraya menggeleng pelan melihat tingkah lakunya yang layaknya tuan rumah, aku menoleh kearah pintu yang tidak aku tutup. "Ini cemilannya" ucap Ka Riza, aku sedikit mengerutkan keningku.


"Tumben nganterin?"


"Makasih Ka" Ka Riza tersenyum singkat kepada Bayu lalu menatapku sinis. "Ya suka-suka gue lah"


"Kok sewot sih!" Sahutku lalu Ka Riza pergi meninggalkan kami berdua.


"Udah thy"


"Apanya"


Hatiku ikut hanyut kedalam sorot sendu yang Bayu tampakan, ingin sekali aku menariknya kedalam peluk hanya saja aku tidak seceroboh itu untuk melakukannya. "Dia bertunangan" aku membalas tatapannya


"Gadis itu sudah memiliki tunangan"


"Sepertinya aku terlambat lagi" ada hal jangan dari kata 'lagi' yang ia ucapkan, seolah ia pernah melakukan hal yang sama untuk kesekian kalinya.


"Apa yang akan kamu lakukan"


"Aku gak yakin"


"Kalo gitu lupakan saja" Bayu terhenyak mendengar perkataanku, percayalah keadaanku tidak berbeda jauh dari Bayu. Aku cukup terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan seolah itu adalah hal biasa dan mudah untuk dilakukan dan sialnya lagi aku bahkan tidak mampu untuk melakukannya.


*•*•*•*•*•*


"Dia gadis beruntung"


"Siapa?"

__ADS_1


"Gadis yang ia sukai" pribadi itu tersenyum singkat lalu merangkul bahuku akrab.


"Kalau gitu dia termasuk laki-laki beruntung"


"Apa alasannya?" Senyumnya melebar menanggapi pertanyaanku.


"Karena dia disukai gadis manis seperti kamu"


"Omong kosong"


"Thy, aku gak bicara omong kosong pada nyatanya memang begitu"


"Sudahlah aku terlalu malas untuk membahasnya" aku beranjak masuk meninggalkan pribadi itu.


"Kalian ngapain aja sih diluar?"


"Kepo deh Van" sahut seseorang di belakangku yang baru datang. Tak ku hiraukan dan mendudukan diri disamping Rizka yang masih terus menatapku dengan sorot ingin tahunya.


"Apa?"


"Kamu masih menyimpan rasa?" Suasana yang tadinya agak ricuh kini menjadi hening mereka menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan.


"Ya"


Rizka terlihat mendesah pasrah sedangkan Ayla membuang pandangannya. "Kamu gak harus maksaain diri lagi"


"Ayla..." panggil Rizka mengingatkan.


"Aku gak tahan lagi! Kenapa kamu harus ngorbanin banyak cowo demi satu hati dan bertahan tanpa dipandang sedikitpun? Thy... Kamu sendiri tau perasaan dia ke kamu kaya gimana tapi... kenapa?"


"Vanya!" Vanya membuang pandangannya kearah lain. Perasaanku kalut, apa yang Vanya katakan benar. Ia bukan milikku, tidak akan.


"Thy? Vanya ga-"


"Vanya bener Riz" Rizka membuang nafas kasar, udara sekitar terasa sesak dan canggung. Kami membisu bahkan Vanya yang biasanya suka memulai pembicaraanpun ikut terdiam larut dengan suasana yang ada.


"Suatu hari nanti mungkin aku akan pergi" ucapku menghilangkan suasana yang tadinya sangat sesak bahkan untuk sekedar mengerakan satu jari. Mereka bertiga menoleh penasaran kearahku, "Aku bilangkan mungkin, dan kata 'mungkin' itu belum tentu akan terjadi"


"Gak lucu deh" kesal Ayla semakin membuat tawaku melebar.


"Tau nih gak lucu banget jokes kamu"

__ADS_1


"Van aku gak ngelucu" sahutku di iringi kekehan ringan setelahnya. Setidaknya dengan mengatakan hal tersebut membuat suasana sedikit menghangat. Mungkin... ya mungkin saja hal itu akan terjadi... mungkin.


*•*•*•*•*•*•*


__ADS_2