
-2019-
Angin menyuarakan ketenangan kota yang tidak pernah tidur bahkan ketika siang telah berganti malam.
"Athanasia?" Ku palingkan wajah melirik empun suara, aku tersenyum singkat kepadanya.
"Hai" sapa ringan ku lemparkan padanya. Ia berlari menubruk tubuh ku keras, kami hampir terjatuh bersamaan jika saja aku tidak menahan keseimbangan dengan baik.
"Astaga, Kamu beneran Athy!" Aku mengangguk pelan di dalam pelukannya sesekali mengusap punggungnya pelan. Ia merenggangkan pelukan lalu menatapku dengan berlinga air mata, aku hanya mampu tersenyum kecil.
"Aku kangen kamu! Kenapa kamu gak bilang kalo ada di Indonesia"
Aku menggengkan kepalaku pelan, tidak ada kata yang mampu menjabarkan isi pemikiranku saat ini, masih dengan senyum yang sama aku melihatnya menitikan air mata dan terisak.
"Maaf"
Dari sekian banyak kalimat, hanya kata itu yang mampu ku sampaikan pada gadis itu.
"Tidak.. tidak.. ini bukan salahmu" aku diam mendengarkan perkataannya, sampai ia menuntunku untuk kembali duduk pun aku masih diam tak mengeluarkan suara sekecil apapun.
Rizka menatapku haru, "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya setelah menyeka air mata.
"Tidak buruk" jawabku apa adanya.
"Athy, kamu-" ku letakan cangkir kopiku pelan lalu menatapnya dengan senyum.
"Aku baik-baik saja, percayalah"
"Kamu gak lupakan kalo aku bisa mendeteksi kebohongan" aku mengangguk mengiyakan membuat gadis itu menggeleng pelan.
"Apa dia masih menjadi alasan kamu kembali?"
Aku diam sejenak, kata 'dia' seakan menjadi kata sakral bagiku setiap menginjakan kaki ke tanah air.
"Entahlah.."
"..menurutmu? Bagaimana?"
Ia tersenyum lalu menggeleng dan kembali menatap mataku.
"Kamu terlalu banyak berubah thy"
"Aku masih Athy yang sama, Riz" Rizka tertawa kecil, seperti mengangap perkatakanku sebagai lelucon.
"Penampilan saja telah berubah menjadi wanita elegant dan dewasa, cara biacaramu juga, pasti di ha-"
"Hatiku tidak ada perubahan, masih sama seperti saat aku meninggalkan Indonesia" senyum yang tadinya menghiasi wajah manis Rizka meluntur karena ucapanku.
"Athy..,"
"Tidak apa"
•••••
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berjalan santai terlebih jika di hari libur seperti sekarang ini. Jalan Asia-Afrika menjadi pilihanku untuk melepas rasa bosan ketika tinggal di rumah sendirian. Seseorang menepuk bahuku pelan, ku alihkan pandanganku, aku terpaku menatapnya sejenak.
Johan?!
Ia menatapku dengan senyum lega miliknya, "Ternyata bener kamu thy, aku kira salah orang" lidahku terlalu kelu untuk membalas perkataannya bahkan untuk sekedar menyapanya saja sangat sulit.
"Kamu sendirian?" Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya, Johan tersenyum kecil lalu menarik pergelangan tanganku menjauhi pedagang kaki lima yang tadinya ku singgahi, dan ia mengiringku untuk duduk saat sesampainya kami di salah satu bangku di sisi jalan.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat" bahkan tersenyumpun sangat sulit untukku saat ini. Johan menghela nafas panjang, canggung. Itulah suasana yang sedang melingkupi kami berdua.
"Bagaimana German?"
"Tidak terlalu buruk"
__ADS_1
"Apa kamu bertemu dengan orang yang baik?"
Aku mengangguk, "Sepertinya iya"
"Dia merindukanmu begitupun kami semua" Aku diam, tidak tau harus bereaksi seperti apa, satu sisi ingin sekali bersorak nyaring tapi di sisi lainnya seperti menamparku untuk kembali kepada kenyataan.
"Apa kabarnya?" Johan menoleh, sedangkan aku hanya menatap lurus kedepan, aku merasa ia sedang tersenyum saat ini.
"Tidak jauh beda dari sebelumnya"
Wajahku seperti di siram air dingin, ku menarik nafas panjang lalu membuangnya secara kasar.
"Benarkah?" Johan mengangguk lemas dan ikut menatap lurus jalan.
Aku menatap langit yang mulai cerah lalu memejamkan mata sejenak, menghidup udara sebanyak yang ku mampu, mencoba menenangkan hati yang mulai menjerit pedih.
"Thy, dia mencintaimu"
Aku membuka mataku perlahan, penglihatanku memburam terhalang air suci yang menumpuk di pelupuk mata yang siap meluncur kapan saja.
"Tapi aku bukan takdirnya" ucapku setengah berbisik, aku tau Johan masih mampu mendenganya. Terbukti kini ia mengalihkan pandangannya kearahku, ku tatap maniknya yang menyorotku sedih, ku ukir sebuah senyum di bibir manisku.
Aku sadar jika wajahku akan terlihat semakin menyedihkan bila ku paksakan tersenyum seperti ini, tapi mau bagaimanapun aku ingin memperlihatkan senyumku meski terlihat menyedihkan sekalipun. Johan menarikku kedalam dekapan hangatnya, air mataku enggan meloloskan diri dari sarangnya, seperti yang ku duga, meski menumpuk sebanyak apapun cairan bening itu tidak akan bisa mengalir membasahi wajahku seperti dulu.
Entah sampai kapan itu akan terjadi, bahkan aku sudah mulai lupa kapan terakhir kali aku menangis tersedu-sedu. Ah benar kata Rizka, aku sudah berubah.
"Menangislah jika kamu ingin menangis" aku menggeleng pelan lalu melepaskan diri dari dekapannya.
"Tidak, aku tidak bisa menangis, aku bahkan sudah lupa cara untuk menangis Han. Sebanyak apapun air mata itu menumpuk di pelupukku, mereka enggan untuk meluncur keluar"
"Itu karena kamu menahan semuanya sendiri thy" nafasku tertahan, aku merasa di tampar keras oleh perkataannya.
"Mungkin sekarang kamu masih belum biisa, tapi nanti" aku tersenyum singkat.
"Aku harap hari itu akan tiba"
"Entahlah"
"Dia akan senang jika kamu mengunjunginya" aku menggeleng pelan menundukan kepala.
"Aku belum siap untuk bertemu kembali dengannya"
"Thy..."
"Maaf han"
"Tapi dia-"
"Luka yang aku tinggalkan begitu dalam, Han!" Potongku tak ingin mendengar alasan omong kosong darinya. "Aku masih belum siap, aku harap kamu mengerti" sambungku pilu.
•••••
"Aku pulang!" Ucapku yang baru saja membuka pintu rumah tak bertenaga,
"Kak" aku menghentikan derap langkahku dan menoleh ke sumber suara. Laki-laki itu tersenyum kepadaku, lalu kembali berkata.
"Tadi ada kurir yang ngirim paket atas nama kakak "
"Kakak gak ada mesen ap-" aku menghentikan perkataanku dan menatap Anan lirih,
"Paket ?" Tanyaku pelan.
Anando mengangguk mantap, "Iya kotak warna abu-abu pake-"
"Pita biru?" Potongku bertanya, Anan kembali menganggukan kepala, jantungku seolah berhenti bekerja beberapa detik lalu kembali memompa darah dengan cepat, sangat cepat.
Tanpa memperdulikan kebingungan Anan aku segera melesat kekamar memastikan pengirim paket itu, ku perlambat langkahku sesaat penampakan kotak abu-abu di hiasi pita biru itu terlihat oleh iris mataku. Dengan ragu ku usap kotak itu lalu menarik pelan ujung pita hingga terlepas, pelan namun pasti ku intip isi kotak tanpa lebel pengirim tersebut, air mata yang dulunya ku yakin tak pernah mengalir lagi kini membasahi wajahku.
Seluruh emosiku tercampur tak terkendali menumpahkan segala kekesalannya lewat derai air mata yang luruh setelah bertahun-tahun lamanya. Aku menyadari keberadaannya, adikku yang menatapku dengan sorot sedihnya dari balik pintu, aku merasakannya, tolong tinggalkan aku, aku terlalu menyedihkan untuk kau lihat, aku ingin sendiri. Entah dorongan dari mana Anan merengkuhku kedalam pelukannya, menyalurkan ketenangan.
__ADS_1
"Anan disini"
Aku balas dekapan Anan erat, menumpahkan kekesalan yang bertahun-tahun ku tampung, dengan tenang, bukan tapi mencoba terlihat tenang menepuk punggungku agar lebih tenang.
Aku melepaskan diri saat ku rasa tangisku berhenti, aku tersenyum membalas tatapan Anan yang tidak bisa ku artikan.
"Kakak udah gakpapa An"
"Bohong aja gak pro"
Aku terkekeh geli mendengar perkataan Anan. "Ya kan kakak gak kaya kamu yang pinter boong"
"Gak usah pake senyum deh" aku semakin mengembangkan senyum mendengar decakan kesal Anan, ia menutup kembali paket itu lalu meletakannya di bawah ranjangku.
"Kalo belum siap ngeliat isinya, mending gak usah" meski ia berkata ketus seperti itu, aku tau jika ia sedang mencemaskan keadaanku saat ini. Tanganku terulur sendiri membenarkan rambut tebal Anan yang terlihat sedikit berantakan,
"Kamu semakin dewasa ya sekarang" lalu tanganku turun mengusap lembut wajahnya yang menurut kaum hawa di luar sana tampan.
"Kakak masih inget kalo dulu kamu sering banget nangis terus kakak peluk biar tenang" Anan masih setia menatapku, "Sekarang, laki-laki yang dulunya cengeng bisa menengangkan seseorang" Kataku diiringi tawa kecil.
"Kamu mulai beranjak dewasa An, kalau kamu bertemu seorang perempuan yang kamu cintai, jangan pernah kamu lukai dia baik di sengaja ataupun tidak. Ingat, Mamah sama Aa mu ini juga perempuan An, kalau kamu menyakitinya sama sama kamu menyakiti kami" Anan menatapku lurus.
"Terus, kenapa kakak masih mikirin bajingan yang udah ngelukain kakak?" Aku tertegu, benarkah aku menunggunya?
"Kakak yang udah ngelukain dia. Dan yang harus kamu tau, sebajingan apapun laki-laki jika ia tanpa sengaja memikat hati seorang perempuan yang tulus maka itu-"
"Derita bagi perempuan itu" potong Anan penuh penekanan, aku terhenyak, ada benarnya memang dari yang laki-laki di depanku ini katakan tapi dengan cepat ku singkirkan pemikiran itu dengan menggeleng lalu tersenyum maklum.
"Itu anugrah untuk laki-laki itu nan"
"Anugrah yang menyedihkan bagi perempuan, menurutku" masih dengan tatapan yang sama Anan kembali berkata, "Kakak gak ngelukain bajingan itu tapi melindungi diri, An tau luka yang bajingan itu tinggalkan lebih dalam di bandingan luka yang kakak gores ke bajingan sialan itu"
Setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan bekas tamparan yang kuat dari perkataannya. Aku mencerna dengan baik perkataan Anan, lalu mengambil paket yang tadi ia simpan, ku tatap isi bingkisan itu lirih.
Kamu benar sekaligus salah An, salah karena aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan entah meminta maaf atau menagih maafnya, dan benar karena aku perempuan yang memiliki anugrah menyedihkan dari Peri Cinta itu sendiri.
•••••
Apa kabarmu? Apa kamu baik-baik saja selama di sana?
Aku merindukanmu,
Temuilah aku di waktu senggangmu, ada banyak hal yang kusampaikan, dan ada banyak rindu yang ingin ku luruhkan. Ku tunggu kehadiranmu di bawah garis bintang menjelang fajar.
Di penghujung kata, ku sampaikan kalimat sakral...
.....Aku mencintaimu.
Your secret Admirer
Jantungku berdegup cepat membaca setiap bait kalimat yang ia tulis, ia mengetahui kedatanganku, ia juga mengharapkan sebuah pertemuan denganku, ia juga menuliskan kalimat itu.
Kalimat yang dulunya ku damba dan ku nanti,
Kalimat cinta yang penuh arti,
Sebuah tanya melintas begitu saja,
Untuk siapa kalimat itu ia sampaikan? Tertuju padaku kah?
Aku membuang nafas kasar sembari meremas sisi kertas suat yang baru saja selesai ku baca, pikirku kacau. Aku merindukannya, namun di sisi lain hati ini belum siap untuk menemuinya.
Lantas apa yang harus ku lakukan selanjutnya?
•••••
__ADS_1