ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 26


__ADS_3

Permainan cinta begitu rumit, bahkan untuk seorang gadis seusiaku. Awalnya begitu berwarna dan membahagiakan hingga aku sadar jika itu hanya tipuan belaka. Ku akui samaran mereka begitu membelenggu hati polos seorang remaja yang mendambakan kisah kasih sekolah lalu membawa mereka menuju kebahagian-kebahagian sesaat lalu menjatuhkan mereka sejatuh-jatuhnya hingga tak mampu untuk bangkit sendiri. Meninggalkan luka yang sangat dalam, bahkan beberapa di antaranya terlalu takut untuk memulai permainan cinta untuk kesekian kalinya. Hingga tersadar, akulah korban selanjutnya.


Dan disaat hari itu datang, bagaimana caraku untuk menghadapainya? Konyol jika aku berharap pada dewa asmara untuk menolongku, pada nyatanya dia lah dalang dari segalanya.


Bhuk! Bhuk!


"Lengah!" Satu hantaman keras kembali dilayangkan olehnya namun langsungku tangkis dengan baik. "Kurang cepat!"


Sudah 1 jam berlalu sejak dia— Ayahku membubarkan pelatihan, dan sudah 1 jam berlalu aku masih bergerak menghindar dan menangkis pukulan dan tendangan yang ia surungkan padaku. Satu tendangan berhasil mengenai kepalaku, tidak begitu kuat namun cukup membuat pusing.


"Cukup"


"Istirahat sebentar abis itu langsung cold down, Ayah pulang duluan" aku hanya diam menatap punggungnya yang mulai menjauh lalu membaringkan diri ditengah-tengah arena tanding.


Mulai mengatur nafas hingga stabil tanpa memperdulikan sebagian dari tubuh berdenyut nyeri akibat pukulan tadi. Bagiku ini biasa, bahkan tidak sebanding dengan pernyataan Bayu tempo lalu. Sial! Aku kembali menggingatnya. Tanganku sudah terkepal keras dengan sisa tenaga yang ku miliki, aku mendekati samsak yang tergantung di luar arena tinju dan melayangkan beberapa pukulan disana sesekali menendang hingga menimbulkan bunyi dan decitan besi pengait samsak. Meyalurkan segala rasa disetiap hantaman yang kulontarkan tanpa memikirkan tubuh yang perlahan melemah kehabisan tenaga.


<<<<<


"Yuriva Okta"


"Itu nama cewe yang lagi dia deketin" Andi menuntunku untuk duduk di kursi panjang koridor sekolah. "Kamu gak tau ya?"


Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan, "Okta" ku lirik dia dengan mata yang mulai berkaca.


"Dia adik aku" sesempit ini kah dunia?


"Pasti didalam otak kamu nanya, apa dunia ini memang sempit. Iyakan? Haha ketebak banget" aku tidak memperlihakan ekspresi apapun, Andi tersenyum tipis seraya merangulku.


Entah kenapa kali ini aku hanya diam tanpa melawan perilaku Andi seperti sebelumnya, energiku seakan tersedot habis oleh suatu hal yang aku tidak tau apa. "Mau aku bantu?"


"Kamu gak bisa ngebantu"

__ADS_1


"Kalo aku bisa gimana?" Aku menoleh menyorot laki-laki itu datar.


"Kamu mau apa?" Ia menarik tangan kananku dan mengenggamnya dengan erat.


"Jadi ceweku" dapat kulihat kesungguhan didalam matanya, tapi....


"Lupakan" jawabku lelah lalu menarik tanganku dari genggaman hangatnya.


"Aku gak akan maksa kamu kali ini tapi aku mohon pikirkan baik-baik"


>>>>>


Bhuk!!


Tubuhku luruh dengan nafas terhenggah-henggah aku mencoba berdiri kembali, nihil. Tidak ada tenaga yang tersisa bahkan untuk menangisinya pun aku tidak bisa. Baik fisik maupun batin ku sama, sama-sama berada di masa terburuknya.


*•*•*•*•*•*


Sekolah sudah dibubarkan sejak satu jam yang lalu, mungkin diantaranya masih ada beberapa siswa yang masih menetap seperti aku yang tengah mengamati langit dipendopo taman. Melihat cuaca siang ini tidak begitu buruk dengan awan mendung yang menghiasi langit sekolah yang seakan siap untuk menjatuhkan beribu air mata ke bumi. Terlihat menyenangkan, untuk pertama kalinya aku merasa damai mengamati turunnya hujan dalam keheningan. Tanganku terangkat untuk menyentuhnya, dingin sekaligus sakit begitu air hujan turun deras menimpa telapak tangan.


"Yang perlu itu bukan aku, tapi kamu" ia menggeleng menolak jaketnya sendiri dari tanganku.


"Kamu kan cewe" aku memutar bola mataku malas, lalu menarik lengannya untuk duduk di kursi yang tersedia.


"Terus kalo aku cewe emang kenapa? Jangan dilepas lagi!" Tegasku saat ia hendak melepas jaket yang kupasangkan padanya.


"Ii..iya" setelah itu kami saling diam membisu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Hening. Aku menyibukan diri dengan memperhatikan setiap air yang turun dari langit, terkadang aku bertanya-tanya kenapa langit begitu jahat? Maksudku ia dengan seenak hati menjatuhkan air kepermukaan bumi yang kasar, meski begitu aku sangat kagum dengan hujan. Ia rela dijatuhkan ke bumi berkali-kali dan memberikan rahmat pada penghuni bumi, tapi bukan berarti aku ingin menjadi hujan. Karena... aku tidak sekuat hujan.


"Kamu suka hujan?"

__ADS_1


"Gak"


"Tapi kamu kelihatan tertarik dengan hujan" aku tersenyum tipis.


Tanpa perlu mengalihkan pandangan aku menjawab, "Hujan itu bodoh" sesak.


"Bod-"


"Iya bodoh. Bukannya baik sama bodoh itu beda tipis?" Aku meliriknya sekilas, "Sama halnya dengan hujan, ia rela dijatuhkan berkali-kali oleh langit meski demikian ia tetap bermurah hati dengan menciptakan sebuah karya indah yang kita sebut pelangi setelah ia dijatuhkan"


Hatiku melolong ngilu. Apa ia ingin aku seperti hujan? Tidak! Aku tidak setegar itu.


"Tapi kamu gak bodoh thy" pandanganku kini tertuju pada laki-laki itu. Untuk pertama kalinya Andi menatapku bukan senyum jahil atau senyum sok berkuasa seperti biasanya tapi dengan senyum hangat yang cukup mampu meredakan kegelisahan hati.


"Iya"


"Aku tau" jawabku membalas senyumnya. Wajahnya yang putih tiba-tiba memerah dibagian tulang pipi.


"Kamu sakit?" Tanyaku seraya meraba wajahnya yang terasa sangat hangat terutama keningnya.


"Ishhh siapa yang sakit sih!" Bentaknya sambil menyingkirkan tanganku dari wajahnya.


"Tapi muk- Aishh! Yaudahlah terserah kamu aja" kesalku.


"Eoh? Hujannya reda" ucapku lalu menoleh kebelakang.


"Duluan ya" tidakkah dia tau kalau aku menyadari tatapannya yang tidak lepas menatapi kepergianku? Itu membuatku risih.


Seolah aku gadis jahat yang telah meninggalkan pria baik dan tulus demi pria lain yang aku sendiri tidak tau perasaannya untuk siapa. Tunggu. Itu bukanlah perumpamaan melainkan sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa aku mengabaikan laki-laki yang menawariku segala hal hanya untuk laki-laki yang hatinya bukan untukku.


"Athy... kamu begitu naif dan bodoh! Ku mohon berhentilah."

__ADS_1


Entah kenapa seketika perkataan Ka Riza terputar kembali seperti kaset rusak, tawa hambar ku mengudara begitu saja sepertinya Ka Riza benar. Aku begitu naif dan bodoh, mencintai seseorang yang tidak bisa ku miliki seutuhnya.


*•*•*•*•*•*


__ADS_2