
-2019
"Ah.. terakhir aku dengar kamu pergi keluar negeri"
"Iya... aku menetap disana"
"Lalu kenapa kamu kembali? Ah bukannya aku gak suka kamu balik ta-" aku menatapnya dengan senyum simpul.
"Ada yang harus aku selesaikan"
"–sayangnya aku belum sesiap itu"
*•*•*•*•*•*
"Kita sudah sampai" dengan bantuan Aldy aku akhirnya bisa masuk kedalam rumah, senyum tipis ku lemparkan pada pribadinya yang sudah mau memapahku sampai keruang tamu.
"Jangan senyum"
"Kenapa? Jelek ya?" Aldy berdeham sambil memalingkan wajah. Apa aku melakukan kesalahan?
Anando berteriak histeris melihat keadaan ku yang ku akui tidak enak dilihat, gaun kusut, make up yang berantakan dan hampir terhapus serta kaki yang penuh luka di tambah high heel yang patah. "Kok bisa gini!"
__ADS_1
Aldy yang masih terkejut melihat sikap Anando tidak dapat berkata apa-apa.
"Nanti Kakak ceritain, kamu temenin tamu dulu ya. Kakak mau bersih-bersih dulu" Anando hanya diam terpaku melihat ku yang melewatinya begitu saja.
Bisa ku lihat dengan jelas pantulan diri yang begitu mengenaskan, apa wanita itu diriku? Aku membuang nafas lelah, pandanganku kini terjatuh pada jas biru tua yang tergeletak diatas ranjang. "Parfum ini" ucapku menatap jas itu datar lalu membuangnya sembarang.
"Aldy" laki-laki itu terpaku ditempat.
"Maaf agak lama" ia hanya menyangguk tanpa berkata apapun dengan mata yang tak lepas dari ku. Apa ada yang aneh?
"Kamu gapapa?" Sekarang giliran aku yang diam terpaku dan tidak tau harus menjawab apa. Bisa ku lihat Aldy tersenyum dengan samar, "Pertanyaan nya terlalu sulit ya?" Aku masih diam.
Aldy membuang nafas pelan, "Kamu gak sendiri, Thy" mata kami saling bertemu satu sama lain, bisa ku lihat sorot matanya yang seakan memberi aku kekuatan.
"Kenapa?" Tanyaku dengan nada dingin menatapnya kosong.
"Apa?"
"Kenapa kamu bilang gitu?"
"–padahal aku pernah nyakitin kamu. Kamu bisa aja ngebenci aku! Tapi kenapa? Kenapa Al?!" Ia diam membisu.
__ADS_1
"Waktu itu juga, kamu bisa aja membiarin aku tapi kamu malah nolongin aku. Jangan merasa kasihan sama orang kaya aku Al, tolong. Aku gak mau dikasihani"
Terlalu banyak yang ingin kuketahui dari tindakan laki-laki itu, apa aku egois meminta penjelasan tidak berdasar seperti itu?
Aldy bangkit dan berjalan mendekat lalu mengambil tangan ku dan menggenggamnya erat, aku menatapnya lama. Sorot matanya tidak dapat ku jabarkan, terlihat guratan rindu sekaligus haru didalam sana seolah menunggu hari ini akan tiba. Hari dimana ia bertemu denganku kembali.
Dengan cepat aku menarik tanganku, "A-apa yang.."
"Kamu lihatkan?" Masih dengan posisi berlutut ia menatapku dan kali ini mengambil kedua tanganku.
"Gak pernah sekalipun aku merasa kasihan, Thy" ia tersenyum, dan senyum itu membuat aku kembali merasa bersalah.
"–apa yang dulu terjadi memang tidak bisa diulang atau diperbaiki, kamu mungkin ngelukain aku tapi apa kamu pernah berpikir kenapa sampai sekarang aku ngebiarin itu semua?"
Tak ada satupun kata dari ku yang tau jawabannya atau mungkin, oh tidak. Jangan. Tolong jangan katakan. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya lalu menggeleng pelan. Ia tersenyum tipis, aku tau arti senyum itu begitupun sebaliknya ia tau arti tatapanku tapi..
"Hati aku masih berpihak sama kamu, Athanasia"
Dia mengabaikannya.
*•*•*•*•*•*
__ADS_1