
Malam tadi aku bermimpi, terasa sangat nyata seolah itu adalah hal yang sebenarnya terjadi pada nyatanya tidak. Mimpi yang membuat hati semakin berharap dengan suatu hal yang tak nyata, Bayu. Didalam mimpi, dengan berani dan tak tahu diri aku mengungkapkan rasa yang sudah ku pendam lama padanya dan ia juga mengungkapkan hal yang sama padaku, aku tau ini hanya mimpi namun terasa janggal. Aku tidak ingin menebak dan membuat hati semakin jatuh dalam harap, senyata apapun yang kurasa dalam mimpi bagiku itu tetaplah mimpi sebatas bunga tidur yang diciptakan oleh alam bawah sadar dan anganku. "Johan passing!" Johan melemparkan bola kearahku lalu aku shoot dari jarak dekat kearah ring.
"Masuk!"
"Keren Thy"
"Woh jelas" sahutku percaya diri seraya membalas rangkulan Johan.
"Gimana.. mau lanjut gak?"
"Udahan aja yok. Aku cape banget nih udah"
"Gitu doang udah cape" aku merotasikan mata malas menanggapi perkataan Adit.
"Kan udah lama gak main, ya cape lah. Betewe, makan yuk laper nih" Bayu menggelengkan kepala pelan setelah meneguk habis air mineralnya.
"Makan terus"
"Laper juga, makan yuk" aku menatap Johan berbinar.
"Hayok! Bakso!"
"Nasi campur aja"
"Udah makan mie kocok aja" perkataan Adit mematahkan argumenku dengan Johan dan terpaksa kami mengikuti kemauannya. Andai emosi Adit dapat dikontrol dengan baik mungkin aku dan Johan sampai sekarang masih memperdebatkan rumah makan mana yang akan kami singgahi sampai sekarang. Setelah memesan 4 porsi mie kocok kami saling diam terpaku pada pemikiran masing-masing, sesekali aku mencuri pandang kearah Bayu. Hingga aku menghelaan nafas pendek membuat ketiga laki-laki itu memandangku dengan tanya.
"Laper banget ya thy" canda Johan yang ada disampingku.
"Eh? Engga kok, aku cuma lagi mikir"
"Bisa mikir juga ternyata"
"Kamu kira aku kaya Johan apa gak bisa mikir" kesalku menatap Adit garang.
"Loh kok namaku dibawa-bawa sih"
__ADS_1
"Khilaf han khilaf hehe" ucapku seraya mengelus pelan lengannya.
Suara hentakan meja mengejutkan semua orang termasuk pelayan yang lalu lalang membereskan meja lain setelah digunakan oleh pelanggan sebelumnya, kami menatap Bayu bingung terlebih pribadiku yang begitu penasaran dengan sikap laki-laki yang telah mengisi penuh ruang dihatiku beberapa tahun belakangan ini. "Ada apa?" Itu bukan pertanyaan dariku melainkan Johan.
"Anu.. ada lalat ganggu banget sumpah" Keduanya hanya mengangguk mengerti tapi tidak denganku yang mengalihkan pandangan kearah lain takut ia akan membaca sorot mataku. Mungkin ia bisa membohongi Adit dan Johan, sayangnya tidak denganku. Aku terlalu mengenalnya hingga ia akan kesulitan untuk menipuku.
Aku juga tidak berani menipu diri, tapi aku pun tidak berani untuk mempercayai apa yang baru saja aku lihat. Sorot itu, sorotnya menatapku sendu dan cemburu... Bayu, sebenarnya apa arti pandanganmu itu? Apa itu sebuah tanda?
Semesta, tolong sampaikan pada Dewi Cinta jika aku.. Athanasia. Mulai menemukan tanda cinta dari sosok pujaannya.
*•*•*•*•*•*
Hari semakin siang tapi tidak ada tanda-tanda akan berakhirnya pidato sebelum pembagian kartu ulangan akhir semester, seperti biasa salah seorang guru dari kesiswaan atau kurikulum akan berpidato panjang lebar sebelum pembagian kartu ulangan. Dengan jujur aku mengatakan kami para pelajar sebenarnya tidak terlalu mendengarkan apa yang beliau sampaikan dikarenakan terik matahari yang berada di atas kepala terlebih lapangan sekolah yang nampak luaspun menjadi sesak karena banyak dari mereka berdesakan mencari tempat aman dari sinar matahari meski hal itu sangat sia-sia dilakukan. "Masing-masing ketua kelas silakan maju untuk mengambil kartu UAS untuk dibagikan pada teman sekelasnya" ucap Ibu Dita mengakhiri pidato panjangnya yang entah apa isi pidatonya itu, aku tidak mendengarkan.
"Aku dapat di ruangan 11 nih, kalo kamu thy?" Ucap Ranti. Aku langsung melihat kartu ulangan milikku memastikan jadwal dan ruangan yang akan ku tempati senin hari nanti.
"Ah, kita gak seruangan lagi"
"Emang kamu dapet ruanh berapa?"
"Ruang 10" Ranti terlihat murung.
"Maksud kamu?"
"Denger kabar nih ya, kelas 10, 11 sama 12 bakal digabung dalam 1 ruangan makanya sesi ulangannya cuma 2. Coba kamu liat baik-baik" jelas Ranti seraya membalikan kartu ulanganku dimana disana tertera Jadwal UAS berlangsung, dan benar saja UAS kali ini hanya ada 2 sesi bukan 3.
"Yaudahlah.. gak ngaruh juga sama aku"
"Kamu mah enak, udah pinter dari sananya. Gak belajar aja udah masuk 5 besar apa daya aku yang belajar gak belajar tetep stuck di ranking 22" aku hanya tertawa geli menanggapi kekesalan gadis cantik itu.
*•*•*•*•*•*
Andai aku bisa menampar diriku yang diminggu lalu mungkin saat ini aku bisa sedikit lebih lega meski hanya sedikit. Sungguh aku sangat menyesali perkataanku tempo lalu yang mengatakan UAS kali ini tidak ada pengruh apa-apa bagiku, nyatanya.
"Itu yang ditengah!" Tegas pengawas mulai berjalan mendekati meja laki-laki yang ada disampingku, "Kamu ngapain lempar-lempar kertas kesamping? Minta jawaban sama adik kelas?"
__ADS_1
"Ehh? Engga kok Pak, saya cuma ngelempar kertas cinta buat cewe cantik yang duduk di samping kiri saya ini" sahut pemuda itu percaya diri dan mendapat sorakan kecil seisi ruangan.
Bapak pengawas tersebut hanya menggeleng pelan, mungkin tidak habis pikir dengan jawaban gambang yang diberikan pemuda itu lalu Bapak itu beralih kepadaku, "Kalo kamu, kenapa diem aja di lemparin kertas gitu" waktu mengerjakan soal jadi terpotong karena pertanyaan tidak berbobot dari Bapak pengawas itu.
"Saya gak sebodoh itu buat nanggepin suatu hal yang gak penting Pak, lagipun pertanyaan Bapak juga kurang berbobot untuk saya jawab dan pertanyaan Bapak juga memotong waktu saya buat ngerjain soal Ujian saya Pak" Bapak itu langsung terdiam mendengar jawabanku tanpa menghiraukan pengawas ataupun sorak pujian seisi ruangan aku kembali mengerjakan soal-soal diatas meja dengan damai, sedikit meningat ada gangguan aneh dari samping kananku itu.
Sifat menyebalkannya tidak habis sampai diruang ujian saja tapi setelah usai ulangan pun pribadi itu tetap saja mengangguku, "Bisa gak sih lo itu gak gangguin gue!"
"Gak bisa" jawabnya enteng. Akupun berlalu begitu saja, enggan meladeni laki-laki seperti Andika. Aku sadar, sepenuhnya sadar jika ia sedang mengekor dibelakangku hingga langkahku dihentikan oleh Adit, "Stop!"
"Tumben"
"Nih pake" seraya memberikan helm hitam, aku menatapnya bingung.
"Pulang sama aku" terangnya seraya melirik sekilas pribadi yang masih berada tak jauh dibelakangku. Aku terkekeh pelan sambil mengangguk mengerti apa yang Adit maksud dan ikut menaiki motor metic miliknya.
Kami berdua mampir kesebuah depot es kelapa untuk menyegarkan pikiran sehabis ulangan, tidak ada pembicaraan diantara kami berdua sampai pesanan kami tiba yang kusambut dengan senyum senang. "Kamu suka dia?" Pertanyaan Adit memulai sebuah obrolan yang paling kubenci akhir-akhir ini, sebuah perasaan.
"Tidak"
"Tolak aja"
"Sudah lebih sekali aku nolaknya" Pribadi yang lumayan tinggi itu diam dan menatapku sedikit aneh sekaligus horor.
"Serius? Gila! Gede juga nyalinya" aku memutar bola mataku malas. "Tapi thy, kok dia bisa suka sama kamu sih? Maksud aku yaa kamu cantik tapi sifat kamu kan aneh kek laki"
"Intinya kamu lagi muji atau ngejelek-jelekin aku sih!" Kesalku.
"Hehe kan aku jujur"
"Cuih! Kejujuranmu menyakiti diriku" kami terdiam sesaat lalu tertawa terbahak bersama-sama. Setidaknya debgan begini aku bisa sedikit melupakan masalah sejenak dan bersamaan aku bisa beristirahat memikirkan Bayu. Sial, aku mulai merindukan laki-laki itulagi.
*•*•*•*•*•*
Note:
__ADS_1
Hai! Lama ya? Hehe maaf ya. Makasih juga buat kalian yang masih setia pantengin story aku yang satu ini meski update nya lama banget. So... ini kan lagi liburan akhir tahun + akhir semester, aku akan ngeusahain semaksimal mungkin buat updatee setiap minggunya. Hore!!! Inget jangan lupa like and comment disetiap bab cerita yang aku upload ya bisa aku makin semangat gitu nulisnya, berhubung diri ini masih sendiri dan doi gak peka-peka jadi aku minta disemangatin sama readers aja deh🖤
Follow juga instagram baru aku @chioo_coco *yang***@machaship _ kena hack opnum yang tidak bertanggung jawab:)**