ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 23


__ADS_3

Mentari pagi bersinar terang menyilaukan mata, banyak darinya menyempatkan diri hanya untuk berolahraga atau hanya sekedar jalan santai menikmati sinaran mentari tersebut dan tidak luput denganku yang meluangkan waktu untuk berolahraga pagi di Track Jogging. 1 jam berlalu begitu saja, pelan aku mendudukan diri disalah satu kursi taman yang tersedia di sana seorang diri hingga ada sebuah tangan menyodorkan botol air mineral, "Minum" kata pemuda itu saat mataku menyorotnya.


"Engga, makasih aku bawa sendiri" sahutku memperlihatkan botol minum yang memang ku bawa dari rumah. Ia mengangguk dan ikut mendudukan diri disampingku. Canggung.


"Kamu sering jogging disini ya?"


"Jarang" jawabku seadanya lalu beranjak dari duduk. "Aku duluan ya ka, permisi" aku pergi dengan suasana hati tak baik, aku tidak menyukai sikap pribadi itu. Seakan akrab denganku padahal tidak.


Aku sadar sedari dalam angkot ia terus memperhatikanku bahkan ia ikut turun bersamaku, aku terus mengabaikannya hingga dia menyela jalan dan membuka suara. "Apa kamu selalu seperti ini?"


"Tidak" lalu aku melewatinya begitu saja. Ia mencengkal lenganku.


"Aku belum selesai"


"Tapi aku sudah"


"Aku tertarik sama kamu" aku menghempas cengkalannya.


"Kakak bahkan gak tau namaku"


Ia mengulurkan tangannya, "Andika Putra" aku kembali bejalan melaluinya begitu saja, tidak ada alasan bagiku untuk mengenalnya lebih jauh begitu sebaliknya. Dia pria yang harus ku jauhi.


*•*•*•*•*•*


"Pagi!"


"Iya pagi Ran" Ranti teman sebangkuku.


"Eh Thy, kek nya ada yang nyariin kamu deh" aku mengerutkan kening.


"Siapa?"


"Itu didepan kelas ngelirik kamu terus gak tau siapa, tapi kelihatannya kakak kelas deh" mataku mengarah ke pintu kelas. "Kamu gak lagi di gangguin sama merekakan Thy?"


Aku tertawa kecil, "Emang ada yang berani gangguin aku?"

__ADS_1


"Ya siapa tau aja.. udah samperin gih" aku mengangkat bahu acuh.


"Biarin aja, gak penting"


"Serius gapapa?" Aku hanya mengangguk lalu melanjutkan aktivitasku sebelumnya tanpa merubis laki-laki yang terus mengintaiku dari ambang pintu.


Kelas telah telah usai begitupun lonceng tanda waktu istirahat telah berkumandang aku mengikuti Ranti yang hendak menuju kantin, setelah kami keluar dari kelas laki-laki itu datang entah dari mana menghalangi jalan kami bersama teman-temannya.


"Kantin bareng yuk" ia langsung mengambil alih tanganku dari Ranti dan menarikku menuju kantin, aku tidak menyukainya. Ia membuatku sebagai pusat perhatian, beberapa kali aku mencoba melepaskan diri, nihil. Tenaganya terlalu besar untuk gadis sepertiku. "Kamu mau makan apa?"


"Ah iya, kamu belum ngasih tau nama kamu jadi... siapa nama kamu?"


Aku tidak menjawab dan sebelum beranjak pergi menjauh ia sudah lebih dahulu mencengkal lenganku, sekali lagi ia berhasil menjadikanku pusat perhatian. Dari jauh dapatku lihat Adit yang menatapku kebingungan dengan situasi yang sedang ku alami, "Kamu belum jawab pertanyaanku, nama kamu siapa?"


"Kakak gak perlu tau"


"Gue harus tau" aku menatapnya sengit, ia membuatku kesal.


"Karna gue suka sama lo!"


Kantin menjadi gaduh atas pengakuan laki-laki tersebut, tidakkah ia memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan setelah menyatakan hal tersebut? Atau hanya aku yang terlalu memusingkan hal yang tidak perlu. Aku melaluinya begitu saja, berjalan kearah Ranti yang membatu menatapku lalu menarik pelan pergelangan tangannya. "Athanatasia Apriliyana" langkahku terhenti begitupun dengan Ranti.


"Thy.. kamu kenal dia dari mana?" Adit memandangiku dengan wajah seriusnya, "Jawab thy" aku membuang nafas kasar.


"Dia temen Ka Riza" Ranti ikut terdiam atas jawaban yang ku berikan.


"Kamu gapapa thy?"


"Sekarang aku gapapa, gak tau kedepannya kek gimana"


Sepulang dari sekolah aku langsung mendobrak paksa pintu kamar Ka Riza, "Kamu kenapa sih, datang-datang bikin rusuh aja"


"Temen Kakak cari masalah sama aku"


"Siapa sih?" Tanganku terkepal kuat.

__ADS_1


"Andika! ... dia nyatain perasaannya sama aku di kantin" Ka Riza langsung bangkit dari posisi duduknya dan menyentuh kedua bahuku.


"Kamu gak lagi bohongkan?" Apa dia tidak mempercayai adiknya sendiri?


"Kurang kerjaan banget aku bohongin Kakak tentang hal kek ginian" ucapku menepis tangan Ka Riza dari bahuku dan berlalu pergi menuju kamarku sendiri.


Aku melempar diri keranjang empuk milikku manatap langit kamar, "Cape banget" memejamkan mata sejenak, hingga seruan ponsel terdengar nyaring mengusik diri.


"Hallo?" Sapaku tanpa melihat terlebih dahulu sang penelepon.


"Hallo Athy" sahut seseorang dari seberang telepon sana, suaranya terdengar familiar aku langsung menjauhkan ponsel. Nomor tak di kenal.


"Ini siapa?"


"Ketus banget sih hehe"


"Masa lupa? Gue yang tadi nembak lo di kantin" aku langsung memposisikan diri terduduk dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Pikirku memacu kemana-mana, dari mana ia mendapatkan nomerku.


Apa ini akan terjadi lagi?


Dewi.. tolong jawab dan katakanlah tidak. Aku tidak ingin menjadi gadis jahat, aku tidak bisa membalas perasaannya. Aku memejamkan mata lalu merebahkan diri di ranjang berharap sang Dewi cinta mendengarkan keluhanku.


*•*•*•*•*•*


Sore kali ini tidak ingin ku sia-sia kan begitu saja, dengan secangkir teh hangat dengan pie buah pemberian tetangga sangat pas di nikmati di jam-jam seperti ini. Tidak panas tidak juga hujan, udaranya sangat pas untuk bersantai didepan perkarangan rumah seraya menonton aktifitas anak-anak komplek yang sedang berlarian kesana kemari dengan canda tawa diantaranya. Seketika senyumku luntur melihat kedatangan tamu yang pastinya tidak diundang tersebut masuk ke perkarangan rumah, "Hai manis" aku hanya diam mengesap teh buatanku tanpa memperdulikan pribadi lain yang memandangku penuh minat. Menyebalkan.


"Kenapa sih lo acuh banget sama gue"


"Masuk aja Ka Riza ada didalam" ucapku lalu membereskan cangkir dan piring meninggalkan Andi yang terdiam diteras rumah. Aku sadar seseorang tengah memperhatikanku dari bilik pintu, "Aku gak ada niat buat ngejalin hubungan lagi Ka" sebuah kalimat yang ku tuju pada pribadi yang  tengah berdiam diri di ambang pintu dapur seraya menatapku lelah.


"Terus? Mau sampai kapan kamu kaya gini?"


"Ka! Please... hati aku sedang luka"


"Kalau gitu jadikan dia sebagai obatnya" aku terdiam, belum ada kata dan kalimat yang pas untuk ku lontarkan pada Ka Riza.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan membalas tatapannya, "Aku takut dia hanya akan menjadi racun alih-alih menjadi obat" setelah mengatakan itu aku beranjak melaluinya menuju kamar. Iris mataku tak sengaja mendapati sosok lain yang sedang mendengarkan pembicaraanku beberapa saat lalu dan tersenyum remeh seraya melangkah naik keatas tangga, mencoba meninggalkan segala kekesalan disetiap kakiku melangkah.


*•*•*•*•*•*


__ADS_2