ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 6


__ADS_3

Drrrr


 


 


Drrrr


Drrrr


3 kali ponselku bergetar tanda pesan


masuk dari nomor tak di kenal.


From: Unknown number


 


 


Athy, kamu dimana?


From: Unknown number


 


 


Lagi apa?


From: Unknown number


 


 


Bales dong pesannya....


Sungguh isi pesan yang sangat tidak


penting, membuat nafsu makan hilang saja. Akhir-akhir ini aku selalu


mendapatkan pesan dari nomor yang tak di kenal itu, entah apa motif pengrimnya,


buang-buang pulsa saja. Ponselku kembali bergedar di iringi dering panggilan,


ah... dari Rini ternyata.


 


 


"Halo?" sapaku memulai


panggilan.


"Thy, kamu lagi gak ada pulsa ya?"


 


 


Aku menjauhkan sedikit ponselku,


memastikan kembali siapa yang tengah membuat panggilan denganku.


"Punya, kenapa emang?"


"Terus kenapa kamu gak balas pesan?"


"Aku gak ada nerima pesan dari kamu tuh, Rin"


 


 


 


 


Dapat ku dengar suara helaan nafas dari ujung telepon sana, "Apa karena


pengirimnya gak jelas?"


 


 


"Ohh itu, isinya gak terlalu


penting jadi gak aku balas"


"Tapi se-"


"Kalo kamu telpon cuma mau nanyain itu bearti kamu udah buang-buang


waktuku" ku matikan sambungan sepihak, tanpa berniat mendengarkan


perkataan Rini yang ku potong itu.


Apa hubungan Rini dengan pengirim


pesan itu? Atau itu nomer baru Rini? Tapi kalo itu Rini pasti dia langsung


bilang sama juga Rini gak terlalu banyak basa-basi di SMS. Sudahlah lebih baik


tidur, lagian besok masih sekolah.


•*•*•*•*•


Hari ini aku merasa seperti di awasi


(lagi), tapi ku tepis jauh-jauh perasaan seperti itu lagian aku sedang berada


di sekolah yang lingkungannya cukup aman terlebih inikan masih jam kegiatan


sekolah masih berlangsung. Tidak mungkinkan ada yang berbuat aneh-aneh di dalam


sekolah?


Aku berniat pergi ke koperasi


sekolah, saat di koridor aku tidak sengaja bertemu Shilla dan Nurul.


 


 


"Eh? Mau ke koprasi ya?"


Tanya Nurul, aku mangangguk lalu tesenyum ramah.


"Iya"


"Yaudah bareng aja" serga Shilla yang ku angguki, setidaknya aku


tidak pergi sendiriankan.


 


 


"Eh thy, kamu pernah suka sama


cowo gak?" Tanya Shilla tiba-tiba saat aku sedang mencoba pulpen yang akan

__ADS_1


aku beli.


"Kagum aja" Jawabku singkat.


 


 


"Punya tipe ideal gak thy, kamu


kan cantik pasti ada lah" Aku menoleh lalu menatap Nurul seraya mengerutkan


kening.


"Cantik? Sakit kamu?" Aku tertawa pelan.


 


 


"Ada cowo yang suka sama kamu


loh thy" aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik menatap Shilla yang


sudah lebih dulu berhenti berjalan di ikuti Nurul di sampingnya.


"Lalu kamu bantu dia cari informasi


tentang aku?" Shilla terlonjak kaget, aku tersenyum tipis.


Tebakanku tepat sasaran ternyata.


Pantas saja sikap Shilla terlihat aneh belakangan ini, aneh karena tidak


biasanya Shilla menanyakan laki-laki kepadaku tentunya.


"Shill, bilang ke cowo itu,


kalo emang suka kenapa gak langsung menampakan diri di depan aku? Aku gak suka


main di belakang"


Setelah mengatakan itu, aku


melenggangkan kaki menuju kelas. Masa bodo dengan perkataanku tadi, aku sudah


muak dengan segala berhubungan dengan suka menyukai, itu mengingatkanku tentang


kesalahan Peri Cinta yang dengan tidak tau diri membidik panahnya ke arahku dan


kini perasaan yang tidak seharusnya ada yang mulai tumbuh di hati.


Pelajaran hari ini sangat melelahkan


hati dan pikiranku, ku letakan lengan ku di atas meja untuk menjadi bantalan


kepala, mengistiratkan mata sejenak tidak masalah bukan? Lagipun saat ini


sedang free class, membuat siswa/i kelas 8b berkeliaran baik di kantin atau di


depan kelas, tidak denganku yang lebih memilih untuk tidur.


 


 


"Athy!! Ada yang nyariin


tuh!" Teriak Rifky sang penjaga pintu kelas, mengusik ketenangan yang baru


saja aku rasanya.


"Berisik! Siapa sih!" Teriakku garang.


"Anu.. cowo yang kemarin itu loh" Ucap Rifky kikuk, aku mendengus.


Rifky mengangguk lalu terlihat


menampai sesuatu pada Aldy, mungkin hal yang baru saja aku katakan padanya.


Ya, yang mampir itu Aldy, moodku


yang sudah buruk malah semakin menjadi mengingat niatanku untuk tidur di usik


oleh kehadiran Aldy yang mengharuskan Rifky berteriak menyerukan namaku.


 


 


"Jangan gitu dong thy, kasihan


dia udah dateng kesini"


"Van, jangan bikin mood aku ancur deh" Vanya menggeleng pelan lalu


pergi keluar kelas, meninggalkanku.


Sore ini seperti biasa aku ikut


latihan rutin ekskul. Aldy tiba-tiba menghampiriku mengundang tanda tanya dan


seringai jail dari 3 teman absurdku itu.


 


 


"Athy, aku mau ngomong


bentar" Kata Aldy tanpa embel-embel kakak padaku.


"Tinggal ngomong"


"Gak disini"


"Ya sudah gak usah" ia terlihat gusar lalu terpaksa mengalah dengan


ego ku.


 


 


"Oke fine"


"Hmm"


"Kenapa kamu gak balas pesan aku?" Aku mengerutkan kening bingung.


"Kamu gak-"


 


 


 


 


"Nomor yang tidak di kenal" potongnya cepat. Aku menatapnya bingung


hingga Adit mengyengol lengan ku pelan membuatku terpaksa menoleh kearahnya.


"Kami duluan ke lapangan, bye" pamit Adit di ikuti Bayu juga Johan

__ADS_1


meninggalkan aku dengan Aldy di sisi lapangan.


 


 


"Jadi itu kamu, terus


kenapa?" Tanyaku mencoba santai.


"Ya harusnya ka-"


"Aku gak suka ngebalas pesan gak penting yang isinya menganggu buat


aku" Kataku gantian memotong perkataannya, aku bangkit lalu


meninggalkannya ke tengah lapangan menyusul yang lain, yang saat ini saling


mengover bola.


Dengan cepat aku menangkap bola yang


seharusnya di over ke arah Johan, membuat mereka bertiga sedikit terlonjak


kaget dengan kehadiranku.


 


 


"Loh udah selesai?"


Aku hanya mengangkat bahu acuh menanggapi pertanyaan Johan lalu mendribble bola


basket yang ada di tanganku.


"Latihan sampai disini aja ya,


minggu depan kita latihan lagi kek biasa. Oke?!" Lantang abang Rey. Semua


mengangguk sembari mengusap peluh lalu menayahut ucapan abang Rey tak kalah


lantantang. "Oke bang!!"


 


 


Sama seperti yang lainnya aku juga


membereskan barang bawaanku kedalam tas, "Thy, bareng?"


Aku mengangguk tanpa perlu menengok kesumber suara, lalu menyelempangkan tas


kebahu kiri.


"Ayo!" Adit dan Bayu


mengangguk, lalu aku berjalan lebih dulu melewati kedua laki-laki itu,


langkahku terhenti saat seseorang menahan lenganku dan dengan terpaksa aku


menoleh ke samping.


 


 


Aku mengerutkan kening lalu menepis


tangan yang menyentuh lenganku itu,


"Thy, aku mau ngomong"


"Ya tinggal ngomong" ia terlihat gugup, aku masih menatapnya menunggu


kalimat yang akan ia sampaikan.


 


 


Bisa ku lihat ia mengatur deru


nafasnya, segugup itukah? Lalu ku pandangi Bayu dan Adit yang masih berada di


belakangku.


"Ekhm" aku kembali memusatkan perhatian kearahnya.


"Aku suka kamu, mau gak jadi pacarku?" Lantangnya.


Mataku terbuka lebar, terkejut


mendengar pernyataan yabg terkesan tiba-tiba. Aku yakin bukan hanya aku yang


merasa kaget tapi semua orang yang masih ada di lapangan, bahkan yang tadinya


ingin segera pulang langsung memusatkan mata kearah kami berdua, ahh maksudnya


aku dan Aldy.


 


 


"Thy?" Panggilnya. Aku


menatapnya dengan nafas sedikit tertahan,


"Apa jawabanmu?" Tanyanya sekali lagi.


"Terima! Terima! Terima!"


Seru semua orang termasuk Adit, Bayu dan Johan.


 


 


Aku membuang nafas pelan,


"Well, akan aku coba"


jawabku sedikit terpaksa menerimanya. Lalu ku pandangangi satu-satu orang yang


melihat jawabanku, aku tersenyum kecut mendapati Bayu yang memamerkan senyum lebarnya


ke arah ku. Perih rasanya.


"Be... neran?" Aku


mengangguk lemah dan tersenyum kaku. Ia tersenyum haru dan langsung memelukku,


membuat sorakan selamat berderu keras di indran pendengaranku. Aku hampir


terhuyung kebelakang jika saja tidak berpegangan di lengan Aldo dan kuturuni


lagi peganganku, tanpa berniat membalas pelukannya.


Aku sedang membiasakan diri dengan


senyumnya yang kini terlihat menyakitkan untukku, hari ini senyum yang selalu


ku damba meninggalkan goresan kecil di hati.

__ADS_1


•*•*•*•*•


__ADS_2