
Drrrr
Drrrr
Drrrr
3 kali ponselku bergetar tanda pesan
masuk dari nomor tak di kenal.
From: Unknown number
Athy, kamu dimana?
From: Unknown number
Lagi apa?
From: Unknown number
Bales dong pesannya....
Sungguh isi pesan yang sangat tidak
penting, membuat nafsu makan hilang saja. Akhir-akhir ini aku selalu
mendapatkan pesan dari nomor yang tak di kenal itu, entah apa motif pengrimnya,
buang-buang pulsa saja. Ponselku kembali bergedar di iringi dering panggilan,
ah... dari Rini ternyata.
"Halo?" sapaku memulai
panggilan.
"Thy, kamu lagi gak ada pulsa ya?"
Aku menjauhkan sedikit ponselku,
memastikan kembali siapa yang tengah membuat panggilan denganku.
"Punya, kenapa emang?"
"Terus kenapa kamu gak balas pesan?"
"Aku gak ada nerima pesan dari kamu tuh, Rin"
Dapat ku dengar suara helaan nafas dari ujung telepon sana, "Apa karena
pengirimnya gak jelas?"
"Ohh itu, isinya gak terlalu
penting jadi gak aku balas"
"Tapi se-"
"Kalo kamu telpon cuma mau nanyain itu bearti kamu udah buang-buang
waktuku" ku matikan sambungan sepihak, tanpa berniat mendengarkan
perkataan Rini yang ku potong itu.
Apa hubungan Rini dengan pengirim
pesan itu? Atau itu nomer baru Rini? Tapi kalo itu Rini pasti dia langsung
bilang sama juga Rini gak terlalu banyak basa-basi di SMS. Sudahlah lebih baik
tidur, lagian besok masih sekolah.
•*•*•*•*•
Hari ini aku merasa seperti di awasi
(lagi), tapi ku tepis jauh-jauh perasaan seperti itu lagian aku sedang berada
di sekolah yang lingkungannya cukup aman terlebih inikan masih jam kegiatan
sekolah masih berlangsung. Tidak mungkinkan ada yang berbuat aneh-aneh di dalam
sekolah?
Aku berniat pergi ke koperasi
sekolah, saat di koridor aku tidak sengaja bertemu Shilla dan Nurul.
"Eh? Mau ke koprasi ya?"
Tanya Nurul, aku mangangguk lalu tesenyum ramah.
"Iya"
"Yaudah bareng aja" serga Shilla yang ku angguki, setidaknya aku
tidak pergi sendiriankan.
"Eh thy, kamu pernah suka sama
cowo gak?" Tanya Shilla tiba-tiba saat aku sedang mencoba pulpen yang akan
__ADS_1
aku beli.
"Kagum aja" Jawabku singkat.
"Punya tipe ideal gak thy, kamu
kan cantik pasti ada lah" Aku menoleh lalu menatap Nurul seraya mengerutkan
kening.
"Cantik? Sakit kamu?" Aku tertawa pelan.
"Ada cowo yang suka sama kamu
loh thy" aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik menatap Shilla yang
sudah lebih dulu berhenti berjalan di ikuti Nurul di sampingnya.
"Lalu kamu bantu dia cari informasi
tentang aku?" Shilla terlonjak kaget, aku tersenyum tipis.
Tebakanku tepat sasaran ternyata.
Pantas saja sikap Shilla terlihat aneh belakangan ini, aneh karena tidak
biasanya Shilla menanyakan laki-laki kepadaku tentunya.
"Shill, bilang ke cowo itu,
kalo emang suka kenapa gak langsung menampakan diri di depan aku? Aku gak suka
main di belakang"
Setelah mengatakan itu, aku
melenggangkan kaki menuju kelas. Masa bodo dengan perkataanku tadi, aku sudah
muak dengan segala berhubungan dengan suka menyukai, itu mengingatkanku tentang
kesalahan Peri Cinta yang dengan tidak tau diri membidik panahnya ke arahku dan
kini perasaan yang tidak seharusnya ada yang mulai tumbuh di hati.
Pelajaran hari ini sangat melelahkan
hati dan pikiranku, ku letakan lengan ku di atas meja untuk menjadi bantalan
kepala, mengistiratkan mata sejenak tidak masalah bukan? Lagipun saat ini
sedang free class, membuat siswa/i kelas 8b berkeliaran baik di kantin atau di
depan kelas, tidak denganku yang lebih memilih untuk tidur.
"Athy!! Ada yang nyariin
tuh!" Teriak Rifky sang penjaga pintu kelas, mengusik ketenangan yang baru
saja aku rasanya.
"Berisik! Siapa sih!" Teriakku garang.
"Anu.. cowo yang kemarin itu loh" Ucap Rifky kikuk, aku mendengus.
Rifky mengangguk lalu terlihat
menampai sesuatu pada Aldy, mungkin hal yang baru saja aku katakan padanya.
Ya, yang mampir itu Aldy, moodku
yang sudah buruk malah semakin menjadi mengingat niatanku untuk tidur di usik
oleh kehadiran Aldy yang mengharuskan Rifky berteriak menyerukan namaku.
"Jangan gitu dong thy, kasihan
dia udah dateng kesini"
"Van, jangan bikin mood aku ancur deh" Vanya menggeleng pelan lalu
pergi keluar kelas, meninggalkanku.
Sore ini seperti biasa aku ikut
latihan rutin ekskul. Aldy tiba-tiba menghampiriku mengundang tanda tanya dan
seringai jail dari 3 teman absurdku itu.
"Athy, aku mau ngomong
bentar" Kata Aldy tanpa embel-embel kakak padaku.
"Tinggal ngomong"
"Gak disini"
"Ya sudah gak usah" ia terlihat gusar lalu terpaksa mengalah dengan
ego ku.
"Oke fine"
"Hmm"
"Kenapa kamu gak balas pesan aku?" Aku mengerutkan kening bingung.
"Kamu gak-"
"Nomor yang tidak di kenal" potongnya cepat. Aku menatapnya bingung
hingga Adit mengyengol lengan ku pelan membuatku terpaksa menoleh kearahnya.
"Kami duluan ke lapangan, bye" pamit Adit di ikuti Bayu juga Johan
__ADS_1
meninggalkan aku dengan Aldy di sisi lapangan.
"Jadi itu kamu, terus
kenapa?" Tanyaku mencoba santai.
"Ya harusnya ka-"
"Aku gak suka ngebalas pesan gak penting yang isinya menganggu buat
aku" Kataku gantian memotong perkataannya, aku bangkit lalu
meninggalkannya ke tengah lapangan menyusul yang lain, yang saat ini saling
mengover bola.
Dengan cepat aku menangkap bola yang
seharusnya di over ke arah Johan, membuat mereka bertiga sedikit terlonjak
kaget dengan kehadiranku.
"Loh udah selesai?"
Aku hanya mengangkat bahu acuh menanggapi pertanyaan Johan lalu mendribble bola
basket yang ada di tanganku.
"Latihan sampai disini aja ya,
minggu depan kita latihan lagi kek biasa. Oke?!" Lantang abang Rey. Semua
mengangguk sembari mengusap peluh lalu menayahut ucapan abang Rey tak kalah
lantantang. "Oke bang!!"
Sama seperti yang lainnya aku juga
membereskan barang bawaanku kedalam tas, "Thy, bareng?"
Aku mengangguk tanpa perlu menengok kesumber suara, lalu menyelempangkan tas
kebahu kiri.
"Ayo!" Adit dan Bayu
mengangguk, lalu aku berjalan lebih dulu melewati kedua laki-laki itu,
langkahku terhenti saat seseorang menahan lenganku dan dengan terpaksa aku
menoleh ke samping.
Aku mengerutkan kening lalu menepis
tangan yang menyentuh lenganku itu,
"Thy, aku mau ngomong"
"Ya tinggal ngomong" ia terlihat gugup, aku masih menatapnya menunggu
kalimat yang akan ia sampaikan.
Bisa ku lihat ia mengatur deru
nafasnya, segugup itukah? Lalu ku pandangi Bayu dan Adit yang masih berada di
belakangku.
"Ekhm" aku kembali memusatkan perhatian kearahnya.
"Aku suka kamu, mau gak jadi pacarku?" Lantangnya.
Mataku terbuka lebar, terkejut
mendengar pernyataan yabg terkesan tiba-tiba. Aku yakin bukan hanya aku yang
merasa kaget tapi semua orang yang masih ada di lapangan, bahkan yang tadinya
ingin segera pulang langsung memusatkan mata kearah kami berdua, ahh maksudnya
aku dan Aldy.
"Thy?" Panggilnya. Aku
menatapnya dengan nafas sedikit tertahan,
"Apa jawabanmu?" Tanyanya sekali lagi.
"Terima! Terima! Terima!"
Seru semua orang termasuk Adit, Bayu dan Johan.
Aku membuang nafas pelan,
"Well, akan aku coba"
jawabku sedikit terpaksa menerimanya. Lalu ku pandangangi satu-satu orang yang
melihat jawabanku, aku tersenyum kecut mendapati Bayu yang memamerkan senyum lebarnya
ke arah ku. Perih rasanya.
"Be... neran?" Aku
mengangguk lemah dan tersenyum kaku. Ia tersenyum haru dan langsung memelukku,
membuat sorakan selamat berderu keras di indran pendengaranku. Aku hampir
terhuyung kebelakang jika saja tidak berpegangan di lengan Aldo dan kuturuni
lagi peganganku, tanpa berniat membalas pelukannya.
Aku sedang membiasakan diri dengan
senyumnya yang kini terlihat menyakitkan untukku, hari ini senyum yang selalu
ku damba meninggalkan goresan kecil di hati.
__ADS_1
•*•*•*•*•