ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 9


__ADS_3

"kamu sama Ara di bagian


kesehatan" Rizka mengangguk menerima keputusan yang telah di buat.


"Rafa, Adit, Difa, Kevin, kalian di keamanan ya. Terus Bayu, Athy kalian


bagian penilaian" aku mendonggakan kepalakuu menatap kak Irgi ragu.


 


Setelah itu aku tidak mendengar lagi


apa yang sedang kak Irgi sampaikan. Ada rasa senang yang memeluk tubuhku, aku


dengan Bayu? Benarkah?! Thank you goddess


of luck.


 


Aku mengangguk deengan wajah serius begitu pula dengan Bayu, ah seharusnya aku dapat


penghargaan karena mampu menyembunyikan emosi asli ku dengan sangat baik tanpa


pelatihan terlebih dahulu. Rapat dadakan telah selesai kami di perintahkan


untuk langsung pulang kerumah masing-masing, ya sebelumnya Bayu mencari


keberadaanku hanya memanggil untuk ikut rapat dan perlu di garis bawahi dia


tidak hanya mencariku tapi juga anggota yang lainnya dan di saat itu juga ingin


rasanya aku mengubur diri hidup-hidup mengingat kepercayaan diriku yang


melewati batas.


"Kak Athy!"


"Apaan sih" Desisku menatap seorang anak laki-laki yang terpaut


4tahun di bawahku.


"Di panggil Ayah" aku langsung bangkit menghadap Ayahku. Sesampainya


di ruang keluarga, bisa ku lihat penampakan Ayah yang sedang menonton berita


terkini di televisi.


 


"Ada apa, yah?"


"Kamu gak niat buat latihan lagi?" Aku menggengeng ragu.


"Neng belum yakin, yah" kataku jujur, Ayah menghela nafas lalu


menatapku tenang.


"Ayah gak pernah ngajarin kamu berpikir lambat apalagi sempit, pikirkan


lagi baik-baik" hatiku terhenyak, Ayah meninggalkanku di ruang keluarga


begitu saja tanpa berniat melirikku sedikitpun.


Aku kembali kekamarku dengan


perasaan gusar, aku diam sejenak, menatap aneh kotak abu-abu yang ada di atas


meja belajarku.


 


"Apa ini? Perasaan tadi gak


ada"


Siapa yang meletakannya disini?


Dengan santai aku menghampiri Mamah yang ada di kamar Anando membantu anak


laki-laki itu mengerjakan pr-nya.


"Mah, kotak yang ada di kamar itu punya siapa?" Mamah menoleh diikuti


Anan yang bingung dengan kedatanganku.


"Kiriman buat kamu, tapi mamah gak tau siapa pengirimnya" aku


menautkan alis bingung.


"Kok bisa?"


"Neng, mamah bukan cenanyang" aku mendengus mendengar perkataan


mamah, lalu Anan? Ah anak itu sekarang sedang mati-matian menahan tawanya agar


tidak membuatku mematahkan lehernya.


"Iya mah, iya"

__ADS_1


Ku pandangi kotak itu lekat seolah


akan menghilang jika saja aku mengalihkan pandangan kearah lain, helaan nafas


lolos begitu saja dari bibirku. Tanpa ragu aku membuka pita biru yang mengikat


kotak tersebut, aku menaikan sebelah alisku bimbang,


"Lah kok?"


Jika gadis lain akan senang dan


menyukai isi kotak tersebut maka berbeda denganku yang justru menatapnya


bingung tak berkedip, kotak itu berisi 4tangkai bunga mawar merah yang di ikat


menjadi satu dengan pita warna senada dengan pita yang membungkus kotak itu


terlihat cantik memang dan juga romantis, apa lagi dengan adanya sebuah kartu


ucapan. Aku semakin menautkan alis bingung dengan isi kartu itu,


"Apa-apaan orang ini?"


 


Hi!


Bunga ini mengingatkanku padamu,


Cantik, namun penuh duri.


Tapi aku menyukainya.



-your secret admirer


 


Aku memijat pangkal hidungku


dongkol, orang bodoh mana sih yang menjadi pengagumnya? Sok misterius. Ku


keluarkan bunga mawar itu hati-hati takut terkena durinya tidak lupa mengambil


vas berisi air lalu meletakan bunga itu di dalam vas tersebut dan meletakannya


di meja belajarku. Kartu itu aku simpan di laci dengan baik, siapa tau saja


dengan menyimpannya pelakunya bisa ketemu, benerkan?


•*•*•*•*•


ini lebih baik dari awal aku tidak memberitahu mereka tentang pengirim


misterius itu. Jika teman akrab laki-lakiku yang tidak lain Adit, Bayu dan


Johan memberikan ekspresi terbelak dan menganggap pengirim itu gila sama


sepertiku beda dengan teman perempuanku yang seperti ku katakan di awal, horor.


Akan lebih nyaman jika mereka menampakan reaksi biasa saja tanpa banyak


menuntut pertanyan seperti sekarang ini.


"Jadi gak ada nama pengirim?"


 


Aku kembali menggeleng pertanda tidak tau entahh sudah yang keberapa kalinya.


"Terus dia tau ruumah mu dari mana? Kok serem sih"


"Tapi so sweet Riz, kan dia ngasih bunga sama kartu ucapan manis, aku malah kepengen dapet kiriman kek gitu"


"Ngayal kamu! Pacar aja gak punya"


Aku hanya memutarr bola mata malas mendengar perseteruan Rizka dan Vanya.


"Udah udah sesama jomblo gak usah saling ngehina"


"Iya tau deh yang udah gak jomblo lagi" Ayla mengembungkan pipinya


kesal mendapat sahutan seperti itu dari Vanya yang sudah tertawa geli bersama Rizka.


 


"Athy, Rizka, abis ini kita ada


rapat" Kami semua menoleh kesumber suara, aku mengangguk di ikutti Rizka.


"Rapat dimana ra?"


"Di lab. Ipa kata ka Irgi"


"Oke, ayo. Kami pergi ya" Vanya dan Ayla mengangguk sambil


melambaikan tangan kearah kami bertiga.

__ADS_1


 


2jam berlalu sangat cepat kak Irgi


sudah membubarkan rapat untuk mempersiapkan keperluan persami nanti, aku


merenggangkan otot-otot ku yang kaku karena terlalu lama duduk sampai tidak


menyadari kehadiran seseorang sudah duduk di sampingku.


"Kamu lucu ya" aku tersentak lalu menatap kak Irgi lega.


"Kamu punya pacar?" Aku menautkan alis bingung dengan pertanyan


random kak Irgi.


"Engga"


"Mau jadi pacarku?" Aku memberikan tatapan aneh tapi kak Irgi justru


memperlihatkan senyum mempesonanya.


 


"Engga" tolakku dengan bodohnya.


"Kok engga?"


"Kan aku punya hak buat nolak, duluan ya kak" aku langsung pergi


meninggalkan kak Irgi yang masih memamerkan senyumnya. Dia aneh.


•*•*•*•*•


Aku duduk menselojorkan kaki kedepan


di ikuti yang lainnya rasa puas melingkupiku setelah menang melawan Johan dan


Bayu.


"Eh thy, kak Irgi kok akhir-akhir ini sikapnya aneh sama kamu" aku


menggendikan bahu acuh menanggapi pertanyaan Adit.


 


"Kak Irgi? Yang mana tuh


orangnya?"


"Itu anak kelas 9F yang badannya agak tinggi kadang suka nongkrong di


kopsis" Johan menganggukan kepala.


"Aku pernah bilang gak kalo dia pernah nawarin jadi pacarnya?"


 


"Apa!!" Teriak mereka bertiga lalu memberikanku tatapan minta


penjelasan kepadaku dan mengundang pandangan aneh dari anggota lain termasuk


Aldy, mantanku.


"Jadi...." dan mengalirlah


ceritaku tentang apa yang kak Irgi sampaikan lalu perilakunya yang semakin hari


semakin gencar mendekatiku setelah ku tolak. Mereka bertiga memandangku takjub,


apa ada yang salah?


 


"Hebat kamu!" Aku mengerutkan kening bingung.


"Sumpah! Kok bisa ada yang naksir kamu?" Ucap Adit


"Kemarin Aldy sekarang kak Irgi, pake pelet apa sih" aku berdecak


kesal dengan perkataan Johan yang satu ini, sangat kurang ajar.


 


"Woy Aldy, mantan kabogoh kamu


di embat orang nih!!" Aku langsung memukul lengan Bayu keras, bisa-bisanya


dia berteriak seperti itu kepada Aldy.


"Apa-apan sih kamu!" Bayu terkekeh pelan, membuatku harus menahan


nafas sejenak.


"Cuma ngasih info doang ini mah" astaga ingin sekali aku menyumpal


mulutnya dengan kain supaya dia tidak tersenyum agar hatiku tenang.


•*•*•*•*•

__ADS_1


__ADS_2