
"kamu sama Ara di bagian
kesehatan" Rizka mengangguk menerima keputusan yang telah di buat.
"Rafa, Adit, Difa, Kevin, kalian di keamanan ya. Terus Bayu, Athy kalian
bagian penilaian" aku mendonggakan kepalakuu menatap kak Irgi ragu.
Setelah itu aku tidak mendengar lagi
apa yang sedang kak Irgi sampaikan. Ada rasa senang yang memeluk tubuhku, aku
dengan Bayu? Benarkah?! Thank you goddess
of luck.
Aku mengangguk deengan wajah serius begitu pula dengan Bayu, ah seharusnya aku dapat
penghargaan karena mampu menyembunyikan emosi asli ku dengan sangat baik tanpa
pelatihan terlebih dahulu. Rapat dadakan telah selesai kami di perintahkan
untuk langsung pulang kerumah masing-masing, ya sebelumnya Bayu mencari
keberadaanku hanya memanggil untuk ikut rapat dan perlu di garis bawahi dia
tidak hanya mencariku tapi juga anggota yang lainnya dan di saat itu juga ingin
rasanya aku mengubur diri hidup-hidup mengingat kepercayaan diriku yang
melewati batas.
"Kak Athy!"
"Apaan sih" Desisku menatap seorang anak laki-laki yang terpaut
4tahun di bawahku.
"Di panggil Ayah" aku langsung bangkit menghadap Ayahku. Sesampainya
di ruang keluarga, bisa ku lihat penampakan Ayah yang sedang menonton berita
terkini di televisi.
"Ada apa, yah?"
"Kamu gak niat buat latihan lagi?" Aku menggengeng ragu.
"Neng belum yakin, yah" kataku jujur, Ayah menghela nafas lalu
menatapku tenang.
"Ayah gak pernah ngajarin kamu berpikir lambat apalagi sempit, pikirkan
lagi baik-baik" hatiku terhenyak, Ayah meninggalkanku di ruang keluarga
begitu saja tanpa berniat melirikku sedikitpun.
Aku kembali kekamarku dengan
perasaan gusar, aku diam sejenak, menatap aneh kotak abu-abu yang ada di atas
meja belajarku.
"Apa ini? Perasaan tadi gak
ada"
Siapa yang meletakannya disini?
Dengan santai aku menghampiri Mamah yang ada di kamar Anando membantu anak
laki-laki itu mengerjakan pr-nya.
"Mah, kotak yang ada di kamar itu punya siapa?" Mamah menoleh diikuti
Anan yang bingung dengan kedatanganku.
"Kiriman buat kamu, tapi mamah gak tau siapa pengirimnya" aku
menautkan alis bingung.
"Kok bisa?"
"Neng, mamah bukan cenanyang" aku mendengus mendengar perkataan
mamah, lalu Anan? Ah anak itu sekarang sedang mati-matian menahan tawanya agar
tidak membuatku mematahkan lehernya.
"Iya mah, iya"
__ADS_1
Ku pandangi kotak itu lekat seolah
akan menghilang jika saja aku mengalihkan pandangan kearah lain, helaan nafas
lolos begitu saja dari bibirku. Tanpa ragu aku membuka pita biru yang mengikat
kotak tersebut, aku menaikan sebelah alisku bimbang,
"Lah kok?"
Jika gadis lain akan senang dan
menyukai isi kotak tersebut maka berbeda denganku yang justru menatapnya
bingung tak berkedip, kotak itu berisi 4tangkai bunga mawar merah yang di ikat
menjadi satu dengan pita warna senada dengan pita yang membungkus kotak itu
terlihat cantik memang dan juga romantis, apa lagi dengan adanya sebuah kartu
ucapan. Aku semakin menautkan alis bingung dengan isi kartu itu,
"Apa-apaan orang ini?"
Hi!
Bunga ini mengingatkanku padamu,
Cantik, namun penuh duri.
Tapi aku menyukainya.
-your secret admirer
Aku memijat pangkal hidungku
dongkol, orang bodoh mana sih yang menjadi pengagumnya? Sok misterius. Ku
keluarkan bunga mawar itu hati-hati takut terkena durinya tidak lupa mengambil
vas berisi air lalu meletakan bunga itu di dalam vas tersebut dan meletakannya
di meja belajarku. Kartu itu aku simpan di laci dengan baik, siapa tau saja
dengan menyimpannya pelakunya bisa ketemu, benerkan?
•*•*•*•*•
ini lebih baik dari awal aku tidak memberitahu mereka tentang pengirim
misterius itu. Jika teman akrab laki-lakiku yang tidak lain Adit, Bayu dan
Johan memberikan ekspresi terbelak dan menganggap pengirim itu gila sama
sepertiku beda dengan teman perempuanku yang seperti ku katakan di awal, horor.
Akan lebih nyaman jika mereka menampakan reaksi biasa saja tanpa banyak
menuntut pertanyan seperti sekarang ini.
"Jadi gak ada nama pengirim?"
Aku kembali menggeleng pertanda tidak tau entahh sudah yang keberapa kalinya.
"Terus dia tau ruumah mu dari mana? Kok serem sih"
"Tapi so sweet Riz, kan dia ngasih bunga sama kartu ucapan manis, aku malah kepengen dapet kiriman kek gitu"
"Ngayal kamu! Pacar aja gak punya"
Aku hanya memutarr bola mata malas mendengar perseteruan Rizka dan Vanya.
"Udah udah sesama jomblo gak usah saling ngehina"
"Iya tau deh yang udah gak jomblo lagi" Ayla mengembungkan pipinya
kesal mendapat sahutan seperti itu dari Vanya yang sudah tertawa geli bersama Rizka.
"Athy, Rizka, abis ini kita ada
rapat" Kami semua menoleh kesumber suara, aku mengangguk di ikutti Rizka.
"Rapat dimana ra?"
"Di lab. Ipa kata ka Irgi"
"Oke, ayo. Kami pergi ya" Vanya dan Ayla mengangguk sambil
melambaikan tangan kearah kami bertiga.
__ADS_1
2jam berlalu sangat cepat kak Irgi
sudah membubarkan rapat untuk mempersiapkan keperluan persami nanti, aku
merenggangkan otot-otot ku yang kaku karena terlalu lama duduk sampai tidak
menyadari kehadiran seseorang sudah duduk di sampingku.
"Kamu lucu ya" aku tersentak lalu menatap kak Irgi lega.
"Kamu punya pacar?" Aku menautkan alis bingung dengan pertanyan
random kak Irgi.
"Engga"
"Mau jadi pacarku?" Aku memberikan tatapan aneh tapi kak Irgi justru
memperlihatkan senyum mempesonanya.
"Engga" tolakku dengan bodohnya.
"Kok engga?"
"Kan aku punya hak buat nolak, duluan ya kak" aku langsung pergi
meninggalkan kak Irgi yang masih memamerkan senyumnya. Dia aneh.
•*•*•*•*•
Aku duduk menselojorkan kaki kedepan
di ikuti yang lainnya rasa puas melingkupiku setelah menang melawan Johan dan
Bayu.
"Eh thy, kak Irgi kok akhir-akhir ini sikapnya aneh sama kamu" aku
menggendikan bahu acuh menanggapi pertanyaan Adit.
"Kak Irgi? Yang mana tuh
orangnya?"
"Itu anak kelas 9F yang badannya agak tinggi kadang suka nongkrong di
kopsis" Johan menganggukan kepala.
"Aku pernah bilang gak kalo dia pernah nawarin jadi pacarnya?"
"Apa!!" Teriak mereka bertiga lalu memberikanku tatapan minta
penjelasan kepadaku dan mengundang pandangan aneh dari anggota lain termasuk
Aldy, mantanku.
"Jadi...." dan mengalirlah
ceritaku tentang apa yang kak Irgi sampaikan lalu perilakunya yang semakin hari
semakin gencar mendekatiku setelah ku tolak. Mereka bertiga memandangku takjub,
apa ada yang salah?
"Hebat kamu!" Aku mengerutkan kening bingung.
"Sumpah! Kok bisa ada yang naksir kamu?" Ucap Adit
"Kemarin Aldy sekarang kak Irgi, pake pelet apa sih" aku berdecak
kesal dengan perkataan Johan yang satu ini, sangat kurang ajar.
"Woy Aldy, mantan kabogoh kamu
di embat orang nih!!" Aku langsung memukul lengan Bayu keras, bisa-bisanya
dia berteriak seperti itu kepada Aldy.
"Apa-apan sih kamu!" Bayu terkekeh pelan, membuatku harus menahan
nafas sejenak.
"Cuma ngasih info doang ini mah" astaga ingin sekali aku menyumpal
mulutnya dengan kain supaya dia tidak tersenyum agar hatiku tenang.
•*•*•*•*•
__ADS_1