
Sebenarnya kesalahan apa yang
pernahku buat kepada Peri Cinta hingga dia dengan sengaja menembakku dengan
panah cinta yang salah, dan membiarkan panah itu menjadi sebagian dari hati
yang kini mulai tumbuh tunas cinta yang terlarang.
Hei, Peri Cinta! Jika aku memang
memiliki kesalahan padamu katakanlah, maka aku akan meminta maaf padamu. Tapi
jika dengan menanamkan panah ini di hatiku adalah untuk membalasku dari
kesalahan yang tidak ku ketahui itu, maka kau berhasil!
"Neng!"
"Uuu Neng!!" Aku terkejut lalu menoleh.
"Kenapa mah?" Tanyaku sedikit lesu,
"Naha? Meni lesu" Aku tersenyum kecil lalu menggeleng, berharap Mamah
tidak terlalu cemas.
"Yaudah, abis ini cuci piring. Jangan ngelamun terus nanti kesambet,
bahaya" aku terkekeh pelan dan langsung melakukan apa yang di perintahkan
Mamah.
Setelah selesai aku langsung
membaringkan diri di kasur kamarku lalu menatap langit kamar kosong, sepintas
ingatan tentang insiden sore 3 hari lalu terputar ulang seperti kaset rusak.
Aku memejamkan mata sejenak, membuang jauh-jauh ingatan reka ulang itu.
Ponselku kembali bergetar untuk ke5
kalinya, memaksaku untuk bangkit dan mengambilnya di atas meja belajar. Tertera
nama yang sama dari semua pengirim pesan dan panggilan masuk,
Missed call from Aldy (2)
Unread messages from Aldy (3)
From: Aldy
Udah makan?
From: Aldy
Sibuk ya?
From: Aldy
Athy aku kangen kamu, hehe
Aku membuang nafas kasar, lalu
mengetik sesuatu untuk membalas beberapa pesan singkat yang Aldy kirimkan
padaku.
To: Aldy
Baru aja selesai. Engga al. Kangen? Kan baru kemarin ketemu di sekolah.
Begitulah isi balasan pesan singkat
yang ku kirimkan padanya, jika dia mengirimkan aku beberapa pesan maka aku akan
menjawab semua pesannya dalam 1 kali kiriman. Tak lama setelah itu ponselku
bedering, tertera nama Aldy disana.
"Hai!"
Sapanya ramah setelah ku angkat panggilan darinya,
tanpa sadar aku tersenyum mendengar sapaan darinya.
"Hai, kenapa Al?"
"Kok kenapa? Salah ya ngehubungin pacar, hehe"
Aku ikut tertawa kecil, "Engga
sih, kan ini udah malam, emang kamu gak ada tugas gitu?" Tanyaku mencoba
perhatian.
"Ada, tapi nanti aja lah. Aku masih pengen denger suaramu"
"Kalo nelpon lagi gak ku angkat." Ancamku.
"Ehhh! Jangan! Yaudah aku kerjain tugas, kamu kalo ngantuk tidur aja
dulu" aku membalasnya dengan dehaman.
"Good night thy"
"Kamu juga al"
Belum lama aku menutup sambungan
panggilan dari Aldy, laki-laki itu kembali mengirimkan sebuah pesan singkat,
aku tersenyum kecil melihat usahanya yang ingin mengalihkan seluruh perhatianku
__ADS_1
padanya.
From: Aldy
Athanasia, mimpi indah :D
Jika orang lain lebih suka
memanggilku Athy karena lebih singkat berbeda dengan Aldy, kadang dia
memangilku dengan nama panjangku Athanasi. Terkesan spesial, hanya saja aku
tidak merasakan desiran apapun darinya yang notabe-nya kini sebagai pacarku,
sangat berbeda dengan Bayu.
Aku memejamkan mataku sejenak,
menghapus bayang-bayang Bayu di pikiranku. Tidak berhasil. Aku mendudukan diri
bersandar di kepala kasur mencoba menetralkan degup jantungku yang teratur, ini
karena Bayu. Hanya karena bayangannya yang terlintas dan seutas nama yang ku
sebut dalam pikiran jantungku sudah berpacu tak terkendali.
Dan di saat yang bersamaan pula aku
mengutuk Peri Cinta.
•*•*•*•*•
Nafasku terasa sesak, wajahku seakan
di tampar oleh kenyataan yang ada di depan mataku. "Bayu" panggilku
pelan, sangat pelan bahkan ku yakini angin pun tak dapat mendengarnya.
Aku memutar haluan menuju
perpustakaan, aku ingin berada disana, hanya saja aku tidak sepandai itu untuk
bersandiwara terlebih dalam hal menyembunyikan rasa tak sukaku di depan gadis
itu.
"Loh Athana?" Aku
tersenyum kearah Ibu Lilla yang sedang menjaga perpustakaan.
"Hehehe, iya bu?"
"Tumben kesini sendirian"
"Yang lain lagi di kantin bu, jadi saya sendiri"
"Yasudah kalo gitu" aku tersenyum lalu mencari sebuah buku hanya
untuk mengalihkan fokusku untuk sementara.
"Athanasia?" Aku
"Kamu ngapain disini?" Ia bertanya sambil mendudukan diri dikursi
kosong dekatku, Aku tersenyum.
"Baca bukulah, kamu sendiri?"
Ia menunjukan 3 buku tebal yang
sedari tadi ia bawa, "Balikin buku paket" aku ber'oh ria lalu kembali
melanjutkan buku bacaanku.
Sebenarnya aku sadar Aldy sedang menatapku, hanya saja aku sedang tidak mood
untuk meladeninya saat ini.
"Athy.." aku berdeham
membalas panggilannya.
"Kita seumurankan" aku menolehkan wajah menatap kaget kearahnya.
"Ahh ternyata bener" katanya lagi.
"Siapa yang ngasih tau?" Tanyaku pelan.
"Adit, Johan, sama Bayu" aku tersenyum miris mendengar nama terakhir
yang di sebut oleh Aldy.
"Memangnya kenapa kalo
seumuran?" Tanyaku kembali membalikan halaman buku yang sedang ku baca.
"Kok kamu kelas 8? Harusnya satu angkatan sama aku dong" aku tertawa
kecil mendengar perkataannya yang sering sekali ku dengar dari banyak orang.
"Waktu TK pernah loncat kelas, terus aku masuk SD umur 5tahun"
Aldy menganggukan kepalanya, aku tau
dia sedang mencerna penjelasan singkatku tadi, senyuman kecil terbit dari sudut
bibirku. Lonceng pertanda masuk sudah berbunyi, aku pamit untuk menuju kelas
begitupun Aldy.
Perasaanku sudah mulai tenang, hmm..
aku harus berterima kasih dengan Aldy karena sudah datang di waktu yang tepat.
Kadang di saat aku ingin sendiri bukan berarti aku benar-benar ingin sendiri,
aku hanya ingin di temani tanpa perlu menanyakan keadaanku.
__ADS_1
"Ekhm"
"Apa?" Rizka mengedipkan mata beberapa kali,
"Ih kok judes banget sih?"
"Yaudah, ada apa?" Tanyaku sedikit melembut, membuat Rizka mendengus
sebal.
"Tadi kamu abis pacarankan?"
"Maksud kamu?"
Rizka tersenyum jail kearahku,
"Tadi aku lihat kamu keluar perpus bareng Aldy" mulutku bergerak
membentuk O.
"Aku beneran" kata Rizka gemas.
"Lah yang bilang boong siapa?"
"Ihh Athy!!"
"Apa?"
"Tau ah!!" Aku hanya memandang Rizka yang kembali duduk di kursinya.
Lonceng tanda pulang sekolah sudah
bekumandang seruan siswa/i menyuarakan rasa lega dan lelah terdengar jelas di
indra pendengaranku, "Athy" aku meloneh dan mendapati Aldy yang ada
di depan kelasku.
Aku tersenyum kecil menghampirinya,
"Ayo" ia mengangguk, lalu kami berjalan bersama kearah parkiran
sekolah.
"Eh si Athy bareng ama ayang beb nya ya"
"Uuuu co cuwitt, jadi pen punya acay uga deh"
Aku memutar bola mata malas
menanggapi kedua makhluk yang berstatus menjadi temanku itu, siapa lagi kalo
bukan Adit dan Johan. Mereka tertawa geli bersama Aldy melihat tingkahku.
"Kalian berdua doang? Bayu
mana?" Tanyaku yang baru saja menyadari ketidak hadirannya.
"Oh... si Bayu lagi pacaran di depan sekolah" aku memaksakan senyum
sembari menggeleng pelan.
"Ganti lagi?" Mereka mengangguk bersamaan menjawab pertanyaanku,
hatiku sedikit tercubit karenanya.
"Yaudah duluan ya!" Kata
Aldy yang mengikutinya mengayuh sepeda gunungku.
"Tiati ye!!" Aku mengiyakan perkataan Johan yang alay itu.
"Weyyyy Aldy! Athy!!" Aku
mengikuti arah pandang Aldy.
"Bayu?" Ia tersenyum lebar membuatku ikut tersenyum karenanya.
"Ciee yang udah jadian, nempel mulu hahaha"
"Situ juga punya kan?" Balasku sedikit sarkas.
"Tau dari mana? Hahaha padahal belum di kasih tau" aku memutar bola
mata malas.
"Tadi di kasih tau Adit sama Johan" timpal Aldy yang sedari tadi
diam. Bayu mengangguk mengerti lalu terkekeh geli.
"Yaudah, duluan ya! Takut ganggu hehhe, bye!" Setelah itu Bayu
mempercepat laju sepedanya meninggalkan aku dan Aldy sedikit oleng karena
terlalu fokus menatapnya.
Aku membuang nafas lelah, sesampai
dirumah aku mandi lalu makan dan merebahkan diri, bingung harus melakukan apa.
Lagi-lagi ponselku bergetar, aku sudah sangat hapal siapa pengirim pesan
singkat itu, jangankan membalas hanya sekedar mengintip isi pesannya pun aku
malas.
Untuk malam ini aku ingin di temani
oleh sepi, dan kembali memohon pada semesta agar membujuk Peri Cinta
__ADS_1
mengabulkan permintaan kecilku.
•*•*•*•*•