
"Han!!"
"Johan, tungguin" Ia berhenti berjalan dan menengok kearahku yang terhenggah-henggah sehabis berlari mengejarnya.
"Kamu abis lomba maraton dimana thy?" Tanyanya tersenyum jenaka, aku meliriknya sinis ingin sekali ku
lemparkan dia ke sungai Amazon saking kesalnya.
"Gak lucu.."
"....Bayu sama Adit mana han. Dari tadi aku cari tapi gak nemu padahal lagi penting-pentingnya ini" Johan mengacak surai pendekku pelan membuatku mendengus karenanya.
"Mereka lagi di kantin, mau bareng? Aku mau kesana juga"
Aku tersenyum, "Ayo! Tapi sekalian bayarin aku makan ya han. Laper hehehe"
"Kali ini aja nanti aku bisa kere thy kamu porotin mulu" aku hanya nyengir-nyengir gak jelas membalas ucapannya.
Sesampainya kami di kantin aku melihat keberadaan 2 teman aneh ku itu bersama deretan adik kelas yang wajahnya tidak terlalu ku kenal.
"Wehh! Tumben bareng Johan, thy?"
Aku tidak langsung menjawab, aku duduk di sebelah adit setelah ia memesan makanan, lalu ku lirik Adit dan Bayu
bergantian.
"Serius banget kamu thy ngeliatinnya" Aku masih diam tidak menjawab pertanyaan kedua Bayu.
Hingga sebuah jentikan di keningku membuatku bersuara,
"Eh tangan monyet, sakit tau" Bayu hanya menjulurkan lidah mengejek.
"Makanya ngomong"
"Jadi.. minggu depan sekolah mindahin jam ekstrakulikuler kepagi hari"
Mereka semua serentak menatapku bingung, tidak terkecuali adik kelas yang sedari tadi memperhatikan interaksiku dengan ke3 temanku itu.
"Maksudnya gimana tuh"
"Kegiatan ekskul di alihkan jadi santu pagi, siswa di wajibkan ikutin kegiatan gitu"
"Jadi?"
Aku bingung harus melanjutkan dengan kalimat apa lagi, karena tujuanku hanya
sekedar memberi informasi itu sana. "Aku gak tau"
"Yaudah nanti kita rundingin lagi aja sama yang lainnya" Kami mengangguk mengiyakan apa yang Bayu katakan.
"Ka Bayu"
Bukan hanya Bayu tapi kami betiga ikut menoleh kesumber suara yang memanggil nama Bayu dengan nada gugup.
__ADS_1
"Iya?" Tanpa sadar aku memperhatikan tingkah gadis yang terlihat salah tingkah, lalu ku perhatikan ekspresi yang Bayu berikan pada gadis yang ku tau sebagai adik kelas. Biasa saja.
"Anu.. em boleh minta nomor hp kakak?" Aku terbatuk, tersedak es jeruk yang sedang ku minum begitupun dengan Johan dan Adit yang sedang mencoba menghilang rasa sakit akibat tersedak. Bayu memperlihatkan senyum jailnya kepada kami,
"Boleh"
Hatiku ikut berdenyut sakit seiring senyum gadis itu semakin melebar mendapati jawaban yang ia inginkan. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang membuat hati ini berdenyut sakit.
Lonceng pertanda jam istirahat usai telah bergema keseluruh penjuru sekolah, banyak dari mereka segera pergi menuju kelas masing-masing, berbeda dengan kami berempat yang masih bertahan di kantin hingga sepi menyisakan beberapa orang saja.
"Wihh di mintain nomor sama cewe nih"
"Kaya kamu engga aja dit" celetukku tiba-tiba seraya tertawa kecil.
"Nah bener tuh kata kamu thy. Kamu tau gak kemarin aja si Adit dimintain nomor sama 3 cewe sekaligus"
Adit berdecak kesal, aku tau niatnya ingin menggoda Bayu tapi tiba-tiba berubah haluan jadi dia yang kena godaan dari kami bertiga.
"Ehh tapi kalian tau gak?" Tanya Bayu menjatuhkan arah pandangannya kepadaku, membuat yang lain ikut memandang kearahku.
"Kenapa?"
Bayu tertawa kecil lalu melanjutkan kalimatnya, "Jadi 3harian yang lalu, waktu latihan rutin ada adik kelas yang curi-curi pandang ke Athy dong"
Aku terbelak kaget mendengar perkataan Bayu beruntungnya aku tidak tersedak lagi saat minum tadi. Reaksi mereka tidak jauh beda dengan Bayu saat hari itu, sekarang malah aku yang jadi bual-bualan mereka.
"Sumpah?, siapa tuh thy" Tanya Adit memainkan alisnya naik turun.
Aku menatap sinis Johan,
"Jimat ndas mu, aku aja gak pernah berpikir kalo dia ngelirik aku. Toh aku juga sadar diri" Kataku lalu membuang nafas.
Bayu menepuk pundakku, hatiku menghangat tatkala memandangi bingkai lengkungan manis yang terpajang di wajahnya. "Pesimis mulu"
Aku tersenyum kecil sambil menggeleng, "Bukan pesimis, cuma. Kalo itu benar, aku masih belum siap"
Ia mengangguk seolah mengerti apa yang baru saja aku katakan, bagaimana dia bisa mengerti jika aku sendiri saja tidak mengetahui arti dari kalimat yang baru saja aku ucapkan.
"Makanya thy, belajar dandan" ku kerutkan keningku bingung.
"Apa hubungannya dandan sama hati?"
"Kan kalo kamu dandan ke sekolah pas-"
"Han, aku itu mau sekolah buka mau fashion show lagian kamu kan tau sendiri peraturannya gak ngebolehin berdandan ke sekolah, gimana sih kamu"
Johan mencibik seraya menatapku malas yang ku balas dengan tatapan masa bodo milikku.
__ADS_1
"Udah ah, aku mau kekelas nanti ada guru. Kalian masih mau stay disini?" Mereka bangkit dan ikut berjalan
bersama denganku melewati koridor sekolah yang lumayan sepi.
Aku berpisah menuju kelasku karena pada nyatanya hanya aku yang beda kelas dengan mereka.
"Dil, jamkos ya?" Dila menoleh dan mengangguk mengiyakan.
"Athy, di cariin adek kelas nih. Cowo" Teriak Rifky dari depan pintu kelas membuat kegaduhan.
"Loh kamu? Ada apa?" Tanyaku sedikit kaget saat mengetahui tamu yang datang mencariku. Laki-laki itu
tersenyum lalu memberikan aku sebatang coklat,
"Ini buat kamu"
Setelah itu ia pergi meninggalkan ke bingung untukku, aku menatap coklat pemberiannya. Lalu masuk kedalam kelas yang sudah menyambutku dengan sorakan aneh.
"Aww cieee di kasih coklat"
"Uhuhu bagi dong thy!"
"Athy di kasih coklat sama cowo guys!!"
Aku menyergit heran dengan tingkah laku teman kelasku.
"Apaan sih kalian" ketusku. Lalu duduk kembali di sebelah Dila yang memberikan tatapan jail padaku.
"Ihh Athy cowo tadi manis deh, nemu dimana?"
"Jangan mulai deh, atau ku bikin tanganmu keseleo" peringatku garang membuat yang lain ikut berhenti menjadikanku bualan.
Kalo di ancam baru diem, begitulah mereka. Padahal aku tidak akan benar-benar membuat tangan mereka keseleo, lagipun besar konsekuensi yang akan ku dapatkan nantnya. Bukan karena hukuman di BK, aku bahkan tidak takut masuk ruang itu, tapi aku tidak ingin membuat Ayah marah karena menyalah gunakan ilmu yang beliau berikan.
•*•*•*•*•
"Ini aku kembalikan" laki-laki itu terkejut mendapati aku yang kini sudah berada di sampingnya, aku tersenyum.
"Tapi ini buat kamu, ambil aja"
"Aku gak suka coklat, sayang jadinya kalo gak kemakan"
Ku letakan coklat itu di gengaman tangannya lalu pergi meninggalkan laki-laki yang aku sendiri pun tidak tau siapa namanya. Tidak lupa untuk memberikan senyum manisku padanya sebelum benar-benar pergi menyusul Bayu dan Adit di parkiran.
__ADS_1
•*•*•*•*•