ALL: Aku, Lalu Luka

ALL: Aku, Lalu Luka
Episode 29


__ADS_3

Ujian Masuk Pergurua Tinggi Negeri adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh fresh graduates maupun gapyears. Begitupun denganku, hingga sekolah memberikanku surat undangan dari salah satu universitas ternama di indonesia, tentu saja aku senang bukan main. Terlebih aku lolos di jurusan yang aku minati, Hubungan International di Universitas Indonesia. Hal yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya terjadi begitu saja didepan mataku, bahkan Mamah memeluk ku dengan erat lebih erat dari biasanya dan Ayah.. Ayah hanya mengangguk dengan sorot hangat yang menatapku, apa dia bangga? Mendengar putri satu-satunya di terima di Universitas bergengsi? Aku pikir mungkin Iya.


Dan tiba aku berbagi kabar gembira tersebut. "Serius?!" Aku mengangguk dengan semangat menyambut pelukan Johan.


"Gak nyangka, aku kira selama ini kamu nyogok sekolah makanya bisa lulus" perkataan Adit mengundang tatapan tajam yang menusuk dariku.


"Kurang ajar, aku itu emang pinter ya. Kaliannya aja yang gak sadar" Adit memutar bola matanya malas, aku tau itu haha dia selalu seperti itu setiap aku atau yang lain menyombongkan diri.


"Enak sih jadi kamu, aku malah harus ikut ujian lagi nanti" bisa ku dengar hela nafas gusar dari Johan.


Ya, apa yang dikatakan Johan ada benarnya. Enak jadi aku, bisa masuk perguruan tinggi negeri yang bagus dengan jurusan yang sesuai minat tapi.. ekor mataku melirik laki-laki itu hampa. Kenapa dia hanya diam? Aku merasa sangat jauh. Padahal aku sudah yakin jika perasaan spesial untuknya sudah hilang tapi sepertinya tidak.


"Kok kamu diem aja sih Bay!" Kesalku. Ia hanya melirikku singkat lalu meneguk habis segelas soda didepannya.


"Emang aku harus ngapain?" Aku merengut, aku tidak suka. Dia seakan sedang mengabaikan aku, ada apa ini? Tidak. Tidak boleh.


Aku merebahkan diri disofa tanpa mempedulikan ketiga laki-laki itu, lebih tepatnya mereka tidak terlalu mempedulikan apa yang aku lakukan. "Kasih selamat kek atau apa gitu" sahutku. Tidak ada jawaban yang kudapat, dengan terpaksa aku menoleh dan mendapati tatapan malas dari 3 makhluk yang berstatus temanku itu.


"Hehe.. bercanda gengs" mereka menggeleng pelan dan kembali membahas game dengan memakan beberapa camilan.


Sedangkan aku? Langit plapon rumah Bayu adalah hal yang paling menarik untuk kutatap saat ini sembari memikirkan kehidupanku diperkuliahan nanti, apa aku dapat bertemu dengan orang-orang yang baik? Atau malah sebaliknya. Apa aku mampu beradaptasi dengan baik? Apa aku akan memiliki kehidupan yang tenang? Apa aku bisa melupakan Bayu sepenuhnya?Tapi hal yang ingin aku ketahui.. apa aku masih bisa ketemu sama Andika?


*•*•*•*•*•*


"Gak usah lebay astaga" Ka Riza masih memasang wajah kusut sambil mengandeng tanganku erat. Laki-laki ini masih tidak bisa merelakan aku pergi, padahal aku cuma pergi ke Depok jaraknya gak jauh-jauh banget padahal dari Bandung ya paling harus berkendara 2-3 jam lah itupun kalo gak macet.


"Tapi kamu bakal ngerantau sendiri! Ya wajar kalo orang khawatir" aku mendengus kesal mendengar pembelaan dari laki-laki yang notabe nya Kakak kandungku.

__ADS_1


"Ya aku tau. Tapi gak sealay itu juga kali, pake gandeng-gandeng segala lagi ihh" keluhku yang tanpa henti-hentinya mengeritik tingkah aneh Ka Riza. "Lagian nih ya, aku itu inget banget Mamah cuma minta Kakak nganterin aku cuma sampe depan stasiun tapi kenapa kakak malah ikut masuk kestasiun kereta sih?"


Sebenernya apa sih yang ada didalam otak Ka Riza, aku yang sebagai adiknya aja heran gak ketolong ngeliat sikap anehnya selama hidup bersama bertahun-tahun. "Kak.."


"Menurut Kakak, pas disana aku bisa ketemu sama dia gak?" Mata ku tidak terlepas dari rel kereta api yang tidak jauh didepan mata. Merasa tak mendapat jawaban aku menoleh melirik Ka Riza, ia terdiam sembari menatap lurus kedepan seolah sedang mencari jawaban yang tepat untuk ia sampaikan padaku tapi tidak ia temukan.


"Mungkin" terdengar jelas dari suaranya yang tiba-tiba memberat, ia tengah menyesuaikan jawaban yang aku inginkan. Sayangnya aku tidak menyukai jawaban dari Ka Riza, jawabannya menumbuhkan sedikit harap, meski sedikit itu cukup membuatku resah sepanjang perjalanan.


•*•*•*•*•*•


Gelak tawa tak bisa kami hindari sepanjang istirahat makan siang dikala para senior mengendurkan perhatian mereka pada peserta OSPEK. Lengkap dengan atribut yang melekat di tubuh kami masing-masing saling menertawakan keanehkan isi papan biodata singkat yang dikalungkan dileher, "Asli kocak banget hobi lo"


"Ya mau gimana lagi? Kan disuruhnya gitu" sahutku yang sudah terpingkal-pingkal.


Tina, teman baru sekaligus salah satu anggota kelompok di Ospek menghela nafas mencoba meredakan tawanya, "Iya juga sih, gue juga agak heran"


"Halah.. paling buat lawakan senior-senior ntar" sahut Martin.


Aku hanya menyahuti perkataan Tiara dengan tawa, aku hanya menulis kata tersebut tanpa alasan. Entahlah, saat itu yang terlintas adalah kalimat itu dan berhubung waktunya mepet mau tidak mau aku melunis kalimat tersebut dipapan namaku dan alhasil menjadi bawan tawaan teman-teman baruku.


Hari menjelang sore tidak terasa waktu berjalan sangat cepat namun juga terasa melelahkan, fisik dan batin benar-benar di uji oleh para senior bahkan tidak jarang aku kena hukum hanya karena menatap langsung mata salah satu senior yang sedang berbicara. Ini membuatku gila!


Beruntungnya besok adalah hari terakhir ospek, sangat melegakan hanya dengan mengingat hari itu akan tiba sebentar lagi.


"ATHANASIA!!"


"Saya Kak!" Sahutku reflek mengacungkan tangan lalu melirik sekitar yang menatapku ingin tahu. Lagi-lagi aku larut kedalam dunia khayalan disaat yang tidak tepat, batin terasa ingin menangis.

__ADS_1


Senior yang memanggil namaku itu hanya tersenyum singkat seolah sedang mengejek keterkejutanku, hallo orang pendiam pun jika dipanggil selantang itu juga pasti akan terkejut termasuk aku.


"Berdiri" instruksinya yang mau tak mau harus ku turuti. Oke aku mulai gugup.


"Maju kedepan" ucapnya lagi setelah berapa saat menatap ku dari bawah hingga ujung kepala. Aku ragu-ragu mengikuti apa yang senior itu perintahkan, dapat ku lihat tatapan khawatir teman-teman kelompokku begitu aku berjalan pelan menghampiri senior tersebut.


Sesampainya didepan dan berhadapan langsung dengan senior yang memanggil ku, dapat ku rasakan banyaknya tatapan tertuju padaku, ini sangat aneh seolah ada suatu hal yang akan menimpaku. Tuhan, Athy takut.


Shhhet.


Bingung. Tiba-tiba senior yang aku lupa namanya siapa (karena kebanyakan nama yang harus diingatt jadi lupa) berlutut dihadapanku. Demi semesta! Apa ini akhir dari mimpi kehidupan biasa-biasa ku di kampus?! Tolong, jangan!


Dengan senyum ia mengeluarkan setangkai mawar merah dihadapanku. "Gue suka sama lo. Jadi cewe gue ya?"


Selamat tinggal kehidupan kampus yang tentram.


*•*•*•*•*•*


Dari Chioo


Untuk Readers❤️


Selamat menjalani ibadah puasa bagi yang melaksanakannya☺️


Mohon maaf lahir dan batin🙏🏻


Jangan lupa juga buat like+komen+share ya☺️❤️

__ADS_1


Makasih sudah setia nunggu karya aku❤️❤️


Love, Chioo


__ADS_2