
Hari demi hari berlalu begitu berat selama perkuliahan berlangsung, gimana gak berat kalo setiap hari dihujani tatapan mencibir bahkan ada yang dengan sengaja membuat aku malu didepan umum. Ya walau orang itu harus masih banyak belajar buat bisa ngelakuin itu sama aku, tapi tetep aja bikin risih!
"Huh!"
"Athy!" Dengan wajah sedatar papan triplek aku menatap manusia kurang ajar tersebut yang sialnya menjelma jadi temen aku.
"Apa?"
"Judes amat elah, ntar gak ada yang suka loh"
"Bodo" sahutku dan kembali terfokus pada buku bacaanku.
Tidak lama setelah itu Satria datang dengan Reina, pacarnya. "Wih, udah pada ngumpul aja nih" aku tidak begitu menanggapinya.
"Thy.. kamu kok jadi acuh banget sih" tanya Reina tiba-tiba, sedetik aku mengalihkan pandangan untuk menatap gadis cantik itu, diiringi tatapan penasaran dari dua laki-laki tidak tau diri yang tepat berada di samping dan didepan ku.
Hanya helaan nafas yang terdengar dariku lalu membalik halaman buku yang ku baca, "Keadaan memaksa begini"
Serentak mereka mengangguk memahami maksud dari perkataanku, ah! Akhirnya aku menemukan seseorang yang mengerti meski hanya sepatah duapahat kata.
"Yang sampe sekarang masih gue heranin ya"
"Kok lu nolak Ka Juna sih Thy?"
Plakkk!
Tias terkesima menatap buku setebal 300 halaman ku tutup begitu keras, lalu dengan perlahan dan lembut ku tatap wajah piasnya dan tersenyum.
"Simple" jawabku, ia ikut tersenyum lalu memucat kembali setelah melihat ekspresi datarku. Agak senang di hati melihat Satria dan Reina tidak ingin ikut campur ketika aku sidikit menakuti Matias yang notabe nya seorang penakut, ia laki-laki yang mudah untuk dijahili.
"Aku gak suka"
<<<<<<<<<<<
"Gue suka sama lo. Jadi cewe gue ya?"
Pikir ku buyar beserta sorak ramai yang saling bersahutan menyuruhku untuk menerima ajakan senior tersebut, ku beranikan diri menatap laki-laki itu. Astaga! Tatapan matanya, TOLONG!
Dengan tersenyum canggung aku menggelengkan kepala pelan dan mencoba menolak nya sesopan mungkin. "Maaf Kak, saya gak bisa"
__ADS_1
Kini seruan kecewa audience menggema dirongga pendengaranku dah bahkan masih bisa ku dengar, jelas, sangat jelas orang-orang yang mencibirku.
"Lo nolak gue?" Pake nanya lagi:(
Aku hanya bisa tersenyum dan meminta maaf, "Saya gak bisa nerimanya kak"
Wajahnya terlihat kesal, oh jelas. Ditolak didepan seluruh mahasiswa baru sefakultas belum lagi senior-senior lain yang ikut ngeliat.
"Gue minta jawaban, bukan maaf"
"Terima atau engga" oke kesabaran aku sudah habis. Aku mengangkat kepala ku menatap langsung iris gelap miliknya, menghela nafas singkat memperlihatkan wajah datar dengan tatapan malas.
"Engga"
"Saya nolak Kakak, permisi"
Dapat kurasakan aura-aura tidak mengenakan menusuk kulit ku, aku sudah tau akhirnya akan seeperti ini. Tapi mau gimana lagi, ini diluar keinginanku.
"Athy.."
"Kamu tau gak siapa yang baru kamu tolak itu?" Tanya Tiara dengan wajah pias miliknya.
"Thy, dia ketua BEM Fakultas. Namanya Arjuna" beo Martin tiba-tiba.
Sahutan demi sahutan membeo menyindir hanya bisa ku tanggapi dengan senyum formal seolah tidak terjadi apapun dan aku membencinya, entah sejak kapan tapi kelihatannya aku sudah mulai mahir menggunakan topeng baruku.
>>>>>>>>>>>>
*•*•*•*•*•*•*
"Tina!!" Gadis itu menoleh dan tersenyum kearah ku.
"Athy... Apa kabar?"
"Baik aja kok, kamu?"
"Engga" ia terlihat kurang bersemangat terlebih dengan buku-buku bertema pemerintahan yang tengah ia bawa saat ini membuat tampilan gadis itu terlihat kelelahan.
"Kamu kecapean ya? Soalnya agak pucet juga, mau aku anter sampe kost?" Tawarku yang cukup mencemaskan keadaan Tina saat ini.
__ADS_1
"Aku gapapa kok Thy, makasih udah nawarin. Aku pergi dulu ya... dah"
"Oh.. iya dahh. Hati-hati dijalan" meski berkata seperti itu hatiku masih tidak merasa tenang. Apa karna tugas? Mungkin aja dan aku harus berfikir postif, karna tidak mungkin gadis lugu, manis, cantik seperti dia terlihat seperti itu hanya karena patah hati bukan?
Tunggu? Patah hati? Langkahku terpaku begitu saja menatap sekeliling bingung dan berbalik mengejar Tina yang mungkin saja belum jauh dari taman kampus. Sekuat tenaga aku berlari dengan harap masih bisa mengerjar Tina.
'Aku mohon, Tina'
Air muka ku berubah memancarkan kelegaan meski keringat membasahi pelipisku.
"Ketemu" ia terlihat syok mendapati diriku yang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya hanya sekedar untuk mengehentikan langkah anggun miliknya.
"Athy?"
"Kenapa kamu disini?" Ucapnya seraya menghapus sisa jejak air mata di wajah.
"Ayo aku temenin sampai kost, lagian kita satu arah" ajak ku sambil tersenyum dan di anggukinya. Aku tau ia ingin menyendiri, tapi itu tidak baik untuknya karna aku juga pernah berada di posisinya. Dimana merasa terjatuh dijurang terdalam atas nama cinta yang menggelikan, selama perjalanan tidak ada dari kami yang memulai obrolan.
Kami sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, aku dengan kenangan masa lalu dan Tina dengan kesedihannya. Meski begitu seiring berjalannya waktu, ia terlihat membaik dari sebelumnya. Hingga kami sampai di perempatan komplek kost nya berada.
"Aku duluan ya Thy"
"Makasih sudah nemenin aku" aku hanya mengangguk dan melambaikan tangan, lalu melanjutkan jalan menuju kost ku berada yang tidak jauh dari komplek kost Tina.
"Nak Athy"
"Iya bu?"
"Kamu tadi abis dari kampus? Baik-baik aja kan?" Tanya ibu kost ku terlihat khawatir.
"Baik aja kok bu, emang ada apa ya?"
"Oh ndak apa-apa, tadi cuma ada orang datang nanyain kamu. Kelihatan mencurigakan, nanti pas mau keluar hati-hati ya, Nak" tutur halus beliau penuh perhatian.
"Oh iya bu, makasih sudah dikasih tau. Saya permisi ya bu" ucapku langsung menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar kost ku berada.
Perkataan Bu Asri tadi cukup membuatku penasaran, tidak biasanya ada orang yang mencari aku datang ke kostan. Apa itu Kakak? Tapi Bu Asri kenal sama Kak Riza, lalu siapa?
*•*•*•*•*•*•*
__ADS_1