
Sudah 1 minggu lamanya aku
menghindari Bayu, bahkan aku bolos latihan basket dan pramuka agar tidak
bertemu dengan Bayu, jika tidak sengaja bertemu di kantin atau koridor sekolah
aku langsung mengalihkan pandangan dan pergi begitu saja.
Tapi sepertinya aku harus
menghentikannya sekarang, karena Dewi keberuntungan tidaklah berpihak kepadaku
lagi. Buktinya saja kini Bayu sedang menarik tanganku, entah kemana tempat yang
akan ia tuju untuk membawaku. Aku menahan diri agar Bayu tidak mendengar
debaran jantungku yang kini berpacu sangat cepat bahkan aku sendiri mampu
mendengarnya tanpa alat bantu apapun.
"Kamu kenapa sih thy?"
Tanya Bayu to the point setelah tiba di taman sekolah.
"Maksud kamu apa?"
"Kenapa kamu mnghindar? Kalo aku punya salah, aku minta maaf tapi aku
mohon jangan kaya gini"
Aku menundukkan kepala tanpa berniat
menjawab perkataannya, jujur aku setelah mengetahui aku jatuh cinta pada Bayu
aku tidak punya rangkaian kata yang bisa ku ucapkan bahkan hanya sekedar
kalimat sapaan pun tidak ada. Mungkin terdengar seperti alasan tapi itulah
kenyataannya."Thy..."
"Athanasia" aku mendongak
ia menepis jarak di antara kami dan memeluk tubuhku erat. Aku terkejut tidak
tau harus berekasi seperti apa, tubuhku yang awalnya membeku lama-kelamaan
seakan mencair dan membalas pelukannya.
"Maaf" kata itulah yang
hanya bsa ku berikan padanya.
•*•*•*•*•
Aku mendudukan diri di pinggir
lapangan membenahi ikat tali sepatu sebelum memulai permainan setelah pemanasan
terlebih dahulu, aku datang lebih awal dari biasanya atau mungkin mereka yang
terlambat. Bola yang baru saja ku giring tiba-tiba di rebut oleh orang lain,
aku yang belum siap tentu saja merasa kecolongan. Ku tatap laki-laki yang baru
saja menshooting bola basket yang ia rebut dariku.
Ia menoleh kearahku, Aldy?
Oh aku lupa, apa kalian masih ingat
dengan adik kelas yang berani memberiku sebuah coklat? Nah nama dia Aldy.
"Kenapa minggu lalu gak
__ADS_1
latihan?" Tanya Aldy yang sudah di hadapanku.
"Hanya ingin" belum sempatku ambil bola yang ada di tangannya, ia
menjauhkan bola itu dari jangkauanku, aku mendengus.
"Kesiniin bolanya"
"Kalo mau ambil sendiri" Aku tau ia sedang mengejekku karena pendek,
kenapa tubuhnya sangat tinggi sih? Kan jadi susah ngambil bolanya apa lagi dia
mengangkat bola itu tinggi-tinggi.
"Ah sudahlah, ambil saja!"
Ketusku lalu mendudukan diri di kursi yang tidak jauh dari lapangan basket. Ia
terkekeh dan ikut mendudukan diri di sampingku.
"Tipe cowomu seperti apa?"
Aku menaikan sebelah alisku. "Aku hanya bertanya" katanya lagi seolah
mengerti arti tatapanku sebelumnya.
Aku menghela nafas,
"Entahlah" jawabku apa adanya. Tidak mungkinkan aku menjawabnya 'seperti
Bayu'.
"Kamu pernah suka sama
seseorang?" Tanyanya lagi.
"Entahlah, aku tidak yakin" aku tersenyum melihatnya seperti orang ke
bingungan, ah ingin sekali tadi aku menjawab 'Bayu' entah apa reaksinya
Tekatku bulat untuk menyembunyikan
perasaan yang tidak seharusnya ada itu. Berharap Peri Cinta segera menyadari
kesalahannya dan menarik kembali panah yang bersarang di hatiku karena ia telah
salah mengarahkanya padaku.
"Misalnya ada laki-laki yang
menyatakan cintanya sama kamu gimana?" Pertanyaan random miliknya
membuatku menoleh dan menatapnya dengan pandangan yang aku sendiri tidak tau
artinya apa.
Aku hanya diam, tidak mampu menjawab
pertanyaan yang ia berikan. Hingga anggota yang lainnya berdatangan dan memulai
latihan seperti biasa. Saat istirahat Rini dan Shilla menghampiriku, "Kamu
tadi abis ngobrol apa aja sama Aldy?" Aku mengerutkan kening kearah Rini
yang tiba-tiba memberi pertanyaan yang tidak biasa.
"Dia cuma ngasih aku pertanyaan
random"
"Kamu suka dia?" Kini Shilla yang bertanya dengan mata berbinar.
"Mungkin" Jawabku apa adanya, karena aku lumayan menyukai Aldy
sebagai temanku. Rini dan Shilla beranjak pergi meninggalkan aku setelah
menjawab pertanyaan random mereka.
__ADS_1
Aku menghela nafas lalu membenahi
kunciran rambutku yang melonggar. Ini pertama kalinya aku memanjangkan rambut
setelah lulus dari TK.
"Kenapa kamu thy?"
"Ribet punya rambut panjang"
"Tapi kamu cantik kalo rambut panjang"
Astaga?! Ingin rasanya aku berteriak
dan mengutarakan isi hatiku di depannya, tapi sayang aku tidak bisa. Aku
memutar bola mata malas lalu memasang ekspresi sejenggah mungkin, "Basi
Bay, gombalanmu gak mempan sama aku"
Bayu tertawa kecil menanggapi perkataanku.
Peri Cinta, bantu aku. Debaran ini
sungguh menyiksa!
•*•*•*•*•
Karena perkataannya aku jadi terus
kepikiran sampai-sampai memandangi diri sendiri lewat cermin, ku geraikan
rambutku yang mulai mencapai sebahu lalu ku sisir halus.
"Kamu ngapain neng?" Aku
tersentak.
"Astaga mamah ngagetin aja"
"Abisnya kamu, tumben cerminan sambil nyisir lagi"
"Ya kan pengen ngeliat muka eneng kek gimana kalo rambut di gerai, gitu
loh mah" Mamah menatapku aneh.
"Wajahmu gak bakal berubah kalo cuma di pandangin di cermin, perawatan
coba" setelah mengatakan itu mamah pergi berlalu.
Sekarang aku tau dapat dari mana
sifat sarkas yang selalu keluar dari mulutku, perkataan mamah membuat aku sadar
kalo cantik perlu usaha. Tapi jika di ingat lagi rata-rata mantan sama
perempuan yang deket sama Bayu cantik-cantik semua, mengingat hal itu membuatku
sedikit patah semangat.
Ku hempaskan tubuhku kekasur menatap
langit menerawang masa yang akan datang akan seperti apa aku jadinya, lalu
kehidupanku di bangku SMA dan Perkuliahan, lalu bagaimana kelak aku menjandi
pengantin Bayu.
Aku langsung terduduk dari posisi
awal ketika bayangan itu terlintas begitu saja tanpa permisi, aku merasa
wajahku mulai memanas mengingat bayangan tentangku bersama Bayu di masa depan.
Astaga! Ku tampar diriku sendiri agar terbangun dari angan yang tidak semestinya
kembali di ingat atau di bicarakan.
Lagi-lagi debaran ini kembali hadir
menyuarakan pendapat hati yang tak ku mengerti apa isinya.
__ADS_1
•*•*•*•*•